Ricko pria tampan kaya raya ini mencintai wanita yang dia lihat di lampu merah. Pandangan pertamanya membawa dia ke jalan yang di ridho'i Allah.
Izza, seorang wanita muslim yang taat pada agama dan keyakinannya, membuat para pria jatuh hati kepadanya.
Ricko terkenal pria nakal dan juga sering mempermainkan banyak wanita, kini ia sedang mengejar wanita yang membuat dirinya jatuh hati.
Ia memutuskan untuk mendekati Izza, namun hal itu tidak berhasil, untuk membuat Izza terpesona sama ketampanan dan juga rayuannya.
Ricko langsung terketuk hatinya, ia ingin menjadi mualaf. Namun, hal itu di tentang besar oleh keluarganya sendiri.
Apakah Ricko bisa menaklukan hati Izza, untuk menjadikan istrinya? Apakah Ricko bisa membujuk keluarganya termasuk kedua orangtua-nya untuk menjadi mualaf.
Nantikan kisah mereka di episode yang akan datang! jangan lupa baca, like komen dan vote, terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura Shafa mahbubah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jualan kopi keliling
Terlihat wajah lesu dan bingung dari wajah Izza, ibu Hanna kemudian mendekati Izza.
"Kamu kenapa sayang? apa ada masalah?" tanya ibu Hanna.
"Bu, Ricko jadi mualaf, tadi pagi di mobil dia menceritakan semuanya dan di usir dari rumahnya." Jawab Izza
"Ya Allah, terus bagaimana sekarang? dia sekarang tinggal di mana?" tanya ibu Hanna
"Di rumah pak Wahid, dia kenal sama pak Wahid dan di beri tumpangan, lalu Ricko mengajak Izza ta'aruf Bu." Jawab Izza membuat ibunya terkejut.
Senyumnya melebar dan langsung memeluk anaknya.
"Sayang, pria itu sepertinya benar-benar mencintaimu, maka dari itu dia tidak mau menunggu lama dan langsung mengajak menikah. Dan kamu tau pria yang sudah mengajak ta'aruf dia adalah pria yang sangat baik shaleh." Terang ibu Hanna, ia sangat senang mendengar anaknya ada yang mengajak ta'aruf.
Izza mendongkakan tubuhnya kedepan, ia masih ragu dan bingung untuk mengambil langkah yang sangat besar ini.
"Bu, apa dia pria yang baik dan bisa membimbing Izza suatu saat nanti?" tanya izza
"Pertama ibu melihat dia, sudah ada rasa pria itu sangat baik, insya Allah dia akan membawamu ke jalan yang benar. Bukankah Izza sendiri yang cerita sama ibu, Izza gak mau pacaran dan kalau misal ada yang mengajak Izza ta'aruf Izza mau." Tanya ibu Hanna mengejutkan pertanyaan-nya.
"Tapi kan Bu, Izza masih ragu, belum siap untuk mengambil keputusan ini?" tanya Izza
"Ibu cuma ngasih saran sama kamu Za, pria yang mualaf dan langsung mengajakmu menikah langsung, dia adalah pria shaleh. ibu yakin pria itu sangat baik, bahkan kata Izza juga dia rela di usir dari rumah megahnya meninggalkan harta benda demi masuk muslim. Coba kamu pikirkan baik-baik, ibu sangat menyukai Ricko, di banding Leo." Jawab ibu Hanna mengangetkan Izza yang tengah mendengar nasehat ibunya.
"Leo, Izza tidak bisa menerima dia Bu, pria itu sangat kejam dan mengkhianati Izza." terang Izza sambil manyun ke arah ibunya.
"Nah, Izza taukan mana yang terbaik buat kamu yang mana. Semua keputusanmu ada di hati kamu Za, ibu hanya bisa menasehati saja." Ujar ibu Hanna.
"Baiklah Izza perlu waktu untuk menjawab semuanya." ucap Izza
🌸🌸🌸
Ricko sudah berada di warung pak Wahid, ia memutuskan untuk membantu pak Wahid berjualan kopi di depan mesjid.
"Nak Ricko, apa kamu tidak gengsi berjualan kayak gini, biasanya juga nak Ricko berada di gedung yang mewah dan ada AC-nya." Ujar pak Wahid.
"Jangan bilang begitu, belum tentu yang berada dalam gedung sesantai gini mas." Jawaban Ricko sungguh di luar dugaan pak Wahid.
Hari ini Ricko membantu pak Wahid, ia berinisiatip untuk keliling komplek berjualan kopi. Di benak Ricko tidak ada gengsi yang ada malahan senang, ia sangat bersyukur menjadi orang sederhana. Dan perlu perjuangan untuk mendapatkan uang buat makan.
Terlihat mobil mewah yang parkir di dekat warung pak Wahid. Ia langsung membuka jendela sedikit agar Ricko tidak curiga.
"Hatimu sangat keras sayang, hingga kamu rela berpanas-panasan begini. Mamah kira kamu tidak kuat menjalani hidup miskin dan bisa balik lagi ke rumah mewah mu." Ujar mamah Ricko ia langsung melajukan mobilnya kembali.
Keringat bercucuran, panas terik menyinari kulit putih Ricko, Ia berkeliling komplek berjualan kopi. Bagi Ricko ini sangat melelahkan karena dirinya tidak pernah berjualan kayak begini.
Terdengar ada suara wanita paruh baya yang memanggil namanya, Ricko menengok ke belakang. Tak di sangka, ibunya Izza memanggil dirinya, Ricko terkejut terdiam sejenak, baginya pertemuan ini di luar dugaan.
"Nak Ricko" ucap ibu Hanna sambil menghampirinya.
"Eh Bu" Ricko langsung menyalami tangan ibu Hanna.
Terlihat raut wajah ibu hanna tersenyum ke arah Ricko.
"Kamu jualan kopi keliling nak, sungguh mulia hatimu, ayo sini ibu tadi sudah masak untuk makan siang, Izza juga ada di rumah kebetulan dia juga lagi libur." Ujar ibu Hanna mengajak Ricko kerumahnya.
"Terima kasih banyak bu, tapi Ricko sudah makan tadi di warteg, saya pamit pulang dulu ya bu. Maaf bukan aku menolak ajakan ini tapi siang ini saya mau membantu pak Wahid berjualan kopi keliling." Jawab Ricko
Ibu hanna sangat bangga mengenal Ricko apalagi dia mengajak anaknya ta'aruf membuat ia semakin kagum.
"Ya sudah, kapan-kapan mampir ke rumah ibu yah, kalau misal lewat sini lagi?" seru ibu Hanna sambil tersenyum.
"Insya Allah ya bu, saya pamit pulang dulu?" jawab Ricko.
"Ya sudah nak, hati-hati di jalan." ujar ibu Hanna.
Ricko langsung berangkat lagi berjualan keliling, Hari ini cukup lumayan banyak yang di dapat dari jualan kopi keliling. Karena memang wajah Ricko ganteng, ibu-ibu komplek saja sampai membeli kopinya, alasan buat suaminya di rumah.
Ibu Hanna langsung membuka pintu rumahnya sambil mengucapkan salam. Terdapat Izza yang sedang menonton tv, ibu Hanna tersenyum dan langsung mengahampiri anaknya.
"Izza, kok ibu ucap salam tidak kamu jawab?" tanya ibu Hanna.
"Eh, ibu kapan pulang dari warungnya? maaf Izza tidak mendengarnya hee" jawab Izza.
"Duh kamu itu, lagi mikirin siapa, pasti Ricko yah?" goda ibu Hanna sambil duduk didekat Izza.
"Ah ibu apaan sih, Izza lagi lihat tv jadi gak denger ibu ucapkan salam." Ujar Izza sambil tersenyum.
"Ibu tadi di jalan bertemu Ricko" ucap ibu Hanna, membuat Izza langsung melirik ke arah ibunya.
"Kok bisa Bu? ngapain dia ada di komplek sini?" tanya Izza, wajahnya langsung fokus lagi ke depan tv.
"Dia jualan kopi keliling membantu pak Wahid jualan, kamu sangat beruntung sayang. Pokoknya mamah sudah klop banget Ricko menantu idaman ibu hee." Ujar ibu Hanna sambil menggoda anaknya.
"Ah ibu, Izza belum mantap menempatkan pria asing di hati Izza. Ibu saja yang menikah sama Ricko." Seru Izza sambil tertawa.
"Ya ampun anak ibu ini, kamu sangat jail sekali." Ujar ibu Hanna sambil mencubit pipi Izza.
"Duh ibu sakit" ucap Izza sambil manyun
"Kamu sih, ada-ada saja, kamu shalat istiqarah, meminta petunjuk sama allah. Bila kamu sudah menemukan jawabannya langsung kasih tau ibu, nanti akan ibu yang mengurus semuanya." Terang ibu Hanna.
"Inysa Allah Izza akan meminta petunjuk di sepertiga malam." Ujar Izza, ibunya langsung tersenyum dan memeluk tubuh anaknya.
"Kamu cantik dan juga baik, semoga jodohmu baik dan juga shaleh. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak-anak ibu." Terang ibu Hanna.
Setelah itu Izza langsung mematikan tv dan beranjak pergi ke kamarnya, pikirannya saat ini sangat mumet, ia masih bingung dan juga bimbang.
Pakir ❌. Fakir. ✅
Sipat ❌. Sifat ✅
ga ada bawang nya
bacanya biasa aja kakak 🙏