Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti kakak
Kini mereka berempat sudah berada di dalam butik, ya siapa lagi kalau bukan Aditya, Ziya, Winda dan Syita.
Winda mengambil beberapa baju dan menempelkannya pada tubuh Ziya. Lalu ganti yang lain dan yang lainnya. Setelah beberapa dirasa seperti cocok, Ziya pun disuruh untuk mencoba. Sedangkan Aditya menunggu di sofa depan.
"Bagaimana yang ini"
Sudah kelima kalinya Ziya berganti pakaian, dia nampak sedikit lesu karna Winda selalu cerewet dengan gaun yang dicoba Ziya. Ziya merasa Winda seperti kakaknya. Ah jika ingat Nabila dia merasa sedih, apalagi setiap vc kakaknya tidak dirumah nomernya juga sulit dihubungi. Tapi semua itu terobati saat bertemu Winda.
"Oke! perfect!" Winda tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Sedangkan Syita hanya melirik dari sudut mata.
"Mbak ini tolong bungkus semua" Winda menyerahkan tiga potong baju.
"Abis ini kemana lagi kita!" Syita bertanya tapi tetap melihat HP.
"Ke mall"
"Lho kak, nggak dibayar dahulu ini?" Ziya terheran karna dia hanya melewati kasir.
"Ini butik milik kak Winda" Syita menjawab sambil terus jalan. Winda hanya tersenyum saat ditatap oleh Ziya.
"Anggap saja ini hadiah dariku, aku sangat senang nanti malam punya teman perempuan, karna biasanya akulah yang paling cantik diantara temanku bahkan sejak sekolah haha" Winda nerocos dan tertawa sendiri.
"Maksud kakak?" Ziya belum paham.
"Jadi, waktu sekolah aku selalu dekat dengan Aditya dan teman teman nya!. karna hanya mereka yang mau berteman dengan ku. Tidak ada cewek satupun yang mau berteman dengan ku karna suaraku yang kadang tidak terkontrol"
Kini mereka sampai dihalaman, mobil Aditya berhenti. Winda dan Syita langsung masuk di kursi belakang. Terpaksa Ziya duduk disamping Aditya.
"Kemana kita!" Aditya bertanya sambil melajukan mobil.
"Langsung saja ke mall!" Winda mengomando.
Sampai di mall Winda langsung menarik lengan Ziya dan Syita dengan antusias dia memilih beberapa aksesoris. Lalu beralih pada alat make up setelah itu mereka masuk dalam toko tas.
"Ziya kamu pilih yang mana?" Winda menunjuk dua tas yang berbeda.
"Yang itu aja kak lebih simple tapi elegan" Ziya menunjuk jenis Minaudiere bag yang menurutnya bagus warnanya juga senada dengan gaun yang akan dipakai.
"Seleramu bagus juga ternyata Ziya" Winda memuji.
"Syita kamu nggak pilih sesuatu apa gitu , pumpung ada bos tuh" Winda bicara dan menunjuk Aditya dengan kepalanya.
"Nggak ah kak, aku ntar aja beli sepatu, tas aku masih bagus bagus kok".
Ziya kini tau bahwa Syita ternyata bukan orang yang suka boros, dia akan membeli sesuai dengan kebutuhan. Dia juga hanya bicara seperlunya. Sedangkan Winda yang lebih tua dari dia lebih bisa mengemong dan sangat penyanyang menurut Ziya.
Akhirnya semua sudah terbeli kini mereka berada di salon didalam rumah Aditya.
"Yah Syita sendirian dong dirumah!" Syita nampak cemberut sambil menunggu rambutnya kering.
"Emmh kamu sama Rizal aja kasihan kan ntar hanya dia yang tidak berpasangan" Winda memberi ide.
"Emang situ punya pasangan nantinya?"
"Yee...aku sudah janjian sama Diki" Winda berkata sambil menjulurkan lidah.
"Wahhh kakak sudah naik level nih pedekate nya!"
Ziya yang belum tahu jika Winda mencintai Diki sejak dulu mencoba mencerna ucapan Syita.
"Dia yang ngajak, katanya seh kalau ada dansa dia tidak hanya menonton saja seperti tahun sebelumnya"
"Emang kak Diki nggak punya pacar ya" Ziya kepo kan kan secara Diki juga sama tampannya dengan Aditya hanya saja lebih ramah.
"Tidak pernah punya cewek dia. Dideketin cewek aja dia marah" Syita yang menjawab sambil ketawa.
Ziya mengangkat alisnya.
"Diki memang ramah, tapi dia nggak suka bila ditembak sama cewek. Pernah waktu sekolah ada yang suka sama dia dan kasih surat eh malah ceweknya dimarahi abis abisan. Kasihan juga tuh cewek" Winda bercerita.
"Apa nggak ada yang disukai sama kak Diki?" Ziya
"Dia tipe orang yang sulit dekat dengan lawan jenis" Winda menjawab.
"Sejauh ini yang dekat sama kak Diki ya cuma kak Winda. Teman teman kak Aditya yang playboy hanya kak Doni. Semuanya cemen makannya jomblo sampai tua" Syita memberi tahu.
Ziya manggut manggut. " Memang tuan Aditya tidak pernah jatuh cinta ya"
"Cieee kak Ziya kepo nih"
"Pernah!, namanya Marina tapi hanya berlangsung empat bulan saja". Winda menjawab.
bisa jatuh cinta juga tuh cowok. batin Ziya.
"Kenapa singkat sekali?"
"Karna Marina pergi keluar negeri dan berita yang beredar dia juga kerap bergandengan dengan bule" Syita bercerita.
"Apakah Marina seorang model?"
"Ya kau benar, dia memilih jadi model majalah dewasa makannya kak Aditya tidak melanjutkan hubungan dengan nya"
"Udah udah jangan bergosip melulu kita harus ganti pakaian udah saatnya pergi ini" Winda melihat jam ditangannya dan pergi untuk ganti pakaian.
🍎🍎🍎
Tiga pria tampan sudah setia menunggu pasangan sementara mereka.
"Dit, ternyata lu nggak salah pilih pasangan, tinggi juga selera luh" Diki bersuara setelah melihat tiga gadis keluar dari rumah. Nampak Ziya dengan gaun silver yang panjang seperti putri dalam negeri dongeng.
Aditya terbengong melihat Ziya yang semakin dekat padanya.
"Luh juga Diki, cepet utarakan apa kata hatimu, mau nunggu sampai kapan luh udah tua juga" Rizal yang malah ngejawab.
Winda dengan gaun merah maroon sangat pas dengan kulit putihnya. Sedangkan Syita yang memilih warna biru tosca membuatnya makin terlihat imut.
"Malam tuan tuan yang terhormat, bisakah kita pergi sekarang?" Winda mulai jengah dengan tatapan Diki yang membuatnya salting.
"Baiklah princess silahkan masuk" sambil membuka pintu mobil dan membungkuk layaknya pengawal kerajaan.
"Tuan bisakah kita pergi sekarang?" Ziya melihat Diki dan yang lainnya sudah meninggalkan halaman rumah pun bertanya. Karna Aditya tak beranjak dari tempatnya berdiri, bersandar pada pintu mobil.
Sangat cantik, mungkin lebih cantik dari bidadari.batin Aditya.
"Woooi!" Ziya menjentikkan jari karna Aditya belum juga bergeming.
Dengan gelagapan Aditya pun membuka mobilnya. "Dimana yang lain!"
"Sudah pergi tuan, tuan seh bengong mulu mikirin apa seh?"
Ziya memiringkan kepalanya ingin tau mimik wajah Aditya. Aditya menghindari tatapan Ziya karna merasa malu.
Perasaan apa ini ya Tuhan, aku deg deg an sekali, padahal aku hanya ingin memanfaatkannya saja.batin Aditya.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan nanti disana?"
"Ya..kamu cukup disampingku sepanjang acara, dan jangan panggil aku tuan disana!"
"Terus saya panggil anda dengan sebutan apa?"
"Ya bisa panggil saja dengan sayang, itu kedengeran lebih enak kayaknya".
"Uhuk uhuk!"
Ziya tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Aditya.
"Kenapa kamu?" mengelus elus punggung Ziya dengan satu tangannya setelah menghentikan mobil.
"Gapapa tuan, saya tersedak permen tadi" berbohong.
"Kamu ini dokter, tapi ceroboh ya, jangan sering ngemil permen, bisa merusak gigi, mengakibatkan terpicunya sakit diabetes apa kamu tidak tau itu"
Aditya mengomel sambil masih menatap Ziya. Padahal tadi Ziya hanya terkejut karena baru pertama kali ada yang menyuruh nya panggil sayang. Namun Ziya terharu dengan perhatian yang ditunjukkan oleh Aditya.
"Kamu sudah tidak apa apa kan?"
Ziya hanya menggeleng. "Baiklah mari kita lanjutkan" Diiringi oleh senyum manis Aditya.
*Ya Tuhan, kenapa senyumnya manis sekali, andai kau tersenyum setiap hari Dit. Astaga apa yang kau lakukan Ziya, ingat kamu hanyalah gadis pembayar hutang. Kau tak selevel dengan dirinya. batin Ziya.
Bersambung*...
Terima kasih sudah membaca karya saya, mohon tinggalkan jejak ya... terima kasih 😊
ending yang membanggongkan