WARNING 18++
Kisah ini tentang Anya Safanya, Apakah Ia pantas disebut gadis malang karena dipaksa menikah dengan Tuan Muda Deva Rafka Utama?
Apakah mereka akan bahagia dengan pernikahannya? walaupun tanpa berlandaskan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WEENA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 11
*** Bali
"Ehh.. Bangun!" sentil Deva di dahi Anya yang sedari tadi tidur dipundaknya.
"Awhh.. Ihh Tuan sakitt, kenapa menyentil dahiku?" desis Anya terbangun.
"Kita sudah sampai" ujar Deva.
"Kita udah dibali?" kata Anya kaget "Yes yes yes" Anya girang.
"Jangan norak!" ujar Deva melihat tingkah laku Anya.
"Maaf Tuan. aku terlalu senang" kata Anya dengan senyuman "yuk turun Tuan" tarik tangan Anya dengan semangat.
"Iya iya hati-hati tanganku sakit" ujar Deva mengeluh sebab tarikan tangan Anya.
"Hehe maaf Tuan" ucap Anya yang langsung melepaskan tangan Deva "Kenapa Reno tidak ikut dengan kita?"
"Kenapa Reno harus ikut?" ujar Deva sambil memicingkan matanya kearah Anya "Kau menyukainya?" kata Deva dengan selidik.
"M-mana mungkin.. maksudku tumben saja Reno tidak membuntuti kita" elak Anya.
"Hmm" balas singkat Deva.
Mereka menuju hotel bintang 5 yang ternyata dimiliki oleh Deva company, untuk beristirahat karena besok pagi ada meeting penting, Deva mengambil 2 kamar untuk mereka berdua dan kamar itu berdampingan.
"Ini kamarmu, dan itu kamarku!" ucap Deva sambil menunjuk kamar yang dimaksud.
"Baiklah, terimakasih Tuan" lanjut Anya yang hendak masuk kekamarnya, "Oh iya Tuan.. meetingnya dimulai besok jam 9 pagi, jadi bangunlah lebih awal, selamat malam" ucapnya lagi dengan senyuman tipis.
"Hmm" balas singkat Deva yang juga masuk kekamarnya.
...........
"Tuan" sapa Anya sambil mengetuk pintu kamar Deva beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Benar kan si kampret pasti bangunnya kesiangan! awas aja kalau meetingnya telat dan dia marahin gue" gerutu Anya.
Deva yang dari tadi mendengar perkataan Anya daru belakang "Ekhem.."
"Eh Tuan? sudah siap?" sapa Anya kaget karena melihat Deva dan Reno ada dibelakangnya. "Aku kira kau belum bangun" lanjutnya lagi.
"Saya orang yang disiplin waktu, dan jika kau ingin menjadi sekertarisku, kau harus bisa bangun lebih awal lagi dariku" tegas Deva sambil melirik Jam tangannya.
"Tenanglah Deva! ini kan baru jam 7, dan Anya sudah mencoba untuk bangun pagi, kau terus saja memarahinya" bela Reno yang melirik Anya yang tampak sedih.
"Hmmm... Siapkan berkasnya dan kita lanjut sarapan dulu sebelum pergi kesana" tegas Deva lagi.
Anya mengangguk paham dan pergi.
"Anya.. Tunggu, apa boleh aku membantumu?" ucap Reno mengejar Anya.
"Mereka terlihat sangat dekat!" gerutu Deva sedikit kesal melihat Anya dan Reno pergi bersama.
..........
Mereka sedang makan sarapan bersama, dan mereka fokus kepada makanannya masing-masing.
"Anya, kok makannya dikit banget?" tanya Reno melihat kearah piring Anya.
"Lagi diet Hehehe" balas Anya yang sudah terbiasa bercanda dengan Reno, dan Ia lupa bahwa sekarang sedang bersama dengan Deva juga.
Denting suara piring & sendok Deva yang mengisyaratkan mereka untuk diam.
"Mereka benar-benar sangat akrab! bahkan mereka tidak memperdulikan aku" batin Deva.
"Anyaa, udah kelas berapa sekarang?" Tanya Reno sengaja membuat suasana lebih cair.
"Kau kan sudah sering mengantar dan menjemputku, masak tidak tahu hahaha" balas Anya lagi.
Deva melirik sinis kearah Anya yang terlihat sedikit lebih agresif dalam merespon perkataan Reno, dan Anya menyadari perbuatannya.
"Hm.. sudah kelas 12" balasnya dengan serius.
"Oh.. bentar lagi mau lulus dong?" ujar Reno lagi.
"Apakah kau akan bertanya lagi jika Dia sudah lulus akan lanjut kuliah atau tidak?" sambung Deva yang terlihat emosi melihat percakapan mereka dari tadi.
Anya dan Reno hanya saling bertukar pandangan heran mendengar perkataan Deva tadi.
"Heyy.. sekarang apa lagi yang salah? aku kan bertanya pada Anya, bukan padamu" balas Reno mengejek Deva yang sebenarnya sengaja memanas-manaskan keadaan.
"karena kalian terlalu banyak bicara, aku ingin fokus sarapan saja susah!" elak Deva.
"Begitu saja marah, pantes cepet tua" lirih Anya pelan namun dapat didengar oleh Deva dan Reno.
Reno menepuk dahinya pelan "bakalan ada perang nih" batinnya sambil melirik Deva yang tersulut emosi.
"Apa katamu, Tua?" ucap Deva sambil menatap Anya dengan kesalnya.
"Iya! lihat perbedaan kalian, umur kalian sama namun Reno tampak lebih muda dibanding dirimu, karena dia sering tersenyum! tidak suka marah-marah sepertimu" balas Anya tidak mau kalah.
"Anya.. jangan berbicara seperti ituu" ucap Reno lirih melihat suasana semakin panas.
"Shit!! kau bandingkan aku dengan Reno? bahkan seluruh dunia juga akan lebih memilihku daripada dia! aku yakin Reno juga mengakuinya" ucap Deva percaya diri.
"Hmm..." desis Reno.
"Jangan mau kalah Ren! aku selalu mendukungmu kok" dukung Anya sambil menepuk pundak Reno.
Entah kenapa ada bagian dalam tubuh Deva yang terasa panas ketika melihat kedekatan antara Anya dengan Reno, bahkan bukan hanya dengan Reno namun dengan lelaki lain juga.
Reno tersenyum licik dan mempunyai Ide untuk membuat Deva menyadari bahwa sebenarnya ada rasa cinta yang mulai tumbuh untuk Anya "Memang kau mempunyai segalanya, kau pasti akan lebih banyak dipilih, namun aku sangat senang karena Anya sudah berpihak kepadaku" ujarnya.
Deva terdiam dan merasakan ada hal yang sangat aneh pada dirinya saat mendengar segala perkataan-perkataan tadi.
"Hahaha, terserah setidaknya kau mengakui bahwa aku memang banyak pengemarnya" lanjutnya yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.
"Tuan, maaf sudah pukul 8, bukankah lebih baik kalau kita berangkat sekarang?" ucap Anya berdalih dari permasalahan itu.
Deva langsung meninggalkan mereka berdua menuju mobilnya dengan perasaan campur aduk.
Anya menepuk dahinya "Sungguh bodohnya dirimu... bagaimana jika Si kampret itu marah dan meninggalkanmu sendiri di Bali? aduhhh" gerutunya.
"Tenang saja, Deva memang cepat marah namun Ia juga bisa dengan cepat memaafkan seseorang, Ayo berangkat!" kata Reno sambil berjalan menuju parkiran mobil.
"Maafkan aku, karena aku.. kau juga terkena marahnya" ujar Anya sedih dan mengikuti langkah kaki Reno dari belakang.
Reno menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Anya "Tidak masalah, kalau boleh aku mengatakan sesuatu aku suka dengan kejujuranmu" lanjutnya sambil menepuk pundak Anya.
"Akhhhhhhh Shit!!! setelah aku meninggalkan mereka, ia tetap asik berbicara dan tidak merasa bersalah sedikitpun?" gerutu Deva kesal yang melihat Anya & Reno dari CCTV hotel melalui ponselnya.
Deva mematikan ponselnya ketika melihat Reno dan Anya sudah hendak masuk ke mobil.
"Ren! kau beristirahatlah dihotel, aku hanya akan meeting berdua saja dengan Anya" kata Deva untuk Reno.
"Hmm.. tidak perlu, aku saja yang mengantar kalian" balas Reno merasa aneh.
"Tidak ada penolakan!" ucap Deva, "Hey sekretaris, Ayo naik!" lanjutnya tanpa memandang Anya.
"Apakah dia sedang marah?" batin Anya bertanya-tanya namun tetap masuk kedalam mobil.
"Kami pergi dulu Ren!" kata Anya untuk Reno.
Reno tersenyum tipis dan merasa aneh "Ada apa dengan Deva, dia nyuruh gue cepet-cepet ke Bali, eh tau-taunya gue disuruh diem dihotel" keluh Reno saat melihat mobil Deva mulai menjauh.
****Di dalam mobil
"Emhhh Tu-ann" desah Anya saat Deva mencium bibirnya dengan terburu-buru
## kok bisa ciuman?
bisa dong.... lanjut besok ya gengs..
jangan lupa dilike, comment dan vote aku ya!👋👋👋