NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia yang lebih jago

Andito melangkah santai menuju tengah lapangan. Bola basket berwarna jingga itu berputar-putar di telapak tangannya.

Namun...

Alih-alih langsung memulai penilaian, ia malah melempar bola itu sedikit ke atas.

Lalu—

Wrrr....

Bola berputar di atas telunjuknya.

"Widihh gilaa!"

Sorakan langsung pecah dari pinggir lapangan.

"Jangan kebanyakan gaya lu, Dit!" teriak Michel sambil tertawa.

"Cepetan, woi! Lama amat!" sahut Rendy.

Andito menyeringai lebar.

"Sabar, jir! Baru aja gue masuk lapangan."

Gelak tawa kembali terdengar. Beberapa siswi yang sejak tadi memperhatikan pun ikut terkikik melihat tingkah tengilnya.

Pak Firman yang berdiri sambil membawa jurnal penilaian hanya menggeleng maklum. Sudut bibirnya sempat terangkat tipis.

Bola yang tadi berputar di telunjuk Andito kini ditangkap kembali.

Duk. Duk. Duk.

Ia mulai menggiring bola pelan.

Lalu tanpa aba-aba, bola dipindahkan melewati sela kedua kakinya.

Tak! Duk! Tak!

Gerakannya ringan.

Cepat.

Bahkan sempat mengulanginya beberapa kali sebelum akhirnya menghentikan bola di tangan kanan.

"Buset..."

"Udah bisa between leg dribble aja tuh anak!"

Beberapa teman sekelas mulai bertepuk tangan kecil.

Andito pun tersenyum puas.

Namun...

Baru saja ia hendak mulai mengambil ancang-ancang...

Senyumnya perlahan memudar.

"Eh..."

"Bentar."

"Tadi..."

"Gue ngomong apa, ya?"

Ingatannya berputar cepat.

Beberapa detik, matanya membelalak tipis.

Kukasih contoh sekarang. Nanti lu analisa gue ya, Yun.

"..."

"ANJIR."

Refleks kepalanya menoleh ke arah tribun. Dan benar saja, Yuna masih duduk di tempatnya.

Kedua tangannya terlipat rapi di atas paha. Tatapan di balik kacamata bulat berbingkai tebal itu lurus mengarah kepadanya.

Fokus.

Tenang.

Nyaris tak berkedip.

Seolah setiap gerakan kecil yang ia lakukan sedang direkam satu per satu.

Pipi Andito mendadak terasa hangat.

Kok jadi gini?

Baru kali ini, ia merasa sedang diperhatikan sedetail itu oleh seseorang. Melebihi Pak Firman sendiri.

Andito buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Lalu menarik napas dalam untuk mengusir rasa grogi yang tiba-tiba mulai merayap naik.

"Oke..."

"Fokus."

Ia mulai menggiring bola.

Duk. Duk. Duk.

Langkah pertamanya masih terlihat mantap.

Namun saat bola berpindah ke tangan kiri, gerakannya sedikit terlambat. Pantulannya pun sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Pak Firman yang sejak tadi memperhatikan dari samping lapangan seketika mengernyit.

"Loh? Tumben agak oleng nih anak?"

Andito terus menggiring. Berusaha mengembalikan ritmenya.

Lutut sedikit ditekuk.

Lalu melompat.

Bola terlepas dari ujung jarinya.

Semua mata mengikuti lintasannya.

Dung!

Bola menghantam sisi ring.

Berputar di bibir keranjang sebentar.

Lalu memantul keluar.

Duk!

Duk!

Duk!

Hening.

Andito menangkap bola yang menggelinding di bawah kakinya sembari nyengir lebar.

Selama satu detik.

Lalu—

"HAHAHAHA!"

Seluruh kelas 10 IPS 1 langsung pecah oleh gelak tawa.

"Apaan!"

"Gaya doang lu, Dit!"

"Tengil doang, skill belakangan!"

"Kirain masuk, ternyata nyium ring doang!"

Bahkan Rio sampai memegangi perutnya sendiri karena terlalu keras tertawa.

Andito hanya bisa menyeringai kikuk.

"Diam lu semua, Anjir!"

Teriaknya sembari berkacak pinggang. Bolanya ia jepit diantara sela ketiaknya. Meskipun wibawanya sedikit berkurang akibat pipinya yang semakin nampak memerah.

Ia mundur sembari men-dribble bolanya kembali. Mencoba mencari posisi yang menurutnya strategis untuk melempar dengan lebih akurat.

"Tenang aja. Masih ada empat kesempatan."

Namun disela langkahnya, matanya tanpa sengaja kembali melirik ke arah tribun—ke tempat Yuna duduk.

Di sana, Yuna masih berada pada posisi yang sama.

Tidak tertawa.

Tidak mengejek.

Tidak pula terlihat iba.

Sorot matanya justru bergerak mengikuti gerak-gerik Andito.

"Masa sampe segitunya sih nganalisis gue?"

Andito menelan ludah. Lalu berdecak pelan.

Karena ia terlambat menyadari bahwa kalimatnya sendiri...

Kini berubah menjadi bumerang yang membuatnya grogi.

....

Percobaan kedua.

Dung!

Masih mengenai ring dan memantul keluar.

"WOOO!"

"Tadi katanya kasih contoh!"

"Contoh apaan kek gitu?!"

Tawa kembali memenuhi lapangan.

Andito mencengkeram sedikit lebih erat bola basket itu. Seolah ingin meremasnya seperti telur.

....

Percobaan ketiga.

Ia menarik napas lebih dalam.

Menggiring sekali.

Lalu melepaskan bola.

Krak!

Kali ini bola akhirnya menembus jaring.

"Nahh akhirnya!"

"Masuk satu!"

Sorakan teman-temannya kembali terdengar. Namun Andito sama sekali tidak merasa lega.

Baginya...

Satu dari tiga percobaan bukan sesuatu yang layak dibanggakan.

.....

Ia mengambil bola lagi.

Percobaan keempat.

Dung!

Meleset.

....

Percobaan kelima.

Bola mengenai papan. Lalu memantul menjauh. Lagi-lagi, tidak masuk.

Pak Firman meniup peluit pendek.

"Cukup."

Beliau langsung menuliskan nilai pada jurnal nilai yang masih ia sangga di lengan kirinya. Lalu menggeleng kecil.

"Seharusnya lebih bagus sih..."

Ujung pulpennya mulai bergerak.

"Kasih nilai enam puluh saja lah. Untuk gayanya yang pede mampus," gumamnya pelan sambil menuliskan angka itu di samping nama Andito Sofansyah Putra.

Di tribun, gelak tawa masih belum benar-benar reda.

"Freestyle dulu..."

"Masuknya satu!"

"Hahaha!"

"Makanya jangan kebanyakan gaya!"

Andito hanya menggaruk rambutnya dengan kesal.

"Bacot lu semua, Anjir!"

Ia berjalan kembali menuju tribun. Langkahnya terasa jauh lebih berat dibanding saat turun tadi. Padahal yang ia lakukan hanya lima kali melempar bola. Namun rasanya? Seperti baru selesai bermain dua babak penuh.

Bruk.

Ia langsung menjatuhkan diri di samping Yuna, sembari mengembuskan napas panjang.

Yuna yang sejak tadi memperhatikan pun lekas membuka mulut.

"Jadi seperti itu ya cara—"

"Jangan ngomong."

Andito langsung memotong.

"Gue lagi malu."

Yuna terdiam beberapa detik. Namun setelahnya, ia malah tertawa kecil melihat tingkah Andito sekarang ini.

Bukan karena ingin menertawakan Andito. Melainkan...

"Kenapa ketawa?" ketus Andito.

"Seorang ahli pun juga bisa gagal ya?"

Andito hanya mendengus kasar mendengar ucapan itu. Kepalanya langsung berpaling ke arah lain dengan pipi yang semakin memerah.

Entah karena rasa malunya yang semakin membesar akibat ejekan Yuna. Atau karena senyum yang pertama kali tergambar di wajah gadis yang pikirannya selalu penuh akan kalkulasi itu.

....

"Lanjut."

"Fathoni Anggara!"

Mendengar namanya dipanggil, Angga langsung bangkit dari tribun. Nomor absennya memang tepat berada setelah Andito.

Ia duduk berada di barisan bawah tribun paling delan. Dengan tatapan yang sama tajamnya dengan Yuna. Meskipun analisanya tak se-berlebihan dirinya.

Angga turun ke lapangan dengan gerakan tenang.

Tidak ada gaya berlebihan.

Tidak ada freestyle.

Andito yang melihatnya pun hanya menatapnya lesu.

Remaja itu berhenti pada garis tengah lapangan. Melemaskan pergelangan tangannya. Sembari pupil matanya bergantian memandang antara ring, dengan bola yang masih berada di bawah kakinya.

Prittt!!

Suara peluit Pak Firman kembali memecah keheningan pagi untuk ke sekian kalinya. Membuat Angga bersiap, yang diawali dengan menarik napas pelan.

"Oke... fokus...."

Kedua lututnya sedikit ditekuk. Seolah sedang memperkirakan sesuatu.

Melihat itu, Yuna tanpa sadar ikut memajukan tubuhnya sedikit. Sementara sorakan teman-teman kali ini jauh lebih tenang.

"Semangat, Pak Ketua!"

"Jangan kebanyakan gaya please!"

Angga mulai menggiring bola.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

Bola terangkat.

Pergelangan tangannya bergerak lembut.

Krak!

Bola pertama langsung menembus jaring.

"WOOO!"

"Anjay sekali coba?"

"Gokil!!"

Beberapa tepuk tangan terdengar dari tribun. Bahkan beberapa siswi ikut bersorak kecil.

"Wah, jago juga si Angga."

"Gak cuma jago sosiologi doang, ternyata."

Di tribun, Andito berdecak pelan.

"Halah..."

"Keberuntungan pemula," gumamnya lirih.

Percobaan kedua dimulai.

Krak!

Masuk lagi.

Alis Andito mulai terangkat.

"Loh..."

Percobaan ketiga.

Bola melambung membentuk lengkungan yang rapi.

Krak!

"GILA MASUK LAGI!"

"Boleh juga si Angga!" teriak Michel sambil menepuk paha Rio.

Rio pun langsung menyahut.

"Boleh nih si Angga join ekstra basket!"

Sorakan kembali menggema.

Pak Firman yang melihat aksi itu, sontak menuliskan sesuatu pada buku nilainya.

"Lumayan. Teknik pelepasan bolanya konsisten."

Sedangkan di tribun, Yuna bergumam sendiri.

"Jadi sudut pelepasan tangan juga berpengaruh ya?"

Andito hanya bisa mendesah panjang. Lalu menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

"God..."

"Dia malah lebih jago dari gue.."

Namun...

Di sela-sela jemarinya...

Matanya diam-diam mengintip ke samping.

Yuna masih menatap lurus ke lapangan. Bahkan kini bibirnya sedikit membulat. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Angga.

Dari posisi kaki.

Cara menggenggam bola.

Hingga ayunan pergelangan tangannya saat melepaskan lemparan.

Seluruh perhatian Yuna sepenuhnya tertuju pada proses itu.

Tak sedikit pun ia memikirkan siapa yang sedang melakukannya.

Namun...

Yang terlihat oleh Andito justru berbeda.

"Serius banget ngelihatinnya..."

Dadanya kembali terasa sedikit sesak. Ia buru-buru menggeleng pelan.

"Ahh..."

"Udahlah."

"Cuma penilaian sepele kok," gumamnya mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Padahal...

Di sampingnya.

Yuna sama sekali tidak sedang mengagumi Angga.

Ia hanya sedang berusaha mengingat setiap gerakan yang menurutnya paling efisien untuk memasukkan bola ke dalam ring.

1
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
kenzi moretti
coba lagi besok dito/Chuckle/
kenzi moretti
seseorang ada yg berkata "haremnya yuna nambah"/Sweat/
Moon.: tenang kak. si @Europa. fujoshi udah ku blokir kok dari sini./Smile/
total 1 replies
Europa.
yudi???
Moon.: biarin wlee
total 3 replies
Europa.
ini yuna kalau ngomong nusuk+nyakitin banget, yuda sama najwa aja dulu pernah kena keknya🗿
Europa.: tidak ada yg lolos dari pedang yuna
total 2 replies
Europa.
alasan mau ngerjain sosi inimah, aslinya pengen disamping yuna
Europa.
ughh, sakitnyee
Europa.
wahhh, ini my kisahnya yunaa, akhirnya muncul
Europa.
engga, masi ada melody, no 1 dihati yuna!
Moon.: gaada woi. enyahlah kau fujoshi😡😡
total 1 replies
Mingyu gf😘
yahh kasihan
Mingyu gf😘
😆😆😆kasihan kamu melody
Mingyu gf😘
haha😆😆tebak pasti randiy ini suka malas atau usil kan
Moon.: Rendy ini suka numpang nama doang, ga ikut kerja wkwk
total 1 replies
Mingyu gf😘
Haha, emang gak nyaman sih kalau harus sekelompok sama orang yang gK terlalu dekat dengan kita🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!