NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

POV JENNIE 🥀:

Terbangun pukul enam pagi oleh dering alarm yang memekakkan telinga jelas bukan cara terbaik untuk memulai hari. Rasanya sulit menemukan suara lain di dunia ini yang mampu membuat momen itu terasa lebih menyenangkan. Aku memang tidak pernah menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai sekolah. Justru sebaliknya, tempat itu selalu membangkitkan perasaan yang nyaris sama besarnya dengan kebencianku terhadap Kai.

Di luar jendela, langit masih diselimuti kegelapan yang pekat. Dengan langkah seringan mungkin, aku menyelinap ke kamar mandi, setengah mati berharap tidak berpapasan dengan Kai. Syukurlah, keberuntungan masih berpihak kepadaku pagi ini.

Setelah selesai bersiap, aku kembali ke kamar dan membuka pintu lemari pakaian lebar-lebar.

Dulu, memilih pakaian bukanlah perkara yang rumit. Aku hanya memiliki beberapa pasang celana jins dan dua buah sweater, sehingga tak ada banyak pilihan yang perlu dipikirkan. Namun kini semuanya berbeda.

Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baru.

Dan untuk pertama kalinya, aku ingin tampil benar-benar anggun.

Pilihanku jatuh pada sweater rajut putih berpotongan oversized. Bahannya lembut, hangat, dan nyaman dikenakan. Lengan panjangnya yang menjuntai bahkan menutupi telapak tanganku, memberikan rasa aman yang aneh sekaligus menenangkan. Sweater itu kupadukan dengan rok mini hitam sederhana yang pas membingkai lekuk tubuhku.

Sebagai pelengkap, aku mengenakan stoking hitam tebal yang membuat kakiku tampak lebih jenjang, lalu memasangkan loafer hitam klasik dengan sol platform rendah. Semuanya berpadu sempurna dalam gaya soft academic yang selama ini hanya bisa kulihat di media sosial.

Aku menambahkan kalung rantai tipis dengan liontin mungil di leher, lalu berpindah ke meja rias.

Permukaannya dipenuhi berbagai botol kosmetik, sementara alat catok rambut sudah menunggu di samping cermin.

Aku memilih riasan yang ringan. Sedikit concealer untuk menyamarkan lingkar hitam di bawah mata, maskara hitam agar bulu mataku tampak lebih lentik, lalu lip gloss beraroma semangka sebagai sentuhan akhir.

Kini tinggal rambutku.

Aku mulai mengeriting helaian rambut panjangku satu per satu. Bukan pekerjaan yang mudah, mengingat rambut lurusku selalu keras kepala setiap kali ditata. Butuh waktu cukup lama hingga helaian terakhir akhirnya selesai.

Aku menatap bayanganku di cermin.

Tanpa sadar, senyum kecil mengembang di bibirku.

Untuk pertama kalinya… aku melihat diriku tampak begitu feminin.

Dulu aku hanya bisa menatap gadis-gadis di TikTok yang pandai berdandan, tampil anggun sekaligus memesona, lalu diam-diam berharap suatu hari bisa terlihat seperti mereka.

Kini, gadis yang selama ini hanya ada dalam angan itu sedang menatap balik ke arahku dari pantulan cermin.

Sebagai sentuhan terakhir, aku menyemprotkan parfum dari botol merah favoritku. Aroma semangka yang manis dan lembut perlahan memenuhi kamar.

Aku meraih ransel yang tergeletak di dekat meja belajar, memasukkan beberapa buku catatan dan sebuah pulpen ke dalamnya. Buku pelajaran kemungkinan besar akan dibagikan oleh pihak sekolah nanti.

Saat keluar dari kamar dan menuruni tangga, suara obrolan dari dapur langsung menyambutku.

Di sana, Ibu dan Margaret sedang berdiri di dekat kompor, berbincang hangat sambil menyiapkan sarapan. Ethan tidak terlihat di mana pun.

Mungkin ia sudah berangkat bekerja.

Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, Ibu menghentikan kegiatannya. Tatapannya menyusuri diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu senyum bangga langsung menghiasi wajahnya.

“Ya ampun… cantiknya anak Ibu.” Ia memainkan alisnya dengan wajah jahil. “Ibu sampai tidak percaya kalau sekarang punya anak perempuan yang sudah sebesar ini… dan secantik ini.”

“Ibu…” protesku malu-malu sambil tertawa kecil.

“Memangnya salah kalau Ibu berkata jujur?” balasnya ringan. “Sudah, cepat duduk. Sarapannya nanti keburu dingin.”

Aku duduk di kursi tinggi di dekat kitchen island. Tak lama kemudian, sepiring panekuk hangat yang disiram sirup manis disajikan di depanku.

Mataku langsung berbinar.

Panekuk buatan Ibu adalah makanan yang sangat langka. Biasanya beliau hanya membuatnya saat ulang tahunku atau pada hari-hari istimewa.

“Panekuk!” seruku girang. “Ma, ini luar biasa. Aku pikir pagi ini sudah cukup berat, tapi panekuk buatan Ibu bahkan bisa menghidupkan orang mati.”

Ibu tertawa geli sambil menepuk pelan punggung tanganku.

“Nak, cara kamu memuji masakan Ibu benar-benar… unik.”

“Tapi memang benar,” sahutku sambil menyuapkan sepotong panekuk ke mulut. “Enak banget.”

Ibu tersenyum, lalu menatapku dengan lebih serius.

“Hari ini hari pertamamu di sekolah baru. Lagi pula sekolah itu cukup berbeda dari sekolahmu dulu.” Ia berhenti sejenak. “Kamu gugup?”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak juga. Sekolah tetaplah sekolah. Yang berubah hanya gedung dan orang-orangnya. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Aku berbohong.

Di balik wajah tenang yang kutunjukkan, ada kegelisahan yang perlahan mengendap di dalam dada. Rasa cemas yang selalu muncul setiap kali aku harus menghadapi sesuatu yang benar-benar baru.

Saat sedang menikmati panekuk, aku mendengar langkah kaki berat menuruni tangga di belakangku. Aku sudah tahu siapa pemilik langkah itu, jadi aku bahkan tidak repot menoleh dan tetap melanjutkan sarapan.

Sebaliknya, Ibu langsung menyambutnya dengan senyum hangat.

“Kai, bergabunglah dengan kami untuk sarapan.”

“Terima kasih, tapi aku lewat saja. Kelihatannya memang enak, tapi aku tidak makan makanan bertepung di pagi hari.”

“Menjadi atlet memang bagus. Pantas saja gadis-gadis tergila-gila padamu. Sopan, tampan, sekaligus atlet.”

Aku mendengus pelan sambil terus menyantap panekuk.

“Ah, masa sih? Gadis-gadis itu bukan prioritas. Sekarang aku cuma fokus kuliah.”

Ya Tuhan…

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Duduklah. Biar kubuatkan kopi.”

“Kalau begitu aku berterima kasih. Kopi hitam, tanpa gula.”

Kai duduk di kursi di sampingku. Ia membuka kedua kakinya begitu lebar hingga lututnya hampir menyentuh lututku.

Aku yakin itu disengaja.

Sama sengajanya dengan sikapnya yang pura-pura tidak menyadari keberadaanku.

Ibu meletakkan secangkir kopi hitam di depannya.

“Silakan.”

“Terima kasih.”

Ibu tersenyum, lalu berkata,

“Kai, Ibu mau minta tolong.”

“Apa itu, Nyonya Carter?”

“Ethan mendadak harus berangkat bekerja lebih pagi dan membawa sopir yang biasanya mengantar Jennie. Bisakah kamu mengantarnya ke sekolah?”

Aku langsung tersedak jus yang sedang kuminum.

Dengan mata membelalak, aku menoleh kepada Ibu.

“Ma, aku bisa naik taksi.”

Aku melirik ke samping.

Kai sedang menyeringai.

“Tidak masalah. Aku akan mengantarnya, Nyonya Carter. Lagi pula, di kawasan ini taksi jarang lewat.”

Ia memberikan senyum yang begitu sempurna hingga Ibu kembali tersenyum puas.

“Nah, ayo berangkat. Aku sudah selesai.”

Ia menghabiskan sisa kopinya dalam satu tegukan lalu berdiri.

Aku sadar tidak punya pilihan.

Aku bangkit, mencium pipi Ibu, berpamitan kepada Margaret, lalu mengikuti Kai keluar rumah.

Kami masuk ke dalam mobil.

Aku mengenakan sabuk pengaman, sementara Kai menyalakan mesin dan mengemudikan mobil keluar dari halaman rumah tanpa sekalipun menoleh ke arahku.

Lima menit pertama berlalu dalam keheningan.

Aku memandang keluar jendela ketika ponselku bergetar pelan.

James

“Halo. Lagi apa?”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung membalas.

“Halo. Lagi di jalan menuju sekolah. Kamu?”

Balasannya datang hampir seketika.

James

“Aku juga lagi di jalan, tapi menuju kampus. Gimana semalam? Saudara tiri kesayanganmu itu tidak mengganggumu, kan?”

Aku mendengus pelan.

“Sepertinya dia memang hidup cuma untuk bikin aku kesal. Tapi jangan bahas dia, ya.”

Beberapa detik kemudian balasan lain muncul.

James

“Hahaha, baiklah. Ngomong-ngomong, lain kali aku saja yang antar-jemput kamu. Pasti lebih seru.”

Aku tertawa kecil.

“Apa yang lucu?”

Suara Kai terdengar tenang, meski ada nada yang sedikit lebih tajam daripada biasanya.

Aku tetap menatap layar ponsel.

“Akan kuingat. 😉”

Keheningan kembali memenuhi mobil.

Aku kembali tersenyum membaca balasan James berikutnya.

Dari sudut mataku, aku melihat jemari Kai menggenggam setir sedikit lebih erat.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun cara mengemudinya kini terasa sedikit lebih kaku dibanding beberapa saat sebelumnya.

Aku kembali memandang keluar jendela sambil sesekali membalas pesan.

Beberapa saat kemudian, Kai akhirnya membuka suara.

“Siapa yang mengirimimu pesan sepagi itu?”

Aku mengangkat pandangan dari layar.

“Teman.”

“Sering mengobrol?”

Nada suaranya tetap datar.

Aku tersenyum kecil.

“Memangnya kenapa?”

Hening sejenak.

“Tidak kenapa-kenapa. Cuma bertanya.”

Aku kembali menatap ponsel.

James

“Nanti ceritakan ya bagaimana hari pertamamu di sekolah baru. 😉”

Tanpa sadar aku kembali tersenyum.

Kai rupanya menyadarinya.

“Temanmu itu… sebenarnya siapa?”

Aku mengangkat bahu.

“Teman.”

“Teman dekat?”

Pertanyaannya terdengar santai, tetapi jeda setelahnya terasa sedikit lebih panjang.

Aku menoleh menatapnya.

“Sejak kapan kamu tertarik dengan kehidupanku?”

Untuk sesaat jemarinya kembali mencengkeram setir lebih erat.

“Tidak tertarik. Cuma menjaga percakapan.”

Aku terkekeh pelan.

“Kurasa kemampuanmu menjaga percakapan masih perlu banyak latihan.”

Ia mengembuskan napas pendek.

“Aku juga tidak sedang berusaha.”

Keheningan kembali menyelimuti mobil.

Namun kali ini rasanya berbeda.

Aku kembali membalas pesan James.

“Nanti kita lihat saja. 😉”

Setelah itu aku mengunci ponsel dan memasukkannya ke dalam saku.

Aku memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang mulai ramai.

Beberapa menit kemudian mobil melambat dan berhenti di depan gerbang sekolah.

Kai bahkan tidak menoleh.

“Sudah sampai.”

Aku membuka sabuk pengaman.

“Semoga harimu juga menyenangkan, Kakak Tiri.”

Tanpa menunggu jawabannya, aku membuka pintu, turun dari mobil, lalu menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari seharusnya.

Aku berjalan beberapa langkah menuju gerbang sekolah.

Mobil itu masih diam di tempat.

Aku bisa merasakan keberadaannya di belakangku, seolah Kai belum memutuskan apakah akan langsung pergi atau tetap menunggu.

Beberapa detik kemudian terdengar deru mesin.

Mobil itu melaju meninggalkan halaman sekolah dengan akselerasi yang sedikit lebih kasar daripada biasanya, lalu menghilang di tengah arus lalu lintas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!