NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Perjanjian di Keheningan Malam

Kuku-kuku hitam Sang Kalingga yang sedingin es menyentuh permukaan kulit pipi Sekar, menyalurkan sensasi beku yang langsung menghentikan detak jantung gadis itu selama satu ketukan penuh. Di bawah lilitan ekor raksasa sewarna legam yang kian menyempit, ruang paru-paru Sekar terasa menyusut. Udara di dalam ruang tamu terasa begitu padat, beracun, dan dipenuhi oleh uap mistis yang mematikan. Setiap embusan napas Sekar kini berbau anyir darah, berbaur dengan aroma kenanga busuk yang kian pekat.

Sekar bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana sisik-sisik di belikat kanannya bergetar hebat. Mereka seolah-olah menyambut sentuhan sang pemilik asli, merayap naik dengan kecepatan yang mengerikan menembus urat leher, menembus batas kedagingan manusianya.

"Ikutlah, Cah Ayu..." Bisikan bariton Kalingga bergaung di dalam rongga tengkorak Sekar, meruntuhkan sisa-sisa kesadaran logisnya. "Dunia fana ini terlalu kotor untuk wangimu."

Di ambang keputusasaan tertinggi, ketika tubuh Sekar mulai terangkat beberapa sentimeter dari lantai tegel akibat lilitan ekor raksasa itu, sebuah jeritan histeris memecah keheningan yang mencekik.

"AMPOOON, SANG RAJA! AMPOOON!!!"

Rahayu, dengan sisa-sisa kekuatan di tubuh ringkihnya, melemparkan diri ke depan. Dia merangkak tanpa memedulikan pecahan kaca yang langsung merobek kulit lutut dan telapak tangannya. Wanita tua itu bersujud, menempelkan dahinya yang berlumuran keringat dingin tepat di atas lantai tegel, hanya berjarak beberapa sentimeter dari sisik-sisik tebal ekor Kalingga yang terus bergerak meliuk.

"Jangan bawa Sekar sekarang, Sang Penguasa... Saya memohon pada panjenengan... Ambil nyawa saya sebagai gantinya, tapi jangan bawa anak saya malam ini!" ratap Rahayu dengan suara yang pecah, tercekik oleh rasa bersalah yang telah menggunung selama dua puluh dua tahun.

Gerakan Kalingga terhenti. Kepala jangkungnya yang mengenakan mahkota emas naga perlahan-lahan berputar ke arah Rahayu. Gerakan leher mahluk itu begitu luwes, patah-patah seumpama ular beludak yang sedang mengincar mangsa baru. Sepasang mata emas dengan pupil vertikal itu menatap Rahayu dengan pandangan yang teramat dingin, meremehkan, dan penuh dengan aura intimidasi yang mutlak.

"Manusia fana yang malang," desis Kalingga. Suaranya membuat udara di sekeliling mereka bergetar hebat hingga sisa-sisa kaca di bingkai cermin sudut ruangan kembali runtuh berhamburan. "Kau mengemis untuk sesuatu yang bukan lagi milikmu. Sumpah darah Mbah Buyutmu di tepi Sendang Kalingga adalah hukum yang mengikat jiwa anak ini. Nyawamu yang hampir layu tidak memiliki harga di kerajaanku."

Rahayu tidak bangkit dari sujudnya. Tubuhnya berguncang hebat, air matanya membasahi lantai tegel yang kini bercampur dengan tetesan darah Sekar. Dia tahu, secara hukum gaib, posisi keluarganya berada di pihak yang kalah. Mereka adalah peminjam nyawa yang kini sedang ditagih oleh sang pemilik modal kegelapan.

"Saya tahu... saya tahu kami berdosa," bisik Rahayu, suaranya parau tertahan di tenggorokan. "Tapi beri dia waktu, Sang Penguasa. Dia belum siap... jiwanya akan hancur jika panjenengan bawa sekarang dalam keadaan sekotor ini. Izinkan dia bernapas sebagai manusia sebentar lagi... saya memohon..."

Kepungan ekor raksasa yang melilit tubuh Sekar perlahan-lahan mengendur. Kalingga menarik tubuh bagian atasnya tegak lurus, menjulang tinggi hingga kepalanya nyaris menyentuh plafon ruang tamu yang temaram oleh pendar merah mistis. Mahluk itu tampak sedang menimbang-nimbang, bukan karena rasa kasihan—karena mahluk halus dari golongan penguasa melata tidak memiliki organ bernama belas kasih—melainkan karena dia melihat sebuah keuntungan lain dari kepasrahan korbannya.

Mata emas Kalingga kembali beralih pada Sekar yang kini jatuh terduduk di lantai, terengah-engah mencari oksigen dengan leher yang sebagian telah tertutup sisik halus berwarna kelabu kehitaman.

"Kau ingin waktu?" Kalingga bertanya, nadanya mendadak berubah menjadi sangat lembut, namun kelembutan itu justru terasa jauh lebih mengerikan karena menyimpan ancaman yang mutlak. "Aku bisa memberikannya. Aku bisa membiarkan permaisuriku tetap berjalan di atas tanah fana ini... untuk sementara."

Sekar mendongak dengan tatapan gila, bibirnya yang membiru bergetar hebat. "Apa... apa maumu...?"

Kalingga tersenyum. Senyuman lebar yang melengkung tidak wajar hingga melewati batas rahang manusia normal, mengekspos deretan gigi taringnya yang meruncing tajam di sudut-sudut mulutnya yang pucat.

"Syaratku mutlak, Sekar," ucap Kalingga, jemari tangannya yang berkuku hitam bergerak lambat di udara, seolah sedang menenun benang tak kasat mata di sekeliling tubuh Sekar. "Mulai detik ini, kau adalah tawananku. Tubuh dan jiwamu harus mulai mengabdi pada kehendakku. Dan setiap malam Sabtu Kliwon tiba... aku akan datang ke tempat ini. Aku akan merayap di atas ranjangmu, memakan energi manusiamu, dan mematangkan sisik-sisik di tubuhmu hingga upacara penyatuan itu paripurna seutuhnya."

Mendengar syarat itu, seluruh persendian Sekar terasa lolos. Itu bukanlah sebuah penyelamatan; itu adalah penundaan eksekusi yang dikemas dalam bentuk penyiksaan psikologis yang lambat. Kalingga tidak sedang melepaskannya; mahluk itu hanya sedang mengubah rumahnya menjadi sebuah sel isolasi gaib, di mana Sekar akan dipaksa menunggu hari demi hari dengan ketakutan yang kian membusuk di dalam pikirannya sendiri.

"Jika kau mencoba melarikan diri, jika kau mencoba mencari bantuan pada manusia-manusia suci gadungan di luar sana, atau jika ada pria fana yang berani menyentuh selembar rambutmu..." Kalingga menggantung kalimatnya, wajah tampannya mendekat ke telinga Sekar, memberikan embusan napas sedingin es yang membuat seluruh tubuh Sekar meremang. "...aku akan meremukkan tulang-tulang ibumu hingga menjadi tepung, dan aku akan meratakan seluruh kampung ini dengan bisaku. Paham, Cah Ayu?"

Sekar tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa mengangguk pelan dalam kepasrahan yang hampa. Di titik ini, kemanusiaannya telah digadaikan seutuhnya.

Kalingga menarik kembali tubuhnya, berdiri tegak di tengah ruangan. Kabut hitam yang tebal di sekitar ekor raksasanya mendadak berputar cepat seumpama pusaran angin puyuh berskala kecil. Suara desisan jutaan ular yang tadinya menggema di seluruh penjuru rumah mendadak meningkat drastis, memekakkan telinga hingga membuat kepala Sekar berdenyut sakit seolah akan pecah.

Sreeet... sssss... WUSHHH!

Bersamaan dengan satu hentakan angin kencang yang menghantam pintu depan hingga berdentang keras, sosok Sang Kalingga bersama dengan jutaan ular tak kasat mata itu lenyap seketika dari pandangan. Kegelapan mutlak yang mencekik mendadak menyusut, digantikan oleh hawa malam yang pengap dan sisa-sisa gerimis tipis yang kembali terdengar mengetuk kaca jendela.

Lampu di langit-langit ruang tamu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala kembali dengan cahaya putih yang temaram, menerangi kekacauan yang ditinggalkan oleh sang penguasa gaib.

Begitu lampu kembali menyala, ilusi kemegahan mistis Sang Kalingga menguap, menyisakan realitas yang teramat mengerikan di ruang tamu itu. Bau bunga kenanga busuk yang tadinya menguar pekat mendadak berubah menjadi aroma kemenyan bakar yang sangat tajam, begitu pekat hingga membentuk lapisan asap tipis yang menggantung di bawah plafon rumah. Bau itu lengket, menempel di gorden, di pakaian, dan di dalam lubang hidung Sekar, seolah-olah rumah ini baru saja diubah menjadi sebuah peti mati raksasa.

"Ibu..." Suara Sekar terdengar sangat asing di telinganya sendiri. Nada desisan ganda itu belum sepenuhnya hilang dari pita suaranya.

Di sudut ruangan, Rahayu perlahan-lahan mengangkat kepalanya dari lantai tegel. Wajah wanita tua itu tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Rambutnya yang beruban acak-acakan, dan ketika dia mencoba bangkit berdiri, lututnya gemetar hebat hingga dia kembali terduduk di lantai.

Namun, perhatian mereka berdua segera teralih pada lantai tegel tempat ekor raksasa Kalingga tadi melingkar.

Di atas permukaan semen keras itu, terdapat bekas luka bakar berpola sulur yang menghitam, membentuk lingkaran sempurna berdiameter dua meter yang mengurung posisi duduk Sekar. Tidak hanya itu, di bagian tengah lingkaran, terdapat lima gorean dalam yang merusak tegel hingga retak dan menyemburkan serpihan abu hitam—bekas cakaran kuku hitam Kalingga saat mahluk itu menumpu tubuh bagian atasnya. Lantai itu terasa membeku; ketika Sekar menyentuhnya dengan ujung jari, rasanya seperti menyentuh balok es dari liang kubur.

"Dia... Dia tidak melepaskan kita, Nduk," bisik Rahayu dengan tatapan kosong, menatap noda darah segar yang menetes dari punggung Sekar dan merembes ke celah tegel yang retak. "Dia hanya menaruh kita di dalam kurungan."

Sekar mencoba berdiri. Rasa sakit di belikat kanannya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh rasa kebas dan kaku yang menjalar hingga ke pangkal lengannya. Dengan langkah gontai yang dipaksakan, dia berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang rumah. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menggelayuti pundaknya.

Di depan cermin kamar mandi yang buram dan berkerak, Sekar memberanikan diri melepas kaus oblongnya yang telah basah kuyup oleh darah hitam kehitaman. Dia memutar tubuhnya, menatap pantulan belikat kanannya melalui sudut matanya.

Napas Sekar tertahan.

Robekan kulit manusianya telah berhenti berdarah secara ajaib. Namun, luka itu tidak menutup dengan jaringan kulit baru. Di balik pinggiran kulit yang mengelupas dan mengeras sewarna daging busuk, kepingan sisik ular itu kini telah terbentuk sempurna. Sisik-sisik itu berukuran sebesar koin, hitam legam, berkilat kaku seperti pelat baja, dan telah menjalar naik mengitari leher belakangnya seperti kerah terkutuk. Ketika Sekar meraba sisik-sisik itu, dia tidak merasakan apa pun pada permukaan sisiknya, namun getaran dingin langsung menusuk masuk ke dalam saraf tulang belakangnya.

"Sabtu Kliwon..." Sekar berbisik, menatap matanya sendiri di cermin. Sepasang pupil matanya bergetar, dan selama sepersekian detik, dia bersumpah melihat kilatan warna emas vertikal memotong bola matanya yang hitam sebelum kembali normal.

Dia sadar sepenuhnya sekarang. Kalingga telah menanamkan pasak gaib di dalam rumah ini. Dia adalah seorang tawanan. Setiap detik yang berlalu mulai malam ini adalah hitung mundur menuju Sabtu Kliwon berikutnya, di mana raja siluman itu akan kembali datang untuk menagih upeti energinya, menguliti kemanusiaannya sedikit demi sedikit hingga tidak ada lagi yang tersisa dari diri Sekar selain raga melata yang siap dibawa ke dasar Sendang Kalingga.

Sekar kembali ke ruang tamu dengan langkah hampa. Di sana, ibunya sedang berusaha membersihkan ruangan dengan tangan yang terus gemetar, meratapi takdir yang mereka ciptakan sendiri dari masa lalu. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung paling aman bagi Sekar, kini telah resmi berubah menjadi sangkar gaib yang paling mematikan. Pintu luar boleh saja terbuka, namun sejatinya, tidak ada lagi jalan keluar bagi jiwanya yang telah distempel oleh iblis.

Malam itu, di bawah sisa gerimis yang tak kunjung usai, Sekar duduk termenung di tepi ranjang kamarnya. Di dalam keheningan total, telinganya kembali menangkap suara halus dari dalam lemari tua peninggalan ayahnya—sebuah desisan pelan yang seolah-olah sedang berbisik:

“Tidurlah, permaisuriku... Aku selalu mengawasimu dari dalam kegelapan.”

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!