Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Semu
Hantaman keras kembali menghantam lengan kiri Ryan, melempar tubuhnya beberapa meter ke belakang hingga debu beterbangan di sekitarnya. Ryan mendengus pelan saat getaran nyeri menjalar hingga ke bahunya.
Di hadapannya, sosok Sundel Bolong melayang dengan gerakan elegan namun mematikan. Gaun putihnya yang pudar dan robek berkibar tidak rapi, dan lubang besar di punggungnya terus memancarkan bau melati busuk yang menyengat.
Sebagai hantu kategori Phantom sekaligus Hunter Tier A, kecepatan makhluk itu benar-benar merepotkan. Dalam sekejap ia bisa menghilang lalu muncul dari sudut yang tak terduga, mengayunkan rambut hitamnya yang setajam silet.
Ryan mulai merasa kesal. Ia sama sekali tidak menyukai pertempuran yang berbelit-belit. Namun, makhluk di depannya ini terus bergerak memutar dan memaksanya membuang-buang tenaga. Di dalam batinnya, Ryan mulai menyadari bahwa staminanya tidaklah tak terbatas.
“Sial, aku tidak bisa terus-menerus meladeni pergerakan liarnya,”pikir Ryan dalam hati.
Sambil menangkis lilitan rambut panjang yang kembali mengincarnya, Ryan sempat melirik ke arah samping melalui sudut matanya.
Ia melihat Rahman dan Agil. Kedua temannya berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rahman duduk bersandar pada kedua tangannya, napasnya terengah‑engah dengan wajah seputih kertas. Semua energi spiritualnya telah habis, dan Agil tak berbeda; ia berlutut dengan satu kaki, memegang lengan yang terluka akibat serangan tuyul sebelumnya, sementara aura biru mudanya berkelip lemah.
Sekali pandang, Ryan tahu mereka sudah mencapai batas kemampuan fisik dan spiritual. Mengharapkan bantuan dari keduanya saat ini hanyalah angan-angan.
Untuk sesaat, sebuah angan-angan melintas di kepala Ryan. Ia berharap ada seseorang yang tiba-tiba muncul menerobos barier ini dan membantunya. Entah siapa pun itu, asal bisa mengambil alih kekacauan ini sehingga ia bisa segera pulang dan tidur di atas kasurnya yang nyaman.
Ryan menggeleng pelan. Harapan itu tak lebih dari khayalan. Di dalam dimensi gaib yang terisolasi ini, tidak akan ada keajaiban yang datang menolongnya. Ia memang sendirian.
Menyadari situasi yang tidak menguntungkan dan keterbatasan tenaganya, Ryan memutuskan untuk mengubah strategi. Ia berhenti membalas serangan secara agresif. Ryan meminimalkan setiap gerakan. Ia hanya bergeser beberapa sentimeter untuk menghindari cakar sang hantu atau menyilangkan lengan guna menahan hantaman. Tatapannya tak pernah lepas dari Sundel Bolong, menunggu dengan sabar hingga lawannya membuka celah yang fatal.
Tiba-tiba, tanpa diduga oleh siapa pun, sebuah fenomena ganjil terjadi di atas langit sekolah.
Pilar cahaya merah darah yang menjulang dari arah gedung olahraga mendadak bergetar hebat. Detik berikutnya, terdengar suara retakan nyaring yang bergema di seluruh penjuru dimensi, dan pilar raksasa tersebut lenyap seketika menjadi serpihan cahaya yang menguap ke udara.
Namun sayangnya itu tidak cukup untuk menghancurkan seluruh penghalang dimensi.
Lenyapnya pilar energi itu seketika mengubah atmosfer pertempuran. Sundel Bolong yang sedang bersiap meluncurkan serangan berikutnya mendadak membeku. Hantu itu sejenak menoleh ke arah gedung olahraga, mengeluarkan suara desisan panjang yang dipenuhi keterkejutan dan kemarahan yang hebat.
Makhluk itu memutar tubuhnya dengan gerakan terputus-putus di udara. Kedua mata putih tanpa pupilnya kini tidak lagi menargetkan Ryan, melainkan menatap Rahman yang berada beberapa meter di belakang.
Dengan jeritan melengking yang memekakkan telinga, Sundel Bolong itu melesat cepat seperti kilat, menerjang maju lurus ke arah Rahman dengan kuku-kuku hitamnya yang siap merobek dada targetnya.
Ryan menangkap peluang itu. Saat Sundel Bolong berbalik menghadapnya, semua keraguan Ryan menghilang.
Celah yang ia nantikan akhirnya terbuka.
Tanpa membuang waktu, Ryan mengentakkan kaki kanannya ke tanah, memicu ledakan yang menerbangkan kerikil di sekitarnya. Sebelum cakar mematikan sang hantu sempat menyentuh sehelai rambut Rahman, Ryan sudah berhasil memperpendek jarak dan muncul tepat di belakang punggung makhluk berlubang itu.
Dengan refleks yang kuat, Ryan mengulurkan tangan kirinya, menggenggam erat rambut hitam panjang Sundel Bolong yang kusut, menghentikan laju sang hantu secara paksa hingga kepalanya terhentak ke belakang.
Pada saat yang bersamaan, energi hitam pekat mengalir di balik kulit tangan kanannya. Ryan menghirup napas dalam-dalam, memusatkan seluruh tenaga dan daya hancur yang dimilikinya ke dalam satu serangan, lalu menghancurkan kepala makhluk itu dengan kekuatan penuh.
BOOM!!!
Ledakan tekanan udara yang sangat kuat menggelegar keras, menciptakan gelombang kejut yang menghempas kabut merah di sekelilingnya. Suara pecahnya kepala makhluk itu terdengar menakutkan di tengah keheningan.
Karena tinju Ryan yang menghantam dengan kekuatan penuh, kepala Sundel Bolong hancur tanpa sisa, meninggalkan tubuh tanpa kepala yang sekaligus kehilangan seluruh energi spiritualnya.
Ryan menarik tangannya kembali, mundur satu langkah sambil sedikit menundukkan tubuh. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin bercampur debu mengalir di dahinya.
Di depannya, tubuh tanpa kepala milik Sundel Bolong itu terdiam selama beberapa detik, lalu perlahan menghilang menjadi kepulan kabut abu‑abu tipis yang terbawa angin malam. Namun, tepat ketika makhluk itu lenyap, terdengar suara benturan keras di atas tanah.
Saat tubuhnya lenyap, yang tertinggal hanyalah sebuah Batu Roh sebesar kepalan tangan remaja, memancarkan energi spiritual murni yang sangat padat.
"K-Kita menang? Kita benar-benar selamat?!" teriak salah satu siswa, air mata mengalir deras di pipinya.
Agil yang tadinya berlutut langsung jatuh telentang di atas tanah, membiarkan tubuhnya rileks sembari melepaskan tawa renyah yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Hahaha! Sialan, anak itu memang monster!"
Isabella dan murid lainnya langsung berhamburan, saling berpeluk merayakan kemenangan mustahil atas entitas mengerikan itu. Sementara Rahman tersenyum lebar sembari menyeka keringat, menatap punggung Ryan penuh hormat. Sukacita meluap di mana-mana.
Kecuali Rena.
Beberapa meter di belakang barisan siswa yang bersorak, gadis berkacamata bulat itu berdiri mematung. Tubuhnya bergetar hebat; matanya menatap Ryan dengan horor yang mendalam. Rena masih sangat ketakutan. Cara Ryan menghancurkan kepala hantu dengan tangan kosong terasa terlalu brutal bagi seorang manusia. Di mata Rena, Ryan tak ada bedanya dengan entitas mengerikan yang baru saja musnah.
Namun, sebelum kegembiraan para murid bertahan lama, sebuah suara asing tiba-tiba memotong seluruh keriuhan di halaman gedung olahraga.
"Wah, wah, wah... ternyata masih ada beberapa murid yang hidup."
Suara itu lembut namun mengejek, cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
"Tak kusangka, tiga bocah Esper hampir mengacaukan rencanaku."
Sorak-sorai perayaan tiba‑tiba berhenti. Suasana di halaman sekolah membeku dalam hitungan detik. Rahman, Agil, serta siswa‑siswa lain sekaligus memutar badan dengan ekspresi pucat, menatap tajam ke arah sumber suara.
Jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam saat sosok misterius itu berdiri di atas atap sekolah. Di bawah langit merah yang mulai memudar, sosoknya tampak begitu mengintimidasi. Parang panjang di tangan kanannya masih meneteskan darah segar hingga mengotori genteng tempat ia berdiri.
Di bawah cahaya langit merah yang redup, wajah pria itu terlihat jelas—tenang bagai psikopat dengan lingkar hitam di matanya.
Ketika menatap lurus ke atas, konsentrasi Rahman tiba‑tiba beralih. Penglihatan spiritualnya menyaksikan sesuatu yang tidak wajar. Seluruh tubuh pria itu dikelilingi aura merah pekat yang menakutkan—sebuah pancaran energi spiritual menyimpang yang biasanya hanya dimiliki hantu.
'Dia... pemuja iblis?' bisik Rahman dalam hati, sebuah kengerian baru seketika mencengkeram benaknya saat menyadari fakta tersebut.
"P-Pak... Pak Jamal?!" teriak seorang siswa yang terkejut melihatnya, suaranya bergetar karena kaget.
Semua orang terperangah melihat sosok yang dikenal sebagai pendidik yang tegas namun ramah, kini menjadi dalang malapetaka ini. Sementara itu, Ryan dan Rahman hanya menatap diam karena mereka sama sekali tidak mengenalnya.
Saat penyamaran itu terungkap, ia dengan sengaja membuka tudung jubahnya. Sambil menatap sekumpulan murid di depannya, ia melontarkan senyum lebar yang dingin.