**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Mabuk
"Aku cari cintamu."
Kalimat itu tinggal di kepala Keira lebih lama daripada yang seharusnya.
Ia tidak memberi jawaban hari itu. Rayhan juga tidak memaksa. Ia hanya mengantar Keira kembali ke kelas, membeli obat merah untuk goresan di pergelangan tangannya, lalu pergi seolah baru saja tidak melemparkan kalimat yang membuat jantung Keira bekerja tidak normal selama tiga hari.
Pada Jumat malam, Daisy mengirim pesan ke grup kecil yang baru saja memasukkan Keira.
Eclipse. Jam 8. Ray ulang tahun minggu ini. Kami rayakan dulu. Jangan telat.
Keira membaca pesan itu tiga kali.
Perayaan ulang tahun Rayhan.
Ia tidak tahu. Rayhan tidak pernah menyebutnya. Tidak ada unggahan IG, tidak ada kode, tidak ada permintaan. Laki-laki itu bisa mempertaruhkan saham ratusan triliun demi gelang Mama Liana, tetapi tidak memberi tahu hari ulang tahunnya sendiri.
Keira datang ke Eclipse dengan kotak kecil di tangan. Isinya bukan barang mahal, hanya gantungan kunci kulit yang ia beli di toko dekat kampus, lalu ia minta diukir huruf R kecil. Ia sempat ragu sepanjang perjalanan. Hadiah itu terlalu sederhana untuk seseorang yang bisa membeli rumah seperti membeli bubur.
Namun ketika Rayhan melihat kotak itu, ia diam cukup lama.
"Untukku?"
"Kalau kau tidak suka, tidak apa-apa."
Rayhan membuka kotaknya. Ujung jarinya menyentuh huruf R itu perlahan.
"Aku suka."
"Kau bahkan belum tahu itu apa."
"Dari kamu."
Daisy yang duduk di seberang langsung memutar mata. "Tuhan, ambil saja pendengaranku."
Arya tertawa kecil. Darren menuang air mineral ke gelas Keira. "Jangan minum alkohol kalau tidak biasa."
"Aku tahu," jawab Keira.
Tidak lama kemudian, pelayan membawa kue kecil dengan satu lilin. Bukan kue besar seperti pesta ulang tahun konglomerat yang Keira bayangkan. Hanya chocolate cake sederhana, mungkin sengaja dipesan Daisy karena Rayhan akan marah kalau mereka membuat keributan.
"Make a wish," kata Arya.
Rayhan menatap lilin itu tanpa bergerak. "Tidak perlu."
"Ulang tahunmu," ujar Keira pelan. "Kenapa tidak perlu?"
Daisy yang biasanya cepat menyahut mendadak diam. Darren menurunkan gelasnya. Keira menangkap perubahan itu, tetapi sudah terlambat menarik pertanyaan.
Rayhan tersenyum tipis. "Dulu setiap ulang tahun, aku selalu punya permintaan. Tidak ada yang terkabul."
Keira menatap api lilin kecil itu. Entah kenapa, ruangan VIP yang penuh lampu mahal tiba-tiba terasa terlalu dingin.
"Kalau begitu pakai punyaku," katanya.
Rayhan menoleh.
"Aku belum pernah merayakan ulang tahunmu. Jadi tahun ini, aku pinjamkan satu permintaan." Keira mendorong kue itu sedikit ke arahnya. "Tutup mata. Jangan sia-siakan."
Untuk beberapa detik, Rayhan hanya menatap Keira. Lalu ia benar-benar menutup mata. Saat meniup lilin, wajahnya tampak lebih muda, hampir seperti anak laki-laki yang belum belajar menyembunyikan kecewa.
Ia benar-benar tahu. Sayangnya, Daisy memesan cocktail manis berwarna peach yang rasanya seperti jus buah. Keira hanya berniat mencoba sedikit. Satu teguk menjadi dua. Dua menjadi setengah gelas. Saat ia sadar, lampu biru Eclipse sudah tampak lebih lembut, suara musik seperti datang dari bawah air, dan wajah Rayhan di sampingnya terlihat terlalu dekat.
"Kei," panggil Rayhan. "Kau mabuk."
"Tidak."
"Matamu sudah tidak fokus."
"Matamu yang terlalu banyak."
Arya tertawa lebih keras kali ini. Daisy menepuk meja. "Keira lucu juga kalau mabuk."
Rayhan mengambil gelas dari tangan Keira. "Cukup."
"Itu punyaku."
"Sekarang punya meja."
Keira mengerutkan hidung, tetapi tidak protes. Beberapa menit kemudian, Rayhan memutuskan membawa Keira pulang sebelum gadis itu benar-benar membuat seluruh F4 punya bahan ejekan baru.
Di dalam mobil, Jakarta malam bergerak di luar jendela. Keira bersandar pada kursi, pipinya merah, tangan memegang gantungan kunci yang tadi sudah Rayhan pasang di kunci mobil cadangan.
"Ray," gumamnya.
"Hmm?"
"Kau dirayakan ulang tahun, kenapa tidak bilang?"
"Tidak penting."
"Penting."
Rayhan menoleh. "Untukmu?"
Keira berpikir lama, lalu mengangguk pelan. "Kalau aku tahu, aku bisa menyiapkan yang lebih baik."
"Ini sudah terbaik."
"Bohong."
"Aku tidak bohong padamu soal ini."
Mobil berhenti di lampu merah. Sopir menutup sekat otomatis tanpa diminta, mungkin sudah terlalu terlatih menghadapi dunia orang kaya. Rayhan menatap Keira yang berusaha duduk tegak tetapi kepalanya terus jatuh ke samping.
"Kei."
"Apa?"
"Coba panggil aku."
"Ray."
"Yang lain."
Keira mengerjap. "Rayhan."
"Yang lebih manis."
"Kau menyebalkan."
"Itu bukan panggilan."
Keira berpikir dengan sungguh-sungguh, seolah sedang mengerjakan ujian. "Sayang?"
Napas Rayhan berhenti setengah detik.
"Sekali lagi."
"Sayang."
Rayhan menutup mata. Senyumnya muncul, tetapi ada sesuatu yang pecah di baliknya. "Panggil suami."
Keira mengerutkan kening. "Kita belum menikah."
"Latihan."
"Suami," ucapnya pelan, lalu tertawa sendiri karena merasa kata itu aneh.
Rayhan menunduk, menyembunyikan wajah sebentar. "Kakak."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Kau bukan kakakku."
"Bagus."
Keira memiringkan kepala. "Koh Ray?"
Rayhan langsung membuka mata. "Kau sengaja?"
"Daisy bilang kalau formal bisa Koh Ray."
"Jangan dengarkan Daisy."
Keira tertawa kecil. Tawanya ringan, mabuk, dan terlalu manis untuk malam yang sejak awal sudah membuat Rayhan lemah. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Rayhan dengan satu jari.
"Ray."
"Hmm?"
"Kau sedih?"
Pertanyaan itu menghantam bagian terdalam yang Rayhan kira sudah ia kunci.
"Tidak."
"Bohong."
Rayhan menatapnya. Keira mabuk, tetapi matanya pada saat itu terlalu jujur. Mungkin karena mabuk, ia tidak takut melihat langsung ke tempat yang biasanya Rayhan sembunyikan.
"Kenapa?"
Rayhan tidak menjawab. Ia hanya menarik Keira pelan ke dalam pelukannya, memastikan tubuh gadis itu nyaman dan tidak tertekan. Keira tidak menolak. Kepalanya jatuh di bahu Rayhan, napasnya hangat di lehernya.
Lalu Rayhan membenamkan wajah di lekuk leher Keira.
Keira membeku sedikit. "Ray?"
"Sebentar."
Suaranya serak.
Awalnya Keira mengira Rayhan hanya bercanda lagi. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan basah kecil di kulitnya.
Rayhan menangis.
"Sayang," bisiknya, sangat pelan, seolah kalau ia bicara lebih keras, seluruh dirinya akan hancur. "Jangan suka dia lagi. Pilih aku, ya?"
Keira tidak sepenuhnya mengerti. Dia siapa? Varian? Masa lalu yang bahkan tidak pernah ia pilih? Tetapi suara Rayhan membuat dadanya sakit. Laki-laki yang tadi membuat satu ruangan tertawa, yang bisa membuat orang berlutut tanpa meninggikan suara, sekarang bersembunyi di lehernya seperti anak kecil yang takut ditinggal.
Keira mengangkat tangan dan menyentuh rambutnya.
"Rayhan."
"Hmm."
"Aku tidak suka Varian."
Rayhan tidak menjawab.
"Aku rasa..." Keira menelan napas, kepalanya masih berat, tetapi kalimat itu keluar lebih jernih daripada apa pun malam ini. "Aku rasa aku mulai suka padamu."
Tidak ada jawaban.
Keira menunggu. Satu detik. Dua detik.
Rayhan tetap diam.
Ia menunduk sedikit dan menemukan mata Rayhan sudah terpejam. Laki-laki itu tertidur sambil masih memeluknya, bulu matanya basah, napasnya pelan di leher Keira.
Keira menatapnya lama, lalu tertawa kecil tanpa suara.
"Dasar," bisiknya. "Kenapa bagian pentingnya malah kau lewatkan?"