NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pertanyaan itu jelas berhasil memancing Roy. Dalam satu gerakan, pria itu menarik pinggang Rani hingga tubuh mereka nyaris tanpa jarak. Rani sempat terkejut, tetapi ia tidak berusaha melepaskan diri. Ia tetap berdiri di tempat, menatap Roy tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

Sikap itulah yang justru membuat Roy menarik kesimpulan yang salah.

Sudut bibirnya terangkat tipis. Sesaat tadi ia sempat mengira Rani benar-benar berubah. Namun melihat wanita itu tidak menolak ketika ia mendekat, pikiran tersebut langsung lenyap.

"Ternyata kamu masih sama saja," gumamnya.

Rani mengangkat alis. "Maksudmu?"

"Kamu mengubah penampilan, bersikap berbeda, membuat keributan di bawah." Tatapan Roy menyapu wajahnya perlahan. "Jadi semua ini hanya untuk mendapatkan perhatianku?"

Rani nyaris tertawa. Jika saja Roy tahu betapa muaknya ia dengan situasi ini. Namun ia memilih diam. Semakin pria itu salah paham, semakin mudah baginya melihat bagaimana cara Roy berpikir.

"Aku akui usahamu berhasil."

Rani tetap tidak membantah. Sementara itu, Roy terus memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Entah karena kesal atau karena alasan lain yang tidak ingin diakuinya sendiri, tangannya justru semakin erat menahan pinggang Rani. Perlahan ia menundukkan kepala, membuat jarak di antara mereka semakin dekat.

Rani bisa merasakan napas pria itu.

Satu.

Dua.

Dalam hati ia mulai menghitung. Sejak awal ia sudah menduga Roy akan bereaksi seperti ini. Dan jika perkiraannya tidak meleset, gangguan itu akan datang sebentar lagi.

Tiga—

Tok! Tok! Tok!

Ketukan keras di pintu langsung memecahkan suasana. Roy sontak menghentikan gerakannya. Beberapa detik kemudian terdengar ketukan yang lebih tergesa disertai suara dari luar.

"Papa!"

Rani hampir tersenyum karena dugaannya tepat waktu.

Roy segera melepaskan pinggangnya lalu mundur selangkah. Ia berdeham pelan sebelum merapikan kerah bajunya seolah berusaha mengembalikan ketenangan yang sempat terusik.

"Ternyata kamu memang tidak berubah seperti yang kami pikirkan," ucapnya dingin.

Kali ini Rani benar-benar ingin tertawa. Padahal sejak tadi pria itu sendirilah yang sibuk menarik kesimpulan. Namun ia hanya membalas dengan senyum tipis.

Roy kemudian membuka pintu dan mendapati Arjun berdiri di sana dengan wajah panik.

"Papa, Tante Sintia..."

Kening Roy langsung berkerut. "Kenapa dia?"

"Tante Sintia bilang perutnya sakit. Dia minta Papa turun sekarang."

Mendengar itu, Roy tidak bertanya lagi. Ia langsung melangkah keluar mengikuti Arjun yang lebih dulu berlari menuju tangga.

Tak lama kemudian kamar kembali sunyi. Rani menatap pintu yang sudah tertutup lalu menggeleng pelan.

"Sintia..." gumamnya sambil terkekeh kecil. "Kamu memang ahli memilih waktu."

Rani menepuk-nepuk bagian pinggangnya yang tadi disentuh Roy seolah sedang membersihkan sesuatu yang mengganggu. Sejak awal ia sudah menduga pria itu sedang mengujinya. Roy ingin memastikan apakah perubahan yang terjadi padanya benar-benar nyata atau hanya cara lain untuk menarik perhatian.

Setelah suasana kembali tenang, Rani mengembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berkeliling, belum lagi harus menghadapi drama yang tidak ada habisnya di rumah ini. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur empuk dan baru saja memejamkan mata ketika pintu kamar mendadak terbuka.

Brak!

Aksan muncul tanpa mengetuk lebih dulu.

"Mama masih bisa santai di sini?" tanyanya dengan nada tidak bersahabat.

Rani membuka sebelah mata. "Lalu aku harus jungkir balik?"

Aksan mendecak kesal. "Mama, serius sedikit bisa nggak?"

"Aku serius."

Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu langsung menarik pergelangan tangan Rani.

"Eh! Apa-apaan?"

"Ikut."

"Aksan, lepas!"

Namun Aksan sama sekali tidak peduli. Ia terus menyeret Rani keluar kamar hingga berhenti di depan kamar Sintia.

Begitu masuk, Rani langsung mengerti.

Sintia sedang berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan mata yang tampak berkaca-kaca. Di sampingnya duduk Roy, sementara Arlan dan Arjun berdiri tidak jauh dari sana.

"Kak Rani..." panggil Sintia lirih. "Maaf mengganggu."

Rani langsung menyilangkan tangan di depan dada. "Ada apa?"

"Aku sedang datang bulan dan perutku sakit sekali." Sintia tersenyum lemah. "Aku jadi ingat dulu Kakak pernah membuatkan sup untukku. Setelah memakannya, badan dan perutku jauh lebih nyaman."

Ia menundukkan kepala seolah merasa tidak enak. "Apa Kakak bisa membuatkannya lagi?"

Rani menatapnya beberapa detik.

"Bagaimana ya..." katanya santai. "Seharian ini aku sudah keluar rumah, belanja ke sana kemari, lalu baru saja diseret ke kamar ini. Jujur saja, aku capek."

Wajah Sintia langsung meredup. "Begitu ya, Kak."

Wanita itu lalu menoleh ke arah Roy. "Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud merepotkan. Kalau Kak Rani lelah, mungkin aku bisa menahannya sampai besok."

Kalimat itu langsung membuat Roy mengangkat kepala. "Rani, apa susahnya meluangkan sedikit waktu untuk membantu?"

Rani hampir tertawa mendengarnya.

"Mas, kamu dokter. Sintia juga dokter." Ia menatap keduanya bergantian. "Kalau sakit, minum obat. Kenapa malah mencari sup?"

"Itu berbeda." Roy mengerutkan kening. "Lambung Sintia sensitif. Tidak semua kondisi harus langsung ditangani dengan obat."

"Jadi sup sekarang punya gelar spesialis penyakit dalam?"

"Rani."

"Oke, oke. Aku cuma bertanya."

Di sudut ruangan, Arlan ikut angkat bicara. "Sudahlah, Ma. Bikin saja. Toh selama ini Mama juga sering masak walaupun capek, kan?"

Rani mendengus pelan. Jadi mereka tahu?

Mereka tahu selama ini ia tetap memasak meski kelelahan. Mereka tahu ia tetap mengurus rumah saat tubuhnya nyaris tidak punya tenaga. Mereka tahu semua itu. Lalu kenapa tidak pernah ada satu pun yang menganggapnya berharga?

Rani mengalihkan pandangannya pada Sintia. "Kamu yakin mau aku yang memasak untukmu?"

Sintia terlihat bingung. "Kenapa tidak yakin, Kak?"

"Karena aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik." Rani menyandarkan tubuh ke kusen pintu. "Bagaimana kalau aku memasukkan racun ke dalam supmu?"

Ruangan langsung hening.

Aksan menghela napas kesal. "Ma, jangan bercanda seperti itu."

Namun Sintia justru tersenyum tipis. "Aku percaya sama Kakak."

Rani mengangkat alis. "Sekarang kamu percaya padaku?"

"Tentu." Sintia menatapnya dengan lembut. "Selama ini Kakak selalu mengurus kami dengan baik. Menyiapkan makanan, mengurus rumah, memperhatikan kebutuhan kami. Aku tahu Kakak tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

Kalimat itu terdengar manis, terlalu manis. Sampai-sampai Rani hampir tertawa. Karena tanpa sadar, Sintia baru saja merangkum seluruh keberadaannya selama sepuluh tahun terakhir hanya dalam beberapa pekerjaan rumah tangga.

Seolah selama ini perannya memang tidak lebih dari seseorang yang bertugas melayani keluarga ini. Dan ironisnya, tidak seorang pun di ruangan itu terlihat menyadari betapa menyakitkan kalimat tersebut.

"Baiklah," ucap Rani lalu berbalik dan menarik sudut bibirnya.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!