"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTIMIDASI
"Pak, Wilona chat Niar untuk bertemu, apa boleh hasil meeting ini diberitahukan padanya?" tanya Aji, sebagai anak buah tentu rahasia perusahaan tak sembarang diungkap ke model atau pihak mana pun. Melihat obsesi Wilona pasti dia akan berusaha intimidasi Niar agar membuka rencana perusahaan. Spontan saja pandangan Gesta tertuju pada Niar. Bahkan gadis itu juga kaget, obrolan intern tim talent dilaporkan pada Gesta saat meeting sore itu oleh Aji.
"Chat apa?" tanya Gesta ingin tahu.
"Ni, tunjukin gih ke Pak Gesta!" pinta Aji. Dia bukannya ember atau bagaimana, hanya antisipasi saja. Biasanya kalau ada karyawan vs model, yang paling kena imbas ya karyawannya. Model akan berusaha mempertahankan nama baik, dan bisa saja menyewa komunitas untuk memojokkan karyawan dengan narasi yang dilebih-lebihkan. Aji tak mau Niar berada di posisi itu. Sebelum terlambat, lebih baik mencari perlindungan ke atasan langsung.
Niar menunjukkan room chat Wilona pada Gesta, "Temui saja, bilang kalau kantor memang hire model baru. Kalau dia memaksa suruh menemui saya langsung, karena keputusan berada di tangan saya!" jelas Gesta tegas, dan Niar mengangguk saja.
Niar menepati janji untuk datang sendiri, padahal Meta dan Aji akan datang juga tapi berjarak waktu. Ternyata Wilona datang terlebih dulu, memasang wajah angkuh dan Niar berusaha seramah dan setenang mungkin. "Sore Mbak Wilo," sapa Niar dengan mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.
Wilo hanya tersenyum saja, tanpa mau menjabat. Otak Niar serasa what? Lagaknya?
"To the point saja. Saya sudah mendengar hubungan kamu dengan Pak Gesta, ternyata mantan saat SMA ya. Apa mungkin, kamu juga yang mengusulkan untuk mencari model baru, agar aku tak menjadi model utama di perusahaan Pak Gesta? Toh selama ini model lain kebanyakan freelance, hanya aku yang terikat eksklusif!" tuduh Wilona dengan nada angkuh.
Rasanya Niar ingin sekali membalas keangkuhan model itu dengan mode singanya, cuma dia sudah dewasa. Ada hal yang tak perlu ditanggapi dengan emosi. "Ouh, Mbak Wilo sudah mendengar hire model tersebut. Kalau boleh tahu dari mana? Karena saya yakin tim talent juga tidak akan membocorkan startegi perusahaan ke orang lain, meski itu model perusahaan sendiri?" tanya Niar balik, dengan tutur bahasa santai. Sengaja memancing emosi Wilona, karena pasti perempuan ambisius ini tak mau bertele-tele.
Wilo tersenyum sinis, "Koneksiku banyak, tak penting juga aku tahu dari mana? Tinggal jawab aja, kamu kan yang mengusulkan adanya hire model baru, dan jumlahnya gak tanggung-tanggung loh, lebih dari 5 orang!" protes Wilona seolah dirinya paling penting, dan harus dimintai persetujuan akan tahapan ini.
Giliran Niar yang tersenyum sinis, "Perlu Mbak Wilo ingat, saya hanya karyawan biasa yang hanya menjalankan perintah dari atasan. Kalau dari Pak Gesta sendiri meminta untuk hire, kami tim talent ya harus bergerak. Kalau secara logika juga, ngapain saya usul kalau ujung-ujungnya saya yang repot untuk pembaruan point kontrak, pendaftaran dan audisi sesuai kriteria model, betul kan?" ya Niar menjelaskan secara logika saja. Memiliki model seperti Niar tentu membuat tim talent berada di zona nyaman, tapi perlu khawatir tak punya model, karena dia stand by sesuai kontrak kerja sama.
"Ya saya minta, kalau pun sudah mendapat model, tetap saja saya menjadi model utamanya. Lagian saya kurang apa, tidak ada alasan juga menggeser saya!" waow, makin angkuh saja si Wilo, sampai lubang hidung Niar spontan membesar. Terlalu percaya diri.
"Kalau pada akhirnya Mbak Wilo digeser, itu murni keputusan Pak Gesta, Mbak. Karena tugas kami hanya menyodorkan list model yang cocok untuk produk perusahaan," tutur Niar santun.
"Kamu kan mantan Gesta, pasti tahu dong kesukaan dia apa. Siapa tahu saya bisa memberikan kesukaan Gesta untuk mengamankan posisi saya menjadi model utama di perusahaannya?" Niar menahan nafas, tak menyangka Wilo akan sefrontal ini memberi penawaran.
"Saya hanya mantan saat SMA, keinginan beliau saat SMA dengan sekarang tentu berbeda, tapi setahu saya Pak Gesta gak suka dengan perempuan yang munafik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu, termasuk setor tubuh!" sindir Niar dan ekspresi Wilona sontak tak suka dengan ucapan Niar.
"Kamu pikir saya model murahan, setor tubuh untuk menjadi model utama, gak bakal! Gue cewek mahal," sewot Wilona.
Duh, Niar ingin rasanya tertawa mendengar pengakuan palsu itu. Lo pikir gue gak tahu chat lo gimana sama Gesta. Dasar!
"Ya bagus, karena saya tahu Mbak Wilo punya karakter yang baik, dan ikut menjaga reputasi brand yang Mbak promosikan," ujar Niar mengingatkan soal efek yang akan diakibatkan bila Wilona bertindak di luar norma.
"Jadi mantan jangan sok dekat dengan Gesta, lah. Dia juga gak bakal balikan sama kamu, apalagi kalau aku bisa menarik perhatiannya. Kalau sampai itu terjadi, mungkin kamu yang akan saya minta untuk dipecat, agar posisiku tidak ada yang menggantikan baik sebagai pasangan maupun pekerjaan," ujar Wilona lalu beranjak pergi.
Niar melipat bibirnya, masih belum bisa mengambil inti dari pertemuan kali ini. Gak jelas banget mengajak bertemu kalau ujungnya dia ditinggal. Meta dan Aji segera mendekat. "Gimana?"
"Sepertinya dia curiga aku yang menjadi penyumbang ide untuk hire model. Baru tahu kalau dia gak mau kesaingan sama sekali ya. Mana menyinggung aku dan Gesta sebagai mantan, tahu tuh maunya apa!" celoteh Niar sembari menyeruput kopi gula aren pesanannya.
"Dia incar Pak Gesta mungkin, buat mempertahankan posisinya. Makanya dia tuduh kamu," tebak Meta dan diangguki oleh Niar.
"Bisa jadi," jawab gadis itu menahan agak tidak terceplos chat Wilo pada Gesta. Bisa-bisa dua orang itu shock dan gak mau pulang.
Gimana Cay? Gesta ada acara, makanya tak bisa mendatangi Wilo dan Niar di cafe. Ini saja baru selesai acara, langsung chat Niar.
Aman sih. Cuma memang dia ambis banget buat tetap jadi model utama. Balas Niar fast respon, karena ia masih melihat drakor.
Okey.
🤝🤝🤝. Niar sengaja balas pakai emot seolah menunjukkan keadaannya masih aman.
Besok jangan pakai kemeja dengan jenis kain kayak tadi. Niar pikir chat Gesta berakhir, kembali masuk dan mengoreksi cara berpakaian Niar. Tumben.
Hem? Niar tak paham kok tiba-tiba Gesta komentar soal kemejanya.
Terlalu pres body, dan aku gak suka.
Ada apa nih? tanya Niar masih belum paham arah pembicaraan Gesta.
Hindari pakai kemeja kayak tadi, Cay. Aku gak suka. Kamu bukan tipe perempuan yang mudah ngumbar body kamu kan. SMA dulu mungkin kamu masih kurus, sekarang sudah berkembang dan tumbuh, aku gak suka bagian tertentu di tubuh kamu bisa dinikmati lelaki lain, termasuk aku.
Niar tersenyum, Gesta ternyata seperhatian itu padanya. Niar tak perlu menjawab panjang atau bahkan menentang, dia hanya menjawab thanks sudah mengingatkan.
Good girl 😘😘😘.
"Dih, emot apaan itu!" gumam Niar tak berniat membalasnya lagi.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...