Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
...~Layangan, Hujan, dan Bakso~...
Deru motor Arka baru saja melenggang keluar dari halaman rumah Naira menuju jalanan yang dipoles semen dan batu.
Pagi itu masih sama seperti kemarin. Ruas pinggir jalanan dipadati oleh anak-anak yang berangkat sekolah. Beberapa sepeda onthel berjajar mundur, dikayuh perlahan. Dan tentu saja para petani yang telah bersiap menggarap sawah dan ladang mereka.
Sementara itu, Naira dan Arka masih duduk agak canggung di atas sepeda motor.
"Pegangan yang benar." Suara Arka yang berembus bersama angin pagi terdengar sedikit keras.
Naira menoleh sesaat pada punggung Arka yang tegap. Perbedaan besar tubuh mereka membuat Naira sebenarnya merasa cukup aman di belakangnya.
"Nai!" Kali ini suara Arka kembali terdengar, memecah lamunan Naira.
"Eh ... i-iya, Mas. Bagaimana?"
"Pegangan yang benar."
Naira mengatupkan bibirnya. Ia memegang ujung jaket kain sisi kanan Arka. Gemetar di telapak tangannya kian terasa nyata.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Arka lagi.
Naira yang mendengarnya samar, refleks memajukan tubuhnya. "Maaf, Mas. Enggak kedengaran."
"Nanti pulang jam berapa?" ucap pria itu setengah menengok ke arah Naira.
"Oh, jam dua sampai tiga sore."
"Oh ..." Lagi-lagi suara Arka tak terlalu kentara. Mungkin karena kemarin pria itu tidak memakai helm, sedangkan hari ini dia memakainya.
"Mas Arka mau pergi ke mana?" tanya Naira, mendekat ke arah pundak Arka.
"Mau ke kantor pos dekat kecamatan."
"Ohh ..."
"Ngapain?"
"Mau ambil wesel kiriman dari kakakku."
Naira mengernyit sesaat. "Oh ..."
Butuh beberapa menit dalam keheningan di atas sepeda motor untuk sampai ke sekolah tempat Naira bekerja.
"Makasih ya, Mas," ucap Naira ketika turun. Gadis itu membenahi ujung rok dan rambutnya tepat di hadapan Arka.
Pria itu memperhatikan setiap gerakan Naira dengan seulas senyuman.
"Iya, sama-sama. Nanti sore aku jemput."
Naira tersenyum dengan rona wajah yang memerah. "Maaf kalau merepotkan."
"Nggak. Sampai jumpa nanti sore."
Pria itu segera meninggalkan Naira yang tetap berdiri di depan gerbang sekolah. Tatapan gadis itu masih mengikuti arah laju motor Arka yang kian menjauh.
"Bu!" teriak salah satu siswa, membuatnya terkejut.
Beberapa siswa tampak mengerubunginya dengan tangan yang terulur untuk bersalaman.
...----------------...
Naira menghela napasnya halus.
Langit siang yang sudah sedikit mendung menggantung rendah. Angin sepoi yang cukup kencang berembus pelan, menerobos jendela kantor guru.
Suara dari lapangan sebelah sekolah terdengar cukup jelas. Bahkan terdengar meriah sekali teriakannya.
Naira mengalihkan pandangannya dari selembar kertas tugas siswa ke arah jendela. Anak-anak sedang memainkan layangan di tengah musim kemarau kering yang kadang diselingi hujan.
Ia menatap pemandangan itu cukup lama hingga menyadari ada sosok yang berbeda di sana. Pria itu bertubuh tegap dengan postur menjulang tinggi. Naira dapat mengenalnya bahkan dari jarak sekian.
Arka.
Pria itu sedang bermain layangan dengan beberapa anak.
"Bukannya itu yang kemarin dan tadi pagi mengantar Bu Naira?" Suara dari meja sebelah mengalihkan perhatian Naira.
Gadis itu tersenyum tipis sebelum menjawab, "Iya, Bu."
"Siapanya Bu Naira?"
"Anak teman Bapak."
"Ganteng, ya."
Rona wajah Naira kian memerah, padahal bukan dirinya yang sedang dipuji.
"Dia sudah ada pacar belum?"
Seketika itu juga rona merah di wajahnya menghilang. Senyum Naira kian menipis. "Belum tahu, Bu."
"Sudah, sudah. Ini sudah jam pulang," salah seorang guru lain memotong pembicaraan mereka.
Naira dan rekan guru di sebelahnya segera membereskan barang-barang mereka, lalu berjalan beriringan keluar dari ruang guru. Beberapa guru yang lain menaiki sepeda, sedangkan sisanya berjalan kaki.
Gadis itu melangkahkan kakinya ke tepi lapangan. Memperhatikan sosok yang tinggi menjulang tengah bermain dengan anak-anak yang tingginya hanya sepinggang.
Pria itu tampak tertawa. Jauh lebih lepas dibanding candaan recehnya beberapa hari lalu. Kaos hitam melekat pas pada tubuhnya, memperlihatkan bentuk tegap hasil latihan militer bertahun-tahun.
"Wah! Pantas Bu Naira betah melihatin," goda guru di sebelahnya tadi.
Naira hanya tersenyum canggung. "Ngelihatin anak-anak, Bu."
"Siapa namanya?"
"Arka."
"Oh ... Kalau begitu saya pamit duluan ya, Bu Naira."
Naira menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Hati-hati."
Pandangannya kembali beralih pada Arka yang sibuk bermain layangan. Tangannya memegang gulungan senar dengan tawa yang kian lepas. Tatapan pria itu sangat fokus untuk adu layangan bersama seorang bocah. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya satu layangan putus di udara.
Perlahan Arka menurunkan benangnya.
Ia tertawa senang sambil mengeluarkan uang dari saku celananya. "Ini untuk beli layangan baru," ucapnya pada si bocah.
Mata pria itu bergerak menyisir tepi sekolah yang mulai sepi, hingga akhirnya tertuju pada Naira yang rupanya sudah menunggunya.
Gadis itu masih berdiri tegak. Di dadanya, ia mendekap buku tugas siswa, sementara tas bahunya mencantol sempurna di sisi kiri.
Arka melihat jam di tangannya sebelum buru-buru mendekat. "Maaf, aku keasyikan main."
Pria itu tampak lebih tenang dari beberapa saat lalu. Ia tersenyum kaku dengan postur tubuh tegap menjulang di depan Naira, memaksa gadis itu mendongak untuk bisa melihat wajahnya.
Kaos Arka tampak agak basah dengan peluh yang membasahi wajah. Masih sama seperti ketika pria itu membenahi genteng rumahnya beberapa hari lalu.
"Enggak apa-apa. Kamu kelihatan pro."
Arka menyeka peluhnya pelan dengan punggung tangan, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Cuma sedikit beruntung. Anak-anak itu justru lebih jago."
Naira tersenyum mendengarnya.
Rintik hujan sore itu tiba-tiba turun perlahan, membasahi mereka berdua.
"Kita cari tempat berteduh dulu. Tadi di dekat sini aku lihat ada warung bakso."
Naira menganggukkan kepalanya. Hujan yang awalnya hanya rintik kecil kini kian rapat. Bekas titik air mulai tampak jelas di seragam merah Naira dan kaos hitam Arka.
Mereka menyeret langkah agak terburu-buru menuju sepeda motor.
"Ayo, Nai. Cepat," bisik Arka pelan. Telapak tangannya yang besar melayang di atas kepala Naira, memayunginya tanpa menyentuh.
Arka dengan sigap menyeka bagian jok motor sebelum gadis itu naik. Dan seolah melupakan semua kecanggungan yang terjadi tadi pagi, Naira segera memosisikan duduknya lebih rapat. Satu tangannya bergerak refleks, memeluk erat pinggang Arka.
Sepersekian detik, tubuh Arka mematung.
Namun, ia segera menguasai diri dan melesat. Arka memutar gas motornya, membelah gerimis menuju warung bakso yang dimaksud. Sebuah warung sederhana dengan terpal biru yang melindungi dari basahnya semesta.
Naira buru-buru masuk ke dalam warung, sementara Arka menyusul di belakangnya. Pria itu mengibaskan jaket kulitnya beberapa kali demi menghalau air.
"Pak, bakso dua porsi dan teh panas—"
"Saya jeruk tawar panas," potong Arka, memutus pesanan.
"Itu saja, Pak," ucap Naira yang langsung mendapat anggukan kepala dari sang pedagang.
Gadis itu memilih duduk agak di pojok. Sebelumnya, ia mengibaskan rok, ujung pakaian, dan rambutnya yang terkena rintik hujan. Meski tidak terlalu basah, hawa dingin mulai menusuk kulitnya.
Tiba-tiba, sebuah jaket kulit hangat terlingkup pas di pundak Naira. "Pakai, Nai. Biar enggak dingin."
Naira mendongakkan kepalanya sedikit kaku. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Arka yang bagian depan kaosnya justru tampak cukup basah.
"Kamu sepertinya lebih perlu."
"Enggak usah. Aku sudah biasa panas-panasan dan hujan-hujanan."
Tak lama kemudian, dua mangkuk bakso datang dengan uap panas yang mengepul tinggi. Aroma gurih kaldunya tercium samar, berpadu dengan wangi petrichor dari hujan di luar. Suara jatuhnya air yang kian deras terdengar bergemuruh di atas atap terpal.
Dua gelas minuman hangat mereka datang agak lambat setelahnya.
"Minum, Nai. Biar hangat," ujar Arka.
Naira tersenyum tipis, lalu meminum satu teguk teh hangatnya. "Mas Arka suka bakso?"
"Iya," jawab pria itu tenang.
"Bisa kamu racikkan bumbu yang pas buat nambah sambal?" tanya Arka kemudian, sambil mendorong mangkuk baksonya ke hadapan Naira.
Naira menatap mangkuk itu sesaat, lalu beralih menatap Arka. "Mas yakin?"
"Yakin."
Naira mendengus pelan, menahan tawa. Belum hilang dari ingatannya bagaimana pria itu kepedasan tadi pagi.
Dengan cekatan, Naira menambahkan satu sendok sambal, saus merah, dan sedikit kecap ke dalam mangkuk Arka. "Suka cuka?"
Arka menganggukkan kepalanya. Mendapat persetujuan itu, Naira menambahkan beberapa tetes cuka.
"Bukannya Mas Arka enggak suka sambal?" tanya Naira sambil mengembalikan mangkuk bakso yang telah selesai diracik.
"Seperti kata ibumu, jika terbiasa pasti akan suka."
Ucapan Arka terdengar begitu tenang. Namun, di tengah gemuruh hujan deras dan ditemani kepulan mangkuk bakso yang hangat, dada Naira mendadak merasa tidak nyaman.
Detak jantungnya berpacu jauh lebih kencang, mengalahkan suara hujan yang terus menghantam terpal biru yang melindungi mereka.
Naira mengaduk mangkuk baksonya pelan.
"Enggak kamu makan?" tanya Arka melihat Naira yang hanya mengaduk mangkuk baksonya.
"Eh, iya."
Naira menyantap makanannya dengan diam dan tenang, sampai akhirnya Arka mulai bercerita tentang perjalanannya mengambil wesel yang ternyata cukup jauh dan ramai. Suasana mencair diselingi tawa Naira saat menceritakan tingkah murid-muridnya hari ini.
Hingga tak terasa, hampir satu jam lebih mereka berlindung di sana. Suara hujan dan gemuruhnya telah hilang, digantikan tetesan air ringan dari dedaunan. Tempat yang tadinya sepi, kini kian ramai oleh warga yang berteduh. Beberapa pasang mata mulai mengamati mereka berdua.
"Ayo pulang, Nai. Sudah reda," ajak Arka.
Naira menganggukkan kepalanya. Tangan gadis itu bergerak merogoh tasnya untuk mengambil uang.
Namun, sebuah dompet kulit tiba-tiba diletakkan di depan matanya. "Pakai ini."
Naira menatap dompet dan Arka bergantian dengan bingung. "Tapi, Mas ..."
"Pakai saja."
Naira menerimanya dengan wajah yang kian memanas. Sementara itu, pria itu sudah melangkah lebih dulu ke arah sepeda motornya.
Jaket kulit Arka yang masih melekat di tubuh Naira tampak kebesaran, membungkus tubuh ringkihnya dengan hangat. Seusai membayar makanan, Naira segera menyusul ke arah Arka.
Ia mengamati bagaimana Arka mengeluarkan sebuah kain lap dari tempat ikatan jas hujan di tangki sepeda motornya, lalu menyeka sisa air di bagian jok penumpang—terutama tempat Naira duduk nanti.
"Ayo, Nai."
Ajak pria itu. Kali ini, Naira menaiki motor dengan perasaan yang jauh lebih tenang, bukan lagi canggung.
Bahkan pegangan yang awalnya terasa ragu, kini tidak lagi. Naira dengan berani merapatkan duduknya, menggenggam erat sisi pinggang tegap Arka sepanjang jalan pulang ke rumah.
Bahkan sepanjang perjalanan itu, banyak pasang mata yang menyaksikannya. Terutama para tetangganya dan Bude Wati yang tersenyum melihatnya.
******
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.