NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Dipanggil Atasan

"Bang Ibas harus tanggung jawab. Lita hamil!"

Baskara membulatkan matanya. Rahang kokohnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia hanya diam, kepalanya bahkan sudah pening karena harus menahan amarah. Baskara melihat ke sekeliling. Cafè itu banyak pengunjung. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Terlebih saat Jelita mulai berteriak. Ponsel-ponsel siaga merekam dan memotret setiap momen. Berita empuk!

Baskara tidak merespon ucapan Jelita. Ia memilih pergi meninggalkan Jelita yang menangis tersedu-sedu.

Potongan vidio yang viral itu berulang kali Baskara lihat. Tubuhnya melemah. Ia bahkan sampai jatuh terduduk saat Panca menunjukkan vidio Baskara yang mendadak ramai itu.

"Bas ... gimana ini?" tanya Panca.

Napas Baskara mulai memburu. Ia tahu masalah besar telah menantinya. Baskara mengacak rambutnya frustrasi. Ia mencoba menghubungi Aira. Nada sambung ponselnya berdering, tapi Aira tidak merespon. Kedua kaki Baskara bergerak cemas. Ia ingin segera menghubungi Aira, maksudnya menjelaskan masalah yang sedang terjadi. Namun, Aira tidak juga merespon. Baskara mengirim pesan tidak ada balasan dan hanya centang satu.

Baskara menggeram.

Ia mengacak rambutnya frustrasi seraya menangkup wajah dengan kedua tangannya. Ponsel pintarnya masih ia genggam. Jantungnya berdegup kencang dan perutnya tiba-tiba terasa mual saat mengingat kembali ucapan Jelita.

Anak itu hanya asal bicara. Namun, bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Batin Baskara.

Baskara mendongak saat Raditya dsn Horas berjalan menghampirinya di belakang markas. Jantungnya berdesir seketika saat melihat mobil Kolonel Haryo melintas. Baskara sempat menahan napasnya. Ketiga rekannya melihat Baskara dan memberikan dukungan dengan menepuk lengan Baskara sebelum ajudan Kolonel Haryo berlari menghampirinya.

"Izin, Letnan Baskara, dicari bapak," ucapnya singkat.

Baskara mengangguk tegas. Ia berjalan tegap meninggalkan teman-temannya. Ponselnya masih ia genggam. Ia masih berharap bisa berbicara dengan Aira secara langsung. Namun, Aira masih tidak merespon.

Langkah Baskara melambat saat ia sampai di kantor Kolonel Haryo. Baskara berhenti sejenak tepat di depan pintu ruangan komandannya. Ia menahan napas sejenak sebelum meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Baskara mempersiapkan diri. Kejadian ini diluar dari perkiraannya. Ia tahu, saat ini bukan hanya nama dan karirnya yang sedang berada di ujung tanduk, tapi nama baik ayah dan keluarganya juga akan terseret. Belum lagi rumah tangganya yang baru seumur jagung. Kepala Baskara mulai pening, terlebih saat bayangan Aira yang terus muncul dalam ingatannya.

Baskara mengetuk pintu. Ia masuk saat Kolonel Haryo sudah mempersilakannya. Pria setengah baya itu sedang duduk di kursi kerjanya, menatap layar ponsel dengan rahang yang mengeras.

Baskara memberi hormat. Ia berdiri di hadapan Kolonel Haryo.

Kolonel mendongak. Ia menatap Baskara dengan saksama. Ekspresinya datar. Sulit ditebak.

"Duduk, Bas."

Perintah singkat itu sempat membuat hati Baskara berdesir. Ia tahu, selain menjadi komandan, Kolonel Haryo adalah ayah dari Jelita. Pokok permasalahan yang sedang dihadapi Baskara saat ini.

Baskara duduk. Posisinya tegap menatap lurus pada Kolonel Haryo yang kini juga sedang menatap Baskara dengan saksama.

"Kamu tahu soal vidio ini?" tanya Kolonel Haryo tegas. Ia memutar ponselnya dan menunjukkan vidio yang melibatkan Baskara dan Jelita. Vidio yang menuai banyak kontroversi dan komentar netizen.

"Izin, tahu, Ndan," jawab Baskara tegas.

Mata Kolonel Haryo memicing seolah sedang memindai sesuatu.

"Saya ingin dengar dari mulutmu kejadian yang sebenarnya! Jujur, saya belum menemui anak saya setelah melihat vidio itu. Saya ingin mendengar penjelasan darimu terlebih dahulu.

"Di luar ruangan ini, saya adalah ayah Jelita, tapi di dalam ruangan ini saya adalah komandanmu! Ceritakan kronologi sesungguhnya, katakan dengan jujur dan sedetail mungkin!" ucap Kolonel Haryo dengan penuh penekanan.

Baskara terdiam sejenak. Ia sedikit kesulitan merangkai kata. Baskara tahu konsekuensinya, jika ia tidak berkata jujur, maka karirnya akan tamat. Namun, jika ia berkata yang sebenarnya, apakah Kolonel Haryo akan percaya?

"Izin, Ndan, seperti yang komandan ketahui saya sudah lama dekat dengan perempuan yang ada dalam vidio itu yang tidak lain adalah putri komandan, Jelita. Kami memang kerap pergi berdua, saat komandan meminta saya mengantar jelita ke kampusnya, atau mengantar jelita untuk membeli buku dan keperluan kuliahnya.

"Diantara anggota yang lainnya, saya yang lebih sering bertemu dan berinteraksi dengan Jelita. Namun, hubungan saya hanya sebatas itu, Komandan. Tidak ada hubungan romantis seperti rumors yang beredar yang mengatakan saya dan Jelita berpacaran dan tidak ada hubungan fisik sama sekali. Saya menganggap Jelita seperti adik saya sendiri, sehingga ketika Jelita meminta saya untuk mengantarkan dia, saya tidak pernah menolak," ucap Baskara mencoba menjelaskan.

Kolonel Haryo memicingkan matanya. "Benar kamu tidak ada hubungan apapun dengan Jelita?"

"Izin, tidak, Komandan!" jawab Baskara lantang.

"Bagaimana kamu bisa duduk berdua dengan Jelita di cafè? Apa kau mulai berselingkuh dari istrimu dan menjadikan Jelita sebagai obyek perselingkuhanmu?"

"Izin, tidak, Komandan. Saya tidak berani."

"Lalu, bagaimana kamu bisa berada di cafè ini berdua saja dengan Jelita seperti sepasang kekasih?" Kali ini nada bicara Kolonel Haryo mulai meninggi.

Baskara sedikit kesulitan menelan salivanya,tapi ia tidak gentar. Tidak ada alasan untuk menutupi setiap detail kejadiannya. Ia harus memperjuangkan nama baiknya.

"Izin, tadi pagi Jelita meminta saya untuk mengantarnya ke kampus karena mobilnya sedang diperbaiki di bengkel. Saya antarkan setelah apel pagi. Kami sempat mampir ke Rumah Sakit Pelita untuk menjenguk teman Jelita yang kecelakaan. Ditengah perjalanan menuju ke kampusnya, Jelita meminta saya ke cafè itu, disana saya baru tahu jika Jelita tidak ada kelas pagi itu. Kuliahnya kosong.

"Di cafè itu Jelita sempat menyatakan perasaannya kepada saya, tapi saya menolaknya karena saya sudah menikah. Jelita mulai menangis dan -- kejadiannya persis sama seperti yang ada dalam vidio tersebut."

Kolonel Haryo menahan napas sejenak. "Kenapa kamu tidak melaporkan jika anak saya mulai mendekatimu?"

"Izin, Komandan, sejauh ini semua masih dalam tahap yang wajar. Saya juga menganggapnya wajar. Bahkan saya tidak terlalu menggubris saat rumors berpacaran itu muncul. Saya merasa hal itu tidak terlalu penting dan saya tidak merasa terganggu. Saya pikir dengan saya menikah semua rumors tentang saya dan Jelita akan hilang dengan sendirinya."

"Saat datang ke Rumah Sakit Pelita, apakah kamu bertemu dengan istrimu? Dia bekerja disana,kan?"

"Izin, Komandan. Kami bertemu. Istri saya melihat saya datang dengan Jelita."

"Apa reaksi istrimu?"

"Izin, Komandan, Aira sedikit terkejut saat saya datang kembali ke rumah sakit itu bersama Jelita. Saat itu, dengan sengaja Jelita menggandeng tangan saya, tapi saya tidak enak hati untuk menolaknya karena saya tidak ingin mempermalukan Jelita. Namun, disisi lain saya juga tidak ingin menyakiti istri saya. Saya pikir, saya bisa menjelaskan kejadian itu padanya nanti.

"Saya sangat menghormati komandan dan keluarga, terlebih saat saya diminta untuk menjaga Jelita, tidak ada sedikitpun pikiran saya untuk memanfaatkan situasi, Komandan. Maaf jika keadaannya menjadi seperti ini," ucap Baskara tegas.

Kolonel Haryo mengangguk. Ia membuang napas kasar. Matanya masih menyorot tajam menatap Baskara.

"Saya rasa sudah cukup. Keluar!"

Baskara berdiri. Ia menegakkan posisi tubuhnya, lalu memberi hormat sebelum pergi.

Baskara membuang napas kasar. Ia menatap keluar, hari mulai gelap. Baskara mengaktifkan kembali ponselnya. Belum ada jawaban dari Aira. Baskara memilih berkendara terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya. Ia ingin menghirup udara segar sebelum sampai ke rumah.

Sementara itu, langkah Kolonel Haryo terasa berat ketika ia sampai di rumah dinasnya. Wina sang istri menyambut dengan wajah panik.

"Jelita sejak tadi mengurung diri di kamar, Mas. Aku takut kalau dia melakukan hal bodoh," ucap Wina dengan suara gemetar.

Kolonel Haryo segera berlari menghampiri kamar sang putri. Ia mengetuk beberapa kali dan membujuk agar putrinya membuka pintu, tapi hasilnya nihil.

"Vidionya viral," ucap Wina seraya memeluk lengan kekar suaminya.

"Aku tahu."

"Sudah bicara dengan Baskara? Apa benar dia dan putri kita sampai sejauh itu, Mas? Sejak tadi banyak dari ibu-ibu anggota yang menelpon, mengirim pesan, bahkan beberapa datang ke rumah bersimpati atas vidio yang viral itu. Aku baru tahu kalau ternyata katanya mereka pacaran,Mas. Baskara sudah menikah, skandalnya akan jadi lebih serius," ucap Wina lirih.

Kolonel Haryo tidak menanggapi. Ia fokus mengetuk pintu kamar putrinya.

"Izinkan papi masuk, Lita. Papi ingin bicara," ucap Kolonel Haryo pelan.

Bukannya pintu dibuka, tapi justru teriakan Jelita menggema lebih jelas.

"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Pi! Vidionya sudah jelas!" teriaknya.

Kolonel Haryo membuang napas kasar. Ia tahu, jika masalah ini dibiarkan berlarut, efeknya akan semakin besar.

"Buka pintunya, atau papi dobrak!" ucap Kolonel Haryo tegas.

Tak berselang lama, suara kunci pintu terdengar diputar. Pintu dibuka, menampilkan wajah Jelita yang sembab. Matanya juga bengkak karena sejak tadi terus menangis di dalam kamarnya.

Jelita menatap Kolonel Haryo. Ia kembali menangis dan menghambur dalam pelukan sang ayah. Hal itu membuat tangis Wina ikut pecah.

Kolonel Haryo berusaha menenangkan sang putri, menepuk punggungnya beberapa kali.

"Harimu berat, huh?" tanya Kolonel Haryo dengan suara pelan dan dalam.

Suara bariton yang dapat segera Jelita dengarkan tepat di telinganya.

"Papi percaya aku, kan?" rengek Jelita. Ia mengusap air mata dan masih terisak-isak. "...nggak usah panggil dia lagi ya, Pi," lanjutnya.

Kolonel Haryo terdiam. Ia kembali memejamkan mata. Jika dulu ia dapat dengan mudah melihat adanya kebohongan di mata Jelita semudah membuka sebuah buku, tapi sekarang semua berubah. Ada celah sangat tipis diantara keduanya.

Sebenarnya, apa yang sedang kau sembunyikan, Nak? Batin Kolonel Haryo.

___________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!