NovelToon NovelToon
Sahabat Ku Adalah Maut Rumah Tangga Ku

Sahabat Ku Adalah Maut Rumah Tangga Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: sang senja

Sinta percaya bahwa rumah tangganya bersama Edi adalah tempat paling aman untuk pulang. Setelah bertahun-tahun menikah, ia rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan cinta yang ia anggap suci.

Namun, hidupnya runtuh dalam satu malam ketika ia mengetahui sebuah kenyataan pahit, suaminya sendiri berselingkuh dengan Mayang, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.

Di balik senyum manis dan perhatian Mayang selama ini, ternyata tersimpan pengkhianatan yang perlahan menghancurkan rumah tangga Sinta. Edi yang dulu begitu mencintainya kini berubah dingin, penuh dusta, dan diam-diam memilih wanita lain di belakangnya.

Sinta tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga kehilangan sahabat terbaik yang selama ini selalu ada di sisinya.

Terkadang..
Musuh paling kejam bukanlah orang asing
Melainkan orang yang pernah kita percaya sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Selanjutnya.

Sejak kejadian di basement malam itu, hubungan Santi dan Mayang benar-benar hancur. Santi tidak pernah lagi menghubungi Mayang. Bahkan, sekadar melihat nama wanita itu muncul di layar ponselnya saja sudah cukup membuat darahnya mendidih.

Namun, yang paling menyakitkan adalah... ia harus berpura-pura baik-baik saja di depan Sinta. Karena sampai detik ini, Santi masih belum memiliki keberanian untuk menghancurkan hati sahabatnya sendiri.

Dan malam ini...

Semua kecanggungan itu kembali terasa saat mereka bertemu di restoran langganan. Sinta duduk tenang sambil sesekali menyuapi Kayla. Wajahnya terlihat lembut seperti biasa, seolah tidak ada beban apa pun dalam hidupnya.

Sebaliknya, Mayang tampak gelisah. Senyumnya terlihat dipaksakan, dan jemarinya terus memainkan sendok di atas meja. Sementara itu, Santi bahkan tidak mau menatap wajah wanita itu sedikit pun.

"San..." panggil Mayang pelan.

"Apa sih? Bisa enggak jangan berisik!"

Suasana meja seketika membeku.

Sinta berpura-pura bingung. "Kalian kenapa sih? Kalian berantem?" tanya Sinta seolah bingung dengan sikap mereka berdua. Padahal, sebenarnya Sinta sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

"Nggak kok, Sin. Kami baik-baik aja," jawab Mayang cepat sambil tersenyum canggung.

Santi malah tertawa sinis. "Baik dari segi mananya? Dasar muka tembok, enggak tahu malu!" katanya sarkastis dengan wajah datar yang terlihat sangat masam.

Deg.

Wajah Mayang langsung memucat. "Santi... kok kamu begitu sih?" seru Mayang dengan hati terluka.

Namun, Santi tak peduli. Tatapannya dipenuhi kebencian.

Sinta mengembuskan napas berat, lalu beranjak dari duduknya. Ia membelai lembut kepala Kayla yang terbalut jilbab.

"Kalian jangan ribut lagi ya. Kita kan sahabat. Aku titip Kayla sebentar, ya?"

"Iya. Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Santi.

Sinta tersenyum singkat. "Ke toilet sebentar."

Begitu Sinta berjalan menjauh, suasana langsung berubah tegang. Mayang terlihat semakin tidak nyaman.

"Santi, kamu enggak bisa giniin aku terus."

Brak!

Santi tiba-tiba berdiri sambil menggebrak meja. Lalu ia menatap tajam Mayang.

"Terus kamu maunya gimana?!"

Mayang mulai panik melihat emosi wanita itu. "Santi, please..."

Namun, Santi sudah kehilangan kesabaran. Ia langsung menarik pergelangan tangan Mayang dengan kasar.

"Ikut aku sekarang, jalang."

"Eh! Lepasin, Santi!"

"Diam kamu!" bentak Santi.

Kayla yang melihat keributan itu langsung terdiam ketakutan. Santi segera menyadari keberadaan anak kecil itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. Kemudian, ia memanggil seorang pramusaji perempuan.

"Mbak, tolong jagain Kayla sebentar, ya," pintanya.

Bahkan, Santi langsung meminta izin kepada manajer restoran agar Kayla bisa diawasi sementara. Setelah memastikan Kayla aman, Santi kembali menoleh ke arah Mayang. Tatapannya kini jauh lebih mengerikan.

Tanpa banyak bicara, ia menyeret wanita itu menuju lorong sepi di dekat toilet. Beberapa pengunjung sampai menoleh karena keributan mereka.

Begitu sampai di lorong, Santi langsung mendorong tubuh Mayang hingga membentur dinding.

Bruk!

"Sakit, tau!" teriak Mayang.

"Sakit?" Santi tertawa sinis penuh amarah. "Sakitan mana dengan Sinta?!"

Mayang langsung terdiam. "Santi... tolong ngertiin aku. Aku dan Mas Edi saling mencintai."

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya.

"Gila ya? Kamu suruh ngertiin pelakor kayak kamu? Kamu waras enggak sih, May?"

Air mata Mayang langsung mengalir.

"Kenapa kamu nyalahin aku terus?! Mas Edi juga mau sama aku! Salah Sinta sendiri yang nggak bisa bikin Mas Edi nyaman. Makanya dia lebih milih aku."

PLAK!

Tamparan kedua mendarat lebih keras. Ucapan itu membuat emosi Santi semakin meledak.

"Karena kamu nggak tahu malu!" teriaknya. "Di luar sana masih banyak laki-laki lajang! Kenapa harus suami Sinta?!"

Mayang mulai ikut tersulut emosi.

"Karena Mas Edi bisa membuat aku nyaman. Dan Mas Edi lebih memilihku daripada Sinta."

Deg.

Santi menatapnya tak percaya.

"Kamu bangga jadi pelakor?"

"Aku nggak peduli!"

PLAK!

Tamparan ketiga kembali mendarat. Kali ini, Mayang membalas dengan mendorong tubuh Santi.

"Jangan seenaknya nampar gue! Orang seperti elo enggak akan ngerti!"

Mereka mulai saling dorong dan saling menjambak hingga suasana semakin kacau.

Sementara itu...

Di sisi lain, Sinta diam-diam kembali ke meja mereka. Tatapannya langsung tertuju pada tas branded milik Mayang yang tertinggal di kursi. Dengan cepat, ia duduk dan membuka tas tersebut. Tangannya bergerak hati-hati mencari sesuatu.

Dan benar saja.

Di dalam kantong kecil tas itu terdapat beberapa strip obat kontrasepsi.

Senyuman tipis muncul di bibir Sinta. Ternyata dugaannya benar. Mayang mengonsumsi obat kontrasepsi agar hubungan gelapnya dengan Edi tetap aman.

Sinta mengeluarkan sebuah strip obat dari tas kecil miliknya. Matanya menatap benda itu selama beberapa detik. Amarah yang selama ini ia pendam kembali membara.

"Kalian suka bermain kotor, kan?" bisiknya pelan. "Kalau begitu, nikmati juga akibatnya."

Dengan sangat hati-hati, ia melakukan semuanya seperti yang sudah ia rencanakan. Setelah semuanya selesai, tas itu kembali tertutup rapi seperti semula. Wajah Sinta pun kembali lembut dan tenang.

*

*

Tak lama kemudian, suara keributan dari arah lorong semakin terdengar jelas. Sinta buru-buru berjalan mendekat sambil berpura-pura panik.

"Astaghfirullah! Kalian kenapa sih?" tanyanya dengan nada khawatir.

Namun, Sinta hanya menghampiri Santi, membantu merapikan kembali rambutnya dengan penuh perhatian, lalu mencoba menenangkan Santi yang masih dikuasai emosi.

Saat itu rambut Mayang sudah berantakan. Lipstiknya luntur, dan pipinya memerah bekas tamparan.

"Sinta..." napas Santi memburu. Namun, wanita itu langsung menahan ucapannya. Ia hampir saja membongkar semuanya.

Mayang segera menangis dan berpura-pura terlihat sangat teraniaya.

"Sin, aku enggak tahu salah aku apa. Tiba-tiba saja Santi nyerang aku," katanya dengan wajah sendu.

"Cuih!"

Santi meludah kasar.

"Dasar ular! Salah pun masih berlagak menjadi korban. Menjijikkan!" balas Santi.

"CUKUP!"

Suara Sinta terdengar keras hingga keduanya terdiam.

Sinta menarik napas pelan, mencoba mengontrol emosinya, lalu kembali tersenyum lembut seperti sebelumnya.

"Jangan begini. Kita kan sahabat. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik," kata Sinta seolah menasihati.

Santi mendengus kasar.

"Enggak sudi gue bicara sama rubah burik seperti dia!" katanya kesal, lalu pamit pergi dari tempat itu kepada Sinta.

Begitu pula Mayang. Ia juga segera pergi dari sana.

Kayla diantar oleh pramusaji yang tadi menjaganya. Sinta tersenyum tulus kepada pramusaji tersebut dan mengucapkan terima kasih.

Kayla memandang sang bunda dengan wajah polosnya.

"Bunda, tadi Tante Santi marah-marah sama Tante Mayang. Kasihan Tante Mayang."

Sinta tersenyum lembut.

"Tante Santi tidak mungkin marah jika Tante Mayang tidak berbuat salah," kata Sinta, menasihati putrinya dengan lembut.

1
naws
mungkin sinta akan jadi jembatan kamu kembali ke jalan-Nya.
naws
ihiyyy jalan menuju sinta
naws
gak peduli dia di luar CEO, pokoknya di rumah dia tetep anak ibu yg selalu siap dititipin roti sobek 🤏
naws
jodoh sinta 🙈
My_Lucia
semoga terjual secepatnya.. biar menderita 2 sejoli itu 🤭
My_Lucia
wihh... manteb nih .. 2 sejoli kaget ga tuh tiba-tiba terusir😂
My_Lucia
Em... Kayla udah kena pesona rendy🤭
My_Lucia
membekas pastinya, dan akan terngiang-ngiang...
Mochi
Loh.. aku blm beri ulasan toh ke sini. ya ampun. maaf ya thor. pokoknya the best bngt novel ini. Dan aku selalu menunggu2 up nya
Harus sampai tamat ya. sukses thor.💖💖💖💖💖
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ: udah kok kak
total 1 replies
Mochi
ga sabaaar aku rumahnya cepet laku..
Mochi
naaahh.. betul. jual aja. kok ya enak bngt edi masih tinggal di situ
Mochi
sabar ya Kay. sebentar lagi om rendi bukan dipanggil om lagi. tapi papa
⋆˚𝜗𝜚˚⋆☆Blue_Sea☆⋆˚𝜗𝜚˚⋆
dih, udah bagus di buatin makanan juga.
RahmaYesi
lu laki tapi gak ngasih nafkah busanya mintak aja. oh atau ente pengemis kali ya
RahmaYesi
rasainnn rasainnn aja
RahmaYesi
hwuekkkk 🤮🤮
RahmaYesi
bagus deh, ceraikan saja Sinta. Sinta juga udah gugat lu
RahmaYesi
gila sih, suami udah selingkuh selama dua tahun dan Sinta tau itu, tapi dia masih bisa tersenyum dan melayani makan minum suaminya dg baik. kagum aku sama kamu Sinta
RahmaYesi
Sinta benar benar wanita tangguh. semoga kebahagiaan di depan sana sangat indah menanti kamu Sinta.
RahmaYesi
mendidih otakku baca cerita ini Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!