"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Sesal
Pagi yang berbeda. Tak ada lagi suara berisik para tetangga yang asyik bergibah di depan pagar sambil memilih sayur yang dijajakan Mang Unang.
Tak ada lagi sapaan lembut Ustaz Reinan ketika melintas seusai mengisi pengajian ba'da subuh setiap hari Ahad.
Tak ada lagi tawa Hamdan yang selalu menggodanya ketika melihat interaksinya dengan sang ustaz muda.
Semua yang dulu tersaji kini sudah hilang, terbang bersama embusan napas terakhir Hamdan.
Setetes air mata luruh melintasi pipi, lalu jatuh menimpa lantai. Sukma meratap dalam diam, mengadukan ujian hidup yang terasa teramat berat kepada Sang Maha Kuasa.
Terdengar suara notifikasi pesan masuk, seketika mengalihkan atensinya dari keindahan bunga mawar putih yang sedang bermekaran di halaman rumah. Mendorongnya untuk segera menyeka sisa air mata dengan ujung jemari, lalu meraih gawai yang tergeletak di atas meja, membaca tulisan yang tertera di layar benda pipih itu.
New message from Ustaz Reinan:
Assalamu'alaikum, Sukma. Sudah sampaikah di desa tujuan?
Sukma refleks melafazkan istigfar karena ia benar-benar terlupa untuk mengabari Ustaz Reinan. Jemarinya lalu bergerak lincah, mengetik pesan balasan untuk sang ustaz.
Wa'alaikumsalam, Ustaz. Alhamdulillah sudah dari semalam. Maaf, saya terlupa tidak mengabari Ustaz.
Send. Pesan pun terkirim.
Tak berselang lama, Sukma kembali menerima pesan dari Ustaz Reinan.
Alhamdulillah, saya lega dan teramat bersyukur. Sering-sering kasih kabar, jangan memutus tali silaturahmi kita.
Sukma menghela napas dalam. Jemarinya bergerak lemah mengetik kalimat singkat sebagai penutup obrolan.
Insya Allah, Ustaz.
Sukma menaruh kembali gawainya di atas meja seusai berbalas pesan dengan Ustaz Reinan--ustaz muda yang beberapa bulan lalu pernah berniat untuk mengkhitbahnya.
Meski kala itu ia menolak dengan alasan belum siap dan masih ingin fokus melanjutkan studi, lelaki bermata teduh itu tetap bersikap baik dan menaruh perhatian besar padanya.
Ada setitik rasa sesal yang tiba-tiba menelusup ke relung kalbu. Andai waktu itu ia menerima niat suci Ustaz Reinan, mungkin marwahnya akan tetap terjaga. Kesuciannya tidak akan pernah direnggut paksa oleh lelaki bejat yang ironisnya selalu ia sebut dalam doa-doa malamnya: Xavier Narendra Aditama.
"Non Sukma..." panggil Bi Jayanti, suara lembutnya seketika menyadarkan Sukma dari lamunan masa lalu.
"Opa Abimana dan Oma Kirana sudah menunggu di teras rumah utama, Non. Kata Oma, setelah sarapan pagi, beliau berdua ingin mengajak Non Sukma berkeliling desa dan berkunjung ke Yayasan Abimana," tutur Bi Jayanti menyampaikan pesan.
"Iya, Bi." Sukma mengangguk pelan.
Ia membuang napas berat, mencoba menegarkan diri sebelum membawa ayunan kakinya melangkah keluar dari kamar rumah joglo menuju teras untuk menemui sepasang suami istri yang tengah menantinya.
Setibanya di sana, Sukma langsung menyapa hangat kedua pemilik rumah. Ia melangkah mendekat untuk menyalami Oma Kirana dan mencium punggung tangan wanita sepuh itu dengan takzim.
"Duduk, Sukma," pinta Oma Kirana dengan senyum tulus yang teduh.
Sukma mengindahkan permintaan itu. Ia menarik kursi kayu berukiran para tokoh Pandawa, lalu mengambil posisi duduk yang nyaman di dekat mereka.
"Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak atau terganggu nyamuk nakal?" tanya Oma Kirana diiringi tawa kecil--memulai obrolan sekaligus mencairkan suasana.
Sukma menarik kedua sudut bibirnya, mengulas senyum tipis. "Alhamdulillah, semalam tidur saya nyenyak, Oma. Meski... di atas sajadah."
Oma Kirana tersenyum. Ia mengusap pelan bahu Sukma dengan penuh kasih sayang. "Itu nikmat yang sangat luar biasa, Sukma. Harus selalu kamu syukuri," tuturnya lembut.
"Nanti, setelah sarapan, kita langsung keliling desa dan berkunjung ke yayasan," sela Opa Abimana, mengalihkan perhatian mereka pada rencana hari ini dengan nada suara yang berwibawa namun hangat.
"Iya, Opa." Sukma mengangguk, mengindahkan perkataan pria sepuh itu.
Suasana di teras rumah utama kembali diliputi keheningan yang nyaman, ditemani oleh kepulan asap tipis dari teh hangat dan hidangan sarapan yang tersaji di depan mereka.
Di bumi belahan lain...
Xavier masih didekap erat oleh rasa bersalah yang teramat besar. Wanita yang ingin dimintai maaf kini telah pergi, seakan hilang ditelan bumi.
Kediaman keluarga Hamdan terasa begitu sepi. Senyap tanpa sisa suara canda tawa sepasang kakak beradik, Hamdan dan Sukma. Takdir telah memisahkan mereka. Keduanya kini berada di alam yang berbeda, tidak mungkin lagi bisa bersama di bawah langit yang sama.
Xavier menatap hampa pintu rumah kayu yang tertutup rapat dan digembok. Di dalam ketidakberdayaannya, ia masih berharap pintu itu tiba-tiba akan terbuka lebar, lalu memperlihatkan sosok Sukma yang berkenan memberikan maaf untuknya.
"Maaf..." lirih Xavier mengucap satu kata yang terus-menerus berdengung di ruang pikirnya.
Selama beberapa hari ini, otaknya terasa sangat berisik. Kepalanya dipenuhi umpatan sekaligus petuah tajam yang sempat dilontarkan oleh Ryuga ketika mereka berbincang di gudang tua--bekas basecamp Geng Brawijaya beberapa hari lalu.
"Balas dendam itu seperti politik, Vier. Satu hal selalu mengarah ke hal lain, sampai keburukan menjadi lebih buruk, dan yang lebih buruk menjelma jauh lebih buruk lagi. Pada akhirnya, ego itu hanya akan membuat pelakunya hancur lebur," tutur Ryuga kala itu.
Xavier meraup udara dalam-dalam, membiarkan tubuhnya didera guyuran air langit. Basah kuyup dan menggigil kesepian.
Ia akhirnya tersadar sepenuhnya bahwa... balas dendam sama sekali tidak bisa mengubah keadaan ataupun mengakhiri permasalahan. Tindakan itu justru malah membuat segalanya menjadi kian runyam.
Bisa jadi, di kemudian hari semesta akan membalas tunai perbuatan bejat yang pernah dilakukannya terhadap Sukma. Menghancurkan dirinya sendiri dan menyakiti orang-orang yang paling ia cintai, persis seperti kutukan yang pernah dialami oleh Raditya Aditama--papanya.
Dosa besar yang dilakukan oleh Raditya di masa lalu, seakan berimbas karmanya pada kedua putrinya, Karina dan Aluna. Selain gagal menikah dengan lelaki yang dicinta, keduanya juga hampir menjadi korban ruda paksa.
Hukum tabur tuai.
Setiap perbuatan, baik atau buruk, pasti akan mendatangkan konsekuensi atau balasan yang setimpal di kemudian hari. Sama halnya ketika seseorang menanam benih yang baik, maka ia akan menghasilkan panen yang baik pula. Begitu juga sebaliknya.
"Kak Vier..."
Suara lembut Aluna seketika membuat Xavier terhenyak. Lelaki bermata elang itu tersentak, refleks mengalihkan perhatiannya pada adik bungsunya yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakangnya dengan ditemani oleh Ryuga.
"Luna..." gumam Xavier lirih dengan bibir yang bergetar menahan dingin dan rasa bersalah.
"Apa yang sebenarnya Kak Vier lakukan pada Sukma? Kenapa dari tadi Kak Vier terus menatap rumah Sukma dan mengucap kata maaf berulang kali?" Aluna menghujani kakaknya dengan pertanyaan dan menuntut jawaban jujur. "Apa jangan-jangan... pria bejat yang sudah menodai marwah Sukma itu..."
Aluna sengaja menggantung ucapannya. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kata-kata yang mendadak membuat tenggorokannya tercekat.
Mental Xavier seketika runtuh total. Ia tidak lagi mampu berdiri tegak di depan adiknya.
Xavier menunduk dalam, meluruhkan seluruh tubuhnya, lalu bersimpuh pasrah tepat di hadapan Aluna di bawah guyuran hujan.
"Maafin Kak Vier, Dek... Kak Vier udah berdosa. Kak Vier udah bikin hidup Sukma hancur lebur," ujar Xavier dengan suara parau, diiringi tangisan penyesalan.
Pengakuan jujur dari bibir Xavier itu bagai petir yang menyambar bumi. Meremukkan raga, sekaligus meluluhlantakkan ulu hati Aluna seketika itu juga.
Aluna berdiri mematung dalam diam, membiarkan tubuhnya mendadak kaku di bawah naungan payung yang tengah digenggam erat oleh Ryuga.
Benaknya meratap pilu. Satu ujian belum sepenuhnya berhasil dilampaui, kini ujian yang terasa lebih berat malah hadir menghantam tanpa ampun.
"Allah..." bisik Aluna lirih.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier