Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Seperti Tawanan
Kini Rosline sudah selesai belajar bersama Bibi Rena sejak siang tadi. Gadis itu benar-benar serius menghafalkan semua jadwal obat, makanan, hingga kebiasaan kecil Kakek Alberto. Buku catatan mungilnya bahkan tidak pernah lepas dari genggamannya sedari tadi.
Bibi Rena sampai beberapa kali tersenyum geli melihat Rosline yang begitu tekun.
“Kalau obat malam terlambat lima menit bagaimana, Bi?” tanya Rosline serius.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau teh Tuan Besar terlalu manis?”
“Paling beliau ngomel.”
Rosline langsung buru-buru mencatat lagi.
Melihat itu, Bibi Rena hanya terkekeh kecil. “Nona Rosline benar-benar serius ya.”
Rosline langsung malu sendiri. “Saya takut dimarahi Tuan Bara…”
Mendengar nama itu saja, Bibi Rena malah tertawa pelan. “Lama-lama juga terbiasa.”
Rosline langsung menggeleng cepat. “Sepertinya tidak mungkin…”
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Rosline yang melihat jam di ponselnya langsung sedikit panik. “Astaga…”
Ia buru-buru membereskan buku catatannya lalu berdiri cepat. “Saya harus ke mini market.”
Bibi Rena menoleh. “Sekarang?”
Rosline mengangguk kecil. “Saya masih terikat kontrak kerja disana. Jadi saya tidak bisa berhenti mendadak.”
“Oh begitu.”
Rosline lalu melihat ke sekitar ruang tengah mansion. “Bi, Tuan Edwin kemana ya? Kok saya tidak melihat beliau dari tadi…”
Bibi Rena yang sedang memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas menjawab santai tanpa menoleh. “Sepertinya Tuan Edwin pergi bekerja.”
Rosline langsung terkejut. “Pergi kerja?” ulangnya bingung.
Bibi Rena akhirnya berdiri lalu menatap Rosline. “Iya. Memangnya ada apa?”
“Saya ingin pamit…”
Bibi Rena mengangguk paham. “Kalau begitu sebaiknya Nona Rosline izin pada Tuan Besar atau Tuan Bara.”
Rosline langsung membeku sesaat. “Tuan… Bara?”
“Iya.”
Wajah Rosline langsung berubah sedikit pucat. Entah kenapa ia lebih memilih menghadapi sepuluh pelanggan minimarket yang marah sekaligus dibanding harus bicara berdua dengan Bara Alexander.
Namun Rosline tetap memberanikan diri bertanya kecil. “Memangnya… Tuan Edwin lama ya perginya?”
Bibi Rena berpikir sebentar sebelum menjawab santai. “Kalau sudah keluar untuk bekerja, Tuan Edwin bisa pulang lusa paling cepat.”
Rosline langsung membelalakkan mata.
"Terkadang beberapa bulan paling lama.”
“Be-beberapa bulan?!”
“Tapi tidak separah Tuan Bara.” lanjut Bibi Rena tenang sambil menutup kulkas. “Kalau Tuan Bara bisa benar-benar tidak pulang dalam waktu yang sangat lama.”
Rosline langsung terdiam. Kini ia mulai sadar, keluarga Alexander ternyata memang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Bahkan tinggal di mansion sebesar ini pun, mereka jarang.
“Kalau begitu…” Rosline memainkan tali tas kecilnya gugup. “Saya harus izin ke Tuan Bara sekarang?”
Bibi Rena mengangguk santai seolah itu hal biasa.
“Iya.”
Rosline langsung merasa lemas lagi.
Namun sebelum ia sempat bergerak. Suara langkah kaki perlahan terdengar dari arah tangga besar mansion.
Rosline refleks menoleh. Dan detik berikutnya, Bara turun dari lantai dua sambil menggulung sedikit lengan kemeja hitamnya. Tatapan tajam pria itu langsung jatuh tepat ke arah Rosline.
Rosline langsung menegang saat melihat Bara turun dari tangga besar mansion. Aura pria itu tetap sama menakutkannya meski sekarang ia terlihat jauh lebih santai dibanding tadi siang.
Bara berjalan perlahan memasuki ruang tengah sambil melirik Rosline sekilas. “Kenapa masih berdiri disini?”
Rosline langsung gugup memegang tali tasnya erat. “Sa-saya ingin pamit, Tuan…”
“Pamit?”
“Saya harus kembali kerja ke mini market.”
Tatapan Bara langsung berubah datar. “Tidak perlu.”
Rosline langsung membeku. “Eh?”
“Kau sudah bekerja disini.” ucap Bara tenang sambil duduk di sofa. “Tidak perlu bekerja di tempat lain.”
“Tapi saya masih terikat kontrak…”
“Batalkan saja.”
Mata Rosline langsung membesar panik. “Ti-tidak bisa begitu, Tuan…”
Bara mengangkat alis tipis. “Kenapa tidak bisa?”
“Ka-karena memang begitu peraturannya.”
Bara tampak ingin membalas sesuatu. Namun sebelum pria itu sempat bicara…
“Hei!” Suara Alberto tiba-tiba terdengar dari arah lorong kamar.
Semua langsung menoleh.
Pria tua itu keluar dari kamarnya dengan kursi roda elektrik sambil mendecak kesal. “Jangan mempersulit gadis kurus itu terus.”
“Opa ikut campur lagi.” gerutu Bara kecil.
Alberto langsung mendelik tajam. “Tadi Edwin sudah bilang padaku.”
Bara mengernyit. “Tentang apa?”
“Kalau Rosline masih harus bekerja di mini market selama satu bulan.” jawab Alberto santai. “Jadi biarkan saja.”
Tatapan Bara langsung sedikit berubah.
“Edwin juga bilang semua tanggung jawab ada padanya.”
Kini Bara mendecak pelan sambil menyandarkan tubuhnya malas ke sofa. “Dia memang suka mencari masalah.”
“Yang penting aku setuju.” jawab Alberto cepat.
Rosline langsung menatap Alberto hampir seperti melihat penyelamat hidupnya. Pria tua itu malah terkekeh kecil melihat ekspresi lega Rosline.
Beberapa detik kemudian Bara akhirnya menghela napas pendek. “Baiklah.”
Rosline langsung refleks mengangkat wajah cepat.
“Kau boleh pergi.”
Wajah Rosline langsung sedikit cerah. “Be-benarkah?”
“Mm.”
“Terima kasih Tuan!”
Namun belum sempat Rosline benar-benar lega…
“Berangkat dengan apa?” tanya Bara tiba-tiba.
Rosline langsung berhenti. “Hah?”
“Kau ke mini market naik apa?”
“Ojek online mungkin…”
Bara langsung menggeleng pelan. “Tidak.”
Rosline berkedip bingung.
“Salah satu anak buahku akan mengantarmu.”
Rosline langsung membeku lagi. “Ti-tidak perlu Tuan…”
“Itu bukan permintaan.”
Rosline langsung diam.
Sedangkan Bara kembali membuka ponselnya santai. “Daniel.”
Tak lama kemudian Daniel muncul dari arah lorong. “Ya, Tuan?”
“Antarkan dia ke mini market.”
Daniel mengangguk hormat tanpa banyak bertanya. “Baik, Tuan.”
Rosline langsung makin salah tingkah. “Sa-saya benar-benar tidak enak…”
“Kau sekarang bekerja di mansion Alexander.” jawab Bara datar tanpa mengangkat wajah. “Aku tidak ingin kalau tiba-tiba kau melarikan diri seperti yang sudah-sudah.”
Ucapan Bara membuat Rosline kesal. Dalam hati gadis itu mulai mengeluh kecil. Kenapa aku jadi seperti tawanan begini, padahal aku hanya perawat…
“Daniel, pastikan setelah dia pulang kerja… dia kembali ke mansion ini.”
“Baik, Tuan.” jawab Daniel tenang.
Rosline spontan melangkah maju kecil. “Ti-tidak usah, Tuan!”
Tatapan Bara langsung terangkat pelan ke arahnya.
Rosline langsung gugup lagi, tapi tetap memberanikan diri bicara. “Sa-saya harus kembali ke kosan dulu…”
“Untuk apa?”
“Untuk ganti baju… dan mengambil beberapa barang.”
“Kau bisa menyuruh orang mengambilnya.”
Rosline langsung melotot kecil. “Eh?! Ti-tidak perlu sampai begitu…”
“Aku tidak suka membuang waktu.” jawab Bara datar.
Rosline hampir ingin menangis sekarang. “Be-besok pagi saya pasti kembali ke mansion ini kok, Tuan…”
Namun Bara justru menyandarkan tubuhnya santai ke sofa sambil menatap Rosline tajam. “Jangan membantah.”
Rosline langsung diam seketika.
“Mulai hari ini, selama bekerja disini… kau tinggal di mansion.”
Mata Rosline langsung membesar sempurna. “Ti-tinggal.”
Bibi Rena yang sejak tadi diam sampai terkekeh kecil melihat ekspresi Rosline.
Sedangkan Alberto malah terlihat senang. “Bagus! Mansion ini memang terlalu sepi.”
“Tapi pakaian saya masih di kosan…”
“Daniel akan mengurusnya.”
Rosline langsung menoleh cepat ke Daniel dengan wajah panik. “Ti-tidak perlu repot begitu, Pak Daniel…”
Daniel hanya tersenyum tipis profesional. “Sudah tugas saya, Nona.”
Dalam hati Rosline benar-benar ingin pingsan. Kenapa hidupku tiba-tiba berubah begini. Kemarin masih menjaga minimarket sambil merapikan mie instan. Sekarang malah seperti tahanan keluarga kaya.
Sementara itu Bara kembali membuka dokumen di tabletnya seolah pembicaraan tadi sudah selesai. “Jam berapa kau selesai bekerja di mini market?”
“Ja-jam sebelas malam…”
“Mm.”
Bara lalu berkata tanpa mengangkat wajah. “Daniel akan menunggumu.”
Rosline langsung lemas. “Ti-tidak usah Tuan.”
“Kau banyak membantah.”
Rosline langsung menutup mulutnya cepat.
Melihat itu, Alberto akhirnya tertawa keras lagi. “Hahaha! Gadis kurus itu benar-benar lucu!”
Rosline langsung malu sendiri.
Sedangkan Bara hanya mendecak kecil. “Kalau dia terus tinggal di kosan sendirian, terlalu merepotkan.”
“Merepotkan siapa?” tanya Alberto jahil.
Bara langsung menatap kakeknya datar. “Opa terlalu banyak bicara.”
Alberto malah tertawa makin puas.
Sementara Rosline hanya bisa berdiri kaku sambil memegang tas kecilnya erat. Kepalanya benar-benar penuh sekarang. Tinggal di mansion? Di tempat sebesar dan semewah ini? Bersama Bara Alexander yang menyeramkan? Dan Edwin yang sulit ditebak?
Rosline merasa hidupnya perlahan berubah ke arah yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.