Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Baru dan Buruan Malam
Sejak percakapan terakhir dengan Bu Jumadi di warung pagi itu, pikiran Bu Retno tidak pernah benar-benar tenang. Rencana perjodohan yang dilontarkan tetangganya itu terus berputar, ditimbang dari berbagai sudut pandang materi.
Saat ini, Rana berpenghasilan besar. Meski bulan ini berkurang, uang dari Kalimantan itu masih menjadi pilar utama yang menopang kehidupannya bersama Rani di Bojonegoro. Bu Retno mulai menghitung risiko. Apakah setelah Rana menikah dengan Puput, anak Bu Jumadi, aliran uang itu akan tetap lancar seperti sekarang?
Berkat pertimbangan yang murni didasari oleh hitung-hitungan rupiah itu, Bu Retno mendadak mengubah strateginya. Untuk sementara waktu, beliau memilih mengabaikan Rana. Tidak ada lagi telepon makian atau pesan teks yang ribut meminta tambahan uang. Sebagai gantinya, Bu Retno justru memangkas uang saku Rani secara drastis.
"Uang bulanan dari Mbakmu bulan ini tidak banyak, Ran. Kamu harus hemat. Jangan jajan yang tidak penting," ketus Bu Retno saat menyerahkan lembaran uang saku yang menyusut setengahnya.
Rani yang biasanya akan mengamuk dan merengek, kali ini hanya bisa patuh dalam diam. Ia memutar bola matanya, namun tidak membantah karena tahu ibunya sedang tidak dalam pikiran yang tenang semenjak kiriman uang Rana berkurang. Rani memilih mencari pelarian lain: memanfaatkan keroyalan Veri yang semakin hari semakin mudah ia setir.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Bojonegoro, atmosfer di dalam workshop terasa sangat kontras. Di antara deru mesin kompresor, bau karat besi yang pekat, dan aroma solar dan oli yang menguap di udara panas, Pradika berdiri di dekat pilar menjauh dari rekan-rekannya, menempelkan ponselnya ke telinga. Wajahnya mengeras mendengar suara dari seberang saluran.
"Dik, kamu itu terlalu pembangkang. Mau tak mau aku harus memindahkanmu supaya tidak terjadi bentrok berkepanjangan," kata Foreman Arif, atasan langsung Pradika di site ATA.
Suaranya terdengar frustrasi melalui pengeras suara.
Pradika mengembuskan napas pendek, namun sepasang matanya tetap menatap lurus ke arah deretan unit dump truck yang sedang mengantre untuk diperbaiki.
"Aku bukan pembangkang, Kang. Aku hanya membela hakku sebagai pekerja. Salahnya di mana?" tanya Pradika dengan nada yang teramat tenang, namun sarat akan ketegasan yang tidak bisa digoyang.
"Setidaknya kamu bisa mengalah sedikit, Dik. Demi kondusifnya suasana kerja di tim kita," bujuk Foreman Arif lagi.
"Mengalah bagaimana?" Pradika terkekeh, sebuah tawa hambar tanpa rasa murni.
"Sekarang kalau Kang Arif ada di posisiku, bagaimana? Apa jika pencapaian dan hasil keringatmu selama berbulan-bulan diklaim begitu saja oleh orang lain sampai dia bisa naik jabatan, kamu akan diam saja dan tetap tersenyum?"
"Tentu saja tidak!" jawab Arif spontan, terpancing oleh logika Pradika.
"Itu tahu," sahut Pradika pendek.
Foreman Arif di seberang sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, meski Pradika tidak bisa melihatnya.
Pradika memang mekanik andalan mereka, satu-satunya orang di site ATA yang menguasai sistem engine tingkat lanjut hampir di semua jenis unit alat berat. Bahkan sering dipinjamkan ke site lain seperti sekarang. Namun, sifatnya yang jujur dan keras kepala seperti baja hitam, membuatnya sangat tidak bisa disandingkan dengan orang-orang yang sama kerasnya; terutama mereka yang menggunakan jalur kotor.
"Begini saja, Dik. Setelah kamu menyelesaikan seluruh troubleshooting unit di site MKP minggu ini, kamu mutasi ke Kalimantan Tengah saja," kata Foreman Arif dengan nada suara yang melemah.
Ia sendiri berada dalam dilema besar; di satu sisi ia ingin mempertahankan mekanik secemerlang Pradika, namun di sisi lain, ia mendapatkan tekanan hebat dari atasan.
Status Pradika yang merupakan karyawan penerimaan Jakarta membuatnya berada di posisi yang lemah jika dibandingkan dengan aturan pemenuhan tenaga kerja lokal. Regulasi site baru yang sangat ketat mengutamakan putra daerah sebagai syarat mutlak operasi perusahaan, membuat manajemen harus mengorbankan Pradika demi meredam gejolak horizontal, dan memanfaatkan perseteruannya sebagai alasan mutasi.
Pradika terdiam sejenak. Baginya, dipindahkan ke tengah hutan mana pun di pulau ini bukanlah masalah besar. Pengalaman fisiknya sudah kenyang berhadapan dengan kerasnya alam.
"Aku mau saja dipindah, Kang. Asalkan aku mendapatkan kompensasi yang adil."
"Kompensasi sesuai SOP perusahaan, Dik. Tiga kali gaji pokok, mutasi jabatan setingkat lebih tinggi di site baru, dan semua biaya akomodasi serta tiket perjalanan akan ditanggung penuh oleh perusahaan," jelas Arif memberikan penawaran terbaik yang bisa ia perjuangkan.
"Oke," kata Pradika singkat.
Ia kemudian mengakhiri panggilan tersebut dengan satu sentuhan di layar.
Semua kekacauan ini bermula dari perseteruannya dengan Imam, salah satu mekanik senior lokal yang bekerja di site ATA bersamanya. Imam dengan licik mengklaim seluruh hasil analisis kerusakan dan perbaikan sistem hidrolik kritis yang dikerjakan Pradika, menyerahkannya kepada Supervisor seolah itu adalah hasil pemikirannya sendiri, hingga berujung pada promosi jabatan Imam sebagai Leadhand.
Pradika yang tidak terima tentu saja langsung mengajukan banding resmi. Sama-sama mekanik senior, tentu Pradika tidak mau hasil kerja kerasnya dinikmati orang begitu saja. Seluruh rekan setimnya; Pangki, Hasrul, dan Taslim bahkan bersedia pasang badan menjadi saksi.
Hanya saja, regulasi yang berpihak pada status lokal ditambah kelihaian Imam dalam menjilat dan mencari muka di depan para petinggi membuat Pradika harus kalah telak secara birokrasi.
Pradika sama sekali tidak menyayangkan mutasinya ke Kalimantan Tengah. Nilai dirinya tidak ditentukan oleh selembar kertas keputusan di site ini. Namun, satu-satunya hal yang langsung memberatkan langkahnya saat ini adalah bayangan wajah seorang gadis pendiam di kontainer sebelah.
Rana.
Pradika menunduk, menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor WhatsApp baru milik Rana. Jarak antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah tidaklah dekat. Ia berpikir dengan dada agak sesak, bagaimana ia bisa melindungi gadis itu jika jarak kembali membentang di antara mereka? Hubungan mereka bahkan belum sempat dimulai, melangkah pun belum.
"Bagaimana, Dik?" tanya Pangki yang tiba-tiba muncul dari balik badan unit bersama Hasrul dan Taslim.
Mereka rupanya sejak tadi sengaja menunggu Pradika menyelesaikan teleponnya. Pradika memasukkan ponselnya ke saku seragam kerja.
"Mutasi ke Kalimantan Tengah. Minggu depan setelah unit MKP ready semua, aku harus berangkat."
"Sialan! Benar-benar tidak adil," umpat Pangki sambil membanting sarung tangannya ke atas meja kerja.
Taslim, yang biasanya paling tenang, justru langsung menatap Pradika dengan pandangan mata yang berapi-api.
"Kalau begitu, Dik, kamu harus segera mendapatkan Rana! Jangan sampai kamu pergi dari sini dengan tangan kosong dan membiarkan si gempal Sapo itu menang di atas angin!"
Pradika menghela napas panjang, bersandar pada ban raksasa unit dump truck.
"Tidak semudah itu, Lim. Hubunganku dengan dia baru sebatas tukar nomor karena urusan kerja kemarin. Aku tidak mau terlihat terlalu agresif dan membuatnya tidak nyaman."
"Bisa, Dik! Percayalah pada kami yang sudah berpengalaman menghadapi perempuan," seru Pangki bersemangat, matanya berbinar memikirkan sebuah rencana.
"Nanti malam ada acara makan-makan besar di kantin utama. Manajemen mengadakan acara untuk menyambut kedatangan Superintendent Warehouse yang baru. Mereka bahkan sampai membeli dua ekor rusa hasil buruan warga kampung. Acara ini adalah kesempatan emasmu untuk mendekatinya secara resmi di depan semua orang."
Pradika menatap ketiga rekan kerjanya satu per satu. Melihat dukungan total, binar keyakinan, dan dorongan yang diberikan oleh para rekannya yang seluruhnya sudah beristri itu, perlahan-lahan mengikis keraguan di dalam dada Pradika.
Kata-kata Pangki benar. Jika ia tidak menegaskan posisinya sekarang, kepergiannya minggu depan hanya akan meninggalkan Rana dalam posisi yang rentan di tempat ini.
Pradika menegakkan tubuhnya, mengangguk perlahan dengan raut wajah yang kini dipenuhi tekad matang. Ia memutuskan untuk mengejar dan menunjukkan ketertarikannya kepada Rana secara terang-terangan malam ini. Semoga saja, di bawah lampu kantin dan aroma daging nanti malam, semuanya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan berarti.