Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: "PULAU YANG HILANG" part 4
Malam bulan purnama semakin larut, namun Pulau Kelapa tidak lagi terasa dingin atau penuh dengan rasa takut. Cahaya dari sumur di tengah rumah Pak Narto kini sudah padam, digantikan oleh cahaya yang keluar langsung dari lubang sumur besar di tengah pulau. Jay dan Rara berdiri di tepi sumur itu, sementara Pak Narto berdiri di sisi lain dengan tongkat yang sudah berubah warna menjadi perak kemerahan.
Makhluk-makhluk dari berbagai dimensi mulai berkumpul di sekitar mereka—beberapa dengan bentuk yang sudah dikenali Jay dari zona aman sebelumnya, yang lain adalah wajah baru yang muncul dari balik tirai cahaya. Semua mereka menatap ke arah Jay, seolah menunggu keputusan yang akan mengubah segalanya.
Jay menghela nafas panjang, tubuhnya terasa lelah tapi dia tetap berdiri dengan tegak. Dia melangkah ke tengah area yang dikelilingi oleh pohon kelapa raksasa—setiap langkahnya membuat pasir di bawah kakinya menyala dengan warna berbeda. Sambil berjalan, dia menggaruk kepalanya dan mengoceh dengan nada bercanda: "Apa lihat-lihat mau cemilan gue ambilin kelapa dulu"—bahkan di saat seperti ini, pikirannya masih terpaku pada makanan yang bisa dinikmati. Saat dia mencapai titik paling tengah, cahaya warna-warni mulai menyembul dari bawah tanah, membentuk jalan cahaya yang mengarah ke langit.
Jay melihat semua dimensi yang terhubung dari atas sumur dan menyadari bahwa dunia hiburan ini sebenarnya adalah jembatan buat semua dimensi saling berkomunikasi. Dia merasa sedikit pusing karena melihat terlalu banyak gambar sekaligus—dimensi yang penuh dengan makhluk mirip ikan terbang, dimensi yang hanya ada padang pasir tanpa akhir, bahkan ada yang menyerupai dunia masa depan dengan gedung pencakar langit yang tidak memiliki bentuk dinding.
"ternyata dunia hiburan itu bukan cuma buat seru-seruan aja," gumam Jay sambil mengusap dahinya yang berkeringat. Dia merasa ingin segera tidur tapi mata tetap terpaku pada pemandangan yang ada di depannya. Beberapa makhluk dari dimensi hutan bahkan sudah mulai mendekat, salah satunya adalah makhluk yang pernah ia temui di CITRA MALL—makhluk itu sekarang membawa makanan khas dari dimensinya sendiri, seperti kue yang bentuknya menyerupai wingko babat dengan tekstur yang lebih kenyal, Ada juga yang mirip kue rangin tapi dengan warna ungu menyala, bahkan ada varian yang seperti kue moho namun dengan isi yang terbuat dari buah-buahan yang tidak dikenal di dunia manusia.
Jay melihat kue-kue itu dengan mata membesar, lalu mendekat dengan wajah yang berlagak serius tapi suara tetap penuh dengan lelucon: "Lo curi dari mana?"
Makhluk gaib itu menggeleng dengan cepat, lalu mengeluarkan suara lembut yang terdengar seperti gemericik air: "Saya beli mas Jay saya gak mencuri"—sambil mengeluarkan selembar kertas tipis seperti daun yang berkilauan dengan cahaya hijau muda. Di atasnya ada tulisan-tulisan yang bentuknya seperti goresan daun pandan, jelas merupakan struk pembelian lengkap dengan nama penjual, jenis kue, dan jumlah yang dibeli.
Jay mengambil struk itu dengan cermat, melihatnya sebentar lalu tersenyum lebar: "Wah lo dah punya duit sendiri, sini kuenya"—sambil langsung mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu kue yang mirip wingko babat, tidak sabar untuk mencicipinya.
[ɢǟʍɮǟʀ ᵈᶦ 𝖇𝖚𝖆𝖙 ₒₗₑₕ αятιƒι¢ιαℓ ɿՈ੮૯ՆՆɿ૭૯Ո८૯]
Dia melihat ke arah pembaca dan bilang: "Kalau kamu juga punya teman dari tempat yang berbeda, coba aja sering-sering kumpul dan berbagi cerita ya. Semua tempat dan dimensi sebenarnya saling terhubung kok!" Suaranya terdengar jelas di seluruh pulau, bahkan terdengar hingga ke lautan di sekitarnya—ombaknya seolah merespon dengan irama yang lebih lembut dan menyenangkan.
Pak Narto mendekat dengan langkah yang tenang. "Ini tandanya kita telah berhasil menjaga keseimbangan," ucapnya dengan senyum. "Pulau ini sekarang akan tetap ada setiap kali kita membutuhkannya—tidak hanya muncul setiap tujuh hari sekali lagi."
Rara tersenyum lega, matanya menangkap cahaya yang semakin indah dari sumur itu. "Semua zona aman yang kita buat selama ini benar-benar menjadi jembatan yang kuat," ucapnya sambil melihat ke arah semua makhluk yang ada di sekitarnya. "Mereka semua setuju untuk bekerja sama—tidak ada lagi kekosongan atau kekacauan yang mengancam kita."
Saat itu juga, Batas antar dimensi di pulau itu jadi lebih kuat, dan cahaya yang keluar dari sumur jadi lebih indah tanpa menakutkan. Garis-garis cahaya yang tadinya seperti ular yang mengancam kini berubah menjadi pola seperti bunga yang mekar di udara. Setiap pohon kelapa di pulau itu kini menyala dengan warna sendiri-sendiri—beberapa merah seperti matahari, beberapa biru seperti laut, bahkan ada yang berwarna ungu seperti bunga matahari yang jarang terlihat.
Jay menggeleng-geleng kepala, rasanya ingin segera pulang tapi dia juga ingin mencoba semua makanan dari berbagai dimensi yang ditawarkan. "Pak Narto, bolehkah saya bawa beberapa kelapa dan makanan dari dimensi lain juga ya? Biar bisa dibagikan sama teman-teman di desa nanti," katanya dengan senyum yang sedikit malas tapi penuh semangat.
Pak Narto mengangguk. "Tentu saja, anakku. Bahkan aku akan meminta beberapa bibit dari dimensi mereka untuk ditanam di sekitar pulau ini. Nanti kalau kamu datang lagi, pulau ini akan lebih ramai dan penuh dengan makanan dari berbagai dunia."
Jay melihat ke arah tasnya yang masih ada beberapa bungkus snack. "Kalau begitu, saya kasih aja yang belum habis buat kamu. Kalau ada kesempatan, mungkin saya bisa kirimin lagi dari desa saya nanti." Dia menghela nafas lagi—rasanya memang ingin segera pulang tapi juga tidak sabar untuk kembali lagi ke pulau ini.
"Kita akan bertemu lagi saat bulan purnama berikutnya," ucap Pak Narto sambil mengangkat tongkatnya yang kini sudah kembali menjadi kayu biasa. "Sampai saat itu, pulau ini akan terus menjaga keseimbangan antar dimensi. Kamu bisa pulang dan beristirahat dengan tenang—semua sudah aman sekarang."
Rara mulai menyusun barang-barang mereka ke dalam tas. "Waktu untuk berangkat sudah dekat, sebelum malam benar-benar tiba." Ucapnya sambil melihat ke arah lautan yang kini sudah tenang dan penuh dengan cahaya bulan yang muncul dengan jelas.
Jay mengangguk dan mulai membantu menarik barang-barang mereka ke perahu yang sudah siap di pantai. Dia merasa sangat lelah tapi juga merasa puas—semua yang sudah dilakukannya ternyata memiliki arti yang jauh lebih besar dari yang dia kira. Saat mereka mulai mengangkat barang-barang ke perahu, makhluk-makhluk dari berbagai dimensi mulai muncul dengan bentuk yang lebih jelas, menyapa mereka dengan gerakan yang lembut.
"Selamat jalan, anak-anak," suara Pak Narto terdengar dari belakang mereka. "Sampai jumpa lagi nanti!"
Perahu mulai bergerak perlahan menjauh dari pantai. Jay melihat ke belakang—Pulau Kelapa kini tampak semakin kecil, tapi cahaya dari pulau itu tetap terlihat jelas hingga ke kejauhan. Dia bisa melihat Pak Narto masih berdiri di pantai, melambaikan tangan dengan senyum hangat. Di sekitar pulau itu, makhluk-makhluk dari berbagai dimensi juga mulai melambaikan tangan, seolah mereka juga mengerti bahwa perjalanan ini bukanlah akhir tapi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dari pada saat datang. jay sudah mulai tertidur di atas tikar perahu, sementara rara tetap duduk di bagian depan dengan mata yang mulai mengantuk tapi dia tetap ingin melihat ke arah pulau yang semakin jauh. Suara ombak yang lembut dan aroma laut yang segar membuatnya merasa nyaman—rasanya seperti sudah berada di rumah meskipun masih berada di tengah lautan.
Setelah beberapa jam, mereka tiba di dermaga yang sama di mana mereka berangkat. Langit sudah mulai menunjukkan warna jingga sore, dan udara daratan terasa sangat berbeda tapi tetap terasa seperti rumah. rara membantu menarik perahu ke pantai, sementara jay masih tertidur lelap. Dia melihat ke arah kota yang sudah mulai terlihat jelas—cahaya dari rumah-rumah dan jalan raya yang menyala membuatnya merasa sangat dekat dengan dunia yang sudah dia tinggalkan beberapa hari yang lalu.
Tanpa banyak berkata-kata, rara membantu membawa barang-barang dari perahu dan mulai berjalan menuju desa tempat ia tinggal. jay akhirnya terbangun dengan sendirinya saat mereka sudah sampai di dekat jalan raya. "Kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara yang masih mengantuk.
"Ya," jawab rara dengan senyum. "Kita sudah pulang. Rumah mu ada di depan sana."
Mereka berjalan melewati jalan desa yang sudah mulai sepi—hanya beberapa lampu jalan yang menyala dan suara anjing yang menggonggong dari kejauhan, namun sesekali ada bayangan lonjong yang melintas cepat di balik pepohonan tanpa membuat suara apa pun. Saat mereka sampai di depan rumah Jay, pintu rumah itu sudah terbuka lebar, tapi tidak ada cahaya yang keluar—hanya kegelapan yang tampak dalam dari dalam ruangan, dengan sejumlah titik cahaya kecil yang berkedip-kedip seperti mata yang sedang mengawasi.
Tiba-tiba, suara bisik yang merindingkan tulang belakang terdengar dari dalam gelap, namun nada tetap penuh dengan candaan: "Sudah selesai Jay. Mana oleh-olehnya?" Malakos—makhluk gaib penjaga rumah dan titik diam desa Wening—muncul perlahan dari balik tirai yang bergoyang sendirian, tubuhnya terlihat seperti kabut hitam yang membentuk sosok manusia, dengan mata yang menyala seperti bara kecil di dalam kegelapan.
Jay merasakan getaran ringan di lantai tapi tetap tampak malas, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Dia melihat ke arah Rara yang sudah mengangguk dan melanjutkan jalan pulang ke rumahnya sendiri, lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengeluarkan suara banyak. "Ada di tas aja," jawabnya pelan sambil berjalan langsung ke arah sofa yang sudah terlihat lusuh di sudut ruangan. Dia melepas tasnya dengan asal dan menjatuhkan oleh-oleh dari berbagai dimensi ke atas meja kayu yang berkarat, tanpa peduli beberapa bungkus yang mulai terbuka dan mengeluarkan aroma aneh yang campuran antara manis dan sedikit menyengat.
Tanpa menunggu jawaban dari Malakos, Jay langsung jongkok di depan televisi lama yang sudah siap menyala sendirian. Dia mengambil kontroler game dari lantai dan menekan tombol dengan cepat, layar segera menunjukkan gambar permainan yang berwarna-warni. Malakos mendekat perlahan, bayangannya mengapung di atas meja dan mulai menyelami bungkus oleh-oleh dengan gerakan yang tidak terlihat mata, sementara Jay fokus penuh pada layar depan, jari-jari nya bergerak dengan cepat meskipun tubuhnya masih terlihat sangat lelah. Semua perjalanan yang sudah dilalui, semua makhluk yang sudah ditemui, dan semua cerita yang sudah dibagikan kini hanya menjadi latar belakang yang perlahan hilang seiring dengan setiap tahap permainan yang ia lewati—karena bagi Jay, rumah adalah tempat di mana dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri, bahkan dengan kehadiran makhluk gaib yang selalu mengawasinya.
Di luar jendela, bulan mulai bersinar lebih terang, menyinari atap rumah dan jalan desa yang kini sepi total. Sesekali ada kilatan cahaya samar yang muncul di arah laut—tanda bahwa Pulau Kelapa masih ada, tetap menjaga koneksi antar semua dimensi. Tapi untuk saat ini, Jay hanya fokus pada layar televisinya, sambil Malakos terus mengendus-ngendus oleh-oleh dengan suara yang mirip dengungan rendah. Dunia luar dan semua misterinya bisa menunggu besok saja.
𝔢𝔭ꀤ𝘴𝖔ᴅ𝓮 3 : "թµʟ𝑎𝒖 𝙮𝙖ղg ℎ𝑖𝕝Ꭿ𝚗ᘜ" 𝘴𝘦ᒐᵉ§𝑎ι.