Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf.
"Serius Mbok?" Aku terkejut sampai berdiri dari dudukku.
Mbok Yem hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, tapi dia meletakkan telunjuk di dekat mulutnya. "Jangan sampai ada yang tahu." Bisiknya
Aku mengacungkan dua jempolku dan kembali memakan nasi goreng yang sudah dingin ini dengan lahap.
Tak henti-hentinya aku bersyukur di dalam hati. Aku bahagia.
...*...
Sudah lewat jam 12 siang, tapi Vian belum kembali. Aduh, bagaimana ini? masa iya seharian aku nggak bertemu dengannya.
Aku ingin minta maaf, atau jangan-jangan, dia sengaja menghindari ku dan nggak mau bertemu denganku?
Duh... kata-kata ku semalam sangat keterlaluan. Aku sangat menyesal.
Aku melirik jam tanganku, "kalau harus jalan kaki, bisa-bisa aku terlambat. Sudahlah! aku berangkat saja." Aku bergegas keluar dari rumah Vian, Pak Slamet belum pulang karena pergi bersama Vian. Jadi nggak ada yang mengantar aku berangkat kerja, aku harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.
"Lho, Mbak Fafa jalan kaki berangkatnya?" tanya Pak Satpam dari dalam ruangan pos jaga.
"Iya Pak, Pak Slamet belum pulang."
"Tunggu sebentar Mbak, biar Bapak anterin pake motor." Teriak si Bapak Satpam sambil mengambil Helm dan berlari ke arah motor bebeknya.
"Loh, nanti yang jaga pos siapa Pak?"
"Kan si Jono sudah datang, sekarang memang jatah istirahat saya, Mbak."
"Duh, saya jadi ngerepotin ya Pak?" Ucapku tak enak hati.
"Eh, jangan ngomong begitu. Berkat Mbak Fafa, anak saya sudah kerja sekarang. Jadi SPG. Cuma nganterin berangkat kerja saja bukan apa-apa, Mbak."
Aku tersenyum dan memakai helm yang di berikan Pak Satpam lalu naik motor bebeknya.
Orang baik pasti selalu saja di beri jalan oleh Tuhan. Alhamdulillah...
.
Hari ini aku benar-benar tidak bisa konsentrasi bekerja. Aku terus-terusan memikirkan sang pangeran.
Benarkah dia sudah memulai terapinya lagi? Benarkah dia mau belajar untuk berjalan lagi? Jika benar, betapa bahagianya aku. Uang lima juta yang akan aku terima tiap bulannya gak akan jadi sia-sia. Bu Atikah tak akan menyesal sudah membayar ku semahal itu. Ah... ini seperti mimpi. Aku nggak berani membayangkannya, terlalu indah...
"Woi!"
Aku terkejut, lalu menatap kesal ke arah Nunung. "Apa sih? bikin kaget aja!"
"Kamu aneh banget deh! Dari tadi aku perhatikan, senyam senyum sendiri. Kamu sadar nggak? Adnan bolak-balik terus sambil ngeliatin kamu."
"Masa sih?" Aku meringis, malu.
"Kamu.. sudah punya pacar ya?" Selidik Nunung.
"Pa.. pacar? nggak lah.. pacar dari mana?"
Nunung mengangkat bahunya, "kamu sekarang cuek banget sama Adnan, kayak yang sudah nggak butuh dia lagi dan sudah punya gebetan baru. Bener nggak? cowok mana? lantai berapa? security atau SPB? siapa gebetan baru mu?"
Aku terdiam, yang sedang ku pikirkan itu Vian, tapi bukan seperti yang Nunung khayal-kan. Aku hanya memikirkan Masalah terapi nya.
"Nggak ada kok."
"Bener?" Nunung tampak tak percaya.
"Bener..."
"Ya sudah, nanti kalau sudah saatnya, kamu juga pasti cerita." Ucap Nunung sambil berlalu menuju counter nya.
Aku merapikan kembali pajangan-pajangan bajuku, sampai tak lama kemudian Adnan muncul dan mendekat.
"Fa..."
Aku tersenyum padanya sambil meneruskan aktivitas ku.
"Kemarin kok pulang duluan? aku cari-cari kamu tapi nggak ada."
Memangnya kemarin janjian pulang bareng?
"Iya, kemarin aku pusing banget, jadi buru-buru pulang." Jawabku, cuek.
"Kalau begitu, nanti kita pulang bareng ya."
Sebenarnya aku nggak tahu, Pak Slamet bisa jemput atau tidak, tapi menerima ajakan Adnan juga aku tak mau. Gimana ya?
"Kita lihat saja nanti."
Adnan menatapku, "kamu jadi berubah, masih marah sama aku?"
Hellow... ya iyalah pasti!
"Enggak kok."
Adnan menghela napas, "Nanti malam aku tunggu, kita pulang bareng." Ucapnya sambil berlalu untuk melanjutkan tugasnya.
Aku hanya mengangguk sambil menatap kepergian Adnan. Benarkah perasaan suka ku pada Adnan mulai berkurang? Mungkinkah karena sakit hati akan kejadian yang dulu?
Aku menghela napas, "yang terjadi terjadilah." Gumamku.
Hari ini, toko benar-benar sepi. Pengunjung yang mendekati counter ku, bisa di hitung dengan jari. Penjualanku merosot drastis.
Aku hanya bisa berjualan tiga potong baju. Hanya tiga ratus ribu, seharian!!.
Kalau terus-terusan begini, sia-sia saja kemarin aku berjualan banyak, hanya untuk menutupi penjualan hari ini yang minim. Insentif ku bisa hilang! Oh no!!
Setelah tutup toko, aku duduk di tempat biasa Pak Slamet menjemput. Hanya saja, aku tak yakin kalau Pak Slamet akan menjemputku.
Apa aku nebeng Adnan? tapi rasanya malas sekali kalau harus bicara lagi dengannya. Dia sudah minta maaf karena tidak menepati janji, tapi sama sekali nggak mengatakan alasannya. Kan aneh?!
Masa iya aku harus tanya, kenapa? seharusnya kalau dia benar-benar berniat minta maaf, bilang lah alasannya, supaya aku bisa memakluminya.
Atau jangan-jangan, dia membatalkan janji denganku untuk pergi dengan wanita lain? makanya dia tidak bisa mengatakan alasannya mengingkari janji? Akh! memikirkannya aku jadi tambah kesal!!!
"Fa."
Aku menoleh, dan melihat Adnan sudah duduk di atas motor bebeknya. Dia turun dan mendekatiku.
"Yuk, aku antar." Ucapnya.
"Mmhh.. Gimana ya? aku masih menunggu orang yang biasa menjemput."
"Tapi ini sudah malam loh, mungkin dia nggak bisa datang. Siapa sih orang yang menjemputmu?"
Iih.. kok dia jadi kepo!
Tin. Tin.
"Mbak." Pak Slamet tiba-tiba muncul. Kepalanya menyembul dari jendela mobil yang terbuka.
"Duh maaf, aku sudah di jemput nih. Duluan ya." Aku langsung membuka pintu mobil dan duduk manis di kursi penumpang yang ada di samping Pak Slamet.
Adnan hanya menatap kepergianku dengan tatapan bingung.
Semoga saja mulutnya nggak licin dan bicara kemana-mana kalau aku pulang di jemput mobil.
"Pacarmu?"
Aku melonjak kaget dan langsung menengok kursi penumpang yang ada di belakang dan melihat Vian di sana.
"Loh? lagi ngapain?" Entah kenapa aku merasa senang bisa melihat Vian, mungkin karena seharian aku tak bertemu.
"Aku mau jalan-jalan aja, jadi sekalian ikut Pak Slamet." Jawabnya cuek.
"Pacarmu security?"
"Bukan! nggak usah kepo lah!" Ketusku, kesal.
Ngapain sih dia ikut jemput segala! Apa mungkin dia ingin memastikan kalau aku benar-benar bekerja di mall, tidak seperti apa yang dia katakan kemarin?
Ahh biarlah, dia jadi tau sendiri.
Selama perjalanan kami semua hanya diam. Aku jadi kikuk kalau begini. Mau tanya soal terapinya, tapi takut. Mbok Yem bilang, ini rahasia. Jangan samapai dia jadi marah dan enggan ikut terapi lagi. Haduuh serba salah
Untunglah, gerbang rumah Vian sudah terlihat. Sudah hampir sampai, aku mau langsung masuk ke dalam kamar dan tidur.
Setelah sampai di depan pintu rumah, aku turun dari mobil. Vian pun turun dengan di bantu Pak Slamet. Aku mendorong kursi roda Vian sambil masih terdiam.
Setelah sampai di kamar Vian, aku buru-buru berpamitan untuk menuju kamarku.
Ini terlalu canggung rasanya.
"Aku minta maaf."
Aku kaget dan menatap Vian yang juga sedang menatap ke arahku.
"Untuk ucapanku yang kemarin." Sambungnya, lalu dia buru-buru masuk ke dalam kamar.
Aku hanya terdiam, bengong. Tapi senyum tipis tersungging di bibirku. Aku tahu, aku tahu kalau Vian itu sebenarnya orang baik
Dengan riang aku berjalan menuju kamarku dan berharap bermimpi indah seperti perasaan bahagia yang sedang ku rasakan ini.