NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Mobil sewaan itu kini terasa seperti peti mati logam yang merayap di tengah lautan kabut. Cahaya lampu depan hanya mampu menembus satu meter ke depan, seolah-olah kegelapan di luar sana memiliki massa yang padat dan sengaja menelan cahaya. Di dalam kabin, suhu turun drastis, namun keringat dingin terus mengucur dari dahi Nirmala.

Bau itu kembali lagi. Bukan sekadar bau getah, tapi bau daging manusia yang dibungkus kayu basah dan dibiarkan membusuk selama puluhan tahun.

"Arka... dasbornya," bisik Nirmala, suaranya bergetar hebat.

Arka, yang matanya tertutup kain hitam, memiringkan kepalanya. "Ada apa, Nir? Aku merasakan aliran energi yang sangat kacau di bawah kakimu."

Nirmala menatap ngeri pada dasbor plastik mobil. Plastik keras itu perlahan-lahan melunak, berkerut, dan berubah warna menjadi cokelat tua yang berserat. Dari sela-sela lubang AC, bukan lagi udara dingin yang keluar, melainkan helai-helai rambut hitam panjang yang basah dan bau amis. Rambut-rambut itu merayap keluar seperti cacing, membelit tuas transmisi dan mulai menjalar ke arah kaki Nirmala.

"Mobil ini... mobil ini berubah menjadi dia, Arka!" teriak Nirmala. Ia mencoba menarik kakinya, namun pedal gas terasa lengket, seolah-olah kakinya sedang menginjak lidah raksasa yang besar dan basah.

"Jangan lepas gasnya, Nir! Itu hanya ilusi untuk membuatmu berhenti!" Arka menghantamkan telapak tangannya ke dasbor yang mulai berubah menjadi tekstur kulit kayu. "Dengarkan aku! Fokus pada denyut di pergelangan tanganmu, bukan pada apa yang kau lihat!"

Namun, serangan itu tidak berhenti. Pola jahitan kayu di lengan Nirmala mulai berdenyut dengan irama yang menyakitkan. Krak... krak... krak... Suara itu bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam tulang lengan Nirmala. Benang-benang kayu yang menjahit kulitnya tiba-tiba menegang, menarik dagingnya hingga robek kecil di beberapa titik. Getah hitam mulai merembes keluar, membasahi selendang hitam pemberian Ibu Sekar.

"Arka, jahitannya... jahitannya menarikku!" Nirmala menjerit saat tangannya yang terjahit kayu dipaksa oleh kekuatan gaib untuk memutar kemudi ke arah jurang di sisi kiri jalan.

Arka segera menyambar kemudi dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang kepala Nirmala. "Nir! Lihat aku dengan batinmu! Jangan biarkan jantung kayu itu menang!"

Tiba-tiba, kaca depan mobil tertutup oleh ribuan tangan kecil yang pucat. Tangan-tangan anak kecil tanpa kuku yang mencakar-cakar kaca dengan suara sreeet... sreeet... sreeet... yang memekakkan telinga. Di tengah cakaran itu, muncul wajah 'Ibu' yang tempo hari sudah dihancurkan Arka. Wajah itu menempel di kaca depan, terbelah dan mengeluarkan cairan hitam yang menutupi seluruh pandangan.

"Berikan... jantungnya... Nirmala..." suara itu menggema dari speaker radio yang mati, terdengar parau dan penuh penderitaan.

"KAU SUDAH MATI!" Arka berteriak. Ia melepaskan lilitan kain di matanya yang berdarah. Meskipun matanya putih susu dan buta, pancaran energi dari lubang matanya membuat sosok di kaca depan itu terpental.

Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Arka memuntahkan darah hitam ke atas dasbor yang kini sudah sepenuhnya berubah menjadi daging kayu yang berdenyut.

"Nir... mereka... mereka menarik roh mobil ini ke dalam Sandiwayang." Arka bicara dengan sisa tenaganya. "Kita tidak akan sampai ke desa dengan mobil ini. Kita harus keluar. Sekarang!"

Nirmala menginjak rem sekuat tenaga. Mobil itu berhenti dengan suara decitan yang menyerupai teriakan manusia. Saat pintu dibuka, udara dingin yang menusuk langsung menyergap mereka. Mereka kini berada di sebuah jalan setapak yang tidak ada dalam peta, diapit oleh pohon-pohon Randu Alas raksasa yang dahannya melengkung ke bawah seperti tangan-tangan raksasa yang ingin memetik mereka.

Nirmala turun dengan kaki gemetar. Ia melihat ke arah mobil. Mobil sewaan yang tadi bersih, kini tampak seperti bangkai kayu yang sudah lapuk selama ratusan tahun, ditumbuhi jamur-jamur merah yang mengeluarkan bau busuk.

"Kita di mana, Arka?" bisik Nirmala, memeluk tubuhnya sendiri.

Arka berdiri di sampingnya, memegang tongkat kayu yang ia temukan di tanah. "Kita berada di 'Halaman Depan' Sandiwayang. Hutan ini adalah sistem saraf pohon itu. Setiap langkah kita akan memicu reaksi dari akar-akarnya."

Nirmala melihat ke arah lengannya yang terjahit. Luka jahitan itu kini mulai bercahaya merah redup. Ia merasa jantungnya berdetak sangat cepat, namun di sela-sela detakan jantungnya, ada bunyi krak yang mengikuti. Jantung kayu di dalamnya sedang mencoba mengambil alih kendali otot-ototnya.

"Jalanlah di belakangku, Nir. Jangan menyentuh pohon apa pun, meskipun kau melihat wajah orang tuamu di batangnya." Arka memperingatkan.

Mereka mulai berjalan menembus hutan labirin itu. Suasananya sangat sunyi, namun kesunyian itu justru mengerikan. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Hanya ada suara gesekan dahan yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang sedang merencanakan pembunuhan.

Setiap beberapa langkah, Nirmala melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti. Di batang-batang pohon Randu yang besar, ia melihat wajah-wajah manusia yang tertanam di dalam kulit kayu. Wajah-wajah itu tampak hidup, mata mereka bergerak mengikuti gerakan Nirmala, dan mulut mereka terbuka seolah-olah sedang menghirup udara dengan susah payah.

"Tolong kami, Nirmala..." salah satu wajah itu berbisik. Itu adalah wajah tetangganya di Jakarta yang hilang setahun lalu.

"Jangan dengarkan, Nir! Itu hanya memori yang dicuri oleh akar!" Arka menarik tangan Nirmala.

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Akar-akar hitam yang besarnya seperti ular piton mencuat dari dalam tanah, melilit pergelangan kaki Nirmala. Nirmala terjatuh, wajahnya hampir menghantam akar yang penuh dengan duri tajam.

"ARKA!"

Akar itu tidak hanya melilit, tapi mulai menusuk ke dalam daging kaki Nirmala, mencoba "menjahit" kaki Nirmala ke tanah. Nirmala berteriak kesakitan saat ia merasakan serat-serat kayu mulai merayap masuk ke dalam aliran darahnya melalui luka di kakinya.

Arka segera berbalik. Ia tidak menggunakan kekuatannya lagi karena ia terlalu lemah. Ia merobek kain kafan dari matanya yang sudah basah oleh darah, lalu menempelkannya ke akar yang melilit Nirmala. Darah dari mata Arka yang telah terkontaminasi energi purba membuat akar itu menjerit dan melepaskan lilitannya.

"Lari, Nir! Ke arah cahaya putih itu!" Arka menunjuk ke sebuah celah di antara pohon-pohon besar yang memancarkan cahaya redup.

Mereka berlari dengan sisa tenaga yang ada. Di belakang mereka, seluruh hutan seolah-olah terbangun. Pohon-pohon itu menggerakkan dahan-dahannya, mencoba menangkap mereka. Suara tawa dan tangisan ribuan tumbal pecah di seluruh hutan, menciptakan hiruk-pukuk yang menghancurkan mental.

Saat mereka sampai di celah cahaya itu, mereka tertegun.

Di depan mereka bukan lagi hutan, melainkan sebuah lapangan luas yang di tengahnya berdiri sebuah pohon Randu Alas yang besarnya melebihi gedung pencakar langit. Pohon itu tidak memiliki daun, melainkan ribuan raga manusia yang digantung terbalik dengan akar yang melilit leher mereka.

Dan di bawah pohon itu, duduk seorang pria tua yang sangat dikenal Nirmala.

"Kakek?" bisik Nirmala.

Pria tua itu mendongak. Wajahnya kini sudah tidak lagi seperti manusia. Separuh wajahnya adalah kayu yang sudah lapuk, dan matanya hanya berupa lubang gelap yang mengeluarkan getah hitam.

"Kau pulang tepat waktu, Nirmala. Jantungmu... sudah matang untuk dipanen."

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!