NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Bakti Sang Maung lan Penyamaran Agung

Suasana di depan kediaman Wijaya mencekam. Langit yang seharusnya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita, tertutup awan hitam yang berputar-putar secara tidak wajar. Bau busuk bangkai bercampur kemenyan menyerbak di udara, pertanda serangan ilmu hitam Ki Ageng Blorong sudah mencapai puncaknya.

"Metuo Faris! Ojo dadi pengecut sing ndelik neng mburi geger Simbokmu!" teriak seorang lelaki berjubah hitam di depan gerbang. Suaranya melengking tinggi, membuat telinga orang-orang di dalam rumah berdenging kesakitan.

(Keluar Faris! Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di belakang punggung Simbokmu!)

Di dalam rumah, Simbok dan anak-anak Majapahit tampak pucat pasi. Arjuna Hidayat sudah bersiap dengan kerisnya, namun tubuhnya bergetar hebat menahan tekanan aura jahat yang begitu besar.

"Kangmas Arjuna, jagoen Simbok. Kersane kulo sing ngadepi danyang-danyang niku," ucap sebuah suara rendah namun bertenaga dari arah pintu belakang.

(Kangmas Arjuna, jagalah Simbok. Biar saya yang menghadapi makhluk-makhluk itu.)

Faris Arjuna melangkah keluar dengan tenang. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, namun aura emas yang menyelimuti tubuhnya kini tampak begitu padat dan tenang. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Hanya ada ketegasan seorang Satrio Piningit yang sudah mendapatkan wahyu.

"Hehehe... Hohoho... Akhire metu sisan bocah wingi sore sing jare dadi Maung Nusantara iki!" ejek Ki Ageng Blorong sambil tertawa meremehkan.

(Hehehe... Hohoho... Akhirnya keluar juga bocah kemarin sore yang katanya jadi Macan Nusantara ini!)

Faris hanya tersenyum tipis. Ia teringat wejangan Eyang Semar: "Ojo lali ngguyu, Ngger... senadyan batinmu isih ngrasakke perih."

(Jangan lupa tertawa, Nak... meskipun batinmu masih merasakan perih.)

"Ki Ageng, sampeyan niku pinter ilmu, pinter ngomongne drajat, nanging lambene sampeyan nancep koyo eri. Sampeyan rumongso paling sakti, nanging atine sampeyan kebak benci," ucap Faris dengan nada yang sangat halus namun membuat Ki Ageng Blorong terdiam.

(Ki Ageng, Anda itu pintar ilmu, pintar bicara soal derajat, tapi mulut Anda menusuk seperti duri. Anda merasa paling sakti, tapi hati Anda penuh benci.)

"Kurang ajar! Rasakne iki, bocah cilik!"

WUUUUUUTTTTT!

(Ki Ageng Blorong mengibaskan tangannya, melepaskan ribuan jarum gaib beracun yang terbang secepat kilat ke arah Faris).

Faris tidak menghindar. Ia hanya menggerakkan tangan kanannya perlahan, seolah sedang menyapu debu di udara. "Mumpuni nanging ora njulegi... Kulo mboten badhe bales nganggo kebencian, nanging kulo bales nganggo benering laku!"

(Berkualitas tapi tidak sombong... Saya tidak akan membalas dengan kebencian, tapi saya balas dengan perbuatan yang benar!)

DHEEEEEMMMMM!

(Sebuah perisai cahaya emas muncul di depan Faris, membakar semua jarum gaib itu hingga menjadi abu sebelum menyentuh kulitnya).

Ki Ageng Blorong terbelalak. "Soko ngendi kowe oleh ilmu kuwi?! Kuwi dudu ilmu tarekat sing biasa!"

(Dari mana kamu dapat ilmu itu?! Itu bukan ilmu tarekat yang biasa!)

Faris melangkah maju satu langkah. Bumi seolah bergetar mengikuti pijakan kakinya. "Niki dudu soal ilmu tarekat utawa kitab dhuwur, Ki Ageng. Niki soal atine wong sing tau diusir lan dihina, nanging tetep milih dadi 'Santri' neng mripate Gusti!"

(Ini bukan soal ilmu tarekat atau kitab tinggi, Ki Ageng. Ini soal hatinya orang yang pernah diusir dan dihina, tapi tetap memilih jadi 'Santri' di mata Tuhan!)

Faris menarik Keris Pusaka pemberian Romo. Bilah besi tua itu kini menyala biru elektrik yang menyilaukan mata. "Saiki, sampeyan ngrasakke dewe panasipun geni suci Puncak Lawu. Gusti Allah mboten sare, Ki Ageng!"

(Sekarang, Anda rasakan sendiri panasnya api suci Puncak Lawu. Tuhan tidak tidur, Ki Ageng!)

Faris melesat secepat kilat. Gerakannya tidak lagi terlihat oleh mata manusia biasa. Hanya terlihat bayangan maung (macan) emas yang menerjang kegelapan hitam itu dengan sekali tebasan.

CRAAAAAAASSSSS!

(Cahaya biru membelah awan hitam, seketika bau busuk itu lenyap berganti dengan wangi melati yang semerbak).

Ki Ageng Blorong tersungkur, muntah darah hitam. Semua ilmu santetnya rontok seketika hanya dengan satu serangan batin dari Faris. Ia menatap Faris dengan ketakutan yang luar biasa.

"Sapurane, Ki Ageng. Balio, tobato. Ojo pamer pinter yen lambemu isih ngerendahne wong liya," ucap Faris sambil menyarungkan kembali kerisnya.

(Maaf, Ki Ageng. Pulanglah, bertaubatlah. Jangan pamer pintar kalau mulutmu masih merendahkan orang lain.)

Faris membalikkan badan dan melihat Simbok serta Kangmas Arjuna berdiri di ambang pintu dengan wajah takjub. Faris tersenyum lebar, tawa yang tulus dan menenangkan.

"Sampun, Simbok. Ayo dhahar malih, nasi liwet-e selak adem," ucap Faris dengan santai, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan sepele.

(Sudah, Simbok. Ayo makan lagi, nasi liwetnya keburu dingin.)

Arjuna Hidayat mendekat, matanya berkaca-kaca. "Dikmas... kowe bener-bener wis dadi Satrio Sejati."

(Dikmas... kamu benar-benar sudah jadi Satria Sejati.)

Faris hanya merangkul pundak kakaknya. Di kejauhan, sisa-sisa kabut Lawu seolah melambai, dan sayup-sayup terdengar suara tawa Eyang Semar yang merasa puas: "Hehehe... Hohoho... Toleku wis dadi Maung!"

Setelah cahaya biru menyapu kegelapan, halaman kediaman Wijaya kembali tenang. Namun, suasana tidak lantas sunyi. Tiba-tiba, semerbak harum melati dan cendana memenuhi udara, lebih wangi dari sebelumnya. Faris Arjuna menyadari bahwa yang hadir kali ini bukanlah musuh, melainkan para penjaga gaib Nusantara yang turun untuk menyaksikan kemenangannya.

Di bawah pohon besar dekat gerbang, terlihat sosok-sosok agung yang bercahaya putih keemasan. Faris segera merapikan pakaiannya dan berjalan dengan sangat takzim, diikuti oleh Arjuna Hidayat yang masih gemetar karena takjub.

Faris langsung bersimpuh di depan Kanjeng Sunan Kalijaga dan para Wali Songo. Ia mencium tangan beliau satu per satu dengan sangat khusyuk.

"Kanjeng Sunan... Matur nuhun sanget sampun paring pitedah lan donga. Faris mboten wonten nopo-noponipun tanpa pangestu sampeyan sedoyo," ucap Faris sambil menunduk dalam.

(Kanjeng Sunan... Terima kasih banyak sudah memberi petunjuk dan doa. Faris tidak ada apa-apanya tanpa restu kalian semua.)

Kanjeng Sunan Kalijaga tersenyum teduh, tangan beliau mengusap kepala Faris. "Wis dadi garise Gusti, Ngger. Ilmu mumpuni kuwi dudu kanggo pamer, nanging kanggo njogo ketentreman. Terusno lakumu."

(Sudah jadi garis Tuhan, Nak. Ilmu yang berkualitas itu bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga ketenteraman. Teruskan langkahmu.)

Faris kemudian bergeser, bersujud di depan kaki Eyang Prabu Siliwangi. Sang Prabu yang gagah itu tertawa kecil, suara tawanya seperti wibawa macan yang tenang.

"Anaking, Faris Arjuna... Manah hidep sae pisan. Satria mah kudu kitu, teuneung ludeung tapi tetep handap asor," ucap Eyang Prabu sambil menepuk pundak Faris.

(Anakku, Faris Arjuna... Hatimu sangat baik. Satria memang harus begitu, berani tetapi tetap rendah hati.)

Faris menjawab dengan bahasa Sunda yang santun. "Hatur nuhun, Eyang Prabu. Pangestuna nu ngajantenkeun kuring kuat."

(Terima kasih, Eyang Prabu. Restu Anda yang membuat saya kuat.)

Di tengah-tengah kerumunan itu, mata emas Faris tiba-tiba menangkap sosok seorang kakek tua bertubuh tambun, berpakaian lusuh seperti pengemis, yang sedang duduk santai di pojok pagar sambil mengisep rokok klembak menyan. Orang-orang lain—bahkan Arjuna Hidayat—hanya melihatnya sebagai pengemis tua biasa, tapi Faris tahu siapa beliau sebenarnya.

Faris berjalan mendekati kakek itu, lalu membungkuk sangat rendah melebihi sujudnya yang tadi.

"Eyang... nopo kowe mriki?" bisik Faris sangat pelan supaya tidak terdengar yang lain.

(Eyang... kenapa Anda ke sini?)

Si kakek tua itu—yang tak lain adalah penyamaran Eyang Semar—hanya mengerlingkan mata dan tersenyum lebar hingga kuncungnya bergoyang sedikit.

"Hehehe... Hohoho... Aku mung mampir nggolek kopi, Tole. Aku pengen weruh, opo anakku wis bener-bener dadi Maung opo isih dadi kucing meong," goda Eyang Semar sambil terkekeh pelan.

(Hehehe... Hohoho... Aku cuma mampir cari kopi, Nak. Aku ingin lihat, apa anakku sudah benar-benar jadi Macan atau masih jadi kucing meong.)

Faris Arjuna tersenyum lebar, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Beliau menyadari bahwa Eyang Semar selalu menjaganya dalam diam, dalam rupa yang paling sederhana agar tidak menarik perhatian dunia.

"Simbok! Kangmas Arjuna! Nyuwun tulung buatkan kopi yang paling enak untuk kakek ini," seru Faris pada keluarganya.

Simbok dan Arjuna segera bergerak tanpa banyak tanya, meskipun mereka heran kenapa Faris begitu menghormati pengemis tua itu. Faris tahu, dalam setiap langkah pengembaraannya nanti, ia tidak akan pernah sendirian selama para leluhur dan "Sang Pamong" tetap ada di sampingnya.

"Matur nuhun, Eyang... Faris badhe terus tandang makalangan," bisik Faris sekali lagi sebelum si kakek tua itu menghilang pelan di balik asap kemenyan yang menipis

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!