NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Membeli saham

Petir di langit saling menyambar saat awan hitam mulai menyelimuti kota Meikarta. Bau tanah basah bercampur bau amis darah menguar di udara, sepi, di sudut kota yang terkenal indah itu, dua mayat tergeletak di sebuah trotoar jalan, dua mobil kepolisian dan beberapa mobil media sudah terparkir, garis kepolsian membentang, memblokir setengah jalan di simpang dekat SMA NUSANTARA.

Berita di siarkan secara live, berita itu menggemparkan seisi kota, Nova yang melihat siaran langsung itu menjadi penasaran saat berita menjelaskan sesuatu yang janggal.

Dua korban tergeletak, tanpa sedikitpun darah yang tersisa di tubuhnya. Hanya tersisa beberapa titik bekas jarum suntikan, dan penyelidikan kasus ini sedang berlangsung.

Nova yang melihat itu menjadi aneh, bahkan Bu Ratih sang ibu hanya terlihat meringis saja saat melihat berita di televisi itu.

“Ini pasti pembunuhan, ibu jadi khawatir denganmu nak,” ucap Bu Ratih.

Nova menoleh sambil tersenyum kepada sang ibu.

“Ibu tenang saja, aku akan baik-baik saja.”

Nova pun segera kembali ke kamarnya setelah televisi dimatikan. Nova merasakan ada yang janggal dengan berita yang batu saja ia lihat itu, kedua korban adalah wanita, dan keduanya tak memiliki sedikitpun luka membuat Nova ingin menelusuri kasus itu, dan mencari informasi lebih tentang itu.

“Jangan bertindak gegabah!”

Nova terdiam, ia yang berniat keluar untuk mencari tahu mengurungkan niatnya saat mendengar suara yang tak asing di kepalanya, Zira. Ia mengirim pesan telepati kepadanya membuat Nova malah tersenyum saat mendengarnya.

“Kau bisa telepati?” gumam Nova.

“Tentu saja! Jangan bodoh, kita bisa menggunakan persepsi jiwa untuk saling mengirimkan pesan, jangan bertindak gegabah, aku tahu kau akan keluar untuk mencari tahu. Sebaiknya diam dan melatih kekuatanmu.”

Nova hanya tertawa mendengar itu, dan mengurungkan niatnya lalu memilih terbaring di kasurnya.

“Besok saja Zira, aku akan lebih lama berada di dalam ruang dimensi.”

Sementara Zira yang sedang duduk di sebuah batu berlapis berlian, hanya berdecak pelan dan kembali fokus dengan meditasinya.

***

Nova dan Aruna kini sudah berada di depan perusahaan milik tuan Arga, yaitu Pratama group yang bergerak di berbagai bidang, terutama pertambangan dan pembuatan perhiasan.

Nova berdecak kagum saat melihat bangunan yang menjulang tinggi itu, yang di hiasi logo perusahaan, halaman yang megah dan di hiasi taman membuat suasana di sekitar perusahaan itu terasa sedikit sejuk, meskipun panas terik di kota Meikarta cukup untuk membuat sebagian orang merasa gerah.

Begitu melihat Aruna turun, semua orang langsung membungkuk hormat dan menyapanya dengan ramah, sementara Nova tak mempedulikan sekitarnya, dengan gaya yang sedikit tengil ia melangkah dengan percaya diri di samping Aruna.

“Ternyata perusahaan milik keluargamu sangat besar,” ujar Nova.

Aruna hanya menanggapinya dengan senyuman, hingga keduanya sampai di lift prioritas seseorang dengan setelah yang cukup rapi dan formal menyapa Aruna dan mencoba menarik perhatiannya, tanpa mempedulikan sosok Nova yang ada di dekat Aruna.

“Aruna, apa kabar?” sapa pemuda itu.

Aruna menoleh lalu tersenyum tipis.

“Baik, bagaimana denganmu Bryan?” jawabnya singkat.

Pemuda itu sedikit kesal saat Aruna merespon demikian, terlebih Aruna terlihat sangat akrab dengan sosok di sampingnya yaitu Nova.

“Cihh! Siapa sih bocah tengil itu? Berani-beraninya dia deketin Aruna, bocah sialan,” umpatnya di dalam hati.

“Aku baik. Lalu sedang apa kamu kemari, Aruna?” tanyanya lagi.

Aruna hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah pemuda itu. Ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan singkat.

“Bertemu, Papa ku.”

Ting!

Belum sempat pemuda itu menjawab, pintu lift terbuka dan Aruna masuk bersama Nova yang sedari tadi hanya diam saja.

Bryan menatap Nova dengan penuh kebencian dan rasa iri, sementara Nova hanya tersenyum seakan mengejek pemuda di hadapannya itu.

“Sial! Awas saja kalian!”

Singkat waktu, Aruna dan Nova sudah berada di lantai tempat ruangan tuan Arga berada. Begitu Aruna dan Nova melangkah, semua orang menyapa Aruna. Ia pun hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

Setelah sampai di depan ruangan Tuan Arga, Asisten dari tuan Arga langsung membukakan pintu untuk keduanya.

“Tuan Arga sudah menunggu, nona Aruna. Silahkan masuk,” ucap si asisten itu.

Begitu masuk, yang di sambut bukanlah Aruna melainkan Nova dan membuat Aruna nyaris terlupakan karena tuan Arga akan melakukan proyek besar bersama Nova.

“Nova sebelum menandatangani dokumen penting ini, sebaiknya kamu baca lebih dulu, dan setelah selesai maka tandatangan disini,” ucap tuan Arga.

Nova menerima dokumen itu dengan tenang. Tatapannya menyapu setiap lembar kertas dengan fokus yang tidak biasa untuk anak seusianya. Setiap pasal, angka, hingga detail kecil tak luput dari perhatiannya. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara halus lembaran kertas yang dibalik.

Tuan Arga memperhatikan Nova dengan sorot mata penuh penilaian. Ia bukan orang yang mudah percaya, apalagi dalam urusan sebesar ini. Nilai saham yang akan dilepas bukanlah angka kecil... sepuluh persen dari Pratama Group bernilai triliunan rupiah. Namun ketenangan Nova membuatnya sedikit demi sedikit mengubah pandangannya.

Beberapa menit berlalu. Nova menutup dokumen itu perlahan, lalu menatap Tuan Arga dengan ekspresi santai namun tajam.

“Tidak ada masalah. Semua klausulnya jelas, Om,” ucap Nova singkat.

Tanpa ragu, ia mengambil pena yang sudah disiapkan. Dalam satu tarikan napas, ia menandatangani dokumen tersebut. Tinta hitam itu menjadi saksi perpindahan sebagian kepemilikan perusahaan raksasa tersebut ke tangan seorang pemuda yang bahkan belum banyak dikenal dunia bisnis.

Aruna yang berdiri di samping hanya bisa menatap dalam diam. Bahkan ia sendiri masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Tuan Arga tersenyum tipis, lalu ikut menandatangani dokumen tersebut. Ia kemudian menutup map itu dan menyandarkannya di meja.

“Mulai hari ini, kamu resmi menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Pratama Group, Nova,” ucapnya dengan nada tegas.

Nova hanya mengangguk pelan. “Kerja sama kita baru saja dimulai, Om.”

Tuan Arga menyandarkan tubuhnya, lalu menyilangkan jari-jarinya di atas meja.

“Baiklah, kamu tidak keberatankan jika uangmu habis Nova?” tanya Tuan Arga.

Nova hanya tersenyum, lalu ia berpura-pura membuka tasnya padahal isinya kosong, ia lalu mengeluarkan kotak hitam yang cukup besar dan menyimpannya di meja.

“Om tenang saja, selama aku menggunakan uangku untuk hal yang bermanfaat, semua akan baik-baik saja. Dan... satu lagi, aku akan kembali menjual berlian uang ku miliki om,” ucapnya sambil mengetuk kotak hitam itu dengan jari telunjuk.

Tuan Arga terdiam, begitupun dengan Aruna. Terlebih lagi saat kotak itu di buka, isinya berlian sebesar kelereng. Suasana sedikit berubah, Nova hanya terlihat tenang saat melihat reaksi dua orang di hadapannya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!