NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat dari biasanya. Entah karena perutku yang sudah kenyang atau karena beban di dadaku yang sedikit terangkat, suasana di dalam mobil tidak lagi mencekik. Farez mengemudikan mobilku dengan tenang hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah.

Namun, pemandangan di depan mata membuatku mengernyit. Parkiran di depan butik penuh sesak. Lampu-lampu butik berpijar terang, dan beberapa pelanggan tampak keluar masuk dengan tentengan belanjaan. Sepertinya koleksi baru Ibu benar-benar meledak hari ini.

"Ramai sekali," gumam Farez sembari mematikan mesin.

"Iya, sepertinya Ibu sedang kewalahan," jawabku sembari bergegas turun. Aku lupa sejenak pada luka di tanganku atau mataku yang sembab. Instingku sebagai anak langsung mengambil alih; aku harus membantu Ibu.

Aku melangkah cepat masuk ke dalam Butik Anindita, dan aku bisa mendengar langkah kaki mantap Farez mengikuti di belakangku. Ia tidak langsung pulang, ia seolah ingin memastikan aku benar-benar aman sampai ke dalam pelukan Ibu.

Gemerincing bel pintu menyambut kami.

"Ibu, Rana pul—" Kalimatku terhenti saat melihat Ibu sedang berdiri di balik meja kasir, sibuk membungkus kain sutra dengan napas yang sedikit terengah.

Ibu mendongak, tersenyum lega melihatku. "Ah, Rana! Syukurlah kamu sudah pulang, Nak. Ibu benar-benar butuh bantuan untuk membalas pesan pesanan di tab—"

Ucapan Ibu mendadak terhenti. Matanya beralih ke sosok tinggi yang berdiri tepat di belakangku. Ibu mematung sejenak, tangannya yang sedang memegang pita kemasan tampak sedikit bergetar.

"Farez?" bisik Ibu, suaranya mengandung nada antara tidak percaya dan haru.

Farez melangkah maju dari bayang-bayang punggungku. Ia menundukkan kepalanya dengan sangat hormat, lalu tersenyum tulus—senyum yang sama yang dulu selalu ia berikan saat menjemputku sekolah lima tahun lalu.

"Selamat malam, Tante. Apa kabar?" tanya Farez dengan suara soft-spoken-nya yang menenangkan.

Ibu meletakkan pita di tangannya, matanya mulai berkaca-kaca. Beliau menatap Farez, lalu beralih menatapku, seolah sedang bertanya lewat tatapan itu tentang bagaimana semua ini bisa terjadi. Butik yang tadinya bising oleh suara tawar-menawar pelanggan, mendadak terasa sunyi di antara kami bertiga.

Masa lalu yang selama ini kami simpan rapat di balik tumpukan kain, kini berdiri nyata di tengah butik. Farez telah kembali, dan kehadirannya di sini seolah menjadi saksi bahwa babak baru dari luka kami baru saja dimulai.

Ibu tersenyum sangat hangat, jenis senyum yang memancarkan kerinduan sekaligus rasa syukur yang mendalam. "Farez... kamu sudah tumbuh begitu besar," gumam Ibu lembut.

Namun, momen haru itu harus terputus oleh suara dentingan bel di pintu dan beberapa pelanggan yang sudah mengantre di depan meja kasir.

"Permisi, Bu, saya mau bayar yang ini. Bisa sekalian dibungkus kado?" tanya seorang pelanggan sembari meletakkan dua potong gaun tenun di atas meja.

Ibu tampak sedikit gelagapan, tangannya masih memegang pita yang belum sempat terikat. "Oh, iya, sebentar ya, Mbak. Mohon maaf agak lama."

Melihat Ibu yang kewalahan, Farez melakukan sesuatu yang membuatku terpaku. Tanpa perlu diminta, ia melepaskan jas hitamnya, menyampirkannya di sandaran kursi dekat meja kasir, dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku.

"Tante, biar saya bantu bungkus kadonya. Tante fokus di mesin kasir saja," ucap Farez dengan nada sangat tenang, seolah membantu di butik adalah hal yang biasa ia lakukan.

Ibu sempat tertegun, menatap sosok Direktur muda itu yang kini justru sibuk melipat kertas kado dengan sangat rapi dan cekatan. "Eh, tapi Farez, kamu kan tamu..."

"Saya bukan tamu, Tante," sahut Farez lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari lipatan kertas. "Saya pulang."

Aku yang tadinya mematung, segera sadar dan ikut bergerak ke sisi meja kasir yang lain untuk membantu menghitung stok cadangan yang diminta pelanggan lain. Suasana butik yang tadinya terasa kacau karena ramai, mendadak berubah menjadi sebuah orkestra yang padu. Ibu menangani transaksi, Farez dengan tangannya yang jenjang dan rapi membungkus pesanan, dan aku menangani konsultasi bahan.

Beberapa pelanggan wanita tampak mencuri pandang ke arah Farez, mungkin terpesona melihat pria setampan dan seberwibawa itu begitu telaten membantu di sebuah butik kain. Farez tidak peduli, ia tetap fokus membantu Ibu, sesekali melirik ke arahku untuk memastikan aku tidak lagi gemetar.

Di sela kesibukan itu, aku melihat Ibu berkali-kali mencuri pandang ke arah Farez dengan binar mata yang redup namun penuh kebahagiaan. Bagi Ibu, kehadiran Farez malam ini mungkin bukan sekadar bantuan tenaga, melainkan sebuah pertanda bahwa salah satu kepingan masa lalu kami yang paling berharga telah kembali pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!