NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11

Beberapa waktu setelah dokter selesai memeriksa, suasana kamar kembali hening.

Dewangga masih terbaring di tempat tidur dengan napas yang pelan namun stabil. Rissa duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan anaknya, seolah takut melepaskannya sedikit saja.

Tiba-tiba jari Dewangga bergerak.

Kelopak matanya berkedip pelan.

"Mas…" bisik Rissa cepat.

Perlahan Dewangga membuka mata. Pandangannya masih buram. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya kamar.

Beberapa detik kemudian ingatannya seperti kembali sekaligus.

Tubuhnya langsung menegang.

"Zeya…"

Suaranya serak.

Ia tiba-tiba bangkit setengah duduk dengan gerakan kasar.

"Zeya di mana?!"

Semua orang di kamar terkejut.

"Mas, tenang dulu" Linda mencoba menahan bahunya.

Namun Dewangga langsung menepis tangan itu.

"Di mana dia?!"

Matanya merah, napasnya tidak teratur.

Ia turun dari tempat tidur dengan langkah sempoyongan, hampir terjatuh kalau Malvin tidak segera menahannya.

"Mas Dewangga, kamu belum boleh bangun," ujar Rissa panik.

Tapi Dewangga seperti tidak mendengar apa pun.

"Lepasin aku pa!" bentaknya.

Ia mendorong tangan ayahnya dengan kasar lalu berjalan menuju pintu kamar.

"Aku harus cari dia!"

Langkahnya goyah, tapi ia tetap memaksa berjalan.

"Zeya nggak mungkin pergi… dia pasti di luar!"

Ia membuka pintu kamar dengan kasar, tapi Linda lebih dulu berdiri di depannya.

"Mas Dewangga, cukup!" suara Linda akhirnya meninggi.

Namun Dewangga sudah kehilangan kendali.

"Jangan halangi aku!" teriaknya.

Tangannya meraih meja kecil di dekat pintu dan menjatuhkannya ke lantai. Suara benda jatuh menggema keras di kamar.

Rissa menutup mulutnya terkejut dan menahan tangis melihat kondisi anaknya.

Riko yang berdiri di dekat pintu juga terlihat panik.

Dewangga mulai berjalan mondar-mandir di kamar seperti orang yang kehilangan arah.

"Zeya nggak mungkin ninggalin aku!" gumamnya keras. "Aku harus cari dia sekarang!"

Linda menatap kakaknya beberapa saat.

Wajahnya berubah.

Kesal.

Lelah.

Akhirnya ia berbalik pada semua orang di kamar.

"Kalian keluar."

Semua orang terdiam.

"Apa?" Malvin mengerutkan kening.

"Kalian keluar dari kamar ini," ulang Linda tegas.

Rissa langsung menggeleng.

"Tidak, Linda. Lihat kondisi kakakmu"

"Aku yang akan mengurus Mas Dewangga."

Suaranya kali ini lebih tegas dari sebelumnya.

"Kalau kalian tetap di sini, dia tidak akan tenang. Aku hanya ingin bicara berdua dengan mas Dewangga."

Malvin menatap putrinya beberapa saat. Dia sedikit ragu meninggalkan mereka berdua dengan kondisi putranya yang bisa saja tiba-tiba lepas kendali.

Namun dari wajah Linda terlihat jelas bahwa ia tidak sedang bercanda.

Riko pun sama ragunya, namun dia sadar ini bukan ranahnya untuk ikut campur.

"Tapi Nona Linda, kondisi Pak Dewangga"

"Aku bilang keluar!"

Suara Linda memotong.

Beberapa detik hening.

Akhirnya Malvin menarik napas panjang.

"Baik," ucapnya pelan.

Ia menggandeng tangan Rissa yang masih khawatir.

"Linda tahu apa yang dia lakukan." ucap Malvin meyakinkan istrinya.

Satu per satu mereka keluar dari kamar.

Pintu akhirnya tertutup.

Begitu semua orang pergi, Linda langsung mengunci pintu kamar.

Klik.

Suara kunci itu membuat Dewangga menoleh.

"Kenapa kamu kunci pintunya?" bentaknya.

Namun Linda tidak menjawab.

Ia berjalan mendekat.

"Mas Dewangga… cukup."

"Jangan ikut campur!" Dewangga berteriak lagi.

Ia mencoba melewati Linda untuk membuka pintu, tapi Linda langsung menahan lengannya.

"Mas Dewangga!"

Ia mengguncang tubuh kakaknya keras.

"Sadarlah!"

Dewangga mencoba melepaskan diri, namun karena badannya masih lemah, sehingga tenaganya tidak cukup untuk melepaskan diri.

"Lepasin aku!"

Bukannya melepaskan cengkramannya pada bahu Dewangga, Linda justru semakin erat meremas bahu itu dengan pandangan muak.

Ia mengguncang tubuh pria itu lagi, lebih keras.

"Mas Dewangga! Yang Mas lakukan sekarang sia-sia!"

Kata-kata itu membuat Dewangga berhenti sesaat.

"Zeya sudah pergi!" lanjut Linda dengan napas berat.

Matanya mulai memerah.

"Mas bisa teriak sampai serak sekalipun, itu tidak akan membuat dia kembali!"

Dewangga menatap adiknya dengan napas terengah.

Linda menatap balik tanpa mundur sedikit pun.

"Kalau Mas terus seperti ini…" suaranya mulai bergetar, “Mas hanya akan menghancurkan diri sendiri, dan membuat Zeya semakin jauh dari mas.”

Beberapa detik mereka saling menatap.

Dewangga mengepalkan tangannya.

"Aku harus cari dia…" gumamnya keras kepala.

Linda menggeleng.

"Mas tidak akan menemukan Zeya dengan kondisi seperti ini."

Kata-kata itu akhirnya membuat ekspresi Dewangga sedikit berubah.

Linda yang sejak tadi mencengkeram lengannya perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya masih tertuju pada wajah kakaknya yang terlihat kacau, mata merah, napas berat, dan wajah yang dipenuhi kelelahan.

"Kalau Mas benar-benar ingin dia kembali…”

Suaranya kini lebih tenang, meski masih menyimpan ketegasan.

"Mas harus berubah."

Dewangga terdiam.

Tatapannya menatap kosong ke depan, tetapi kali ini tidak lagi sekeras sebelumnya.

Linda melanjutkan,

"Mas harus jadi laki-laki yang lebih baik."

Matanya menatap kakaknya dalam-dalam, memastikan setiap kata yang keluar benar-benar sampai.

"Perjuangkan cinta Mas… dan anak kalian. Cari mereka, bawa mereka kembali ke rumah ini."

Kalimat itu membuat dada Dewangga terasa semakin sesak.

Namun Linda belum selesai.

"Mas, berikan waktu Zeya untuk menata hatinya lebih baik," lanjutnya dengan suara yang kini jauh lebih lembut. "Dia butuh waktu untuk menerima semua kesakitan yang terjadi secara tiba-tiba ini."

Linda menatap Dewangga dengan pandangan teduh. Perlahan ia menggenggam tangan kakaknya dengan lembut, mencoba menyalurkan kehangatan ke hati kakaknya.

"Mas, aku tahu Mas sangat mencintai Zeya," ucapnya pelan. "Tapi apa yang Mas lakukan selama ini juga membuat dia… bahkan aku… mempertanyakan cinta Mas Dewangga."

Kalimat itu seperti menghantam sesuatu di dalam diri Dewangga.

Ia terdiam kaku di tempatnya, tak tahu harus menjawab apa.

Linda melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati.

"Mas, biarkan semuanya tenang dulu. Biarkan dia berpikir jernih. Sambil Mas mencari tahu di mana keberadaan dia, Mas juga harus memperbaiki diri Mas… dan menjauhi perempuan itu."

Linda mengangkat tangannya, lalu meletakkannya tepat di depan dada Dewangga.

"Tanya hati Mas, siapa yang bertahta di sana. Jika itu benar Zeya, maka Mas harus benar-benar menjauhi perempuan itu."

Ruangan itu kembali hening beberapa saat.

Linda menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Selin itu bukan tanggung jawab Mas," ujarnya tegas. "Dia hanya orang asing yang kebetulan dititipkan pada Mas. Tapi bukan berarti itu bisa menjadi alasan Mas lebih memprioritaskan dirinya daripada Zeya."

Tatapan Linda semakin serius.

"Bantu dia seharusnya seperti seorang sahabat membantu sahabat lainnya. Bukan seperti seorang kekasih yang hadir dua puluh empat jam untuk dirinya… sampai membuat Mas melupakan orang yang seharusnya menjadi tujuan utama Mas."

Kata-kata Linda membuat Dewangga terdiam lama.

Ia tidak lagi berusaha melawan.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut adiknya terasa seperti menembus langsung ke dalam hatinya.

Seolah pikirannya yang sejak tadi kacau akhirnya mulai bekerja kembali.

Napas Dewangga perlahan mulai melambat.

Tubuhnya yang tegang perlahan luruh.

Ia akhirnya jatuh terduduk di lantai.

Kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat, sementara kepalanya tertunduk dalam.

Air mata mulai jatuh satu per satu tanpa bisa ia tahan.

Linda hanya berdiri di sana beberapa detik, menatap kakaknya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ia menghela napas panjang.

Dirinya benar-benar lelah dengan semua masalah yang datang tanpa henti dalam beberapa hari terakhir.

Perlahan Linda menunduk, lalu menuntun Dewangga berdiri dengan hati-hati.

"Mas… bangun."

Dewangga menurut kali ini.

Tidak ada perlawanan.

Linda membawanya kembali ke tempat tidur. Dengan gerakan pelan ia membantu kakaknya berbaring, lalu menarik selimut hingga menutup dada Dewangga.

Kamar itu kini jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.

Linda menatap kakaknya beberapa saat.

Melihat pria yang biasanya kuat itu kini terlihat begitu rapuh membuat dadanya ikut terasa berat.

Akhirnya ia memutuskan untuk pergi.

Ia tahu Dewangga butuh waktu sendiri untuk mencerna semuanya.

Saat hendak benar-benar meninggalkan kamar, Linda berhenti sejenak di samping tempat tidur.

Tangannya terulur, mengelus lengan kanan Dewangga dengan lembut.

"Cari dan kejar kembali cintamu, Mas Dewangga."

Suaranya jauh lebih lembut sekarang.

"Buat Zeya suatu hari nanti… berdiri di samping Mas lagi."

Linda menatap kakaknya beberapa detik.

"Bukan karena terpaksa."

"Tapi karena dia merasa aman… dan dicintai sepenuhnya oleh Mas."

Setelah mengatakan itu, Linda berjalan menuju pintu.

Ia membuka pintu kamar, melangkah keluar, lalu menutupnya kembali dengan pelan.

Pintu itu tertutup rapat.

Meninggalkan Dewangga sendirian di dalam kamar, bersama pikirannya yang akhirnya mulai menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia buat.

Di luar kamar, Malvin, Rissa, dan Riko sudah berdiri sejak tadi dengan perasaan cemas.

Mereka tidak berani pergi jauh.

Apalagi dari dalam kamar beberapa kali terdengar suara bentakan, teriakan, dan perdebatan antara Linda dan Dewangga.

Rissa terlihat sangat cemas.

"Mas… apa kita harus masuk?" bisiknya pada Malvin.

Malvin menggeleng pelan, meskipun wajahnya juga tegang.

"Percayakan pada Linda."

Riko berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Ia juga bisa mendengar suara Dewangga yang sempat berteriak dari dalam kamar.

Namun perlahan… suara itu mereda.

Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka.

Linda keluar.

Wajahnya terlihat lelah, tapi lebih tenang.

Malvin langsung menatapnya.

"Bagaimana keadaan kakakmu?"

Linda menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Sekarang… Mas Dewangga butuh waktu."

Matanya menoleh ke pintu kamar yang baru saja ia tutup.

"Untuk menyadari semuanya."

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!