Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga napas keduanya terengah‑engah saat akhirnya Daxon melepaskan bibir Azalea perlahan, namun lengannya tetap melingkar erat seolah tak berniat melepaskan sedikit pun. Wajah Azalea memerah merona habis, rasa mual yang dulu muncul saat bertatapan kini hilang sepenuhnya, berganti menjadi debaran yang membuat kepalanya terasa ringan.
Keheningan masih terasa kaku. Aldirc, ketiga anak buahnya, apalagi Zain, masih memejamkan mata rapat‑rapat, berani bergerak atau bernapas pun terasa berat. Keringat dingin membasahi telapak tangan mereka, belum pernah mereka melihat Tuannya yang sedingin es bertindak seberani dan seberapi ini di hadapan orang banyak.
Daxon mengusap pelan sudut bibir Azalea dengan ibu jarinya, tatapannya masih tajam namun kini penuh kepemilikan yang tak terbantahkan.
"Ingat baik‑baik," bisiknya rendah, hanya terdengar oleh gadis di pelukannya. "Tak ada yang lebih tampan dariku di matamu. Tak ada yang boleh kau pilih selain aku. Kau milikku, sepenuhnya."
Barulah ia mengalihkan pandangannya perlahan ke arah orang‑orang yang masih memejamkan mata itu. Suaranya berubah kembali tegas dan dingin, membuat mereka tersentak kecil.
"bukalah mata kalian. Keluar semua, kecuali Aldirc," perintahnya singkat.
Zain merasa seolah baru saja diangkat dari kuburan. Ia berjalan mundur perlahan bersama dua temannya, nyaris terhuyung lega namun tetap gemetar, berjanji dalam hati tak akan pernah lagi berada di posisi perbandingan seperti itu.
Setelah pintu tertutup rapat, Daxon membiarkan Azalea tetap bersandar nyaman di sisinya di atas sofa, lalu wajahnya kembali berubah tegas dan serius seperti pemimpin yang biasa dikenal semua orang. Ia menoleh ke arah Aldirc yang berdiri siap tak jauh dari situ.
"Bagaimana perkembangan laporan dari cabang utara?" tanya Daxon dengan nada rendah namun jelas, tangannya masih santai namun tetap menjaga agar Azalea tetap dekat.
Aldirc segera membuka berkas yang sempat tertunda, suaranya tenang dan teratur.
"Segala sesuatu berjalan sesuai rencana, keuntungan naik sedikit lebih tinggi dari bulan lalu, namun ada sedikit hambatan dari pihak penyuplai bahan baku—mereka mencoba menaikkan harga secara sepihak. Kami sudah menyiapkan opsi pengganti agar produksi tidak terganggu." jelas Aldric.
Daxon mengangguk pelan, matanya meneliti garis‑garis di berkas yang ditunjukkan sekilas.
"Tangani dengan tegas. Jangan biarkan mereka yang menentukan aturan. Jika mereka tidak mau patuh pada kesepakatan, beralihlah ke mitra baru yang lebih dapat dipercaya. Jangan biarkan hal sepele menghambat jalannya perusahaan." ucap Daxon.
"Baik, perintah akan segera dilaksanakan," jawab Aldirc sambil mencatat. "Selain itu, laporan investasi properti sudah siap diperiksa, semua berkas hukum lengkap dan tersimpan aman."
"Bagus," ucap Daxon singkat. Ia melirik sekilas ke arah Azalea yang mulai terlihat mengantuk mendengar pembicaraan serius itu, lalu kembali menatap Aldirc.
"Perkuat pula pengawasan di seluruh kawasan gedung dan tempat usaha kita. Ada pihak luar yang diam‑diam berusaha mengganggu jalannya usaha, jadi jangan beri celah sekecil apa pun bagi mereka untuk masuk atau menimbulkan keributan." perintah Daxon.
"Saya pastikan penjagaan diperketat dua kali lipat di setiap titik," jawab Aldirc mantap.
Suasana di ruangan itu perlahan menjadi hening kembali. Suara percakapan yang serius ternyata membuat rasa kantuk Azalea makin berat. Kepalanya perlahan meluncur dan bersandar lembut di bahu Daxon, napasnya teratur dan halus, matanya sudah terpejam rapat dalam tidur yang nyenyak.
Daxon segera mengubah nada suaranya menjadi jauh lebih pelan agar tidak membangunkannya. Ia memberi isyarat tangan kepada Aldirc untuk tidak berbicara terlalu keras.
"Sudah cukup untuk saat ini," ucap Daxon hampir tak terdengar, matanya menatap lembut wajah damai di sampingnya. "Sisanya serahkan padamu untuk diselesaikan. Lakukan seperti yang sudah diperintahkan."
Aldirc mengangguk pelan dengan hati‑hati, bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun saat merapikan berkas. Ia pun mundur perlahan menuju pintu, lalu menutupnya rapat‑rapat hingga tertutup sempurna, meninggalkan mereka berdua sendirian.
Sekarang di ruangan itu hanya ada keheningan yang tenang. Daxon tidak bergerak sedikit pun agar tidak mengganggu tidur Azalea. Sebaliknya, ia justru sedikit menggeser posisinya agar gadis itu bisa bersandar lebih nyaman dan aman. Tangannya yang besar dan hangat bergerak perlahan, menutupi bahu Azalea agar tidak kedinginan.
Di balik wajah dingin dan tegas seorang pemimpin besar, kini terlihat tatapan yang sangat lembut dan teduh, seolah ia rela duduk diam berjam‑jam hanya untuk membiarkan Azalea tidur nyenyak di sisinya.
Daxon tetap duduk diam, tak bergerak sedikit pun agar tidak mengganggu tidur nyenyak di sampingnya. Namun di dalam hatinya, pertanyaan‑pertanyaan berputar kacau dan membuatnya bingung sendiri.
Ia masih sangat ingat awalnya, segalanya dimulai hanya dengan rencana yang sederhana dan dingin. Ia membutuhkan Azalea hanya sebagai wadah untuk melahirkan pewarisnya, penerus yang akan menjaga kekuasaan dan nama besarnya. Tidak lebih dari itu—setidaknya menurut pemikirannya dulu. Tidak ada tempat untuk perasaan, tidak ada kelembutan, hanya kewajiban dan tujuan yang jelas.
Namun kini, semua perhitungan itu perlahan runtuh tanpa ia sadari.
Ia menatap wajah damai itu, rambut yang sedikit berantakan menyentuh lehernya, napas halus yang terasa hangat menembus kain bajunya. Jantungnya berdetak bukan lagi karena ambisi atau keinginan semata, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih lembut dan sulit dijelaskan.
" Apa yang terjadi padaku? Dulu aku hanya menginginkannya untuk satu tujuan saja... tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? Kenapa setiap kali dia dekat, rasanya dunia terasa lebih tenang? Kenapa aku tidak rela dia menjauh, tidak rela dia memuji orang lain, dan kini rela duduk diam berjam‑jam hanya agar dia bisa tidur nyenyak? " batinnya bergumam bingung.
Perasaan itu tumbuh perlahan, seperti tanaman yang akarnya menembus dalam tanpa suara—lebih kuat, lebih dalam, dan jauh lebih penting daripada sekadar rencana pewaris yang semula ia tetapkan. Ia tidak lagi melihatnya sekadar sarana, melainkan sosok yang kehadirannya kini menjadi bagian yang tidak bisa hilang lagi dari dunianya yang keras dan dingin.
Daxon menghela napas pelan, lalu perlahan mengusap rambut Azalea dengan lembut sekali, seolah takut menyentuhnya terlalu kasar. Ia belum sepenuhnya paham apa nama perasaan ini, namun satu hal yang ia yakini, ia tidak akan pernah melepaskannya lagi, apa pun alasannya.
...****************...
Malam tiba, cahaya lampu yang hangat menyelimuti ruangan luas itu. Daxon sudah rapi dengan jas hitam yang tegas, duduk tenang di sofa sambil menunggu, pandangannya tak lepas dari pintu lemari besar.
Pintu terbuka perlahan. Azalea melangkah keluar mengenakan gaun putih bahu terbuka, lipatan kain halus di bagian dada, seluruh permukaannya berhias renda yang indah. Potongannya pas namun tetap luwes, membentuk siluet anggun hingga ke bawah, dengan kain yang menjuntai lembut di sisi samping. Meski demikian, gaun itu dengan lembut menampakkan perutnya yang mulai membuncit, tanda nyata kehidupan yang tumbuh di dalamnya—tanpa sedikit pun mengurangi pesonanya.
Ia berjalan perlahan menuju meja rias, duduk dengan hati‑hati. Di sana ia menyempurnakan riasan wajah agar tampak bersinar lembut, lalu menata rambut panjangnya agar jatuh rapi dan indah. Sesekali tangannya berhenti sejenak, mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, sebelum kembali menata penampilannya.
Daxon yang mengamati dari kejauhan, napasnya tertahan sejenak. Di matanya, Azalea tampak jauh lebih mempesona dari apa pun yang pernah ia lihat. Segala rencana awal kini hilang sepenuhnya, berganti dengan kekaguman yang dalam dan rasa bangga yang meluap. Ia tetap diam menatap, tak berani bergerak, menunggu saat gadis itu nanti berbalik menghadapnya sepenuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄