NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Memegang Kendali

“Tidak?” Jan Coen menyeringai.

Terdengar suara pintu dibuka pelan, ragu-ragu.

“Kumohon, jangan …!” Suara Kusumawati memelas.

"Hei …! Tunggu di luar!" Jan Coen berseru.

Pintu terbuka sedikit, hanya sejengkal, lalu berhenti. Bayangan perempuan tua terlihat samar di celah.

"Baik, Tuan."

Kusumawati menghembuskan napas lega.

Jan Coen menatap Kusumawati di bawahnya. Matanya berbinar dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari nafsu.

Kendali.

"Aku tidak akan mengizinkan dia masuk," bisiknya, bibir menyapu telinga Kusumawati, "asal ada syaratnya."

Kusumawati menelan ludah. "Apa?"

"Kau harus menikmati ini."

Hening.

"Tidak boleh menutup mata." Jan Coen menyentuh kelopak mata Kusumawati yang sedari tadi terpejam. "Dan kau harus aktif. Bergerak. Bukan hanya terlentang seperti mayat."

Kusumawati membeku.

"Aku tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku …," suaranya tercekat, "aku bukan pelacur, aku biasanya hanya terlentang. Suamiku yang ... aku tidak pernah …."

"Kalau begitu, belajarlah."

Kusumawati menggeleng keras.

“Tidak. Aku bukan pelacur. Aku Raden Ayu. Aku tidak akan bergerak seperti ... pelacur .…”

"Kalau kau tidak mau … aku akan menyuruh pelayan itu masuk saja—"

"Jangan …!"

Suara Kusumawati keluar lebih keras dari yang dimaksudkan.

Jan Coen tersenyum.

Menunggu.

Kusumawati memerah wajahnya, buka karena tersipu. Tapi karena murka yang tidak bisa dilampiaskan, yang harus ditelan bulat-bulat.

‘Lebih baik mati daripada jadi seperti pelacur.’

Tapi dia belum ingin mati. Dan dia tidak punya pilihan.

"Baiklah,” ucapnya akhirnya, nyaris tak terdengar.

Jan Coen tersenyum puas.

"Bi!" teriaknya ke arah pintu. "Selipkan bungkusannya ke dalam, taruh di lantai samping pintu. Kembaliannya, ambil saja."

"Baik, Tuan."

Pintu terbuka sedikit lebih lebar. Tangan keriput menyembul, meletakkan bungkusan kertas cokelat yang diikat dengan tali rami di lantai dan meninggalkan secarik kwitansi.

Pintu tertutup. Bunyi langkah kaki menjauh. Jan Coen menatap Kusumawati dengan mata berbinar puas.

Lalu tiba-tiba, dia berguling. Ranjang berderit.

Kusumawati yang tidak siap tersentak saat posisi mereka bertukar. Sekarang dia di atas. Jan Coen di bawah. Tangan besar mencengkeram pinggangnya, menahannya di tempat.

"Nah." Jan Coen menyeringai lebar. "Ayo. Jadilah pelacur untukku, Raden Ayu. Sebuah kehormatan bagiku bisa ada di bawahmu."

Wajah Kusumawati merah padam. Bibirnya mengatup rapat. Giginya bergemeretak.

‘Aku benci pria ini. Aku benar-benar benci pria ini.’

Tapi dia harus bersabar. Sedikit lagi saja.

Sekarang tujuan utamanya sudah berubah.

Bukan kabur. Bukan kembali ke kadipaten.

‘Tapi membunuh pria ini.’

Ya. Itu yang harus dia lakukan. Membunuhnya. Entah bagaimana caranya—mencekiknya, menusuknya dalam tidur, atau apapun itu, dia akan mencari cara.

“Ya Ampun, sorot matamu seperti macan yang sedang terhimpit. Aku suka itu.” Jan Coen menatapnya gemas. “Ayo mulai, tunggu apa lagi? Jadilah pelacur paling terhormat.”

Kusumawati menelan harga diri yang tersisa, mengikuti setiap kata pria itu.

\~\~\~

Cahaya matahari sudah tinggi saat semuanya selesai. Kusumawati ambruk di samping Jan Coen, napas tersengal, tubuh basah oleh keringat.

Di sampingnya, Jan Coen berbaring dengan senyum.

"Luar biasa." Suaranya serak. "Bercinta dengan Raden Ayu memang ... luar biasa."

Kusumawati tidak menjawab. Tidak punya tenaga untuk itu.

"Kita istirahat sebentar." Jan Coen menguap lebar, tangan merangkul erat wanitanya. "Siang nanti kita berangkat ke pertokoan."

Kusumawati bahkan tidak punya tenaga untuk membekap pria ini dengan bantal.

Kakinya masih dikuasai sensasi aneh. Pinggulnya ngilu. Ada denyut aneh di bagian tubuh yang tidak ingin dia pikirkan—sisa dari puncak demi puncak yang terus membawanya ke awang-awang.

Dia benci bahwa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu pada pria yang dia benci.

Tapi matanya sudah terlalu berat untuk membenci lebih lama. Pelukan Jan Coen yang melingkari pinggangnya terasa seperti penjara yang hangat. Napas pria itu berhembus teratur di puncak kepalanya.

Angin bertiup sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka. Tirai tipis berkibar pelan, membawa aroma kamboja dari luar.

Kusumawati terlelap, sampai sesuatu yang kasar menggesek pipinya.

Kusumawati menggeliat dalam tidur. Sensasi itu berpindah ke dahinya—kasar tapi lembut, diikuti kecupan-kecupan ringan.

"Ayo bangun."

Suara berat itu menembus kesadarannya.

"Kau ikut tidak?"

Mata Kusumawati terbuka.

Wajah Jan Coen tepat di atasnya. Jenggot yang menggesek pipinya tadi. Bibir yang masih menyunggingkan senyum.

Kusumawati langsung tersentak bangun.

Tangannya refleks menarik selimut, menutupi dada yang terekspos.

Tapi Jan Coen lebih cepat.

Jari-jarinya menarik selimut itu turun dengan satu gerakan jahil.

"Jangan ditutup-tutupi." Matanya berbinar. "Aku sudah melihat semuanya."

PLAK!

Telapak tangan Kusumawati mendarat di lengan Jan Coen yang keras. Kusumawati merasakan telapaknya panas.

“Kau benar-benar tidak punya sopan-santun!”

Jan Coen mengangkat alis.

"Tanganmu kecil." Jan Coen terkekeh. "Tapi pedih juga. Aku suka itu."

Jan Coen meraihnya, memaksa ke bibirnya. Mengecup punggung tangan dengan lembut.

Kusumawati melirik kesal, menarik tangannya. Baru sekarang dia memperhatikan penampilan pria di hadapannya.

Jan Coen sudah sangat rapi.

Rambut panjang sebahunya yang biasanya tergerai berantakan sekarang diikat ke belakang dengan pita kulit.

Kumis dan jenggotnya yang kemarin lebat seperti semak belukar sudah dicukur rapi—masih tebal, tapi sekarang terbentuk dengan garis-garis yang tegas.

Dan aroma itu ...

Parfum pria dari Paris. Harum maskulin yang mahal.

Jan Coen berdiri sambil mengecup pipi Kusumawati, tubuh menjulang di samping tempat tidur.

"Bersiaplah." Dia merapikan kerah kemejanya, bibir tersenyum puas. "Aku akan meminta kusir menyiapkan kereta."

Pintu terbuka, lalu tertutup. Kusumawati sendirian. Dia turun dari tempat tidur dengan hati-hati.

Pinggang dan pahanya protes dengan setiap gerakan, pegal luar biasa, seperti habis berjalan puluhan kilometer.

‘Jangan meratapi nasib. Ayo bergerak.’

Kusumawati memaksa tubuhnya berdiri tegak.

Ruangan sudah bersih. Bak mandi kayu sudah dipindahkan entah ke mana. Lantai dipel sampai mengkilap, aroma bunga yang samar mengisi ruangan. Air bekas mandi, handuk basah, semua sudah lenyap.

‘Pelayan pasti masuk saat kami tidur. Duh Gusti …!”

Pikiran itu membuat wajahnya memanas. Tapi dia menepisnya.

“Tidak ada waktu untuk malu.”

Dia berjalan ke sudut kamar, ke balik penyekat yang sudah dikembalikan ke tempatnya.

Pispot keramik mewah sudah dibersihkan. Kusumawati menggunakannya dengan cepat, meringis saat otot-otot yang pegal dibuat duduk.

Setelah selesai, dia menghampiri meja rias.

Sebuah baskom porselen putih berisi air segar sudah disiapkan. Kusumawati mencuci muka, membiarkan dinginnya air menyegarkan kulit.

Di meja, bungkusan dari pelayan tadi sudah dibuka rapi. Sarung batik motif pesisir, kain bagus, bukan murahan. Kebaya putih gading dari katun halus. Stagen panjang. Kemben. Kerudung panjang berwarna krem.

Dan di samping bungkusan, sepasang sandal selop dari kulit.

‘Lengkap.’

Kusumawati berpakaian dengan rapi, lalu duduk di depan cermin.

Wajah yang menatap balik terlihat ... asing.

1
Roroh Rohimah
ceritanya tambah seru
Elsker
arjo ..yang sekarang menjadi bupati yang lebih baik Dari anak mu ndoro ayu...
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduhhhh piye iki yooo
Giyatmini
alhamdulillah, hari ini dpt double up, aku rasa nanti kusumawati gak akan kasih tau secara blak2an soalnya clue nya udah jelas bgt, mirip ayahnya, mirip soedasono.kalau cermat pasti tau
Ricis
Duuuhhh... digantung pas lagi penting²nya
Astuti Puspitasari
Kok ngebut ndoro? seneng sih, tapi sedih juga apakah akan segera berakhir /Frown/
Haniza Putri
lanjut pinisirin bingitttttt tauuuuuu
ian
keti juga ngebut apakah sudah mau berakhir ndoro??
Ani_Sudrajat
Lanjut thor..
Anonim
Ndoro
Astuti Puspitasari
Arjo lebih muda dan ga ada yang nyetir keputusannya, ga ada yang korup juga di belakangnya. Ga kaya bupati lama yang hanya wayang, ga bisa menentukan kebijakannya sendiri, bahkan hidupnya pun ditentukan ibunya /Grievance/
Muhammad Arifin
keti gak tau...klw anak ai rou,jatuh cinta sama putri residen.jd dech PDKT ma bapaknya 😁😁😁
Ricis
subjektif ya keti, biar anak musuh jg klo bagus ya bilang bagus.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
ʟᴀɴɢɪᴛ ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©§͜¢•🦢🍒
Semakin kesini semakin seru ndoro
RJN
Keti mengira kalo anaknyaa benar2 membencinya... 🥺🥺
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhhh kan meski putra dr org lain tp lisht haslinya
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Ario Umbaran
Padahal si bupati putra ai rou itu lg patah hati cintanya ditolak anak residen..

Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
Zia Zee
Ndorooo.. aku padamu 😭😭😭
maturnuwun uda update🙏
Haniza Putri
jadi kngen arjo ama Agnes
Elsker
kandang macan jadi rumah yang nyaman yah nyai Keti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!