NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEPULUH

Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.

Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.

Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyaman dengan kehadirannya.

Karena itulah, saat Revan pertama kali menyatakan perasaannya, aku hanya bisa tersenyum hambar. Aku menganggapnya sebagai candaan, sesuatu yang tak perlu ditanggapi serius. Aku tak ingin hubungan kami rusak hanya karena persoalan hati.

Namun ternyata aku salah. Sampai detik ini, Revan masih sering mengulang ucapannya, masih sering menunjukkan bahwa perasaannya padaku bukan sekadar main-main.

Jujur, aku pun pernah menyimpan rasa pada Revan. Ada sedikit perasaan yang kusimpan sejak SMA dulu—rasa hangat yang sering muncul tanpa diundang. Pernah terlintas keinginan untuk menerimanya, untuk membiarkan diriku jatuh ke dalam pelukan yang nyaman itu.

Tapi kemudian realitas menamparku. Kehidupan kami terlalu berbeda. Revan datang dari keluarga yang mapan, berpendidikan, dan serba berkecukupan. Sedangkan aku… aku hanya Senja, anak dari keluarga sederhana yang berjuang keras demi kelangsungan hidup.

Aku memilih mengesampingkan perasaan itu. Bagiku, cinta terasa remeh dibandingkan dengan jurang perbedaan yang membentang di antara kami. Dan lagi… aku selalu merasa Revan terlalu baik untukku. Terlalu lembut, terlalu tulus. Dia pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik, bukan seseorang sepertiku yang penuh luka dan kebimbangan.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku salah karena menolak Revan? Ataukah aku justru egois, karena masih menyisakan ruang untuknya dalam hatiku dan seperti memberikan harapan palsu padanya.

Saat aku terdiam, tenggelam dalam pusaran pikiranku sendiri, tiba-tiba suara Layla memecah keheningan yang menyesakkan.

“Eh, Bu… sebenarnya Revan nontonnya bareng saya juga kok. Kami kan mau ngerjain tugas Film Analysis dari Ibu.” Layla berusaha terdengar ceria, meski senyumnya tampak dipaksakan. “Kebetulan malam ini Senja lagi luang. Biasanya sih susah banget diajak keluar, kayak punya suami aja yang harus diurus. Ya kan, Van?”

Layla melirik Revan sambil menyikut pelan lengannya. Revan hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk singkat tanpa menambahkan sepatah kata pun.

Keheningan kembali menjerat. Aku bisa merasakan pandangan Althaf, tapi aku memilih untuk tidak menoleh, takut jika matanya benar-benar menusuk ke dalam hatiku.

Dan tepat saat itu—kring—bunyi lonceng pintu kafe berdenting. Seorang pelanggan masuk. Rasanya seperti pertolongan dari semesta.

“Maaf, saya harus melayani pelanggan.” Suaraku lirih, tergesa, dan tanpa menoleh sedikit pun pada Althaf, aku segera berdiri dan melangkah pergi, seolah hanya dengan begitu aku bisa terbebas dari jerat kecanggungan yang menyesakkan dada.

Aku berjalan cepat menuju meja kasir, berusaha menata napas yang tersengal. Tanganku gemetar saat merapikan struk dan menyalakan mesin kasir, padahal pelanggan baru saja memesan minuman sederhana.

“Hazelnut latte satu ya, Mbak.”

“Ba… baik, Kak.” Suaraku bergetar, hampir tercekat.

Pelanggan itu tersenyum ramah, tapi aku hanya membalas seadanya. Pandanganku kabur, bukan karena lelah, tapi karena kepalaku penuh dengan ribuan pikiran yang saling berdesakan.

Aku bisa merasakan—di belakang sana—tawa kecil Layla, suara lembut Bu Yuanita, dan entah tatapan seperti apa yang sedang Althaf arahkan padaku. Rasanya dadaku sesak, seakan aku terperangkap di dalam ruangan yang terlalu sempit.

Revan… kenapa kamu harus bicara seperti itu di depan mereka? Aku menggigit bibir, menahan rasa panas di sudut mataku. Perkataan Revan tadi masih terngiang jelas, membuatku makin sulit bernafas.

Aku ingin berteriak. Ingin lari keluar kafe, menghirup udara malam, dan melupakan semuanya. Tapi yang bisa kulakukan hanya pura-pura sibuk, mengaduk pesanan pelanggan, menata kue kering di etalase, dan tersenyum tipis seolah semuanya baik-baik saja.

Namun sesungguhnya, hatiku sedang runtuh perlahan.

Dari balik meja kasir, aku berusaha menyibukkan diri. Gelas-gelas kubersihkan, kue-kue kering kubenahi, bahkan tumpukan sedotan plastik pun kuberi perhatian berlebih hanya agar tanganku tidak berhenti bergerak. Tapi mataku… selalu berkhianat. Sesekali, aku menangkap bayangan Althaf di sudut kafe.

Dia duduk berhadapan dengan Bu Yuanita, namun tatapannya tidak pernah benar-benar menetap pada wanita itu. Ada jeda—seperti celah kecil—di mana aku merasakan mata Althaf menyentuhku. Sekilas, cepat, lalu berpura-pura sibuk kembali menunduk pada minumannya.

Aku buru-buru menunduk, pura-pura membaca struk pesanan. Tapi detak jantungku tak bisa kubohongi. Panas menjalar ke wajahku, sementara perasaan aneh membelit erat dadaku.

Kenapa dia melihatku seperti itu? tanyaku dalam hati. Seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi terhalang oleh sekat yang kami ciptakan sendiri.

“Senja, pesanan latte sudah jadi?” suara barista lain membuatku tersentak.

“Oh, iya! Ini, sudah.” Aku mengangkat gelas dengan tangan bergetar, menyerahkannya ke pelanggan dengan senyum dipaksakan.

Saat kembali ke meja kasir, aku menahan napas. Dari ujung mata, aku bisa melihat Althaf masih di sana. Tangannya memegang cangkir, tapi matanya—lagi, matanya itu—seperti menarikku paksa untuk menoleh.

Aku tidak tahan. Aku membalikkan tubuh, berpura-pura sibuk mengambil kain lap dan berjalan ke meja pelanggan lain. Apa pun, asal tidak perlu terjebak dalam tatapan itu lebih lama.

Namun, satu hal pasti… aku tahu benar, aku bukan satu-satunya yang gelisah malam ini.

...***...

Tepat pukul 11.30 malam aku tiba di rumah dengan motor maticku. Kami pulang terlambat karena Layla tiba-tiba memintaku menemaninya berbelanja beberapa pakaian. Begitu sampai di halaman, mataku langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir di garasi. Mobil Althaf.

Aku tertegun sejenak. Kenapa dia pulang malam ini? Biasanya, Althaf hanya pulang ke rumah di akhir pekan. Hari ini hari Kamis. Dadaku mendadak terasa sesak oleh perasaan aneh yang sulit kujelaskan.

Berusaha menyingkirkan pikiranku yang kalut, aku melangkah masuk. Rumah sudah sepi. Lampu di ruang tamu dan koridor sebagian besar padam. Sepertinya Mbok Mirna dan para pekerja sudah tidur. Aku berniat langsung ke kamar, tapi rasa haus membuatku mengubah langkah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.

Namun, langkahku terhenti. Di ujung meja makan besar, Althaf duduk sendirian. Cahaya lampu dapur yang temaram menyoroti wajahnya yang muram. Di tangannya ada sebuah gelas, cairan berwarna keemasan berputar di dalamnya, mengeluarkan aroma menyengat. Alkohol.

Deg.

“Mas Althaf…” suaraku tercekat.

Tanpa menatapku, ia meletakkan gelas itu dengan keras, lalu menegakkan tubuhnya. “Oh… jadi kalau saya nggak ada di rumah, kamu selalu pulang selarut ini, ya, Senjani?” Suaranya terdengar ketus, namun ada sesuatu yang lain—sebuah tatapan sendu yang membuatku tak bisa mengalihkan pandangan.

Ia bangkit, melangkah perlahan ke arahku. Hanya berjarak satu langkah, aku bisa merasakan aroma alkohol yang pekat menusuk hidungku.

“Mas… minum?” tanyaku lirih, hampir berbisik.

Althaf tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru menatapku tajam. “Kamu habis dari mana? Sama laki-laki itu?”

Jantungku berdegup kencang. “Mas… saya, Revan, dan Layla cuma nonton film. Nggak ada yang lain. Sungguh.” Aku mencoba menahan tatapannya, meski suara lirihku terdengar bergetar.

Althaf mendecih, bibirnya menyunggingkan senyum miring penuh sinis. “Murahan tetap murahan. Apa uang bulanan dari saya nggak cukup, Senjani? Sampai kamu tega menggoda laki-laki lain… bahkan di depan mata saya sendiri.” Suaranya meninggi, menusuk telingaku seperti cambuk.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Mas, saya nggak pernah menggoda Revan. Kami hanya murni berteman,” bisikku dengan suara pecah.

Tiba-tiba Althaf menarikku kasar. Tangannya melingkari pinggangku erat, membuat tubuhku menempel pada dadanya yang bidang. Nafasnya yang bercampur aroma alkohol terasa begitu dekat, begitu menyesakkan.

“Teman, kamu bilang?” desisnya. “Teman nggak akan berani menyentuh kamu dengan bebas, Senjani.” Wajahnya semakin mendekat, jarak kami hanya sejengkal.

Aku menelan ludah, panik bercampur takut. “Mas… Mas lagi mabuk. Kalau memang mau bicara soal Revan, lebih baik besok saja. Saat Mas dalam keadaan lebih tenang dan lebih  normal.” Suaraku bergetar, tanganku mendorong dadanya lemah. “Tolong… lepaskan saya, Mas.”

Althaf mendecih lagi, cengkeramannya semakin menguat. “Jadi menurut kamu saya nggak normal? Hanya dia yang normal? Hanya dia yang pantas?”

“Bukan begitu, Mas. Saya cuma—” ucapanku terputus.

Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku. Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.

1
BORED
lovyu.. ❤️
BORED
tidak ada pelakor disini.. 🌚
BORED
lagi 🌚
BORED
jangan ada konflik lagi 🥺
BORED
jangan ada konflik lagi ya 🥺
BORED
apdet banyak2 🦖
BORED
semoga ga ada perselingkuhan
BORED: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!