NovelToon NovelToon
Leibe Dich Für Immer

Leibe Dich Für Immer

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:133.5k
Nilai: 5
Nama Author: ende

Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.

Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.

"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.

Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah

Waktu masih menunjukkan pukul 4 dini hari. Humaira terbagun karena mendengar alarm dari hpnya. Dia mengerjapkan matanya, mengumpulkan nyawa. Setelah dirasa cukup dan nyawa serta tenanganya telah kembali dia langkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Betapa terkejutnya dia saat menyadari ada noda merah di sprei tempatnya tidur. Pikirannya sudah tidak tahu mengarah kemana. Dia lihat dirnya masih memakai pakaian utuh seperti semalam saat ia hendak tidur. Tidak mungkin kalau dia habis berhubungan dengan suaminya.

Tak lama dia merasakan perutnya yang nyeri. Dia duduk dengan memeluk lututnya sembari meremas perutnya, kram. Setelah dia ingat-ingat baru dia tersadar jika minggu ini dia akan datang bulan. Tapi kenapa waktunya tidak tepat. Teganya darah itu menodai gaunnya yang indah, tanpa mengucapkan permisi.

Humaira mau tidak mau harus mengganti gaunnya dengan lingerie yang teronggok di dalam lemarinya. Dia menuju lemari dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya serta bekas noda merah yang ada digaunnya. Hampir setengah jam ia berkutat dengan noda merah itu.

arggggh kenapa kamu tega menodai gaun indahku... aku saja berjalan dan makan dengan berhati-hati agar tidak mengenai gaun ini. Sedangkan kamu menodainya tanpa permisi huhuhuhu... pekik Maira mengumpat noda merah itu.

Tak lama terdengar suara lantunan adzan subuh. Azzam pun terbangun, dia meraba-raba ke samping mencari sosok Maira yang tadi tidur di sampingnya. Karena Maira sudah tidak ada disana Azzam pun bangun dari ranjangnya. Namun, dia tercengang ketika melihat noda merah di ranjangnya. Dia menerka-nerka apa sebetulnya yang terjadi.

perasaan aku ga maen first night sama dia, tapi kenapa ada noda merah di sana?? batin Azzam mencari jawaban.

Sementara itu, Maira yang sudah selesai dengan mandinya segera keluar dari kamar mandi. Dia memakai lingerie berwarna pink dengan handuk yang dia gulung di atas rambutnya.

ceklek

Azzam menoleh ke sumber suara. Glek, dia menelan salivanya, diam membisu ditempat. Maira yang menyadari hal itu langsung beringsut mengambil handuk lagi untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspose. Maira tertunduk malu tidak berani menoleh ke arah Azzam. Bahkan perutnya yang sepertinya terlilit bisa terkalahkan dengan rasa malunya. Suasana masih terasa canggung.

ehem ehem Maira berdehem sedikit dikeraskan agar mencairkan suasana.

Azzam sadar dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sedangkan Maira menuju ke ranjang mengambil sprei yang terkena noda menstruasinya dan meletakkannya di keranjang baju kotor, sebelum nantinya ia cuci pada bagian noda merahnya.

Setelah selesai dengan aktivitas itu, Maira menyiapkan perlengkapan solat, menggelar sajadah untuk suaminya. Hari ini sampai beberapa hari ke depan, Azzam akan solat sendirian tidak lagi bersama Maira yang menjadi makmumnya. Azzam melangkahkan kakinya ke sajadah yang sudah digelar oleh Maira. Kemudian solat sunah rawatib dan solat subuh. Setelah solat Azzam melakukan wirid dan mengaji.

Maira yang melihat dari kejauhan tersenyum bangga ke arahnya, Azzam mengaji tidak menggunakan mushaf melainkan dengan mengandalkan hafalannya. Dia memurojaah hafalan yang dimilikinya dengan suara yang merdu dan fasih dalam setiap makhrojnya. Sampai-sampai Maira tak terasa menitikkan air mata. Azzam yang sudah selesai dengan murojaahnya kembali ke atas kasur.

"Bagaimana tidurmu? nyenyak?" Tanya Azzam.

"Alhamdulillah nyenyak... walaupun ada sedikit gangguan" jawab Maira yang sudah terlilit dengan selimut. Azzam yang melihat Maira seperti itu tersenyum gemas kemudian mencubit pipinya.

"Awwww... kakak kenapa nyubit pipiku?" ujar Maira mengaduh sembari mengusap-usap pipinya.

"Maaf Mai... abis kamu lucu ih bikin gemes"

Maira mendengus kesal.

"Oiya kak, Maira minta tolong lagi boleh engga?"

"Katanya semalam itu yang terakhir..."

"Hehe iya maap... ini khilaf diluar kendali" ucap Maira dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ✌️.

"Ehmm baiklah... kamu mau minta tolong apa?"

"Tolong kakak belikan aku pembalut sama baju ganti dong kak... masa aku pulang pake baju kurang bahan gini"

"Hah pembalut? ga lah bisa hancur reputasi ku sebagai laki-laki sejati"

"Lah kalo emang kakak laki-laki sejati harusnya ga akan tega dong ngeliat istrinya kesusahan"

Azzam menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Baiklah tapi ini yang pertama dan terakhir. Mau ukuran berapa?"

" Ukuran 29 aja soalnya Maira masih banyak stok Di rumah. Oiya yang ada sayapnya ya kak"

"Hah? sayap? dikira ayam kali yang bersayap"

"Udah buruan kak... Aku ga nerima protes! Ini keburu numpuk aku ga kuat nyuci bekasnya kalo tercecer kemana-mana"

"Oke-oke bentar kakak ganti baju dulu"

"Ih udah pake sarung juga gapapa.. emang ada yang ngetawain"

"Kamu cerewet banget sih astaga..." Akhirnya Azzam berlalu meninggalkan Maira sendiri di kamar hotel.

Maira yang masih merasakan kram di perutnya akhirnya memilih untuk tidur lagi.

***

Azzam menulusuri jalan yang ada di sekitar hotel dengan menggunakan mobilnya. Sesekali dia melihat gadget yang ada ditangannya. Jarinya gesit berselancar di keyboard hpnya. Mengetik "toko baju yang sudah buka di dekat hotel x" sejurus kemudian google menampilkan beberapa toko tapi yang dia lihat disana masih tertera close. Akhirnya mau tidak mau Azzam membeli pembalut untuk istrinya terlebih dahulu, karena sebagian mini market sudah ada yang buka, lebih tepatnya sih buka 24 jam.

Azzam memarkirkan mobilnya di depan minimarket. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Pandangannya mengedar ke segala penjuru mencari-cari titipan istrinya. Tapi dia belum menemukannya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menemui kasir dan menanyakan letak keperluan istrinya.

"Permisi mba... pembalut wanita ada disebelah mana ya?" lawan yang diajak bicara tampak kikuk, kemudian mengantarkan Azzam ke arah yang dituju.

"Ini Pak... bapak nyari yang ukuran berapa Pak?" tanya mbak kasir dengan ragu

"Hah gimana mba?"

"Ukuran pembalutnya Pak..."

"Oh iya ukuran berapa ya tadi..." Azzam tampak berpikir mengingat-ngigat "Aha.... 29 mba yang bersayap"

"Ini pak..." mbak kasir menyodorkan barang yang dicari. "Ada lagi yang dibutuhkan Pak?"

"Udah ini aja mba!" kemudian mereka sama-sama menuju meja kasir. Setelah di scan Azzam memberikan kartu debitnya untuk membayar.

"Maaf Pak nominal untuk menggunakan kartu debit masih kurang, minimal Rp50.000,-"

"Eh... memangnya berapa mba totalnya"

"Hanya Rp18.900 Pak..."

Azzam merogoh sakunya mencari uang yang terselip disana. Tapi nihil, dia tidak menemukan uang sepeserpun di sakunya.

Sial, bisa-bisanya gua ga punya uang tunai... gerutunya dalam hati. Akhirnya dia kembali menuju tempat pembalut tadi dan mengambil 3 pcs lagi.

"Ini mba nambah.." rasa malu sudah tidak bisa dihindari lagi. Setelah selesai dengan urusannya akibat pembalut, dia keluar dari minimarket itu. Di sebrang jalan dia melihat toko pakaian sudah buka. Diapun berinisiatif untuk menyebrang dengan jalan kaki saja daripada menggunakan mobil yang nantinya malah membuatnya semakin susah.

Azzam menyebrang jalan dengan cepat untungnya jalanan masih lenggang. Dia bergerak gesit sehingga tak cukup waktu lama dia sudah berada di toko. Pelayan toko menyambutnya dengan hangat.

"Permisi Pak... ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pelayan toko.

"Oh iya saya mau nyari baju gamis sekalian dengan jilbabnya"

"Mari pak saya tunjukkan tempatnya" Azzam mengekori sang pelayan toko.

"Disini Pak, silahkan bapak memilih"

Emang gua tua banget apa sampe dipanggil bapak 🤔

Azzam tampak termenung lama, karena bingung harus memilih gamis yang seperti apa. Akhirnya dia hanya mengambil asal, total ada 10 baju dan 5 kerudung. Dia menuju meja kasir kemudian membayarnya.

Azzam keluar dari toko dengan mata berbinar, dia tampak tersenyum puas. Dia ber-iyes ria dalam hati. Kemudian dia pulang kembali ke hotel menjemput istrinya

***

Ku tunggu kritikan yang membangun dari kalian semua reader terkasihku🤗🤗🙏

Thank a lot :)

1
Rabiatul Addawiyah
Lanjut thor
Hestri Surya
lanjuuut..
Dwi Amini
akhirnya up lg,,lanju kak
Wida Listiani
lanjut....
Chikko Yuan
akhirnya nongol....
Nurularswar
Alhamdulillah, terimakasih udah update kak
Rahmayani
akhirnya muncul juga,,,,,
Sriandra Can Cann
aku nungguin thorr😘😘😘😘
Sari Rahayu
ini udah ga dilanjut lg kah tor?
Chikko Yuan
kok gak up up ???
Chikko Yuan
ini ceritanya kapan up thor???
Faza Alila
kok blm up thor
Wida Listiani
smg sehat terus ya...lanjut ..
Dwi Amini
semoga sehat selalu thor,,ditunggu lanjutanya
Rabiatul Addawiyah
semoga sehat terus ya thor... biar bisa up tiap hari 😁
Purwanti Inung
lamaa bener upnya....
Yayah Armand S
knp gak pernah up thor
Dwi Amini
ditunggu up ny thor
Fitria Berkisah
seruuuu
Wida Listiani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!