Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Cantik
“Aku sudah cantik kan?” Mona memutar sambil menjembreng roknya. Senyumnya mengembang berharap Arga akan memujinya. Lain dengan Arga, bukannya memuji, dia justru menjulingkan mata malas.
“Kakaaak!” Rengek Mona sambil menghentakkan kaki berulang kali. “Aku tidak jadi pergi!” kata Mona sambil melipat ke dua tangan dan beralih memunggungi Arga.
Arga mendesis sambil mengangkat kedua tangan tepat di belakang Mona melebarkan jemari membentuk cakar tajam. Setelah selesai menggeratkan gigi karena gemas, akhirnya Arga mengela napas lalu perlahan meraih pundak Mona.
“Kau sudah cantik. Sangat cantik malahan,” puji Arga dengan sederetan gigi putihnya yang nampak.
Mona berbalik. Wajahnya sudah berubah sumringah dengan mata berbinar. “Benarkah?”
“Tentu saja... kekasihku haruslah cantik.”
Mona langsung tersipu dan mengulum senyum karena malu.
Semua memang tak ada yang berubah. Beginilah mereka berdua, berdebat, bertengkar, saling menyalahkan, tapi tetap saja perasaan yang bilang, dua hati mereka sama yaitu saling cinta.
Mobil pun sudah melaju. Mona yang hari ini merasa senang, sedari tadi masih terlihat senyum-senyum sendiri. Jari telunjuknya sedari tadi memainkan kaca mobil, seperti sedang menulis sesuatu. Sementara matanya, sesekali melihat beberapa pohon dan lampu jalan yang berjejer rapi di luar sana. Dua bibirnya, ikut bergerak-gerak seolah sedang menghitung banyaknya pohon yang sedari tadi sudah dilalui.
Beralih pada sosok pria yang saat ini duduk di jok kemudi, dia terlihat begitu mempesona, apalagi melihat raut wajahnya yang begitu fokus mengemudikan mobil, membuat Mona yang ternyata sudah mengalihkan pandangan langsung tersenyum dengan pipi merah merona.
“Kak Arga...,” panggil Mona.
“Hm....”
“Apa tidak ada wanita lain yang jatuh cinta dengan kak Arga?” pertanyaan Mona membuat kedua alis Arga saling menaut.
“Kenapa kau tanya seperti itu?” Arga balik bertanya.
“Tidak apa-apa....” Mona memutar posisi duduknya menghadap ke arah Arga. “Aku takut kalau nantinya aku punya saingan.”
Pffhh!!
Arga hampir saja tertawa, tapi sebisa mungkin Arga cegah dengan langsung mengatupkan kedua bibirnya membentuk garis lurus.
“Kau takut punya saingan dalam hal apa?” Arga pura-pura tidak mengerti.
“Ish!!” Mona memutar lagi posisi duduknya, dan kali ini lurus menghadap depan sambil menepuk paha satu kali. “Tentu saja saingan mendapatkan Kak Arga.”
“Bwahahaha!!”
Arga sudah tak tahan lagi jika harus menahan tawanya. Dan benar, usai kalimat Mona berhenti, tawa itu langsung menyembur keluar hingga membuat perut Arga kaku dan matanya berair.
Mona mendengus. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Memangnya apa yang lucu?!” gerutu Mona dengan bibir mengerucut.
Setelah merasa lelah dengan tawanya, Arga langsung menarik napas kemudian perlahan di hembuskan. Melihat Mona yang cemberut, Tangan kiri Arga menjulur meraih dagu Mona. “Memangnya menurutmu ada wanita lain yang menyukaiku?”
Mona menggeleng. Bibirnya masih manyun dan wajahnya tetap cemberut. “Aku tidak tahu. Mungkin saja kan, di luar sana ada yang mencoba mendekati kak Arga.”
“Kalau itu sih, aku tidak tahu. Tapi kalau ada ya, sudah resiko, namanya juga pria tampan.” Arga menyombongkan diri. Sementara Mona semakin manyun.
Menyebalkan sekali dia! Huh! Mona menggerutu di dalam hati.
Mona sebenarnya ingin bertanya lagi, tapi sudah keburu sampai di tempat tujuan. Mobil Arga terparkir di area halaman sebuah restoran yang terbilang mewah. Sebelum masuk ke dalam, para pengunjung akan di suguhi dengan lampu kerlap kerlip yang menggantung di sekitar pepohonan cemara yang berderet di sekitar halaman.
Mona langsung lupa dengan rasa jengkelnya begitu bola matanya melihat pemandangan itu. Suasananya terlihat begitu romantis. Di dalam sana, di balik kaca bening, banyak para pengunjung yang sepertinya adalah sepasang kekasih.
Mona saja, merasa iri melihat itu. Kelihatannya mereka begitu mesra.
“Ayo....” Arga menyikukan lengan di samping Mona, meminta tangan Mona segera meraihnya. Dengan antusias Mona pun meraih lengan itu.
“Arga!!” Seseorang memanggilnya dengan lantang. Arga dan Mona yang sudah berdiri di ambang pintu, akhirnya berhenti dan berbalik mencari asal suara panggilan itu.
Terlihat, dengan jarak sekitar lima meter, seseorang dengan celana jeans hitam dam kemeja navi sedang berjalan mendekat ke arahnya.
“Dion?” ucap Arga. Dion hanya meringis, lalu memutar pandangan ke arah wanita cantik di samping Arga.
“Kalian sedang berkencan?” tanya Dion yang masih tak lepas pandangan dari Mona.
“Iyaaa!” Arga mendorong wajah Dion dengan telapak tangan. Sepertinya Arga tak suka jika ada pria lain yang mencuri pandang pada Mona.
“Kau ngapain ke sini?” tanya Arga acuh.
“Apa paman berkencan juga? Lalu mana wanitanya?” Mona bertanya sambil mengintai, barang kali ada seseorang di belakang Dion.
“Tentu saja. Tapi bukan untukku, tapi untuk dia.” Dion menunjuk tepat di depan wajah Arga.
“Kenapa aku?” Arga tak paham.
“Sudahlah, ayo masuk dulu. Kita cari kursi kosong.” Dion menggiring kedua orang itu masuk ke dalam.
Ketiganya sudah duduk. Untuk Mona, dia tentu duduk di antara Dion dan Arga.
Seorang pelayan datang sambil membawa daftar menu.
“Mau pesan apa Tuan, Nona?”
Tak memberi kesempatan Arga dan Mona untuk memilih, Dion langsung menjambret daftar menu itu, dan langsung memilih beberapa makanan dan minuman yang tertera di dalamnya.
“Aku mau minuman ini 3. Untuk makanannya nanti saja,” ucap Dion sambil menunjuk salah satu menu minuman di daftar itu.
“Hei sialan!” Hardik Arga. Dion yang merasa mendapat pelototan justru diam saja dan tak peduli. “Ini acaraku, kenapa kau malah jadi ikut campur?” Arga merasa kesal. Mona yang duduk di sampingnya pun ikut merasakan hal yang sama.
“Sudah diam dulu. Ini karena kebetulan kau di sini, jadi aku bisa memperkenalkan dia padamu,” ucap Dion.
“Dia siapa?” tanya Arga. Dan raut wajahnya sudah mulai sewot.
“Itu....” Dion menunjuk seorang wanita cantik yang sedang berlenggak dengan senyum tersungging di wajahnya.
Bodynya begitu indah, tinggi badannya semampai bak seorang model. Rambutnya yang bergelombang tersampir sempurna di pundak, tak lupa, bagian bibirnya yang merah merekah, lalu turun ke bawah pada dress merah ketat yang membalut tubuhnya, membuat lekukan tubuhnya terlihat begitu menggoda.
“Malam....” sapa wanita itu masih dengan senyum menggoda.
Sayangnya, yang terlihat sumringah hanyalah Dion. Untuk Arga dan Mona, wajah mereka terlihat masam. Dan setelah wanita seksi itu duduk, Arga langsung melempar pelototan ke arah Dion. Untuk sesaat keduanya hanya saling beradu pandangan, hingga kemudian wanita itu berdehem.
“Oh, maaf...” ucap Dion. Sementara Arga hanya membuang napas kasar.
“Apa dia kekasih paman?” tanya Mona dengan wajah polosnya.
Dion langsung membelalak, sementara wanita itu hanya tersenyum. Tersenyum sambil curi pandang ke arah Arga.
“Tentu saja bukan, wanita secantik dia mana mungkin mau denganku....” Dion merendah. Namun bukannya mendapat dukungan, Dion justru mendapat sindiran dari Mona.
“Jelas saja tidak mau. Paman itu kan jelek!”
Ppfffhhh!!! Arga kembali mengulum senyum sambil ditutup jemari. Bukan hanya Arga, tapi wanita itu juga.
“Kau!” Dion menggeratkan gigi sambil melotot.
Karena tak mau terbawa emosi, Dion memilih mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan supaya hatinya kembali tenang.
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...