"Kalau dia sudah tidak ingin hidup maka biarkan saja dia mati!"
Samar-samar aku mendengar suara bariton dari sampingku. "Brengsek, dokter macam apa yang menginginkan pasien nya mati" gumamku sambil meringis menahan sakit.
Cerita ini berkisah tentang seorang gadis muda berusia 19 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria yang sudah cukup berumur. Dia, Kirana Nindya Prasetyo memilih bunuh diri daripada menikah dengan pria yang tak dikenalnya.
Lalu, sosok seperti apakah yang akan menjadi suaminya kelak, sehingga dia begitu keras kepala menolak perjodohan ini?
Akankah pria misterius itu memaksa untuk menikahi nya atau malah bekerjasama dengan nya untuk membatalkan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Surya Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 11 Ciuman Pertama
Tergesa-gesa Kiran turun menuju resepsionis. Matanya jelalatan mencari sosok suster Lani, hanya dia yang bisa membantuku. Dia sudah bertanya kepada petugas resepsionis tapi mereka bilang belum datang.
Suster Lani tolonglah aku, bantu aku agar tetap bekerja disini. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kumohon suster Lani, datanglah.
"Kiran? Kenapa berdiri sini?"
Sebuah suara yang sangat dia tunggu-tunggu akhirnya didengar juga, serasa angin segar di musim panas.
"Suster Lani, akhirnya anda datang juga." Kiran melonjak girang.
"Kenapa kau menungguku? Bukankah kau seharusnya bekerja diruangan direktur?"
Kiran menunduk sedih membuat Lani bingung.
"Suster tolong Kiran sekali lagi, bantu Kiran bicara agar tidak dipecat oleh direktur."
"Dipecat? Apa yang terjadi?"
Kiran pun menceritakan semuanya pada Lani dengan wajah sedih dan bingung. Tapi Lani malah terkekeh.
"Suster kenapa mentertawakan ku?"
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, semua pasti baik-baik saja."
"Tapi dokter sadis itu bilang, aku harus meminta bantuan suster Lani untuk ke ruangan direktur."
Dasar bocah brengsek, dia malah mengerjai habis-habisan orang yang disukainya. Bisa-bisanya dia mempermainkan seorang gadis yang begitu baik dan polos ini.
"Hmmm baiklah, aku akan mengantarmu kesana. Jangan khawatir, direktur takkan pernah memecatmu."
"Benarkah suster?"
"Ya, asal kau bekerja dengan baik dan menuruti perintah nya."
"Baik suster, saya akan berusaha."
*****
Kiran berjalan dibelakang Lani. Setelah masuk ke dalam lift, Lani pun menekan angka tiga pada tombol lift. Kiran masih memperhatikan. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, mereka pun keluar dan berjalan menuju sisi kanan.
Tadi wanita itu juga membawaku ke arah sini. Apakah kami salah jalan? Suster Lani bilang kami akan ke kantor direktur tapi mengapa jalan ini menuju ruangan dokter brengsek itu?
"Emmm suster apakah kita tidak salah jalan?"
"Tidak sayang, kenapa?"
"Bukankah kita akan menuju ruangan direktur? Mengapa kita berjalan ke ruangan dokter Elang?"
Lani mengerutkan dahinya.
"Kau sudah tau ruangan dokter tampan itu?"
Kiran mengangguk, "Kiran baru keluar dari situ, dan dokter itu bilang Kiran harus menemui suster Lani untuk menunjukkan kantor direktur."
Bocah b*****t, Kiran bahkan sudah masuk dan bertemu dengannya, tapi malah dikerjain. Apakah dia menjadi gila karena jatuh cinta?
"Baiklah Kiran kita sudah sampai di kantor direktur, silahkan masuk dan bicaralah baik-baik, saya harus kembali bekerja."
Kiran termangu di depan pintu ruangan yang tadi ia masuki bersama wanita cantik itu. Kiran mendongak ke pintu bagian atas dan membaca tulisan yang tertera di sana DIRECTOR OFFICE.
Astaga, ternyata si brengsek itu adalah seorang direktur, dan aku sudah dipermainkan olehnya? Begitu menyenangkan kah bermain-main dengan hidup orang lain.
Kiran merasa begitu sedih, hatinya terasa sakit. Kenapa ia begitu suka menyakitiku? Apa salahku padanya. Kiran tak mampu lagi menahan kesedihannya, kekecewaan hatinya. Air matanya pun tumpah membanjiri kedua pipinya. Tanpa mengetuk pintu Kiran langsung menerobos masuk dan melemparkan serbet kecil yang ia gunakan untuk mengelap meja.
Pukkkk
Serbet itu nemplok di wajah Elang yang sedang berbicara dengan Tomi. Tomi terlonjak kaget, begitu juga Elang. Wajahnya memerah karena marah.
Si brengsek mana yang berani melakukan ini padaku! Aku akan menghabisi mu! (Elang)
Gawat, manusia bodoh darimana yang punya nyali sebesar dewa? Berani-beraninya membuat raja iblis marah. Sebaiknya aku menghindari pertempuran sengit ini. (Tomi)
Elang membuang serbet dari wajahnya, lalu berdiri dan bersiap dengan amarahnya. Namun ia malah lebih terkejut saat ia tau bahwa Kiranlah yang melemparnya.
"Kiran... kau menangis?"
Tomi yang memahami suasana pun beringsut pergi. Tapi ia tak melewatkan kesempatan untuk mengenali wajah satu-satunya seorang gadis yang begitu berani berbuat kurang ajar pada sahabat kecilnya.
Dia begitu imut dan manis. Sobat kecil seperti nya kau telah bertemu dengan lawan yang bisa melumpuhkan mu bahkan tanpa menyentuh sehelai rambutmu. Hehehe
Elang mendekati Kiran, mencoba untuk menenangkan nya. Tapi Kiran meronta, dia pun meluapkan kekesalannya.
"Apakah anda merasa puas dokter? Anda merasa senang mempermainkan hidup seseorang? Hanya karena aku orang miskin yang tak mampu membayar biaya rumah sakit lantas anda bisa semena-mena menghina saya? Anda keterlaluan dokter! Saya mengundurkan diri, dan saya berjanji akan mencicil hutang saya pada rumah sakit ini. Saya kecewa pada anda!" ucap Kiran dengan air mata bercucuran.
Elang terdiam, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit mendengar ucapan Kiran dan lebih sakit lagi saat melihat air mata dikedua pipinya yang halus. Reflek Elang menarik tangan Kiran, lalu merengkuhnya kedalam pelukan. Kiran memberontak, tapi Elang semakin mendekap erat.
Ini pertama kalinya Kiran merasakan pelukan seorang pria, ini pertama kalinya Kiran merasakan kenyamanan batin. Tanpa ia sadari Kiran pun menangis semakin dalam. Ia tak lagi meronta, malah menenggelamkan wajahnya di dada dokter tampan yang angkuh itu.
Cukup lama Elang membiarkan Kiran menangis dalam pelukan nya. Setelah tangisnya mulai reda, Elang melonggarkan pelukannya dan membimbing Kiran untuk duduk di sofa. Kiran hanya menurut.
"Sampai kapan kau akan memelukku gadis cengeng?"
Ucapan Elang menyadarkan Kiran. Dengan cepat ia menarik tangannya.
"Ahhh maaf"
Elang beranjak dari sofa, lalu menuangkan segelas air putih dan menyodorkan nya pada Kiran.
"Minumlah, kau akan merasa lebih baik"
"Terimakasih Dokter, maafkan kelancangan saya dokter, saya tidak..."
"Sssttttt minumlah dulu, tarik nafas mu dalam-dalam dan buanglah pelan-pelan agar sesak di dadamu berkurang."
Kiran menurutinya. Ia meminum segelas air putih sampai habis, kemudian menarik nafasnya dan membuangnya pelan-pelan. Huh ternyata sekarang sudah jauh lebih baik.
Kiran menoleh ketika nalurinya merasakan ada sepasang mata yang memperhatikan.
"Dokter, kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau jelek sekali, lihatlah wajahmu yang sembab itu, hidungmu yang merah dan matamu yang bengkak. Kau terlihat seperti makhluk asing"
"Benarkah?" sahutnya malu. Kiran menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dan tingkahnya itu membuat Elang semakin gemas.
Elang mendekatinya dan membuka kedua tangannya. Wajah Kiran yang merona malu itu terlihat sangat imut dan menggoda. Refleks Elang mengecup bibir merah yang ranum itu.
Mmuuaah
Kiran terkejut, badannya terasa kaku dan hawa panas mengaliri seluruh tubuhnya. Wajahnya memucat dengan mulut sedikit ternganga. Ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan laki-laki, dan ini juga pertama kali nya ia dicium laki-laki.
Elang tersenyum dan mengusap lembut kepalanya. Kiran masih tak berani berkutik, dia masih menunduk kan wajahnya. Ia merasa malu dengan pria yang telah mencuri ciuman pertama nya.
"Cucilah wajahmu dan bersihkan dirimu. Lalu beristirahat lah di sini, aku akan melakukan operasi, kau tunggu aku di sini."
Kiran hanya mengangguk, entah kenapa dia masih belum berani menatap wajah pria brengsek itu.
"Oh iya, aku akan meminta Lani untuk membelikan pakaian ganti untukmu. Kalau kau butuh sesuatu kau bisa hubungi dia."
Elang pun meninggalkan ruangan itu dengan segera. Dia juga merasa begitu tegang, entah darimana dia mendapatkan keberanian itu.
Bisa-bisanya aku begitu berani mencium dia, untung saja dia tidak menamparku, atau mungkin dia akan menendang bagian "masa depanku". Syukurlah ia hanya diam, sepertinya aku laki-laki pertama yang menciumnya. Hmmm aku merasa sedikit bangga pada diriku. (Elang)
Apakah tadi dia menciumku? Kenapa aku diam saja, seharusnya aku mendorong dan menamparnya, tapi tubuh terasa melemah karena sentuhan itu. Brengsek dia pasti akan mengira kalau aku perempuan murahan. Huh bodohnya dirimu Kiran. (Kiran)