Seolah luka sayatan di tetes cuka. Begitu lah seorang gadis bernama Sebria. Kekasih yang begitu dicintainya tidak sengaja membuat kesalahan besar yang mengantarkan hubungan mereka pada sebuah perpisahan. Bersamaan itu juga telah terungkap rahasia kenapa Sebria di besarkan di panti asuhan selama ini. Demi penyembuhan diri Sebria menarima tawaran mutasi dari kantornya sehingga mempertemukan dirinya dengan anak pemilik perusahaan. Hubungan mereka berlanjut sampai ke pernikahan tapi sayangnya. Istana yang di tempati Sebria tidak sehangat awal pernikahan. Semuanya berubah beku karena insiden yang terjadi menyebabkan kelumpuhan untuk Sebria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayahnya?
Kanaga mengemudi dengan tenang mengontrol kecepatan. Sementara Sebria berusaha memberi pertolongan pada Ayusa yang masih setia memejamkan mata. Meski takut dan panik tapi tidak menghilangkan ketenangan. Berkendara beberapa menit mereka tiba di rumah sakit. Kanaga gegas turun membawa tubuh lemah Ayusa ke IGD. Sebria mengekori kemana saja langkah atasannya. Mendapatkan penanganan Kanaga dan Sebria duduk di kursi tunggu.
"Keluarganya apa nggak dikabari?" Suara Kanaga memecahkan keterdiaman.
"Nanti saja tunggu kabar dari dokter." Sebria menatap lamat ke dalam ruang tindakan. Apakah sahabatnya memiliki riwayat penyakit yang tidak dia ketahui. "Ayusa kurus akhir-akhir ini. Saya nggak tahu seberapa besar tekanan yang di terimanya karena perjodohan ini. Saya harap bapak bisa menyayangi Ayusa."
Kanaga menoleh dan mengangguk. "Sebenarnya perjodohan ini saya yang meminta. Saya nggak tahu kalau perjodohan ini memberikan tekanan buat Ayusa sampai mengganggu kesehatannya. Saya mencintai Ayusa sudah lama. Saya sering melihatnya di beberapa pertemuan dan menyukainya sejak itu mencari tahu tentangnya, siapa yang dekat sama dia. Saya nggak punya waktu untuk pendekatan jadi jalan ini yang saya pilih." Sesalnya tertunduk.
Sebria menarik nafas panjang sebelum menanggapi. Mencintai seseorang ternyata berbagai macam cara salah satunya seperti Kanaga mencintai Ayusa. "Ketika dia sadar nanti bapak jelaskan semua tentang perjodohan ini tadi Ayusa sudah mengatakan kalau menerima perjodohan ini."
"Benarkan?" Wajah Kanaga terlihat sumringah.
"Iya." Sebria tersenyum lebar. "Ayusa gadis baik Pak."
"Keluarga Nona Ayusa."
"Saya." Kanaga langsung berdiri.
"Bapak suami pasien?" Wanita berjas putih itu bertanya lagi.
"Calon suaminya."
Wajah dokter itu terlihat bingung tapi sesaat kemudian air mukanya berubah. "Baiklah, mari kita bicara di ruangan saya. Nona ini siapa?"
"Saya temannya, tadi kami fitting baju karena mereka akan bertunangan ternyata dia pingsan setelah mencoba beberapa gaun." Jelas Sebria.
"Ayo." Si dokter wanita melangkah lebih dulu setiba di dalam ruangan. Wanita paruh baya itu mendaratkan tubuh di kursi. "Jadi nona Ayusa calon istri bapak."
"Iya." Kanaga bersiap mendengarkan penjelasan.
"Nona Ayusa kelelahan, dehidrasi dan juga kurang nutrisi. Selain itu dia juga tidak memperhatikan pola makannya mungkin karena persiapan pernikahan kalian jadi dia mengabaikan asupan gizi nya." Si dokter berhenti menarik nafas sejenak. "Dan selamat nona Ayusa sedang hamil saat ini."
Jantung Kanaga dan Sebria sama berdebarnya. Seketika gendang telinga mereka berdengung. Keduanya membisu terpaku dalam diam tenggelam bersama rasa terkejut. Isi tempurung kepala mereka berusaha mencerna kalimat terakhir dokter. 'Hamil' Kanaga tidak pernah menyentuhnya. Bertemu secara intens pun tidak pernah. Lalu siapa ayah bayi itu.
"Untuk lebih lanjutnya saya rujuk ke dokter kandungan." Ujar dokter itu lagi.
"Terimakasih." Ucap Sebria setelah menguasai dirinya. Ia menarik Kanaga untuk keluar. Bak robot Kanaga menuruti langkah Sebria. Mereka memutuskan duduk kembali ke kursi kembali diam dengan ragam macam tebakan dalam kepala.
"Kamu tahu ini?"
Sebria menggeleng. "Nggak pak tapi akhir-akhir ini dia memang berubah."
Hampir tiga puluh menit Sebria dan Kanaga duduk disana sampai akhirnya memutuskan untuk masuk. Di atas brankar Ayusa sudah sadar manik matanya menatap lurus ke atas tubuhnya sudah berganti baju pasien.
"Gimana ada yang terasa sakit?" Sebria lebih dulu bertanya.
"Cuma pusing." Sahut Ayusa. Kepalanya menoleh ke sisi lain. "Terimakasih sudah membawa ku ke sini." Ucapnya pada Kanaga.
"Aku hubungi om dan tante." Sebria mengeluarkan ponsel.
"Nggak usah." Tahan Ayusa.
"Harus." Sahut Kanaga dingin. "Orang tua mu harus dikabari."
Ayusa merasakan perbedaan nada bicara Kanaga. Meskipun mereka baru bertemu sangat kentara sikap Kanaga berubah tidak sama di awal pertemuan tadi.
Satu jam berlalu. Orang tua Ayusa sudah tiba dan pemeriksaan oleh dokter kandungan juga sedang berlangsung. Ayusa hanya bisa menuruti dengan perasaan tidak menentu. Takut dan juga panik bagaimana jika prediksi dokter IGD tadi benar. Jantungnya berdebar tidak henti.
"Rileks Bu." Ujar perawat tersenyum kepada calon ibu muda itu. "Detak jantung ibu meningkat dan ini bisa menyebabkan tekanan darah ibu lebih naik lagi. Ibu hamil nggak boleh stres ya sangat berpengaruh pada kesehatan janin dan kesehatan ibu sendiri. Psikis ibu sangat berpengaruh ya pada janinnya."
Ayusa menarik nafas panjang mengusir rasa di dalam hati nya. Ia berusaha santai sampai pemeriksaan ini selesai. Ayusa membiarkan perawat mengoles jel di atas perut ratanya. Setelah memastikan tekanan darahnya sedikit turun mereka melakukan USG. Ya, benar disana ada calon janin sebesar biji kacang. Dokter pria yang menangani menjelaskan berat dan panjangnya. Calon janin Ayusa sehat tapi tidak dengan tubuh ibu nya.
"Ibu, bed rest dulu ya fisik ibu lemah saat ini kasian janin nya." Ucap dokter mengakhiri.
Perawat membersihkan perut Ayusa dengan tisu setelah itu membantu nya turun dari brankar dan kembali ke ruang inapnya. Tangis Ayusa tidak terbendung lagi pecah di atas kursi roda. Perawat yang mendorongnya hanya diam menyaksikan. Ayusa tidak menyangka kalau perbuatannya waktu itu akan jadi seperti ini. Setiba diruangan. Semua mata menatap ke arah pintu. Mereka bisa menebak dari isak tangis Ayusa kalau kehamilan itu benar.
"Ibu Ayusa hamil empat minggu, kondisi janin sehat tapi ibu Ayusa bed rest dulu karena lemah. Nanti dokternya visit kesini." Jelas perawat setelah membantu naik ke atas brankar. Selesai dengan tugasnya perawat itu kembali keluar.
Bertepatan itu juga suara tamparan menggema di dalam ruangan. Kepala Ayusa tertoleh ke samping. Sebria langsung pasang badan menghampiri sahabatnya itu. Begitu juga Ibu Kayla.
"Papa kecewa sama kamu." Pak Wiratama melangkah keluar. Wajahnya merah di tampar rasa malu pada calon menantunya. Manik matanya berkaca-kaca menahan gejolak amarah.
"Kenapa kamu melakukan ini, Nak?" Ibu Kaila memeluk putrinya itu dengan tangis kecewa seorang ibu.
Sementara Sebria mundur memberikan waktu untuk ibu dan anak itu. Kanaga masih bungkam berdiri di tempatnya tanpa suara. Terpancar rasa kecewa dan bersalah dalam manik mata pemuda itu. Kecewa karena bukan dia ayah bayi itu. Menyesal karena memaksa perjodohan untuk memiliki sang pujaan hati sampai membuat wanita yang dicintai nya itu seperti ini. Luka tidak berdarah sudah menganga sejak dapat kabar kehamilan itu. Jangan di tanya bagaimana sakitnya perasaan Kanaga saat ini.
Ibu Kaila menyusul suaminya dan membiarkan Ayusa di temani oleh Sebria dan juga Kanaga. Isak calon ibu muda itu masih mendominasi. Sebria duduk di tepi kasur merapikan helaian rambut sahabatnya.
"Siapa?" Suara Kanaga terdengar juga. "Siapa, Ayahnya?" Tikaman belati semakin menusuk ke dalam hati saat lidah bertanya pemilik si bayi. "Biarkan dia bertanggung jawab. Aku yang akan mengatakannya pada Om Wiratama. Tentang orang tua ku biar jadi urusan ku. Jangan biarkan anak itu lahir tanpa ayah kandungnya. Aku nggak bisa menikahi kamu." Keputusan Kanaga sudah bulat.
nyesek bnagettt..
masih mengutamakan shabat.
❤😍😍❤❤❤
ayusa pura2 baik2 saja..
padahal dia kan cinta ama jehan..
lama2 ya sakit2an gak terbalas cinta..
apalgipaaca melahirkan
😍😍😍❤❤❤
Next, lanjut Kak Ririn. 🥰