terus dukung cerita ini dengan like dan komen jika kalian suka. agar cerita tidak mangkrak tengah jalan
"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Fajar mulai menyapa langit Desa Sukasari dengan semburat warna jingga. Udara pagi yang dingin meresap ke kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru saja terkena embun. Setelah pertarungan yang melelahkan dan penuh risiko, Kenzo dan pasukannya bersiap untuk kembali pulang.
Kenzo berjalan pelan, langkahnya terhuyung akibat luka yang masih belum sepenuhnya sembuh. Srini dengan setia merangkulnya, membantu menopang tubuh lelaki yang kini menjadi pemimpin pasukan mereka.
“Njir, bayarannya nggak seberapa tapi hampir mati. Tobat lah aku ambil tugas kayak gini lagi besok!” batin Kenzo, mengeluh dalam hati.
Srini melirik wajah Kenzo yang terlihat serius, menyangka Kenzo masih memikirkan kejadian aneh saat sosok misterius merasukinya. Dengan nada ceria, ia mencoba menghibur, “Mas, jangan dipikirin yang tadi, yang penting kita selamat!” katanya sambil menepuk bahu Kenzo.
Kenzo mendesah panjang, lalu tersenyum kecil. “Aku nggak mikirin itu. Aku cuma mikir, kok kita mau ya ngelakuin ini padahal dibayar cuma sedikit?”
“Gapapa, Mas. Hitung-hitung bantu sesama, sekalian olahraga Hehehe!” Srini nyengir tanpa rasa bersalah.
Kenzo menggeleng pelan. “Tapi dari pertarungan ini aku sadar, di atas langit masih ada langit. Aku harus bertapa dan memperdalam ilmu. Pasti ada musuh yang jauh lebih kuat nantinya.”
Srini mengangguk penuh semangat. “Wah, bagus itu, Mas! Aku juga mau memperkuat diri. Sakit hati dedek liat Mas terluka, sementara dedek nggak bisa ngapa- ngapain!” katanya dramatis, matanya berkaca-kaca seperti sedang audisi sinetron.
Maya yang berjalan tak jauh di belakang menyeletuk dengan nada mencibir, “Dedek-dedek, muka udah kayak nenek peot gitu sok-sokan dipanggil dedek.”
Srini langsung berbalik dengan tatapan menusuk. “Dih, syirik banget lontong basi satu ini! Makanya cari cowok biar bisa dipanggil dedek juga!”
Maya mendengus kesal. “Mending jomblo daripada kayak kamu, dikira pasangan pocong sama manusia.”
Srini tidak mau kalah. “Yaelah, jomblo akut sok bangga! Kalau aku pasangan pocong, kamu itu lontong lebaran. Habis bulat banget kayak lontong sayur!”
Maya mendelik tajam. “Eh, yang penting aku cantik alami, bukan editan kayak kamu yang kena filter aja masih kalah sama tembok!”
“Filter? Aku mah nggak butuh filter. Muka kamu tuh udah kayak tembok retak kena gempa!” Srini balas mengejek sambil mempererat rangkulannya pada Kenzo.
“Udah-udah, kalian ini bisa nggak sehari aja nggak ribut?” Kenzo menghela napas panjang, kelelahan dengan tingkah mereka berdua.
Srini dan Maya kompak menjawab, “Nggak bisa!”
Perdebatan mereka terus berlanjut sepanjang perjalanan, sesekali membuat anggota pasukan yang lain tertawa kecil.
Gawandra, gendruwo peliharaan Kenzo, ikut menimpali dengan tawanya yang berat dan menggelegar. “Wah, Maya sama Srini ini lebih serem daripada pocong tadi malam, ya?”
Srini langsung menunjuk Gawandra. “Diem, Gawandra! Kalau nggak mau aku keramasin pake shampo bunga tujuh rupa!”
Maya ikut menimpali, “Bener tuh, rambut lo udah kayak sarang burung!”
Gawandrar pura-pura ketakutan. “Ampun, Bos! Jangan gitu, nanti aku jadi ganteng trus banyak pocong cewek ngejar!”
Kenzo hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Meski lelah dan terluka, suasana riang dari perdebatan mereka sedikit mengurangi beban pikirannya. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, meskipun tantangan yang lebih besar mungkin sudah menunggu di depan mata.
setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di hutan wingit.
feed back la yaa😍