Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selembar Kertas
"Dear Kakek dan Nenek..
Sebelumnya.. Maafkan Sienna ya kek, nek..
Selama ini Sienna hanya bisa selalu merepotkan kalian, selalu membebani kalian.. bahkan saat ini di mana seharusnya Sienna berusaha membahagiakan kalian, membanggakan kalian, dan memberikan kalian hadiah-hadiah manis..
Malah memberikan lagi beban yang bahkan lebih berat dari sebelumnya..
Sienna gak mau repotin kalian lagi..
Sienna akan cari kehidupan yang lebih baik dari ini, tanpa membebani kalian, kakek dan nenek, mau pun ayah dan ibu..
Terimakasih selama ini kalian sudah sangat baik merawatku, maafkan Sienna yang bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri..
Semoga kalian selalu bahagia dan sehat.
Doakan juga Sienna agar selalu bahagia di sana ya kek, nek..
Sienna sayang kalian!
Sampai jumpa lagi di Jerman, kesayanganku!
Love,
Sienna"
Tania jatuh terduduk di lantai setelah melihat isi dari surat itu, ternyata Sienna sudah pergi. Ia merasa ini semua salahnya, pasti kepergian Sienna karena pernikahan kakaknya itu, dan Sienna pasti sangat kecewa padanya.
Tak pikir panjang, Tania langsung menelepon Akshan, karena dirasa Akshan pasti bisa membantunya. "Halo kak, lu dimana? Bisa ketemu gak sekarang?"
"Iyah dek, ini masih di hotel tempat tadi acara, kenapa?"
"Sienna kabur, bantuin gue cari dia dong!" ucap Tania dengan perasaan yang sudah tak tenang.
"Hah?! Ya udah ayo.."
"Kita ketemu di rumah aja deh kak, gak enak kalau di tempat lain!" kekalutan sudah memenuhi bathin Tania. Ia tak pernah mengira bahwa sahabatnya itu akan melakukan hal senekat ini.
"Ok, kakak ke rumah sekarang!"
Panggilan terputus. Tania mengambil sepucuk surat dan amplop kecil itu kemudian bergegas keluar. Gadis itu tidak lupa pamit dulu pada bi Inah, kemudian melajukan mobilnya membelah kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.
Begitu pun dengan Akshan, setelah berpamitan dan meminta maaf karena tak bisa mengikuti acara tersebut sampai selsai, terlebih lagi itu adalah acara penting untuk keluarga besarnya.
Tapi lalaki dengan tubuh berotot itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tanpa menghiraukan kekecewaan dan ucapan yang menyayangkan tindakannya itu. Banyak di anatara mereka yang spontan mencemoohnya, tapi sekali lagi Akshan tak peduli.
"Deeeek! Taniaaaa..!" Akshan langsung teriak mencari keberadaan adiknya saat memasuki rumah mewah milik keluarganya. Tapi ternyata Tania sedang duduk bersila di atas kursi ruang tamunya, memegang selembar surat dan memainkan bibir bawahnya.
"Di sini kak, gak usah teriak-teriak!" ucap Tania yang justru melawan ucapannya sendiria, ia meneriaki kakaknya yang terlihat sedang kelimpungan.
"Kenapa Sienna? Apa maksudnya kabur?" tanya Akshan dengan terengah-engah. Ia masih belum mencerna ucapan adiknya yang memang tidak terlalu jelas tadi.
"Nih.. lu baca aja!" Tania memberikan selembar surat yang ditulis tangan oleh Sienna, Akshan meraih kertas itu dari tangan sang adik.
"Gue butuh bantuan lu kak, tabungan gue gak cukup kalau gue harus ke Jerman terus ke Paris. Lu tau sendiri kemarin gue jalan-jalan keliling Indonesia pake tabungan gue sendiri" lanjutnya dengan nada kesal.
Akshan terus membaca isi surat Sienna, mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi masih teka-teki, ia belum puas menemukan jawaban kenapa Sienna sampai melarikan diri ke Jerman.
Lagi-lagi surat itu diremas, kali ini giliran Akshan yang melakukannya. Dia tak habis pikir dengan pikiran Sienna, kenapa gadis itu sampai berbuat sejauh ini. Akshan kalut, mengacak rambut dan wajah frustasinya tergambar jelas. Walau masih wajah tampan lah yang mendominasi wajahnya, sekacau apa pun ia sekarang.
"Terus yang di tangan lu itu apa?" Akshan melihat amplop yang sedari tadi berada di tangan Tania.
"Oh, ini? Gue juga belum liat sih.. belum gue buka soalnya" Akshan langsung menarik amplop berwarna cokelat itu dari tangan Tania dan segera membukanya. Keningnya berkerut-kerut melihat selembar kertas hitam putih.
Bentuknya seperti sebuah klise jaman dulu, tapi tidak, ini terbentuk dari kertas foto, namun ia tak mengerti apa yang sedang dipegangnya itu, yang ia tahu hanya terdapat nama Sienna di sana.
"Kenapa sih kak? Itu apaan emang?" Tania penasaran, kemudian ia berdiri merapat ke samping Akshan.
"Oh my God! Sienna hamil?!" Tania berteriak histeris membuat Akshan mengejat, sedikit mengangkat tubuh dari duduknya.
"Hamil?" tanyanya dengan hati yang sudah dah dig dug.
"Iyah, ini foto hasil USG kak. Gue yakin ini foto USG, gue sering liat yang kayak gini di TV atau film di bioskop!" jelas Tania pada Akshan yang masih seperti tak percaya dengan perkataan adiknya.
"Ini ditulis namanya Sienna Ann Lovelace.." Tania menunjuk-nunjuk selembar foto itu dan menggerak-gerakkan jarinya seperti sedang menghitung.
"Astaga! Usia kehamilannya 10 week. Hah?! Berarti ini waktu antara dia masih di Jerman atau baru berapa hari di Indonesia!" Tania kaget mengetahui hal ini, tapi Akshan jauh lebih terkejut lagi.
Akshan kalut, ini semua karenanya, ini semua disebabkan oleh aksi bejatnya. Sekarang Sienna sedang mengandung anaknya, tapi dia malah menikahi wanita lain. Ia merutukki kebodohannya sendiri. Akshan pun duduk dan mulai membuka benda pipih yang dia ambil dari saku dalam jasnya.
"Cha, cancel semua kegiatan gue besok dan tiga hari ke depan! Terus pesenin tiket ke Jerman untuk penerbangan paling pagi!" ucap Akshan yang menjadi sebuah hardikan untuk Raisa yang menerima titahnya.
*"Wah*.. Gak bisa boss, besok sampe lima hari ke depan jadwal boss padet, dan semuanya penting, boss harus ketemu sama petinggi-petinggi banyak perusahaan" balas Raisa panjang lebar dengan setumpuk pekerjaan yang menanti diselesaikan oleh Akshan sang boss besar.
"Aaaaaarrrrght!" Akshan langsung membanting handphonenya dengan kasar hingga benda pipih berwarna biru itu retak seribu.
Tania sangat terkejut, ia tak pernah melihat kakaknya semarah dan sekacau ini, bahkan sampai membanting barang. Ia tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan dan mereka pun diam dalam pikirannya masing-masing.
"Ya udah kak, gue berangkat sendiri aja" ucap Tania lirih.
"Gak, kita tetep berangkat besok, lu beli tiketnya sekarang" titah Akshan dengan nafas memburu.
"Tapi kak..." Akshan melotot dan semakin membuat nyali Tania menciut. "O.. okay.." ia mulai menurut pada perintah kakaknya dan mulai mencari tiket untuk mereka berdua. Setelah dapat, ia langsung memperlihatkannya pada Akshan.
"Tiket untuk pagi habis kak, jadi dapetnya yang sore, gapapa kan?" tanya Tania dengan penuh hati-hati. Jantungnya masih terus berdebar kencang melihat kakaknya yang terlihat marah.
Ia tahu bahwa Akshan sangat menyayangi Sienna, pasti kakaknya itu juga merasakan kekecewaan yang sama dengannya saat ini. Tanpa ia duga bahwa alasan kemarahan Akshan tidak lah sama seperti apa yang Tania bayangkan.
"Ya udah gapapa, kamu beresin barang-barang kamu yah. Habis dari Frankfurt kamu langsung pulang ke Paris"
Tania mengangguk dan beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Akshan masih duduk termenung di atas kursi yang menopangnya. Akshan harus segera menemui Sienna dan mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat.
------
Walau sepertinya rintangan untuk Akshan tak akan semudah yang kalian bayangkan, Esmeralda!
Berhasil atau tidak? Baca terus yaaahh 😘
Dukung juga dengan LIKE, KOMEN, VOTE, sama klik tombol FAVORITnya ya sayang 🥰❤️