Maureen Fredelia, di kenal dengan sebutan Delia. Gadis berusia 18 tahun itu harus terpaksa menikah dengan seorang Brian Andreas Haidar! Pewaris sah dari Grup HDR.
Brian adalah sosok yang tidak ia kenal, tidak ia suka, dan tidak akan pernah bisa menjadi patner dalam hidupnya. Namun karna perjudian yang di lakukan oleh neneknya, membuat hutang keluarga mereka menumpuk. Dan akhirnya ia terpaksa menikah dengan lelaki itu.
Masuk dalam keluarga kaya membuat kehidupan Delia berubah sepenuhnya. Menjadi gunjingan teman teman dan tetangganya masih belum cukup untuk mengawali penderitaannya.
Delia harus banyak terluka karna mengenal seorang keluarga Andreas. Dan menjadi target baru untuk para pesaing bisnis keluarga tersebut bum lagi citranya yang begitu buruk di dalam masyarakat.
Namun Delia bukan Delia jika tidak sekuat baja. Delia memang kuat. Namun jalan terjal yang ia lalui juga bukan persoalan yang gampang untuknya.
Mampukah Delia bertahan di dunia keras itu? Yuk.. simak terus kelanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Qila sedang asyik menyirami tanaman yang ada di depan rumahnya. Tiba tiba saja sebuah motor berhenti di belakangnya.
Lelaki dengan helm teropong itu menatapnya sejenak lalu menyodorkan sebuah kantung kresek padanya.
"Ini apa ya mas?" Seru Qila kebingungan.
"Kasih kakak lo! Gue cabut" seru lelaki itu dan langsung melesat bersama dengan motornya. Pergi dari pekarangan rumah tersebut.
Qila pun membuka bingkisan tersebut dan nampaklah sekotak martabak manis spesial disana.
"Wewww! So sweet deh" serunya sambil menutup kembali kotaknya dan segera memberikannya pada Delia yang sedang sibuk mengerjakan PR di dalam kamarnya.
"Apaan nih?" Seru Delia menyambut bingkisan makanan tersebut dengan senyuman lebar.
"Ada fans kakak yang ngirim. Habisin! Adek minta tapi ya ehehehehe. Ongkos kurir" ucap Qila dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Delia mencebik "Ambil piring sana! Sekalian kasih emak sama bapak"
"Ay yay kapten" Qila pun melakukan perintah kakaknya dan lekas turun dan mengambil piring di dapur.
"Bapak pulang anak anakkk... yuhuuuuu!" Seru Damar, ayah Delia dan Qila, berjalan masuk kedalam rumah dengan sebuket bunga matahari dan sebuah bingkisan nasi bungkus di tangan lainnya.
"Ayah pulang pagi! Itu bawa apa yah?" Tanya Qila menghampiri Ayah tersayangnya dengan senyum mengembang.
"Makanan mulu nih adek! Piringnya gak di bawa bawain ke atas. Kakak kan udah pengen makan ini" omel Delia turun dari kamarnya dan menghampiri kedua orang yang masih asyik mengobrol.
"Ehehehehehe ya makan aja dulu kak. Nanti sisain buat yang lain" sahut Qila enteng.
"Mana boleh gitu. Gak sopan! Orang tua kok di sisa sisain gitu" tutur Delia dengan memindahkan sebagian martabak tersebut ke atas piring.
"Itu apa kak? Udah makan belum kamu?" Tanya Damar mendekati anak tertuanya
dan membelai puncak kepalanya sayang.
"Udah yah! Nih martabak spesial. Tadi ada yang kirimin!"
"Owhhh kakak udah ada pacar sekarang?" Tanya Damar santai.
Tapi Delia malah mendelik mendengar perkataan Bapaknya itu "Pacar pacar. Lulus aja belum malah pacar pacaran. Engga ada lah yah. Fans aja ini mah"
"Fans? Tumben sampai kirim begituan. Siapa sih emangnya nak?"
"Gak tau. Qila tuh yang nerima"
Damar menatap anak keduanya dengan tatapan bertanya. "Dari kak Brian!" Sahut Qila membuat mata Delia membulat lebar.
"HAH? Nagapain tuh anak kirim beginian? Bohong kan dek!"
"Mana boleh bohong!" Cibir Qila.
Delia syok se syok syoknya. Dia langsung berlari naik ke atas dan mengambil ponselnya. Mencari ig Brian yang kemarin meminta follback dari dirinya.
@DelaMaureen. "Lo kirim makanan ke gue?"
Lama menunggu balasan dm itu. Delia pun tertidur dengan menggengam ponselnya.
Kkkkkrrrriiiiingggggggg........
Jam baker tiba tiba berbunyi. Delia langsung terlonjak. Air liurnya terasa basah di sudut bibirnya dan punggungnya terasa sakit karna ia tidur tengkurap.
"Aduhhh punggung gue" keluh Delia bangun duduk di atas ranjangnya dengan menekan nekan tubuh bagian belakangnya. Segera mematikan jam bising tersebut dan beranjak turun ranjang untuk pergi mandi.
Tok..tok..
"Sapaaaa!" Teriak Delia dari dalam kamar mandi.
"Ada yang jemput di bawah! Buruan makan terus samperin gih" jawab Qila dari luar kamar tersebut.
Delia yang mendengar itu sontak mencebik.
"Apa apaan sih ini! Kemaren juga tidur gue berasa bentar banget! Ini lagi tiba tiba di jemputin. Siapa lagi coba. Buat kesel aja" dumel Delia sambil buru buru menyiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah.
Setelah beberapa saat Delia keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dan menghampiri keluarga kecilnya yang sedang menyantap makanan dengan tenang.
"Pagi!" Sapanya mencium kedua pipi orang tuanya sayang.
"Pagi sayangnya mama! Di depan ada pacar kamu tuh! Dua! Bertiga sama Dean" seru Winda disertai kikikan menggoda anaknya.
Delia membelalakan matanya "Kata satu! Kok beranak pinak sekarang?" Kejut Delia segera mengambil sepotong roti bakar yang telah di
beri selai oleh sang ibu.
"I dont know! Buruan ke depan. Nih bawain roti buat mereka. Sapa tau belum pada sarapan kan?!" pinta Winda menyodorkan sepiring roti bakar.
Delia menerimanya dan lekas ke luar rumah. Masih dengan telanjang kaki! Hanya beralasan kaus kaki putih, ia berjalan menghampiri ketiga lelaki itu.
"Mau apa pagi pagi kesini semua? Bantuin emak gue nyuci piring kah?" Seru Delia auto judes.
Roti yang ia bawa tadi pun tak ditawarkannya pada mereka, melainkan ia lahap sendiri dengan rakus.
"Jemput lo" serempak Brian dan Ryon sementara Dean sudah bersungut sungut di antara keduanya.
"Terus lo kenapa?" Tanya Delia pada Dean.
"Kaki belum sembuh! Wajib nebeng gue. Lupa mba?" Judes Dean.
"Owhh iya ding! Masih belum ganti kulit dia. Kalian berdua cabut gih! Gue bareng sama Dean aja kek biasanya" tungkas Delia memutuskan.
Brian dan Ryon menghembuskan nafas kesal "Suit! Biar adil dong" kata Brian.
"Tau nih! Kita juga kesini jauh jauh tau" tambah Ryon.
Delia menghela nafasnya kasar "Yang nyuruh siapa? Gue gak minta! Dan buat lo Brian. Sekolah lo sama gue kan beda arah! Terus kenapa lo jemputin gue kesini?"
"Namanya juga berjuang! Basipun sekolah lo di pucuk daun teh pegunungan juga bakal gue anterin" jawabnya lawak.
Lagi lagi Delia menghela nafasnya kasar "Pokoknya gue bareng Dean titik! Kalian berdua cabut aja. Lo juga Ryon! Baru kenal seminggu udah lengket amat kek lem! Risih gue" protes Delia kesal saat mengingat bagaimana perilaku Ryon yang benar benar memperlakukan dirinya seperti induk ayam. Kemana Delia pergi, Ryon akan selalu mengikutinya seperti truk gandeng.
"Gitu? Jadi lo risih sama gue? Padahal yang ngejar gue banyak! Tapi gue malah ngejar ngejar lo! Gini ya rasanya berjuang. Gak enak!" Curhat Ryon sedih.
Delia memutar bola matanya malas "Udah cabut sana berdua" usir Delia sambil mendorong punggung kedua lelaki itu agar cepat pergi dari pekarangan rumahnya. Alhasil keduanya pun mengalah dan segera enyah dari rumah Delia.
...🐢 🐢 🐢...
Brian duduk di perpustakaan dengan beberapa tumpukan buku di depannya.
Jangan salah guys! Itu bukan novel, komik atau apalah buku yang sering mengisi waktu luang para murid murid lainnya. Itu adalah tumpukan buku pelajaran tentang psikologi, teknologi dan geografi.
Brian sangat suka buku buku itu. Walau buku seperti sangat membosankan untuk yang lain, tapi bagi Brian buku semacam itu malah lebih menyenangkan karna akan menambah wawasannya.
"Kakak Brian!" Seru seorang lelaki, sepertinya itu adik kelasnya.
"Hum?" Sahut Brian dengan pandangan masih fokus pada bukunya.
"Di panggil Miss Ainun di ruangannya kak"
Brian pun mendongkak mendengar tantenya itu tumben tumbenan memanggil dirinya, apa lagi saat mereka berada di sekolahan. Brian langsung menutup bukunya dan bangkit.
"Owhh okey! Makasih" Brian pun beranjak pergi dari ruangan tersebut.
Ia berjalan ke kantor bibinya, Ainun, yang selaku bendahara sekolahnya tersebut.
Tok tok..!
"Masuk!" Seru suara wanita dari dalam.
"Ada apa miss? Tumben cariin Brian?" Tanya Brian sambari duduk di sofa yang di sediakan untuk tamu.
"Miss mau minta tolong!"
"Iya?"
"Gini! Beberapa hari yang lalu sekolah papa kamu ajukan acara festival seni. Kamu kan ketos! Jadi miss bilang ke kamu. Tolong sampaikan ke osis lainnya buat persiapan acaranya!"
"Owhh..iya deh siap miss! Tumben ada acara kolaborasi gini? Bagus sih tapi menantang banget soalnya kan kerja samanya, sama sekolah luar ya?!"
"Iya sih! Miss juga liatnya mungkin bakal ribet tapi acaranya juga bakal digelar besar besaran. Kepala sekolah bilang, mumpung tanggalnya bertepatan sama ulang tahun sekolah jadi sekalian yang meriah" jelas Miss
Ainun hanya mendapat anggukan kepala dari Brian.
"Kalo gitu ini proposalnya Brian bawa! Terus ada kontaknya ketos nya SMA Sejahtera kah? Biar nanti kita enak kalo mau buat jadwal rapat buat bahas ini!"
"Ada! Mereka juga cantumkan alamat email sama data data yang di perlukan di dalam map! Sekertaris osis nya pinter buatnya. Detail dan rapi. Jadi mungkin kalian gak bakalan kesusahan pahamin acaranya"
"Owhh gitu! Ya sudah kalo gitu Brian pamit Miss. Selamat siang" ucap Brian keluar dari ruangan tersebut. Miss Ainun pun hanya tersenyum ramah melihat kepergian anak didiknya tersebut.
d tggu upnya kakak..
semangat terus, karyamu selalu yang terbaik..
D tggu feedback nya yaa..
salam hangat dari :
***. KEAJAIBAN CINTA KESYA
***. MR.PERWIRA vs MANTAN PREMAN