Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Sarapan dulu, Kak," ucap Arini pada sang putri yang baru saja bergabung di meja makan.
Tanpa menjawab Aya duduk di kursi tempat biasanya. Wajah gadis itu masih ditekuk. Sepertinya masih kecewa perihal tadi malam.
"Bun..." panggil Alif yang baru saja keluar dari kamar. Muka bantal dan bekas iler yang ada dipipinya membuat bocah gembul itu terlihat lucu. Ia berjalan dengan mengusap kedua matanya secara gantian.
"Ganti popoknya dulu ya, Lif," ucap Arini. Wanita itu mengajak Alif kr kamar mandi yang ada dikamarnya. Ia juga membuka satu per satu pakaian sang putra.
"Ndak mau mandi," ucao Alif sambil menggelengkan kepalanya. Bahkan bocah itu ingin berlari meninggalkan bundanya.
"Ngga mandi kok. Cuma bebersih aja," kata Arini membujuk. Namun ucapan Arini hanya bualan.
Wanita itu sekalian memandikan Alif. Drama setiap pagi si bungsu, tidak mau mandi dengan alasan dingin. Namun setelah dipasangkan baju dan diberi susu, mata bocah itu akan terang kembali.
Bahkan tak jarang Alif akan tertidur lagi. Arini hanya ingin ketika ia berangkat kerja dan menitipkan anaknya pada sang nenek, neneknua tak perlu memandikan. Biarlah itu tetap menjadi tugas dan tanggung jawab Arini.
Arini keluar dari kamarnya. Sudah ada Adit dan Amak juga disana. Setelah mendudukan Alif di kursi miiknya, Arini kembali masuk kamar unruk mengganti bajunya.
Sarapan sudah siap, kini Arini, Adit, dan juga Aya harus berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing. Aya masih dalam mode diamnya. Jujur Arini merasa sedih. Ingin berjanji namun ia tidak dapat menepatinya. Akhirnya ia hanya membiarkan dan berharap sore nanti sepulangnya bekerja suasana hati putrinya itu sudah membaik.
"Sepertinya aku harus beli buku gambar dan pensil warna lagi untuk membujuknya," batin Arini.
Putrinya itu memang hobi menggambar. Biasanya setelah diberi buku gambar dan pensil warna, suasana hatinya jadi baik. Maklum, perempuan memang begitu. Harus dibujuk dengan kesukaannya.
"Jangan nakal ya. Adit," ucap Arini ketika mereka sudah tiba di TK tempat sekolah Adit.
"Adit ngga pernah nakak kok, Bun," jawab Adit.
"Bunda percaya." Arini mencium kening putranya itu dan dibalas dengan Adit yang mecium tangan Arini.
"Dadah Bunda," ucap Adit ketika turun dari mobil.
"Dah sayang," balas Arinj.
Arini kemudian melanjutkan perjalanannya menuju sekolah Aya yang jaraknya tak terlalu jauh darj sekolah Adit.
"Nanti kakak nunggu jemputan jangan jauh-jauh, ya. Kemarin Bude nya telfon Bunda bilang lama nunggu kakak," nasihat Arini pada Aya.
"Iya, Bun," jawab Aya sendu.
"Kakak kenapa? Kok ngga semangat?" tanya Arini dengan lembut. Ia juga mengelus pelan kepala putrinya itu.
"Tidak ada, Bun," jawab Aya.
"Maafin Bunda, ya. Sebagai gantinya minggu kita ke mall sama adek. Sudah lama kita tidak pergi jalan-jalan kr mall. Gimana?" tawar Arini.
Aya diam menanggapi tawaran Arini dan hal ini membuat Arini menjadi bingung.
"Kak," panggil Arini.
"Kalau nanti beli pensil warna lagi sama buku, boleh tidak?" cicit Aya setelah diam beberapa saat.
"Ya tentu saja boleh. Bunda sudah gajian minggu itu. Jadi kakak bisa beli pensil warna keinginan kakak," ucap Arini.
"Yee... Terimakasih, Bunda." Aya memeluk sebelah tangan Arini hati-hati.
"Iya, sayang Bunda."
Aya termasuk anak yang sangat peka. Apalagi sejak ayahnya tiada. Tau jika yang mencari nafkah sekarang hanyalah sang ibu membuat Aya sangat hati-hati mengutarakan jika sedang menginginkan sesuatu.
Ia sangat takut jika memint suatu barang dan hal itu akan memberatkan bunda tercintanya. Ia cukup sadar diri. Dirinya dan kedua adiknya bukanlah berasal dari keluarga kaya. Jadi tidak seharusnya ia bebas meminta sesuka hatinya.