Albert Fernando laki laki yang sangat kaya raya menikahi Danisha Atmanegara, gadis cantik yang bekerja di klub malam...
Awal pertemuan yang kurang tepat membuat Albert maupun Danisha saling membenci
Awal pernikahan yang menyakitkan pun di rasakan Danisha karena Albert sang suami sering merendahkannya dan menghinanya,
Namun dengan berjalannya waktu ,Danisha pun mulai terbiasa dengan sikap acuh Albert padanya,
Meskipun begitu perhatian lebih pun selalu di curahkan Albert untuk Danisha, semakin hari Albert semakin bingung dengan perasaan nya untuk Danisha.
''Apakah ini yang di namakan cinta, apakah aku menikahi karena cinta? ''itulah yang selalu ada di dalam hati Albert.
Masih ada tokoh di belakang yang tak kalah unik yang harus di patuti jempol, siapa lagi kalau bukan mely sang sahabat ,
Bahkan Mely pun menikah dengan orang yang juga dingin dan angkuh,
''Apakah semuanya akan berujung bahagia, mengingat perjuangan mereka yang sama sama menghadapi pria angkuh? ''
Kalau penasaran kita baca yukkk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# 11
Danisha dan Mely masih saja bersantai di taman menunggu jam kelas mereka yang belum waktunya tiba, mereka saling mengobrol ,dan sesekali melihat buku yang selalu di bawanya, karena keinginannya menjadi orang sukses dan bisa bekerja dengan layak Danisha tak pernah berhenti untuk belajar dan belajar, kesibukannya bekerja di klub malam pun tak menjadi halangan, meskipun sesekali harus merasa ngantuk dan lelah.
''Danisha, Mely kalian di panggil dosen di kantor, ucap salah satu maha siswa, dari bekang Danisha.
Mely pun mengangguk anggukkan kepalanya.
Kenapa lagi nih ,perasaan gue nggak punya salah ,masa di hukum lagi sih, itulah yang ada di pikiran Danisha saat ini.
''Nisha, ayo,jangan bengong saja, Mely pun sudah berdiri dan siap untuk memenuhi panggilan.
Dengan santainya mereka berjalan menuju ruangan yang di tuju.
Seperti tak akan terjadi apa apa pada mereka berdua.
Tok tok.. rok... Ketukan pintu dari tangan Danisha membuat para dosen memandang kedatangannya.
''Masuk Nisha, Mely,salah satu dosen pun mempersilahkan dengan ramah.
Danisha dan Mely kikuk melihat para dosen yang berkumpul seperti sidang dan siap mengintrogasi.
Ada apa ini kok semuanya berkumpul, batin Danisha.
Sedangkan Mely masih santai berdiri di samping Danisha.
''Kalian duduklah dulu, kami akan memberi taukan sesuatau, yang sangat penting, jadi dengarkan kami baik baik, ucapan serius itu membuat Danisha dan Mely saling pandang.
Bahkan mereka berdua pun tak bisa ngomong apa apa selain ada rasa takut dalam hati masing masing saat ini.
Setelah keduanya duduk, pak Lektor mulai bicara.
''Kami sebagai pihak kampus merasa sangat kecewa pada kalian yang tidak jujur pada kami, menjeda, ''Untuk saat ini kami sudah tidak bisa mentoleransi kalian untuk kuliah disini lagi karena pekerjaan kalian, bukankah kalian tau peraturan disini, Tapi kalian masih saja melanggarnya, dan ini sudah di ketahui pemilik kampus, jadi dengan sangat sangat terpaksa kami mengeluarkan kalian. ucap pak Lektor dengan jelas.
Lemas, tidak percaya, bahkan seperti di hantam benda tumpul yang membuat tubuhnya kaku, itulah yang saat ini Danisha dan Mely rasakan, dari awal pembicaraan pak kepala, Danisha dan Mely pun sudah mulai berkaca, apa lagi sampai di poin akhir, itu membuat mereka sangat hancur, Danisha menyeka air matanya yang keluar, namun Danisha mencoba kuat dan bertahan untuk tidak lemah di hadapan orang orang.
Sedangkan Mely sudah terisak dan mendaratkan kepalanya di pundak Danisha.
''Maaf pak, apa saya boleh bicara, permintaan Danisha di anggukkan oleh para dosen.
''Saya tau saya salah, tapi apa bapak dan Ibu tidak bisa memberi kesempatan untuk kami, sekali saja, kami akan keluar dari sana dan mencari pekerjaan lain, dan saya janji saya tidak akan mengecewakan bapak dan ibu semua, dengan menagkupkan kedua tangannya.
Para dosen saling pandang belum tau lagi langkah apa yang akan di ambil setelah permintaan Danisha.
''Tenang Mel, gue akan mencoba cari cara supaya kita bisa kuliah lagi, bisik Danisha.
''Tapi kami tidak bisa memenuhi permintaan mu, kalau kamu mau, kamu bisa bicara sendiri dengan pemilik kampus, itupun kalau beliau mau mendengarmu, salah satu dosen sedikit membuat Danisha lega.
Danisha mengangguk naggukkan kepalanya tanda setuju, meskipun mereka tidak bisa memutuskan setidaknya masih ada cara lain ,yaitu menemui pemilik kampus.
Gue akan berjuang Mel, gue akan bicara pada pemilik kampus ini untuk memberi kita kesempatan, batinnya.
''Baiklah pak, saya minta alamatnya, dan saya akan segera ke sana.
pak Lektor memberi sebuah alamat dan di berikan pada Danisha.
''Terima kasih pak, saya permisi, ucap Danisha dan buru buru keluar dari ruangan yang membuatmya panas itu.
''Mel, lo pulang saja, biar gue yang ke sana sendiri, gue yakin gue akan berhasil, dan kita bisa kuliah lagi, doakan gue, Danisha mencoba meyakinkan Mely supaya tidak sedih lagi,
''Lo yakin akan pergi sendiri Nis, ?''
''Gue yakin ,pokoknya lo tenang saja, lagi lagi Danisha mencoba meyakinkan Mely.
Mereka berpelukan, Mely dengan isakannya mengatakan hati hati untuk Danisha, sedangkan Danisha hanya menepuk bahu Mely yang masih bergetar karena tangis.
''Gue pergi ya, lo langsung pulang saja, gue pasti akan membawa kabar baik, ucap kembali sebelum mereka berpisah.
Danisha melihat alamat yang di berikan oleh dosen, ''Tidak terlalu jauh, gumamnya dengan menunggu angkot,
Dalam perjalanan, Danisha selalu saja merutuki nasib baik yang tak selalu memihak kepadanya,
Ma, pa ,kenapa semua ini terjadi padaku, aku hanya ingin di hargai, gue harus bisa melewati ini semua, semoga gue berhasil, itulah saat ini yang ada dalam hati seorang Danisha atmanegara.
Danisha menutup wajah cantiknya itu dengan kedua tangannya, ada sedikit penyesalan kenapa bisa dirinya tak memikirkan akibat dari pekerjaannya itu,.
''Sudah sampai Non ,ucap sang supir saat angkot berhenti di tempat yang di tujukan Danisha.
Danisha turun dan melihat rumah yang sangat besar bak istana sambil melihat lagi alamat yang tercantum dalam kertas yang di bawanya.
''Benar, katanya sendirian.
Danisha melihat beberapa laki laki memakai baju hitam yang berada di balik gerbang.
''Ini rumah apa istana, bagus sekali, tapi apa pemilik kampus ini mau mendengarku ya, sedikit menciut,.
Ayo Danisha kamu pasti bisa .menyemangati dirinya sendiri.
Danisha mendekati gerbang yang sangat tinggi di depannya.
''Permisi, teriak Danisha pada satpam yang ada di pos namun sedikit jauh,.
Karena berulang ulang memanggilnya, akhirnya satpam itu berjalan menghampiri Danisha.
''Ada perlu apa Nona ke sini?'', Satpam pun dengan ramah bertanya pada Danisha.
''Maaf pak, saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini, apa orangnya ada, tanpa basa basi.
Satpam itu melihat jam yang melingkar di tangannya.
''Wah, kalau jam segini tuan muda belum pulang, karena kami juga tidak tau pasti Nona, pulangnya kapan, terkadang juga beliau lembur, perkataan Satpam membuat Danisha mengangguk anggukkan kepalanya,
''Maaf pak, ini sangat penting, apa bapak tidak punya no ponselnya atau tidak, tempat kerjanya mungkin.
Danisha masih saja mencari cara untuk tetap bisa menemui orang yang di tuju.
''Maaf Nona, kami di sini cuma kerja, dan dari para penjaga dan kami satpam serta para pelayan di dalam tidak ada yang berani mengusik tuan muda ,dan kami pun tidak di wenangkan memberi no telepon ke sembarangan orang.
Akhirnya Danisha diam memikirkan sesuatu,
''Terima kasih pak, kalau gitu saya permisi dulu, Pamit Danisha pada satpam.
Terpaksa Danisha melangkahkan kakinya kembali menjauhi rumah yang yang akan menjadi satu satu nya jalan petunjuk kelanjutan kuliahnya.
Kali ini gue gagal mel ,semoga saja lain kali gue berhasil untuk menemuinya, batinnya
sukses thor
smangat thor
mksh
Lektor....
agk ganggu mb Nad...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa