Patah hati terhebat adalah, mencintai seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini.
Walau 10 tahun telah berlalu, faktanya hati Luna belum mampu merelakan kepergian Evan, kendati 6 tahun sudah ia menjalin kasih dengan Nathan.
Ketika Luna sudah berpasrah dengan takdir diri dan cintanya, semesta seolah kembali berhasil mengaduk perasaannya.
Tiba-tiba ia kembali di pertemukan dengan pria dengan wajah dan suara menyerupai Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
#11
Kebingungan Mike kini berubah menjadi senyuman sinis, “Aku tegaskan sekali lagi pada anda, Nona. Aku tidak tahu, dan juga tidak mengenal pria yang anda maksudkan!! sejak lahir, namaku adalah Michael Bimantara, jelas.”
Bibir Luna bergetar menahan tangis, “dan jangan kamu pikir air matamu ini akan membuatku luluh!!!” Mike benar-benar menegaskan siapa dirinya, kemudian dengan kasar Mike menghempaskan genggaman tangannya. Hingga Luna mundur beberapa langkah, menubruk seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut.
“Berani kamu bersikap kasar pada putriku!!!???”
Suara itu lantang terdengar, laksana gelegar Petir tanpa hujan. Sosok Pria matang dengan ketegasan luar biasa, kini berdiri dengan wajah diselimuti amarah menatap ke arah Mike.
“Siapa anda? Jangan ikut campur urusan kami!!”
“Aku akan ikut campur, karena gadis yang kamu hardik adalah putri kesayanganku!!!”
Aura tenang yang biasanya memancar dari wajah Papa Kevin, kini berubah drastis manakala melihat putri kesayangannya disakiti, dan dibuat menangis sedemikian rupa.
“Sayang, kamu gak papa?” Mama Disya menyusul di belakang sang suami, ia segera memeriksa sekujur tubuh Luna. “Syukurlah … syukurlah … Mama senang kamu baik-baik saja.”
“Hah … jadi setelah tadi siang aku berhadapan dengan Pamannya, sekarang aku berhadapan dengan Papanya?”
Dokter Kevin maju beberapa langkah, “iya, begitulah kami, apa itu jadi masalah?”
Mike tertawa kecil, “baik, apa yang anda inginkan?”
“Tentu saja membawa putriku pulang.”
“Sayang sekali, anda tak bisa membawanya pulang untuk saat ini.”
“Apa hakmu melarangku?”
“Aku berhak melarang, karena untuk saat ini Putri anda harus bertanggung jawab atas perbuatannya.”
Kini giliran Dokter Kevin yang tersenyum sinis, kedua tangannya bahkan sudah ia selipkan di saku celana, karena menahan geram. “Sepanjang pengetahuanku, Putriku sudah cukup bertanggung jawab atas perbuatannya, yang tanpa sengaja menabrak putri anda. Dengan tidak lari dari lokasi kejadian, serta segera membawanya ke Rumah Sakit. Dia juga dengan tulus menunjukkan rasa bersalahnya, menjaga Putri anda hingga selarut ini, apa semua ini belum cukup?!!” Dokter Kevin meluapkan semua uneg-uneg nya, sejujurnya siang tadi ia sudah cukup gerah, ketika mendengar semua cerita tentang tragedi yang menimpa Luna dari Dokter Juna.
Mike terdiam, ia pun membenarkan perkataan Dokter Kevin. Tapi ia juga ingin menjaga mental Pelangi yang masih menganggap bahwa Luna adalah Mamanya.
“Kenapa kamu menahan Putriku agar tetap berada di sini?” Dokter Kevin mengubah gaya bahasanya, menjadi bahasa non formal. “Agar kamu bisa memastikan Putri berhargamu tetap baik-baik saja bukan?”
“Maka aku pun sama!!! Putriku sama berharganya seperti Putrimu, jadi daripada kamu berpikir untuk bisa menindasnya. Lebih baik kamu selidiki terlebih dahulu, alasan kenapa Putrimu berada di jalanan seorang diri.”
Dokter Kevin mengakhiri kalimatnya, “ayo sayang, kita pulang.”
Dengan diapit kedua orang tuanya, Luna meninggalkan ruangan Pelangi. Meninggalkan Mike dalam kebingungan, karena beberapa saat kemudian Pelangi mulai merengek.
.
.
Gerbang rumah Dokter Kevin sudah nampak dari kejauhan, tapi Mike justru terdiam meremas kemudi mobilnya. Ia sungguh bingung hendak mulai dari mana, perkara Pelangi ini ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia duga sebelumnya.
Setelah Luna pulang malam itu, Pelangi benar-benar mengajukan protes keras, ia tak mau makan ataupun bicara. Sekalinya buka mulut yang Pelangi hanya marah, dan meminta Mama datang, bukan Mama Valerie calon istri Papanya, melainkan Mama Luna, wanita yang tanpa sengaja menabraknya.
.
“Pelangiii!!! Mama datang!!!” Valerie muncul dari pintu depan, tangannya menjinjing cake vanila strawberry favorit Pelangi.
Melihat kedatangan Valerie, Pelangi segera melipat kedua tangannya di dada. “kenapa dia kemari lagi?” Tanya Pelangi pada pengasuh nya, ia sama sekali tak tergoda dengan kue yang dibawa Valerie.
Namun mbak Yuli hanya diam, karena dirinya memang tak tahu apa-apa perihal kedatangan Valerie.
“Papa yang meminta Mama Valerie datang, sayang.”
“Kan aku sudah bilang, Mamaku bukan dia!!” Jerit Pelangi kesal.
Dan inilah salah satu perubahan yang membuat Mike terkejut, Pelangi tak pernah berteriak sekencang ini di hadapannya. Ia hanya menggeleng jika menolak sesuatu, tak sampai bersuara, apalagi teriak.
“Sayang, hari ini Papa harus keluar kota untuk urusan pekerjaan, jadi Papa meminta Mama Valerie datang menemanimu.” Bujuk Mike.
Pelangi melengos, pertanda ia mengabaikan kalimat sang Papa. Ia kembali berkata dengan tegas, “Mbak Yuli, aku gak akan makan sampai Mamaku datang.”
Gadis kecil itu kembali berbaring, bahkan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. “Gimana ini,Tuan? nona kecil bahkan belum mau makan sejak kemarin pagi,” keluh Mbak Yuli dengan wajah cemas.
.
Dan hari ini sudah hari ketiga Pelangi mogok makan, dan mogok bicara. Bahkan karena pemberontakan Pelangi, Mike tak sempat merealisasikan janjinya dengan psikiater yang akan memeriksa psikologis Pelangi.
Mike menggaruk kasar rambutnya, kini ia terpaksa merendahkan harga dirinya dengan pergi ke rumah Dokter Kevin. Tujuannya?
Tentu saja untuk meminta tolong pada Wanita yang dipanggil ‘Mama’ oleh Putri kesayangannya. Karena hanya itu yang Pelangi minta, agar ia mau makan, bahkan berkonsultasi dengan psikiater.
Dan Mike paling tak bisa melihat gadis kecilnya sakit terlalu lama, karena yang ia miliki hanyalah Pelangi. Gadis itu bukan sekedar Putri berharga baginya, tapi juga teman yang menyenangkan. Karena selama ini kesepian, tinggal dengan Ibunya, tapi wanita itu sibuk kerja, kerja, dan kerja.
Mengenai luka fisik? William Medical Center sepenuhnya bertanggung jawab atas pengobatan Pelangi, walaupun Mike bersikeras ingin membayar secara pribadi semua pengobatan yang Pelangi terima.
Tak lama kemudian, Mike melihat Dokter Kevin melintas usai joging. Dan tak ingin menunggu lama, Mike bergegas keluar dari mobilnya, “Dokter,” panggilan Mike, membuat langkah Dokter Kevin terhenti.
Pria berusia pertengahan 50 tahun itu menoleh, menatap pria muda yang tempo hari bersitegang dengannya. Keduanya saling pandang dalam diam, tapi Mike yang memiliki niat tentu tak demikian. Ia sungguh gugup, bahkan tak tahu, dari mana memulai pembicaraan.
“Iya, Tuan Mike?” Sebagai seseorang yang berkuasa di Rumah Sakit, mata dan telinga Papa Kevin ada di mana-mana, ia mengikuti kemajuan pengobatan Pelangi. Jadi jika sekarang Mike berdiri di hadapannya, Dokter Kevin tak lagi terkejut.
“Saya, ingin meminta tolong pada Putri anda.”
“Untuk?”
“Menenangkan Putri saya.”
“Apa jaminan untuk Putriku, jika dia membantu anda?”
Mike menelan ludah, ia mendatangi rumah Dokter Kevin untuk meminta bantuan, dan sama sekali tidak menyangka jika pertanyaan itu, akan terlontar dari lisan Dokter Kevin.
“Saya hanya meminta tolong pada Nona Luna untuk membujuk Putri saya, dia menolak makan bahkan minum obat. Terkecuali jika Putri anda yang menemani dan memintanya.”
“Sebagai Mama?”
“Apakah anda memata-matai saya?”
“Rumah Sakit, sepenuhnya adalah daerah kekuasaan ku, mata dan telingaku akan memberikan informasi apapun tanpa perlu aku meminta. Lagipula sebagai seorang Papa, aku pun ingin Putriku mendapatkan status yang jelas, bukan sekedar pura-pura menjadi Ibu dari seseorang yang bukan darah dagingnya.” Dokter Kevin menekankan kalimat terakhirnya.
Dan Mike, masih belum bisa mencerna kalimat Dokter Kevin dengan jelas. Niatnya datang hanya ingin meminta pertolongan, siapa sangka jika urusannya jadi serumit ini. “Maksud anda apa, Dok?”
“Nikahi Putriku, atau Putrimu tak pernah mendapatkan seorang Ibu, seperti yang dia inginkan.”
.
.
🤧🤧🤧 dok, itu calon laki orang???
baru runut ke semua nya