NovelToon NovelToon
Dalam Pelukan Dosa

Dalam Pelukan Dosa

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / One Night Stand / Romantis / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”

Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.

Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?


Update hari jumat, sabtu, dan minggu!

Happy Reading, Guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Rumah Sakit

Dinar berjalan mondar mandir di depan pintu ruang rawat VIP rumah sakit. Dia begitu khawatir. Dinar khawatir dengan kondisi Alana dan dengan reaksi kedua orang tua Alana jika tahu Alana hamil. Dokter pasti akan mengatakan hal itu pada orang tua Alana, kan?

“Bajingan! Lo kemana sih, Ray?” 

Dinar merutuki Rayyan untuk yang kesekian kalinya karena cowok itu tidak bisa dihubungi saat genting seperti ini.

“Alana, semoga lo baik-baik aja ya. Gue gak bisa ngelakuin apapun sekarang,” gumamnya pelan.

Di dalam ruang rawat tersebut, Dewi memegang tangan anaknya yang dingin. Kekhawatiran terlihat jelas di raut wajahnya, juga Fadli yang berdiri di samping Dewi. Di depan Fadli dengan terhalang kasur, seorang dokter perempuan berdiri.

“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya Fadli.

“Alhamdulillah anak Bapak dan Ibu baik-baik saja, hanya banyak pikiran, dehidrasi, dan kurang makan saja sehingga asam lambungnya naik.”

“Alhamdulillah,” ucap Fadli dan Dewi bersamaan.

“Bayi yang dikandungnya juga baik-baik saja.”

“Hah?”

Fadli dan Dewi menatap dokter itu bingung. Dokter yang ditatap seperti itu juga ikut bingung.

“Ada apa, Bapak, Ibu?” 

“Bayi, Dok?” tanya Dewi. Jantungnya berdetak kencang.

“Iya, bayi. Anak Bapak dan Ibu saat ini sedang mengandung.”

Fadli dan Dewi saling tatap dengan perasaan yang berantakan, tidak dapat dideskripsikan lagi. Genggaman tangan Dewi pada Alana sampai terlepas.

“Dokter bercanda, mana mungkin anak saya hamil, Dok?” ucap Fadli tidak percaya.

“Maaf, Bapak, saya tidak bercanda. Saya mengatakan apa yang sebenarnya.”

“Gak mungkin, Dok, anak saya gak mungkin hamil. Dokter pasti salah diagnosis. Coba dicek lagi, Dok,” pinta Dewi.

“Baik, Ibu, akan saya periksa lagi. Tapi saya yakin sekali kalau anak Ibu memang sedang mengandung.”

Dokter itu kembali memeriksa Alana. Sedangkan Dewi mendekati Fadli dan memeluknya. Mereka berharap diagnosis dokter itu salah.

“Benar, Bapak, Ibu. Anak Bapak dan Ibu memang sedang hamil, usia kandungannya sekitar 6 sampai 7 minggu. Jika masih kurang percaya, bisa dicek di dokter spesialis kandungan atau di USG.”

Dewi menutup mulutnya tidak percaya. Air matanya mengalir, menangis sejadi-jadinya mendengar perkataan dokter. Dia langsung memeluk Fadli erat.

Fadli yang dipeluk hanya bisa bergeming. Otaknya dengan cepat memutar segala hal yang terjadi belakangan ini, mulai dari Alana yang muntah-muntah, mendadak enek dengan bau telur, pucat, sakit, dan mengatakan padanya bahwa dia melakukan kesalahan.

“Ini kesalahan yang kamu buat, Lana?” gumam Fadli pelan.

Laki-laki paruh baya itu masih tidak menyangka apa yang terjadi. Dia hanya bergeming membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya, sedangkan tatapan matanya tertuju lurus pada Alana yang masih memejamkan mata di atas ranjang rumah sakit.

“Saya permisi Bapak, Ibu.”

Bahkan saat dokter itu pergi, Fadli masih tidak menyadarinya. Dia masih bergelut dalam kekecewaan yang mendalam.

Pintu kamar itu terbuka. Dinar tersenyum sekilas pada dokter, kemudian masuk ke dalam kamar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Dewi yang sedang menangis dalam pelukan Fadli. Tanpa perlu penjelasan, Dinar sudah tahu apa yang terjadi.

“Alana….”

...***...

“Kamu tau kan keadaan Alana, Dinar?” tanya Dewi dengan nada marah pada Dinar. Dinar hanya bisa menunduk. 

15 menit berlalu, Alana belum juga sadar dan Rayyan belum juga sampai. Alhasil Dinar yang menjadi sasaran amukan Dewi. Dinar hanya bisa menunduk, takut melihat wajah Dewi yang memerah marah.

“T-tau, Tante.”

“Sejak kapan kamu tau?” 

“Beberapa hari yang lalu, Tante.”

“Jadi Tante sama Om aja yang gak tahu soal ini. Kenapa kamu gak kasih tau Tante, Dinar. Kamu bolak balik datang ke rumah, tapi gak sekalipun kamu kasih tahu Tante. Tante justru tahu dari dokter. Menurut kamu gimana perasaan Tante dibohongi sama anak Tante dan sama kamu yang udah Tante anggap anak sendiri?”

“M-maaf, Tante.”

Dewi memegang kepalanya yang terasa pusing. Di sisi lain, Fadli hanya bisa diam menatap lekat Alana yang masih memejamkan mata. Tangannya menggenggam erat tangan Alana.

“Lana bukan perempuan seperti itu, Dinar. Dia-dia selalu pergi sama kamu loh. Gimana mungkin hal ini terjadi sama Lana, Dinar? Kenapa kamu gak nyegah Lana?”

Air mata Dewi mengalir membasahi pipinya.

“Dinar kenapa kamu gak nyegah Lana, Dinar? Kenapa kamu biarin semua ini terjadi sama Lana?”

“Maaf, Tante,” cicit Dinar pelan.

Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Dinar. Dinar tidak sanggup berkata apapun lagi ataupun membantah ucapan Dewi.

Tok tok tok!

Perhatian semua pasang mata kini tertuju ke arah pintu kamar yang baru saja terbuka, menampilkan seorang cowok yang berdiri di sana dan seorang perempuan paruh baya di belakangnya, Rayyan dan bundanya.

Rayyan langsung berjalan mendekati Alana yang masih terbaring lemah di ranjang. Dengan Fadli yang sedang mengusap lembut rambut Alana sambil menatapnya lekat.

“Om, gimana kondisi Lana, Om?” tanya Rayyan.

Fadli menoleh pada Rayyan.

“Kamu siapanya Lana?” 

“Saya..

Ucapan Rayyan terhenti. Jantungnya berdetak cepat tidak karuan. Sejak kemarin Rayyan bersikukuh untuk menikahi Alana, tapi melihat wajah ayah Alana, mentalnya langsung ciut. Padahal Fadli hanya bertanya dengan nada tenang. Tapi justru ketenangan itulah yang menakutkan.

Rayyan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

“S-saya… saya ayah dari anak yang dikandung Lana, Om.”

Fadli mendengus pelan, mengalihkan pandangan ke Alana, lalu dalam gerakan cepat, kepalan tangannya sudah mendarat di rahang Rayyan hingga membuat Rayyan terjatuh ke lantai. Perempuan-perempuan yang ada disana memekik tertahan, kaget dengan gerakan tiba-tiba dari Fadli.

“Jadi kamu bajingan yang sudah menghancurkan anak saya!!” seru Fadli marah.

“Saya akan tanggung jawab, Om! Saya mau menikahi Alana!”

Fadli berjongkok, menarik kerah baju Rayyan, kemudian memukul wajahnya berulang kali.

“Dasar bajingan! Brengsek kamu! Berani-beraninya kamu menodai anak saya!”

Fadli melayangkan pukulan berulang kali ke wajah Rayyan hingga membuat wajahnya babak belur, memar dan berdarah di sudut bibir.

“Papa… mama….”

Suara lemah dari bibir Alana berhasil menghentikan perbuatan Fadli. Dia segera bangun dan mendekati Alana. Fadli mengusap lembut kepala Alana, menatap Alana lembut dengan mata yang memerah dan berlinang air mata.

“Kamu udah bangun, Sayang.”

Alana mengedarkan pandangannya. Ada Papa yang tersenyum padanya walau dengan mata yang memerah, Mama yang juga tersenyum walau ada bercak air mata di pipinya, Dinar yang tersenyum tipis padanya, seorang perempuan berhijab yang tidak Alana kenal, dan Rayyan yang wajahnya sudah babak belur dan berdarah.

“Ada apa, Pa? Kok semuanya pada disini?” tanya Alana pelan.

Fadli dan Dewi hanya diam. Mereka bahagia melihat Alana sudah siuman walaupun mereka sedih dan kecewa dengan keadaan Alana saat ini.

Tatapan mata Alana berhenti pada Rayyan yang berada di samping kaki Alana. Wajahnya babak belur dan ada darah segar di sudut bibirnya.

“Ray, kok lo ada di sini?” tanya Alana pelan.

Rayyan berjalan mendekati Alana. “Na-

“Berhenti!” ucap Fadli yang membuat langkah Rayyan terhenti. “Jangan berani-berani kamu dekati anak saya.”

Alana menoleh menatap wajah ayahnya yang terlihat memerah marah, otot wajahnya juga terlihat jelas.

“Papa udah tahu ya kalau Lana sekarang… hamil?” tanya Alana pelan untuk memastikan pemikirannya.

Fadli menghela napas pelan. Menatap lekat manik mata Alana yang sayu. 

“Bener, Sayang, bajingan itu yang melakukan ini ke kamu?” tanya Fadli sambil menunjuk Rayyan.

Alana menatap Fadli, kemudian menatap Rayyan. Takut-takut, Alana mengangguk pelan.

Fadli mendengus kasar, menatap Rayyan tajam, penuh amarah.

“Tapi itu bukan karena kemauan kamu kan, Sayang? Kamu dipaksa kan?” tanya Dewi yang ada di sisi kanan Alana.

Alana diam sebentar, menatap Rayyan. Rayyan mengangguk pelan, mengiyakan Alana untuk jujur.

Alana mengangguk lagi. 

“Brengsek kamu!” seru Fadli. 

Dia berbalik hendak memukul Rayyan lagi, tapi Alana mencegahnya dengan memegang tangan Fadli erat.

“Jangan, Pa,” ucap Alana lemah.

“Tapi bajingan ini udah melecehkan kamu, Lana!”

Alana menggeleng pelan. Air matanya mulai menetes.

Fadli menatap Rayyan sengit. Dadanya naik turun menahan emosi yang memuncak. Ingin sekali Fadli memukul laki-laki yang sudah melecehkan anak perempuan kesayangannya. 

Melihat air mata yang mengalir di mata Alana, Fadli tidak tega. Dia kembali mendekati Alana, mengusap air mata itu.

"Jangan nangis, Sayang," ucap Fadli. "Anak kesayangan Papa gak boleh nangis, gak boleh sedih."

“Papa akan bawa masalah ini ke jalur hukum agar bajingan ini dapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya ke kamu. Iya?” ucap Fadli lagi.

“Anak Lana gimana, Pa?” cicit Alana pelan. “Kalau Rayyan dipenjara, gimana sama anak ini, Pa?” 

Air mata Alana kembali menetes. Dia mengusap perutnya pelan.

“Gugurin anak itu,” ucap Fadli tegas.

“Iya, Sayang, anak itu gak perlu lahir ke dunia ini,” sambung Dewi.

“Jangan, Om, Tante!” seru Rayyan.

“Diam kamu!” bentak Fadli. “Jangan ikut campur!”

“Tapi, Om-

“Saya bilang diam!”

Fadli menatap Rayyan dengan emosi yang memuncak. Tatapan tajamnya membuat Rayyan hanya bisa menutup mulut.

Fadli menoleh kembali pada Alana, tatapannya berubah lembut. Fadli mengusap kepala Alana dengan penuh kasih sayang.

“Kamu inget kan, Papa pernah bilang kalau gak ada orang yang rasa sayangnya ke kamu lebih besar dibanding rasa sayang Papa ke kamu. Papa bisa jamin masa depan kamu akan cerah dengan nurut sama Papa.”

Air mata Alana mengalir semakin deras. 

“Sayang, jangan buat malu keluarga kita dengan anak itu. Anak itu gak seharusnya lahir di keluarga kita. Itu anak haram, Sayang,” lanjut Dewi.

“Ma…,” gumam Alana pelan.

Rayyan sudah bersiap hendak membantah perkataan kedua orang tua Alana, tapi Ira lebih dulu memegang bahunya dan menggeleng, melarang Rayyan untuk melakukan apapun.

“Lana pernah tanya kan ke Papa, kalau Lana buat kesalahan besar, apa Papa akan maafin Lana dan gak marah ke Lana? Iya, Papa akan maafin Lana, Papa gak akan marah ke Lana, tapi Lana harus gugurin anak itu. Papa gak bisa terima anak itu, Lana.”

“Iya ya, Lana, Sayang, nurut kata Mama, kata Papa,” bujuk Dewi.

“Lana kan anak yang baik, anak yang berbakti sama orang tua, anak yang patuh dan nurut sama orang tua, Lana nurut ya sama Papa, gugurin anak itu. Papa mau yang terbaik buat kamu, buat masa depan kamu. Kita hidup kayak dulu lagi, hidup bahagia kayak dulu, gak perlu ada anak itu. Lana kan pengen kan kuliah di Korea, Lana udah diterima loh di sana. Ya, Sayang, kamu gugurin anak itu, terus kita pindah ke Korea, anggap aja gak pernah ada kejadian ini. Lana bisa hidup bahagia di sana sama Mama sama Papa, kejar cita-cita Lana, kayak yang Lana mau dari dulu. Iya, Sayang ya, anak baik, anak nurut, anak kesayangannya Papa.”

Alana hanya bisa menangis tanpa suara. Hatinya terasa begitu sakit mendengar ucapan Fadli. Alana bimbang. Semua ucapan Fadli benar, tapi Alana tidak tega. Meskipun belum terlihat, Alana bisa merasakan ada kehidupan di dalam rahimnya. Naluri alami Alana sebagai seorang perempuan dan calon ibu tidak bisa dibohongi.

Di sisi lain, Rayyan menatap kedua orang tua Alana tidak terima. Bagaimana mungkin mereka bisa membujuk Alana untuk menggugurkan kandungannya? Tapi setiap kali Rayyan ingin menyela mereka, Ira selalu mencegahnya. Rayyan pun hanya bisa mengeluh tanpa suara.

“Kalau... kalau Lana mau pertahankan anak ini?” tanya Alana pelan.

Usapan tangan Fadli di kepala Alana terhenti. Genggaman tangan Dewi juga mengendur. Wajah penuh harap mereka berubah datar.

“Itu artinya Lana gak nurut sama Papa, Lana membangkang perintah Papa. Lana dengerin Papa, anak kesayangan Papa itu cuma kamu. Cuma kamu yang bisa Papa terima, bukan anak itu apalagi laki-laki bajingan ini! Apa sih yang dia bisa kasih ke kamu? Cuma bocah ingusan yang belum selesai belajar! Dia cuma bocah ingusan, Lana! Bocah kemarin sore! Dia gak bisa kasih masa depan yang baik buat kamu! Dia gak bisa kasih kebahagiaan buat kamu! Dia gak bisa kasih apa-apa ke kamu, Lana!”

“Papa bilang… Papa sayang sama Lana," cicit Alana.

“Papa sayang sama kamu, bukan sama anak itu,” tegas Fadli.

“Tapi ini anak Lana, Pa, cucu Papa.”

“Cucu? Papa mengharapkan seorang cucu dari kamu dari keluarga baik-baik, dari laki-laki baik yang tulus mencintai kamu. Bukan laki-laki brengsek yang sembarangan menyentuh kamu. Anak itu cuma anak haram, dia aib untuk keluarga kita. Dan Papa gak mau, Papa gak rela, dan Papa gak sudi, kalau anak haram itu jadi cucu Papa.”

Alana hanya bisa memejamkan matanya mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut ayahnya.

“Sayang, Lana.” Dewi mengusap kepala Alana lembut. “Membesarkan anak itu bukan sekedar hamil 9 bulan lalu melahirkan, Sayang. Enggak segampang itu. Anak itu akan jadi tanggung jawab kamu ke depannya. Kamu bertanggung jawab untuk mendidik anak itu, membentuk karakter anak itu. Itu bukan hal mudah. Itu bukan hal yang harus dilakukan perempuan usia 18 tahun, Na. Itu tanggung jawab besar.”

“Lana harus nurut sama Mama sama Papa. Ini demi kebaikan kamu, Sayang. Mama sama Papa tahu yang terbaik untuk kebahagiaan kamu, untuk masa depan kamu. Kamu harus nurut ya, Sayang?” sambung Dewi.

Air mata Alana mengalir deras.

“Dengerin Papa baik-baik. Kalau Lana pilih nurut sama Papa, kita pulang, kita pindah dari sini, kita hidup bahagia sama-sama kayak dulu. Lana bisa punya masa depan yang cerah. Tapi kalau Lana pilih anak itu dan cowok bajingan ini…” Fadli menggelengkan kepalanya pelan. “Jangan pernah lagi pulang ke rumah. Papa gak mau punya anak pembangkang seperti itu.”

“Pa…,” gumam Alana pelan.

"Lana harus pilih. Lana mau mau Papa Mama atau sama laki-laki brengsek ini!"

Fadli berjalan mengitari ranjang Alana, memegang tangan Dewi, kemudian membawanya pergi keluar dari kamar itu tanpa menghiraukan Alana yang berteriak memanggil kedua orang tuanya.

“Papa! Mama!”

Alana menangis, meraung, memanggil kedua orang tuanya dengan suara parau. Tapi jangankan untuk menoleh, berhenti saja tidak.

Rayyan dan Ira hanya bisa diam membatu menatap Alana. Dinar malah sudah meneteskan air matanya sejak tadi.

“Lana,” ucap Rayyan pelan. 

Dia berjalan mendekati Alana dan memegang lengan Alana yang berteriak histeris. 

“Na," panggil Rayyan pelan sambil meraih kedua bahu Alana.

“Mama! Papa! Ma- arrgghh!!”

Alana berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.

“Na, Na, lo kenapa, Na?” tanya Rayyan panik.

“Perut gue sakit,” ucap Alana parau.

Ira mendekati Alana, memegang tubuhnya. Rayyan melepaskan tangannya dari Alana.

“Alana, Sayang, tenang, Sayang. Atur napas kamu ya, ikutin Bunda, tarik napas.”

Alana memejamkan matanya menahan sakit sambil mengikuti perkataan Ira.

“Sekarang keluarin pelan-pelan. Tarik napas lagi, keluarin pelan. Ray, ambilin minum.”

Rayyan bergerak grasak-grusuk karena panik untuk mengambil air minum yang ada di nakas. Air yang ada di gelas itu bahkan sampai tumpah ke tangan karena Rayyan yang terlalu panik. 

Ira memberikan minum itu ke Alana. “Minum dulu, Sayang, biar kamu tenang.”

Alana menurut, meminum air itu.

“Ray, tolong panggilkan dokter,” ucap Ira lagi.

Rayyan hendak melangkah untuk pergi, tapi ucapan Dinar menghentikannya.

“Gue aja,” ucap Dinar yang diangguki oleh Rayyan. Dinar pun keluar untuk memanggil dokter.

Alana masih sesenggukan, tapi perutnya sudah membaik walau masih terasa nyeri. Ira mengusap punggungnya lembut sambil meminta Alana untuk tenang. Sedangkan Rayyan hanya bisa menatap Alana dengan panik dan khawatir.

...***...

1
Che Putri Badar
semangat thor ..
lanjuuuut..
Eva Marlina siboro
jngan sampai alana keguguran ya thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
lnjt dong thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
😮‍💨😮‍💨😮‍💨
Ani Shofia
bagus ceritanya lanjutkan
Endah Ekayanti
bagus banget
Dev
semangat Thor lanjutin sampai end..ceritanya pas (gk berlebihan) dan realistis banget..
Chillzilla: Ditunggu lanjutannya yaa
total 1 replies
Dev
kurang komunikasi sih sepasang manusia ini..
Dev
cerita ini cukup menguras emosi Thor..keren ceritanya..
mayang sari
seru ceritanya🙂😚
mayang sari
duarrrr🤯
mayang sari
rayyan, rayyan, harusnya kamu ngerasa bersalah
mayang sari
duuh si rayyan😔
mayang sari
kenapa pintu kamar hotel gak dikunci Alana?
Aura Al
kasihan lana di tinggal sendiri trus
Aura Al
mobil papa padil pasti lagi ngitai
Aura Al
rayan kurang peka terhadap lana
Aura Al
bagus banget cerita thor seru
Chillzilla: makasii... ditunggu kelanjutannya yaa
total 1 replies
Kamiblooper
Wih, seruu banget nih ceritanya! Jangan lupa update ya thor!
Cô bé mùa đông
🤩Bikin baper banget deh si author ini, jangan jangan dia nyasar jadi scriptwriter
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!