Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
P–pak Alvin! saya hanya membereskan sepatu ini," ucap Dinda gemetar dan langsung memasukkan sepatu itu ke dalam kardusnya.
"Kamu gak makan siang ini sudah mau jam satu loh," tanya Alvin sambil melirik jam tangan yang di pakainya.
"Baik Pak, saya istirahat dulu kalau begitu, " Dinda kemudian keluar dengan cepat kilat dari ruangannya bosnya itu.
Alvin berjalan masuk ke dalam ruangannya lalu membuka kembali kardus sepatu yang berada di depannya, ia teringat kembali kejadian di pantai malam itu bersama Seorang wanita … ya benar wanita itu adalah Dinda, wanita yang parasnya tidak pernah ia lupakan.
Alvin adalah pria yang tenang ia senang dengan kesendirian menikmati keheningan sebagai peluang untuk merenung dan menemukan kedamaian batin ia senang pergi ke pantai jika sedang mengalami banyak masalah dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi nya, malam itu ia sedang duduk di tepi pantai sambil menikmati deburan ombak seperti yang sering ia lakukan sebelumnya.
Ketika Alvin tengah duduk matanya disilaukan oleh kedatangan sebuah mobil yang menyorot pada dirinya, ia perhatikan dengan seksama mobil itu dan keluarlah seorang wanita yang tampak kusut sambil menangis meraung dan terduduk di pinggir pantai sambil memeluk lututnya, saat itu Alvin hanya bisa melihatnya dari jauh dan terus memperhatikan wanita itu. Tetapi secara perlahan ia mulai berjalan ke ke tengah laut dari situlah terjadi kesalahpahaman itu.
"Sepatu ini harusnya kembali kepada pemiliknya," gumam Alvin tapi saat ini ia belum berani berbicara hal lain kepada Dinda selain urusan pekerjaan.
Alvin selalu bersikap tegas kepada Dinda untuk menutupi rasa ketertarikannya kepada wanita dengan rambut panjang nan hitam itu.
"Hallo Rin, lo dimana? udah makan siang belum?" Dinda melempar tanya kepada sahabatnya itu.
"Belum Din, kebetulan nih gue baru beres juga ngerjain laporan, mau makan bareng?" Ajak Karin yang langsung mengetahui tujuan Dinda menelponnya.
"Iya yuk, makan siang bareng biar ada teman nih gue cengo juga kalau makan sendiri," seru Dinda yang merasa senang karena Karin belum makan siang.
"Ya udah tunggu di lobby kita ketemu disana, " Kata Karin sambil menutup telponannya dan bergegas Menghampiri Dinda.
"Hei Din " Ia melambaikan tangannya dan menghampiri Dinda yang sedang menunggu nya. "Mau makan apa kita? tanyanya sambil membayangkan menu-menu enak di kepala nya.
"Emm kalau makanan Jepang gimana?" usul Dinda yang memang sangat menyukai makanan yang satu ini.
"Ide bagus tuh yuk, " Mereka berdua berjalan menuju restoran Jepang dekat kantornya yang terkenal enak.
"Gimana Din hari pertama kerja bareng Pak Alvin? si boss anti sosial itu? Pasti mengerikan bukan, keliatan banget gak sih dari auranya kalau dia tuh tipe bos otoriter gitu, " ujar Karin sambil mengunyah makanan nya.
"Nggak ko dia baik. orangnya cuma memang orangnya agak irit ngomong agak pendiem gitu tapi sekalinya ngomong tegas gitu bikin shock therapy, " Imbuhnya yang kemudian menyeruput segelas teh.
"Ah yang bener Din? Jujur sih gue juga belum pernah ngobrol sama pak Alvin cuma beberapa kali pernah papasan terus gue senyumin tapi dia cuek-cuek aja bukannya balik senyum dia malah kasih ekspresi datar aja gitu kaya kanebo kering kaku banget orangnya kan gue jadi gimana gitu, " Karin bergidik mengingat kejadian lalu.
"Ya kali seorang direktur pecicilan yah harus jaga imej lah Rin, apalagi depan karyawannya yah tentu nya harus terlihat berwibawa gak sih, " ujar Dinda seraya tersenyum ke arah Karin yang sedang asik mengubah makanan nya.
"Iya juga sih," sahutnya sambil tertawa.
"Eh, Din gue pernah dengar rumor tentang Pak Alvin kata nya beberapa kali mantan istri nya pernah ke kantor dan bikin ribut di sana, " Kata Karin yang mendekatkan badannya ke arah Dinda seolah Ia akan memberikan informasi penting.
"Bikin ribut gimana maksudnya? " ucap Dinda pelan.
"Itu dia ngamuk-ngamuk karena harta gono gini katanya nih ya katanya mantan istri nya dapet dikit dari harta gono gini itu dan akhirnya gak Terima mangkanya dia sering ke kantor Alvin buat bikin malu dia gitu, " jawabnya serius dengan ekspresi wajah bak pembawa acara TV gosip.
"Trus mereka udah punya anak belum sih? " tanya Dinda penasaran.
"Setau gue belum sih, " jawabnya santai dan menarik badan nya ke posisi semula.
"Terus alasan mereka cerai kenapa?" tanya Dinda lagi yang belum puas mendengar informasi tentang bossnya itu.
"Katanya istri nya selingkuh sama brondong, " bisik Karin.
"Hah beneran Rin?" Tiba-tiba Dinda mengeluarkan suara kencang seolah tidak percaya apa yang telah ia dengar dari Karin.
"Yah ga tau yah benar atau engga gue cuma denger rumor doang dari anak-anak kantor, " jelas Karin.
"Oh ya udah lah toh bukan urusan kita juga ya kan, " balas Dinda kalem.
"Tapi hati-hati yah lu kalau misalnya ada dia nih ke kantor terus ngamuk-ngamuk mendingan lu ngumpet aja beneran soalnya kata orang-orang dia resek, " Dinda sedikit khawatir akan perkataan Karin itu.
"Mudah-mudahan gue jangan sampe ketemu dia deh, " Harap Dinda.
"Semoga, " ucap Karin.
Setelah menyelesaikan makan siangnya mereka berdua kembali ke ruangan mereka masing-masing untuk kembali bekerja.
Dinda kembali ke ruangan pak Alvin untuk melanjutkan tugasnya yang tadi sempat terhenti karena istirahat jam makan siang. Ia kembali merapikan berkas dan menyortir nya serta menuliskan jadwal pak Alvin untuk esok hari.
"Din gimana kamu sudah merapikan berkas-berkas saya," tanya Alvin yang tiba-tiba muncul dengan suara baritonnya dan membuat kaget Dinda.
"I-iya pak sudah," ucap Dinda menatap takut pria di depannya itu.
"Oke kalau begitu kamu boleh kembali ke ruangan itu biar sisanya saya yang bereskan, " pinta Alvin dengan suaranya yang tegas.
"Baik pak," Kata Dinda singkat kemudian berjalan meninggalkan ruangan Alvin.
Tak berselang lama hal yang di takutkan Dinda terjadi, seorang wanita dengan penampilan glamor datang menghampiri Dinda dengan sikap dan cara bicara yang tidak sopan.
"Lo sekretaris baru Alvin?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Alvin ada di ruangan nya kan?" tanya nya lagi.
"Maaf Bu, ibu dengan ibu siapa?" tanya Dinda baik-baik.
"Heh gak usah banyak cingcong gue mau ketemu Alvin dia ada di ruangan nya gak tinggal jawab aja ko ribet,"
"Tapi Bu, mohon maaf jika ingin bertemu Pak Alvin harus ada janji dulu, " terang Dinda.
"Heh! sekretaris baru dengerin yah Alvin itu suami gue jadi gak perlu pake janji-janji segala paham!
"Tapi bu," Dinda berusaha mencegah wanita itu yang akan menerobos masuk ke ruangan Alvin.
"Ah udah berisik lo!" maki Siska.
Wanita itu langsung merangseg masuk ke ruangan Alvin tapi Dinda dengan tegas melarangnya dan terjadi adu mulut yang sangat sengit antara keduanya, sampai membuat Alvin keluar dari ruangan nya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" teriak Alvin yang baru keluar dari ruangan nya.
"Beb, lihat nih sekretaris mu ngelarang-larang aku buat ketemu kamu " ucapnya dengan nada manja.
"Siska!! Ada apa kamu ke sini hah!" Bentak Alvin yang seketika menjadi emosi melihat sosok wanita di depannya itu.
"Beb, aku mau–"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Alvin langsung menyerobot ucapan siska yang sudah tahu maksud dan tujuannya ke kantor.
"Mau uang maksudmu?" sindir Alvin. "Kau pikir aku bank atau ATM berjalan untukmu? Urusan kita sudah selesai kau dan aku tidak ada hubungan lagi. Sekarang kamu pergi dari sini!!! Teriak Alvin.
" Tapikan Beb, kamu kan tau aku gak kerja jadi aku minta uang ke siapa lagi selain ke kamu, " ucapnya lagi masih dengan nada manja nya.
"Kau benar-benar tak tahu malu," ucap Alvin geram. Kenapa kau tidak minta uang ke laki-laki brondong mu itu bukankah dia yang membuatmu bahagia? itu yang kamu mau laki-laki yang selalu ada untukmu dan membuatmu bahagia. kenapa? cinta saja tidak cukup bukan? malah sekarang mengemis uang padaku, " ujar Alvin kesal.
Siska hanya tertegun mendengar makian Alvin sekaligus marah karena Alvin sekarang sudah berubah dan tidak peduli lagi padanya.
Alvin kemudian mengeluarkan HT nya dan menyuruh petugas keamanan untuk menyeret mantan istri nya itu keluar dari kantor.
"Pergi kamu dari sini dan jangan berani-beraninya kamu menginjakkan kaki ke kantor ini lagi, "
"Awas saja kau Alvin aku ka membalasmu, " teriak siska yang sedang seret keluar oleh petugas keamanan.
Jangan lama- lama upnya