Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11
Sepulang dari kantor, Cindy dikejutkan dengan suasana rumah yang didekorasi secantik mungkin. Cindy bertanya-tanya mengenai biaya dari pernikahan Pamannya yang menurutnya tidaklah murah.
Rasa penasaran pun tak dapat diindahkan. Cindy bergegas mendatangi kedua orang tuanya yang kebetulan pada hari itu sedang cuti kerja.
“Sudah pulang ya,” ucap Ibu Julia melihat putrinya yang baru sampai.
“Ibu, Paman sebentar punya uang darimana? Apa Ayah dan Ibu pinjam uang di Bank untuk pernikahan Paman bersama Tante Renata?” tanya Cindy penasaran.
“Soal itu, kamu tidak perlu tahu. Yang penting, kami tidak pernah meminjam uang di Bank,” jawab Ibu Julia.
“Kalau bukan di Bank, itu artinya Ayah dan Ibu pinjam di rentenir?” tanya Cindy memasang wajah terkaget-kaget.
“Kami ada sedikit tabungan, begitu juga dengan Pamanmu. Jadi, Cindy tidur perlu khawatir. Cindy pasti lelah ya? Cepat masuk ke kamar dan istirahatlah,” tutur Ibu Julia menyuruh Cindy untuk segera beristirahat di kamar.
Cindy memang sangat lelah, namun itu tidak mungkin tidur begitu saja. Terlebih lagi, kedua orang tuanya sangat sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan digelar besok lusa.
“Cindy mandi dulu. Nanti Cindy akan menyusul,” balas Cindy.
Calon pengantin datang dengan senyum begitu bahagia. Terlihat jelas kalau keduanya sudah tak sabar ingin menjadi sepasang suami-istri.
“Hallo, Mas! Mbak!” Renata menyapa calon kakak iparnya dengan penuh semangat.
“Kalian darimana saja? Calon pengantin tidak baik, jika keluar rumah,” ucap Ibu Julia.
David menjelaskan bahwa dia dan Renata hanya bertemu sebentar karena rindu yang tak tertahankan.
Mendengar jawaban David, Ibu Julia dan Ayah Rianto tertawa geli.
“Sabar, dua hari lagi kalian akan menikah,” terang Ayah Rianto.
Malam hari.
Cindy duduk seorang diri di kursi teras depan rumah, seraya memetik gitar kesayangannya. Ia kemudian menyanyikan lagu yang cukup sedih, sebagai gambaran suasana hatinya yang sedang galau.
Ternyata, malam itu ia dan Dimas sepakat mengakhiri hubungan mereka yang terbilang masih sangat baru.
Cindy sedih, bukan karena ia putus dengan Dimas. Namun, ia sedih karena akhirnya dirinya tahu bahwa selama ini rasanya untuk Dimas bukan perasaan cinta. Melainkan, hanya sebuah keterpaksaan karena seringnya bertemu.
“Apa itu cinta? Aku kira rasaku untuk Dimas adalah sebuah perasaan cinta,” gumam Cindy setelah selesai menyanyikan sebuah lagu.
Saat Cindy ingin beranjak dari kursi, David datang dengan membawa pisang goreng yang baru saja digoreng.
“Mau kemana? Sini duduk dan habiskan pisang goreng ini,” ujar David sambil meletakkan pisang goreng tersebut di meja.
“Siapa yang goreng? Paman?” tanya Cindy basa basi.
“Oh tentu saja, siapa lagi kalau bukan Pamanmu yang tampan ini,” jawab David seraya menyisir rambut dengan jemari tangannya.
“Paman tidak memasukkan racun, 'kan?” tanya Cindy serius.
“Mau atau tidak? Kalau tidak mau ya sudah, Paman bawa ke dalam lagi,” ujar David yang hendak mengambil pisang goreng tersebut.
“Yeee... Cuma bercanda doang, langsung dianggap serius. Payah banget sih,” celetuk Cindy sambil mengambil 1 buah pisang goreng dan mulai memakannya.
“Pelan-pelan, tidak ada yang mengambil pisang goreng itu dari kamu,” tutur David.
Cindy memakan pisang goreng tersebut dengan lahap.
“Paman penasaran kalau melihat kamu makan seperti ini, apakah pacarmu tahu kalau cara makan kamu sangat jelek?” tanya David penasaran.
“Pacar yang mana? Cindy tidak ada pacar,” jawab Cindy.
“Apa? Jangan bilang sudah putus?” tanya David cukup terkejut.
“Iya. Kami berdua sepakat untuk menjadi teman saja,” pungkas Cindy.
Cindy yang tidak ingin banyak bicara, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tak lupa membawa gitar kesayangannya itu.