Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 ~ Menikah
Indra tersungkur di hadapan Ibunya dengan wajah penuh lebam dan mengerang sakit. Sudah pasti tubuhnya remuk redam karena ulah orang kepercayaan Brama. Lidia menjerit dan menangkup wajah putranya lalu terisak.
“Indra, bangun Nak. Kita harus lawan mereka, bukan ini yang kita rencanakan.”
“Ma-ma,” panggil Indra terbata.
“Yudis, kamu ….” Lidia menatap Yudis dengan wajah meradang.
“Kenapa? Kamu kecewa karena putramu terluka, putramu disakiti?” tanya Yudis lalu berdecak dan kembali menatap langit-langit kamarnya. “Apa kalian tidak berpikir kalau putriku, juga terluka?”
“Om Yudis,” panggil Indra.
“Jangan panggil aku Om, kalian sudah menabuh genderang perang. Mulai sekarang kita bukan lagi kerabat. Jangan pernah menjejakan kakimu di perusahaan, kamu dipecat.”
“Yudis, teganya kamu!” teriak Lidia.
“Kamu yang tega, bisa-bisanya membuat keluarga orang lain sengsara dan berantakan demi mendapatkan sesuatu yang bukan hakmu,” teriak Narita. Wanita itu ikut geram, bahkan sempat tersinggung dengan kemarah Yudis setelah Lidia menghina mendiang istrinya.
“Brama, apa kamu sudah dapatkan file-file itu?”
“Sudah tuan, kami sudah amankan laptop dan gadget milik Indra.”
“Bagus,” jawab Yudis. “Jadi kalian berdua silahkah pergi dari sini dengan tenang, renungi kesalahan kalian dan jangan datang pada kami lagi. Ah, iya. Aku belum menjawab pertanyaanmu Lidia,” ungkap Yudis kembali beranjak duduk, tapi kali ini Narita tidak ada membantunya.
“Aku pilih opsi … ketiga. Jangan membod0hi kami, apalagi ternyata kalian masih memiliki file copyan. Apa yang terjadi di ruangan ini sudah kami rekam.” Yudis menunjuk arah di mana ada kamera tersembunyi. “Dan yang kamu bicarakan tadi, terhubung langsung dengan keluarga besar,” ujar Yudis sambil menunjuk ponselnya yang masih dalam panggilan. “Semua ini cukup menjadi bukti untuk kalian terpuruk dalam penjara.”
Lidia bungkam, dia dan Indra sudah jatuh telak. Tidak ada celah untuk membela diri apalagi mendapatkan keuntungan. Tidak pernah terpikirkan kalau Yudis bisa melawan seperti ini, mereka salah memilih lawan.
“Brama, keluarkan mereka dari sini. Aku harus istirahat,” pinta Yudis lalu kembali berbaring.
Brama memberi kode pada kedua orang bawahannya yang langsung bergerak menarik tubuh Indra. Lidia menjerit agar melepaskan putranya.
“Jangan berisik Lidia, ini rumah sakit,” ujar Yudis.
“Kalian … akan merasakan sakit yang aku rasakan. Putrimu akan menanggung malu seumur hidupnya. Kamu pikir wanita yang tubuhnya sudah dilihat banyak orang, masih suci.”
“Brama, usir mereka. Kalau perlu lemparkan ke jalanan.” Indra kembali dibawa paksa, Lidia berteriak mengejar.
“Mas.”
Yudis mengangkat tangannya agar Narita tidak bicara, lalu memijat pelan kepalanya. Masalah mungkin selesai, urusan Lidia dan Indra hanya kerikil kecil dan mudah untuk mengatasi. Namun, apa yang disampaikan Lidia ada benarnya. Kiran akan menanggung malu … selamanya.
Mengingat emosi yang dirasakan Yudis, bahkan sampai menampar Kiran. Meninggalkan penyesalan. Kiran pasti sedih dan terpuruk. Karena korban sesungguhnya dalam hal ini adalah Kiran.
“Panggil dokter, aku ingin pulang,” titah Yudis.
***
Dokter sudah melakukan pemeriksaan kembali pada Yudis dan membandingkan dengan kondisi saat pria itu datang. Permintaan Yudis untuk pulang, tidak disetujui oleh dokter yang menangani langsung. Narita pun ikut bicara dan memarahi suaminya.
“Istirahatlah dulu, patuhi apa kata dokter. Kalau kamu kenapa-napa, ibu dan anak tadi pasti senang karena keluarga kita akhirnya terpuruk juga.”
Brama sudah kembali dan Yudis memintanya mendekat. Narita pun diminta mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Yudis.
“Brama, kamu tahu aku sudah menyiapkan posisi untuk Kiran di perusahaan. Sepertinya akan sulit, Kiran tidak akan pernah menjejakan kakinya. Ditambah dengan masalah ini,” tutur Yudis.
Narita mengepalkan kedua tangannya. Bukan pertama kali, Yudis selalu membicarakan Kiran dan akan memberikan kursi kepemimpinan pada putrinya seakan mengabaikan dua putranya yang lain.
“Aku tidak tahu bagaimana kondisi Kiran sekarang. Dia pasti kecewa dan marah, bahkan merasa bersalah. Brama, tolong kami. Untuk kali ini aku harus egois meminta hidupmu untuk menyelamatkan Kiran.”
“Maksud Tuan?”
“Nikahi Kiran. Menikahlah dengan putriku.”
“Mas,” tegur Narita.
Brama memang sudah dididik oleh Ayahnya untuk mengabdi pada keluarga Yudis, sama seperti sang Ayah. Namun, menikahi putri pria itu tidak pernah terbersit dalam benaknya. Kiran adalah perempuan yang cantik, sebagai seorang pria normal tidak akan sulit untuk mengakrabkan diri dengan gadis itu. Menikahi Kiran, artinya Brama harus melepaskan cintanya. Wanita yang bersemayam di hatinya.
“Brama, aku mohon. Tutupi aib putriku, temui dia dan sampaikan hal ini.”
Brama pun meninggalkan rumah sakit dan menuju kediaman Yudis menemui Kiran sesuai perintah. Ketika sudah tiba di tujuan, Brama masih berada dalam mobil. menguatkan hatinya, karena saat dia keluar dari mobil dan menemui Kiran maka hidupnya akan berubah.
“Mau menikah denganku?”
“Tidak mau Brama, aku ingin bebas. Bekerja dan berjuang untuk mendapatkan cita-citaku. Aku tidak ingin ditindas, menjadi orang kecil itu menyedihkan.”
“Kita bisa berjuang bersama. Ayolah, janji kita akan menikah saat dewasa nanti.”
Kilasan masa lalu terlintas dalam benak Brama.
“Sepertinya aku harus mengingkari janjiku.”
Pria itu berdiri di tengah ruang keluarga, menatap anak tangga dan menunggu kehadiran Kiran yang dipanggil oleh asisten rumah tangga. tidak lama, Kiran pun muncul. Brama menatap lekat pada perempuan yang melangkah ke arahnya.
“Mas Bram, Ayah ….”
“Kiran,” ujar Brama menyela ucapan gadis itu. “Kiran Hanna Yasmin, kita akan segera menikah.”
“A-pa?”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍