Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Aku mencoba menghibur diri sembari menunggu Orion, tapi kesabaranku mulai menipis. Sudah hampir satu jam dia terlambat, dan semakin lama semakin frustasi aku duduk disini. Dia yang mengundangku, namun tidak mau datang tepat waktu? Tawaran kerja sama dengannya memang menggiurkan, tapi aku punya cukup banyak klien. Tidak seharusnya aku membuang-buang waktu duduk di bar dan menunggu makhluk tak jelas.
Aku berdiri, mengambil jaket yang kuletakkan di punggung kursi.
"Sudah mau pulang?" Kelembutan pada suaranya sangat kentara, dan saat aku berbalik, senyumnya seketika membuatku lupa bahwa aku sedang marah.
"Oh, akhirnya kau datang juga." balasku ketus. Aku tidak akan memberinya kesempatan menikmati pertemuan ini. Datang terlambat dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku minta maaf karena membuatmu menunggu lama. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, tapi sekarang aku milikmu sepenuhnya." Perlahan senyum mengembang di sudut bibirnya. "Kau lapar?"
Aku menatapnya, mempertimbangkan pilihan. Beberapa saat lalu aku sangat ingin pergi dan melupakan manusia ini, tapi setelah dia datang dengan tatapan menggoda, kupikir aku punya ide lain.
"Haus."
"Nah, ini baru gadisku." Dia mengedipkan mata, membuatku merinding. Setiap kali berada di dekat Orion, rasanya aku terus mencoba mengingat bagaimana bersikap layaknya manusia normal. "Sebagai antisipasi aku mengenakan kemeja hitam hari ini."
Orion menarikku pindah ke bagian yang agak terpisah, aku bisa merasakan puluhan pasang mata memperhatikan kami. Mereka yang tadinya sama sekali tidak menyadari keberadaanku, kini tertarik dan berbisik-bisik mempertanyakan siapa aku. Orion tampak tidak terganggu sedikitpun dengan keriuhan sesaat itu.
"Selamat malam, Mr. Alano." Seorang pelayan menghampiri sebelum kami duduk, mengedipkan bulu mata palsunya kepada Orion. "Apakah Anda ingin memulai dengan minuman?"
Orion beralih padaku, entah memang tidak sadar atau sengaja mengabaikan tatapan lapar si pelayan. "Kau suka rasberi?"
Aku mengangguk.
"Bawakan kami sebotol Barbaresco 2007." katanya, dengan santai menyelipkan tangan ke punggungku dan membantuku duduk. Sentuhannya mengirimkan gelombang listrik ke sekujur tubuhku, tapi aku agak menyukai sifat posesifnya. Pesan yang dia sampaikan sangat jelas, aku berada disini sebagai tamunya dan dia memastikan semua orang mengetahui itu.
"Pesanan segera datang, boss." Si pelayan tersenyum tipis dan menghilang ke balik meja bar, kesal karena umpannya tidak termakan. Tunggu, boss? Orion boss mereka? Di restoran ini? Aku sungguh tidak berpikir sampai kesana.
Saat kami duduk di lounge pribadi, perhatian pengunjung lainnya terhadap kami mulai memudar dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Semua orang, kecuali si pria aneh yang entah dari mana datang lagi, matanya terus menatap tajam padaku.
"Aku sangat senang kau benar-benar datang," kata Orion, mengalihkan perhatianku dari si pria aneh.
"Ya, kita disini untuk membicarakan lukisan, kan? Aku ingin tahu lukisan macam apa yang kau butuhkan." jawabku santai.
"Benar." Dia menyeringai. "Buat saja yang menurutmu cocok."
"Aku memerlukan beberapa detail. Klub jenis apa yang akan kau buka?"
Orion mengangkat bahu. "Klasik moderen? Mirip seperti restoran ini. Meski aku berharap aku bisa memajang lukisanmu saat merancangnya. Mungkin nanti, seandainya kami menata ulang penampilan restoran."
"Kau menjalankan restoran ini?"
"Lebih tepatnya memiliki." gumamnya, mengangguk. "Keseluruhan gedung ini milikku."
Aku mengatupkan mulut rapat-rapat, mencoba tidak menunjukkan terkejut yang berlebihan.
"Bisnisku tersebar di luar kota sampai ke luar negeri." Orion melanjutkan. "Mulai dari gedung perkantoran, lapangan golf, dan pulau di dekat Canary. Aku berinvestasi di berbagai bidang real estat yang berbeda."
Sekarang mulutku mendadak kering, dan aku sungguh kehilangan kata-kata. "Apa profesimu sebenarnya?" kataku setelah beberapa saat tercengang. Aku tahu Orion kaya, tapi tidak kusangka sekaya itu sampai punya pulau pribadi. Faktanya, aku bahkan tidak tahu seseorang bisa memiliki pulau.
Orion mengeluarkan tawa gugup. "Sudah kubilang, aku ini investor real estat."
Oh, pasti ada cerita yang lain dari pada itu. Mungkin dia memilih jawaban yang singkat dan terdengar masuk akal, tapi Orion lebih dari sekedar investor. Dengan banyaknya koneksi yang dia miliki dan caranya beroperasi sama sekali tidak mencerminkan kehidupan seorang investor. Aku belum tahu siapa sesungguhnya Orion Alano, atau apa yang bisa dia lakukan, dan sejujurnya itu membuatku khawatir.
"Kalau tidak salah kau mengatakan bisnismu berbahaya. Kenapa kau bergaul dengan orang-orang yang menyerangku di galeri jika kau hanya pemilik hotel?" tanyaku tegas.
Orion menggaruk janggutnya, tidak menduga pertanyaanku. Kemudian, raut senang melintas di wajahnya. "Biar kujelaskan satu hal, aku tidak bergaul dengan mereka. Aku membenci mereka, dan aku sangat ingin melihat mereka menderita."
"Lantas, dari mana kau mengenal mereka? Dan jika kau hanya seorang investor, bagaimana kau bisa menjauhkan mereka dariku? Apa yang mungkin mampu kau lakukan sementara polisi tidak?"
Dia mendorong tubuh ke meja, suaranya sangat pelan. "Millie, bisakah kita membahas topik lain? Ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan pekerjaanku yang sesungguhnya."
"Okay, baiklah." Aku menghela napas, meraih tas. "Kupikir sudah waktunya aku pergi."
"Apa? Kenapa?"
"Karena aku tidak mau membuang-buang waktu untuk seseorang yang tidak jujur. Aku bosan diperlakukan seperti ini." Aku berdiri, siap melangkah. "Aku akan menghubungimu setelah menyelesaikan pesananmu."
"Sopirku menunggumu di bawah, dia yang akan mengantarmu." gumamnya menawarkan.
"Tidak perlu." balasku sambil mengulurkan tangan. "Aku bisa pulang sendiri."
Kali ini Orion terdiam, seolah dia tahu penolakanku terhadap tawarannya berarti kehadirannya pun tak diharapkan.
Aku baru sadar telah menahan napas saat memasuki lift. Orion begitu menakutkan hingga membuatku terkejut karena berani meninggalkannya. Dia senang mempermainkanku, menikmati momen dimana aku selalu kehabisan kata-kata saat berdekatan dengannya.
Dia tidak berhak menyusup ke dalam hidupku, memerintah, dan mencampuri urusan pribadiku tanpa menjelaskan siapa dirinya. Aku tidak suka berada dalam ketidaktahuan, khususnya terkait sesuatu yang sangat berhubungan denganku. Orion tahu pasti siapa orang-orang yang menyerangku malam itu, dia lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dia bahkan tidak berniat memberitahuku. Semakin memikirkannya, semakin aku marah padanya.
Seandainya aku tidak butuh pekerjaan ini, mungkin sejak awal aku sudah menolaknya.
Ketika pintu lift terbuka, buru-buru aku melangkah ke dalam, ingin secepatnya keluar dari tempat ini hingga tidak menyadari ada orang lain yang ikut masuk ke dalam lift.
"Selamat malam." katanya, dengan suara kasar. Dia pria aneh itu.
"Hai," balasku, mencoba terlihat tenang.
"Aku sudah menunggumu dari tadi." ucapnya dengan nada mengejek, bergeser mendekatiku saat pintu lift tertutup. Sial, aku terperangkap.
Nafasku mulai memburu sementara aku mengutuk diri sendiri karena terlalu bodoh sampai tidak menyadari bahaya yang menantiku. "Kumohon, jangan sakiti aku." Aku gemetar saat dia menekan tubuhku ke dinding lift. Awalnya hanya pelan sebelum seluruh bobotnya berpindah padaku.
Dia mengeluarkan pistol dan memukulkannya ke tulang rusukku dengan keras. "Jangan bicara, kau mengerti?" Aku mengangguk. "Ernesto yang mengirimku, karena tampaknya si tolol yang dia tugaskan pertama kali tidak berhasil." Nafasnya tercium seperti scotch, menggelitik perutku yang sudah bergejolak sejak tadi, membuatku ingin muntah.
Tak mau memberinya kepuasan, aku menahan air mataku agar tidak tumpah. Dia mengulurkan tangan, menarik kenop yang membuat lift tiba-tiba berhenti. Kami terjebak di dalam dan aku tidak berharap seseorang akan datang menyelamatkanku. Tentu saja dia sudah mengambil langkah antisipasi.
"Aku melihatmu bersama Orion. Apa kau salah satu wanita simpanannya?"
Aku menggeleng, menelan ludah.
Dia menghantam rusukku sekali lagi dengan gagang pistol, spontan aku mengerang kesakitan. "Kau tidak boleh mengatakan apapun saat kita tiba di bawah. Satu kata saja, maka aku akan meledakkan kepalamu. Paham?"
Aku mengangguk. Kata-katanya menciptakan gambaran mengerikan di benakku.
"Bagus." dengusnya, menekan wajahku ke dinding, dan aku menutup mata sembari berdoa semoga ini segera berakhir.
Kemudian, tiba-tiba terdengar suara alarm, membuatku dan si pria aneh terkejut. Dia mundur sekejap, terkejut dan tak menyangka. "Apa-apaan ini!"
Pintu lift terbuka perlahan-lahan, Orion dan Javer berdiri di depanku, menodongkan senjata ke si pria aneh.