Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.
Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Sarapan
"Berikan tanganmu!" pinta Sandi usai berhasil membuat Wulan tersipu.
"U-untuk apa?" tanya Wulan tanpa mengangkat wajahnya yang semakin terasa panas.
"Berikan saja," ucap Sandi lagi sambil mengulurkan tangan kanan ke hadapan Wulan.
Sedikit gemetar gadis itu memberikan tangannya, tidak menunggu waktu yang lama Sandi pun meraih dan menggenggam dengan lembut. Dikeluarkannya sebuah kotak berudu berwana merah, dan dibukanya dengan begitu mudah. Sepasang cincin kawin yang terlihat sederhana begitu istimewa di mata Wulan.
"I-itu ...."
Wulan gugup, semalam memang tidak ada adegan penyematan cincin di jari kedua pengantin. Hanya ada mahar uang sebesar satu juta rupiah karena diadakan secara mendadak. Namun, Wulan tidak mempermasalahkan itu.
"Maaf, semalam aku tidak memiliki persiapan. Cincin ini kupesan setelah aku melakukan ijab kabul dengan papahmu. Terlihat sederhana memang, tapi percayalah hanya ada satu di dunia yang dibuat secara khusus untuk istriku. Sudah lama benda ini menunggu tuannya, dan kini dia ada di sini, di hadapanku." Sandi mengambil salah satu cincin tersebut dan memasangkannya di jari kanan Wulan.
Sepertinya takdir memang memihak pada gadis itu. Meski dipesan jauh sebelum mereka menikah, tapi begitu pas di jari Wulan. Diangkatnya tangan diperhatikan dengan saksama benda di sana. Bulir bening menggenang di pelupuk tanpa dapat ia cegah. Ditahannya agar tidak tumpah, luapan kebahagiaan tiada tara.
Jangankan perhiasan, sehelai benang yang baru saja ia belum pernah mendapatkannya.
"Bisa kamu pakaikan ini di jariku juga?" pinta Sandi sembari memberikan kotak tersebut kepada Wulan.
Gadis itu mengalihkan pandangan, disapunya air mata yang hendak turun sebelum meraih benda bulat tersebut dan memasangkannya di jari Sandi meski bergetar.
"Hanya pada satu waktu kamu boleh melepasnya, yaitu waktu sekolah. Selainnya, kamu harus memakai cincin itu. Apa kamu mengerti?" ucap Sandi menatap wajah Wulan yang berkedut ingin menangis.
Ia mengangguk tanpa berucap sepatah kata saja, tangannya sibuk mengusap mata yang terus menerus menjatuhkan airnya. Rasa haru meliputi hati, memenuhi relung jiwa yang selama ini selalu diisi derita. Sepertinya, mulai saat ini Wulan akan merasakan arti dari sebuah kebahagiaan.
"Kenapa kamu menangis?" Sandi meraih tangan Wulan dan menariknya untuk mendekat. Menelisik dengan saksama wajah yang kini dibanjiri air mata.
Wulan melipat bibir, berpaling sambil menggelengkan kepala. Tak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan isi hatinya. Sandi menarik tubuh Wulan semakin rapat, mendekap pinggang gadis itu dan membenamkan wajah di sana.
"Aku tidak tahu apa kamu menangis karena bahagia? Atau bersedih hati? Katakan sesuatu, Wulan!" pintanya sambil mendongak tanpa melepas pelukan.
Wulan masih diam membisu, terisak-isak karena rasa sesak. Ia menjatuhkan tubuh bersimpuh di hadapan Sandi, bertatapan dengan manik hangat lelaki itu.
"Terima kasih ... a-aku tidak tahu harus bagaimana? A-aku ... entah, apakah memang seperti ini rasanya bahagia?" tutur Wulan terbata-bata, beriringan dengan isak tangis yang masih kentara.
Sandi tersenyum, tangannya mengusap kedua pipi Wulan dari genangan air mata yang terus merembes. Sungguh malang nasib gadis itu, beruntung dia bertemu dengan Sandi yang menaburkan cinta pada hidupnya.
"Itulah tujuanku, membuatmu bahagia. Jadi mulai sekarang, hanya dengarkan suamimu." Sandi membenarkan rambut Wulan yang kusut dan kusam. Dia berpikir berapa kali istrinya itu membasahi rambutnya dalam setiap Minggu? Apakah memang tidak pernah sempat atau tidak diberikan fasilitas itu?
"Kita akan keluar membeli keperluan kamu," ucap Sandi lagi.
Wulan melabuhkan diri dalam pelukan hangat Sandi. Belum sehari laki-laki itu menjadi suaminya, sudah banyak limpahan cinta yang ia dapatkan. Wulan mengangguk, beberapa saat saling menyelami rasa masing-masing. Sandi memang belum mencintai gadis itu, tapi dia terpesona oleh kesederhanaan Wulan.
"Aku akan membuatkan Anda sarapan. Apa Anda terbiasa sarapan pagi dengan roti? Atau yang lain?" ucap Wulan setelah melepas pelukan, ia mengusap kedua matanya yang masih menyisakan genangan air tanpa beranjak bangkit.
"Apa saja, aku akan memakan apapun yang kamu buat," jawab Sandi tak masalah dengan jenis sarapan yang akan dia makan.
Wulan tersenyum, bangkit dari lantai dan mendorong kursi roda Sandi keluar kamar. Ia tertegun ketika matanya beradu dengan dua pasang manik yang menyalang di dekat meja makan.
"Apa saja yang kamu lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali? Mana sarapan kami!" bentak Susi berapi-api.
Wulan mengeratkan cengkraman pada pegangan kursi roda, menahan gejolak yang mendidih dalam dada. Sandi tahu apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini.
"Seingatku semalam kalian membuat makanan sendiri, bukan? Makanan yang kalian buat juga begitu enak rasanya. Kenapa tidak membuatnya lagi? Bukankah istriku ini tidak pandai memasak? Apa kalian lupa dengan kata-kata kalian semalam?" Sandi mengingatkan yang terjadi di meja makan semalam. Di mana Susi dan Salsa begitu menyanjung masakan yang katanya mereka buat sendiri.
Mendengar itu, keduanya membelalak lebar. Terlupa pada apa yang terjadi semalam, dan kini menjadi senjata makan tuan untuk mereka sendiri. Sandi tersenyum sinis, dia tahu betul mereka tidak becus melakukan apapun.
"Biarkan mereka membuat sarapan sendiri, kamu cukup membuat untuk kita saja." Perintah Sandi yang lantas diangguki Wulan tanpa bantahan.
Rasakan, ucapan kalian menjadi senjata yang menyerang diri sendiri.
Wulan tersenyum ringan ketika melewati kedua sosok itu. Dengan Sandi yang mengawasi, tak ada pergerakan dari mereka.
"Bukannya kami tidak mau membuatnya, hanya saja ada Wulan yang akan memasak. Untuk apa kami membuatnya sendiri. Sekalian saja untuk kami juga, Wulan!" cetus Susi tanpa tahu malu.
Ia duduk di meja makan bersama Salsa, seolah-olah ucapan Sandi hanya angin lalu yang tak perlu didengar.
"Ingat kataku, hanya dengarkan suamimu saja," lirih Sandi mengingatkan Wulan akan ucapannya saat di kamar tadi.
Gadis itu tidak berkata apapun, meracik bumbu untuk memasak dua porsi nasi goreng saja. Seperti yang dikatakan Sandi, hanya dengarkan dia jangan yang lain. Harum aroma masakan begitu menggugah selera, Susi dan Salsa tak sabar ingin segera menikmati makanan tersebut. Mereka pikir Wulan membuatkannya.
"Harum masakan kamu membuat perutku meronta-ronta," ujar Sandi sambil terkekeh. Hal itu jujur ia katakan, rasa lapar mendominasi setelah mencium aroma masakan Wulan.
Gadis berambut ikal itu tidak menjawab, hanya menanggapi dengan senyuman. Bersyukur makanan yang dibuatnya dapat diterima oleh orang asing yang kini berstatus suami itu. Wulan mengambil dua piring dan menaburkan nasi goreng yang dibuatnya di sana.
Ia duduk di samping Sandi, memberikan sepiring untuknya, dan sepiring lagi tepat berada di hadapan Wulan. Mata kedua wanita yang menunggu dengan tak sabar itu menjegil, dahi mereka mengerut kasar. Sudah menunggu cukup lama, tapi makanan tak sampai jua ke hadapan mereka.
"Mana makanan kami?" tanya Salsa sengit.
"Maaf, seperti yang diucapkan suamiku kalian bisa membuatnya sendiri," sahut Wulan tanpa beban.
"Benar-benar, masakan kamu begitu lezat. Aku beruntung sekali memiliki istri seperti kamu," puji Sandi setelah menikmati satu suapan.
"Kamu berani, ya, sekarang!" Susi berdiri berang dengan wajah yang menghitam.
"Cukup! Selama ini tidak ada yang pernah mengganggu waktu makanku. Jika kalian ingin makan, kalian bisa membuatnya tanpa harus memerintah istriku!" hardik Sandi mengurungkan niat Susi yang hendak menyerang Wulan.
"Lanjutkan makanmu, kita harus pergi setelah ini! Jangan pedulikan mereka," ucap Sandi sambil mengusap tangan Wulan.
"Kalian!"