Menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Djorghi dan Rara. Djorghi yang pernah disakiti tunangannya dan Rara menyimpan sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan termasuk ke para sahabatnya.
Bagaimana mereka menyikapi dan memecahkan segala masalah dalam rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Lah, Dia Nyinyir
Sampai makan selesai dan kami keluar restoran, Rara belum jawab permintaan balasan cintaku. Dia selalu ngeles kayak bajaj. Anak abg aja akan terus berjuang, masa aku yang mantan tunangannya selingkuh, kalah? Ooh, tidak bisa begitu Maemunah! Perjuangan akan dimulai.
Aku mengajaknya ke toko sepatu sport. Aku tahu, sepatu brand ini yang sering digunakan Rara. Aku mau dia yang memilihnya, biar tahu seleranya seputar sepatu pria.
"Ra, saya mau beli sepatu buat jalan atau lari, kamu bisa bantu saya cariin yang bagus?"
"Abang suka warna apa dan benci warna apa? Terus suka ramai atau yang sepi tenang?" tanyanya.
Hah? Dia nanya suka yang ramai atau sepi tenang? "Maksud kamu gimana Ra? Ramai dan sepi tenang?"
"Kalau Abang suka ramai, nanti Rara cariin yang sedikit heboh aksennya, kalau suka yang sepi tenang itu ya sepatunya sepi ornamen, kalem gitu loh Bang."
"Ampun mpok! Kenapa kamu perumpamaannya seperti itu?"
"Hehehe kebiasaan ngomong gitu sama adek - adek."
Akhirnya setelah diskusi, Rara memilihkan tiga model sepatu yang aku pilih dua. Karena aku melihat dia juga melihat - lihat dan mencoba beberapa, aku tawarin sekalian buat dia beli.
"Ra, kamu ambil deh yang kamu suka. Biar sekalian sama saya."
"Eh, enggak Bang makasih. Enggak ada yang Rara suka."
Aku tahu dari jawabannya dia bohong. Tapi ya sudah lah daripada debat enggak jelas. Masalah hati aja belum dapat jawaban dari dia.
Aku mengantarnya pulang ke apartemen. Besok pagi, aku akan menjemputnya, dengan alasan tanggung jawab karena menyuruhnya pulang bareng aku.
Apakah Rara menerima kalau besok dijemput? Tentu tidak. Banyak alasan yang dia sampaikan ke aku. Karena capek berdebat, aku meminta kalau besok pagi kita ke Bogor, nengok Dballroom sana. Besok jadi pergi apa enggak, lihat besok saja, yang penting dia harus aku jemput.
Di jalan kembali aku menanyakan urusan perasaan yang harus segera mendapatkan kejelasan.
"Rara, saya tidak akan mengantar kamu sampai apartemen kalau kamu belum jawab pertanyaan saya di restoran tadi."
"Gak mau nganter ke apartemen? Emang Abang tahu rumah adik saya? Gak papa sih diantar kesana juga, pasti banyak makanan," jawab Rara enggak nyambung.
"Raraaaa. Kamu tahu enggak, kalau saya di kantor tuh berwibawa, ditakutin. Jadi tolong dong, serius sedikit."
"Saya tahu kok. Makanya kalau dikantor saya takut."
"Ra, kamu mau kan jadi pendamping hidup saya?"
"Yiiihaaa! Balik lagi kesitu. Bang, sholat istikhoroh dulu. Terus cek bibit bebet bobotnya. Daripada nanti putus pas lagi sayang - sayangnya. Lagian juga sebenarnya saya enggak mau pacaran, males. Kalau yakin mending langsung nikah. Oh ya satu lagi, kalau mau menyatakan cinta, saya mau yang romantis, kalau begini saya tolak. Itu jawaban saya."
"Ya udah malam ini saya sholat istikhoroh, biar besok sudah ada jawaban."
"Weits, inget loh permintaan saya banyak. Ya udah, jadi saya mau diantar kemana nih?"
"Apartemen saja."
***
Pagi ini aku menjemput Rara, kemudian aku mengajaknya makan bubur ayam. Dan dia ngamuk! Hahaha dia jadi ceriwis.
Rara protes, karena dia sudah siap ke Bogor untuk ngecek ballroom dan hotel, tapi aku cancel dan menggantinya dengan makan bubur. Kemarahan dia karena dia menyadari alasan aku ngomong hari ini akan ke Bogor cuma agar aku bisa menjemputnya.
Saat makan bubur dia bersikap biasa, tapi ketika kembali ke mobil, percaya deh, bibirnya bisa di kucir. Monyong maksimal! Tapi dari sikapnya ini aku kan juga semakin mengenal emosinya dia. Yang kacaunya, aku jadi tambah cinta! Bagaimana enggak kacau, lah dia belum jawab, kalau ditolak bisa jalan dengan cara koprol ini.
Ketika sampai kantor, Hendra mengabarkan kalau ruangan Rara sudah bisa digunakan. Ruangannya pas berhadapan dengan ruangan Hendra. Jadi kalau dia ada apa - apa Hendra bisa tahu. Begitu tahu ruangannya sudah siap, Rara pun tanpa diperintah langsung bekerja di ruangannya.
Sekitar setengah jam setelah aku sampai, Riska masuk keruanganku. Dia minta tanda tangan beberapa berkas dan memberikan laporan tentang rapat yang harus aku hadiri hari ini.
"Oke, untuk rapat hari ini tolong kamu siapkan bahan - bahannya dan bisa enggak kamu serahkan ke saya segera? Biar saya pelajari dulu. Seperti biasa, kamu dampingi saya ya?"
"Bisa Pak, memang sudah saya siapkan. Sebentar saya ambilkan." Riska pun keluar ruangan.
Tidak lama, Riska sudah masuk ke ruangan aku dan menyerahkan dokumen rapat hari ini. "Pak, nanti hanya saya saja kan yang mendampingi Bapak?"
"Loh, emang biasanya bagaimana? Apa saya bawa rombongan?" tanyaku tidak mengerti arah pertanyaannya.
"Enggak, kan biasanya Bapak sama Rara," jawab Riska.
Tadaaa! Ini dia yang dibilang Rara. Heem, sekretarisku nyinyir. Oke permainan kita mulai. Enggak tahu apa, aku juga bisa iseng, capek tau serius terus.
"Oh kamu maunya saya jalannya sama Rara? Enggak masalah, biar nanti saya kabari dia. Kamu selesaikan saja pekerjaan kantor kalau begitu."
"Loh Pak, kan saya sekretaris Bapak dan saya yang tahu tentang rapat ini. Memangnya Rara mengerti?"
"Kan tadi kamu sendiri yang bawa - bawa nama Rara. Kamu ini sekretaris tapi kok enggak tau apa yang terjadi? Kamu tahu kan kalau saya juga sedang mengurus Dballroom? Rara itu, yang megang urusan itu. Kalau saya pergi dengan Rara tandanya itu urusan Dballroom. Ngomong - ngomong, apa kamu cemburu?"
Hahahaha, ape lo ape lo, jangan bangunin keisengan Djorghi ya. Enggak tau apa, tadi malem capek abis dijailin staf yang enggak mau serius diajak ngomong.
"Maaf Pak, bukan gitu maksud saya."
"Kamu mau memperpanjang omongan ini atau kamu balik keruanganmu?"
"Baik Pak, saya keruangan saya."
Aku kok ngerasa apa yang dibilang Rara akan terjadi. Akan ada yang resek dengan ruangannya Rara yang sudah terpisah, sendirian pula.
Sekitar jam 11 siang, Riska telepon ke ruangan dan mengabarkan sudah waktunya jalan. Aku suruh dia mengambil dokumen rapat yang tadi habis aku cek.
Siang ini kami rapat di kantor klien di kawasan Sudirman. Tidak terlalu jauh memang, namun selain kondisi jalanan Jakarta yang tidak dapat ditebak, juga agar tidak terlalu mepet waktunya saat rapat.
Dimobil, Riska membuka percakapan dengan pertanyaan yang telah diprediksi oleh Rara. "Pak, kok Rara ruangannya dipindah? Memangnya kenapa kalau diruangan kami?"
"Saya mau dia kerja dengan tenang dan ruangan itu nantinya akan menjadi ruangan tim Dballroom. Saya tidak mau mencampur urusan dua perusahaan di satu tempat."
"Tapi kasian kan Pak kalau Rara sendirian diruangannya, sepi."
"Nanti akan saya tanyakan ke Rara, dia kesepian atau tidak, kalau kesepian biar dia kerja diruangan saya saja. Tinggal ganti interior ruangan, cukup kok saya rasa untuk nambah satu meja."
Diem kan? Hayoloh, skakmat deh kalau mau resek sama Djorghi. Memang sampai saat ini yang berhasil mendebat aku selain Ayah dan Mama, cuma Rara.
Ingin rasanya aku kasih pelajaran ke Riska, biar enggak resek. Kalau sekretaris sudah ikut campur tanpa diminta kayaknya dah bikin aku ilfeel. Riska ini sekretaris yang sudah empat tahun kerja di Hotel Metropolitan yang bertugas membantu Naima. Hiiiii gemes, sebaiknya nanti malam diomongin ke Ayah deh.
***
.
.
.
.
.
Teman - teman, di 👍 ya, oh iya di ❤ juga.
Makasih yaaaa🥰🥰🥰
suka karyamu..
makasih thor... banyak dapat manfaat dari karyamu.
indah dan nyaman jika bertemu org yg bisa kitapun ngobrol apa adanya