NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Tangan Luna tak berhenti membolak balik kartu ATM yang diberikan Adnan tadi siang. Katanya kartu itu bisa digunakan untuk keperluan Vano.

"Saya tahu uang tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari kamu. Tapi sekarang ada Vano, jelas masa depan dia bukan hanya membutuhkan kasih sayang. Ada uang yang harus mendampinginya. Kamu pasti tidak mau tapi sekali saja tekan ego kamu untuk Vano."

Kalimat itu jelas terpatri bersama ekspresi Adnan yang memohon di benak Luna. Sehingga akhirnya dia memutuskan menerimanya tapi bukan berarti dia bisa damai dengan pria itu. Tidak mudah menghapus bekas luka yang dalam. Sebab sakit di bagian dalamnya kadang kembali terasa. Luarnya tampak mengering, sembuh, namun tak sedikit di bagian dalamnya masih ada nanah.

Sebenarnya dia tidak mau menyimpan dan merawat rasa dendam. Dia hanya menghindar karena enggan berurusan lagi dengan Adnan. Akan teteapi sekarang apa.

"A'" Vano mengalihkan perhatian Ibunya yang sejak tadi menatap kartu ATM dan tak menyahut ketika dipanggil.

"Terima kasih," ucap Luna ketika makanan sudah masuk ke dalam mulut. Dia usap puncak kepala Vano serta memberikan senyum manis.

"Ibu kalau tersenyum cantik sekali. Hihi aku jadi jatuh cinta." Vano langsung menutup mulutnya ketika Luna mengerutkan kening karena mendengar ucapannya.

"Vano tahu dari siapa bilang jatuh cinta begitu."

"Dari Om Adnan," Vano lalu menoleh kiri kanan seperti takut ada yang mendengar.

"Om Adnan yang ngajarin?" selidik Luna namun Vano menggelengkan kepala. "Terus kalau dia gak ngajarin, gak mungkin Vano bisa tahu begitu."

"Aku gak diajarin, Ibu. tapi dengaaaaarr. Om Adnan bilang begitu pas kita lihat ibu nyariin aku. Katanya Ibu itu cantik sekali."

Bukannya senang Luna malah mendengus.

***

Hari libur kali ini terasa ada yang aneh bagi Luna. Sebab Vano yang biasanya paling suka rebahan di depan televisi dan menonton kartun kesayangan, justru mandi pagi dan memilih pakaiannya yang katanya paling bagus.

"Mau kemana sih, Nak?" Luna memperhatikan dari pintu kamar Vano.

"Rahasia," katanya masih mengancingkan pakaian lalu mendekat ke arah cermin dan mengambil sisir.

"Sini biar ibu yang rapihin rambutnya." Luna masuk dan duduk di sisi tempat tidur lalu meraih sisir yang diberikan Vano.

"Sekarang anak Ibu sudah besar ya, sudah main rahasia-rahasiaan," kata Luna setelah rambut Vano menjadi rapih.

Vano hanya bergerak-gerakan keplanya dengan wajah yang terus berseri-seri. Luna aja sampai heran dan penasaran. Deru mobil yang terdengar berhenti di depan rumah membuat Vano berlari ke luar disusul Luna.

"Sudah siap?" tanya Adnan yang baru turun dari mobil dengan wajah yang tak kalah berbinarnya seperti Vano.

"Anda mau ngajak Vano pergi tanpa meminta izin dari ibunya," kata Luna lebih pada sindiran.

"Ini baru mau minta izin." Adnan tersenyum penuh kemenangan mendekati Luna. "Tapi karena sekarang kamu sudah tahu sendiri jadi diijinkan atau tidak saya akan tetap pergi ngajak Vano jalan-jalan."

"Vano di rumah aja ya," kata Luna yang terdengar jengkel.

"Ah ibu kan aku sudah janji mau pergi sama Om Adnan." Vano memasang wajah memelas.

"Gak. Tetap rumah ya. Kamu mau pergi tapi kamu gak ijin dulu sama Ibu." Luna berbalik ke dalam rumah yang disusul Vano.

"Aaaaaah Ibu. Please Ibu, aku udah janji sama Om Adnan. Kasihan Om itu sudah jemput."

Luna tetap menggelengkan kepala.

"Ibu." Meskipun Vano termasuk anak yang cerdas dan terlihat dewasa namun dia tetap anak kecil yang akan merengek ketika tidak mendapatkan apa yang dia mau.

"Ijinkan aja, Lun. Saya janji akan mengembalikan Vano sebelum malam. Sesekali kan, saya juga tidak pernah meminta seperti ini sebelumnya." Adnan bicara dari ambang pintu karena tak ada perintah masuk dari si empu rumah.

Luna membuang nafas kasar kemudian berjongkok di hadapan Vano. "Karena Vano sudah punya janji, kali ini Ibu ijinkan karena janji harus ditepati. Tapi lain kali harus minta ijin dulu sama Ibu ya. Jangan minta ijin pas sudah mau berangkat. Itu tidak sopan. Vano paham kan?"

Vano langsung mengangguk dan memeluk Luna. Lalu memberikan kecupan pada setiap sisi wajah ibunya.

"Dadah ibu," katanya dengan wajah yang kembali cerah. Awan mendung yang tadi menanunginya hanya sebentar.

Luna mendekat ke arah Adnan yang wajahnya tak kalah cerah dengan Vano. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak saya. Kali ini saya tidak akan membiarkan Anda bebas berkeliaran lagi. Ingat itu."

Ketika Luna memberikan peringatan serta melayangkan tatapan tajam, Adnan justru terkekeh menanggapinya.

"Meskipun Agama tidak mengakui saya sebagai ayahnya, tapi Vano tetap darah daging saya. Sudah pasti saya juga tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya." Adnan membuka pintu mobil namun sebelum masuk dia kembali berkata, "atau kamu mau ikut juga?" Sebelah alisnya terangat dengan senyum menggoda.

Luna mendengus namun pada akhirnya membiarkan mereka pergi. Sedangkan di dalam mobil Adnan masih menatap spion tengah dengan senyum yang belum hilang.

"Ibu lucu ya?" Komentar itu dilontrakan Adnan yang diangguki Vano.

Mobil yang tadi berbaur dengan ke daraan lain di jalan rata kini memisahkan diri dan menepi di salah satu basement sebuah mall.

Vano langsung berteriak girang, saat langkah kaki mereka berhenti di lantai yang ada area permainannya.

"Vano boleh bermain sepuasnya."

Mereka pun bermain bersama, tertawa bersama dan hal tersebut adalah momen yang paking dinanti Adnan sejak dia menikah dulu.

Usai dari arena permainan, Vano diajak ke kedai eskrim kemudian diajak ke surganyanya anak-anak. Vano dibebaskan menunjuk mainan apa yang dia mau. Keluar dari sana mereka memasuki toko pakaian anak dan di sana mereka bertemu Meta. Pertemuan yang tidak disengaja sama sekali.

"Mas Ad, kesini juga?" sapa Meta dengan wajah berbinarnya.

"Heem," jawab Adnan menggumam. Tangannya melambai memanggil salah seorang pelayan untuk membantu Vano memilih, "sama kakak ini dulu ya."

Vano memang jarang rewel. Di usia ke empat tahun dia selalu menunjukan sikap dewasa di waktu-waktu tertentu.

"Kamu ngajak anak siapa, Mas?"

"Anak dari calon istriku."

Tidak mungkin kan Adnan mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan bahwa Vano adalah darah dagingnya. Meskipun dia ingin tapi dia lebih menahan agar tidak terjadi huru-hara. Saat kejadian itu dia masih menjadi suami sahnya Meta.

Meta menyunggingkan senyum, "Aku tahu, sebenarnya kalimat itu kamu gunakan untuk menutupi luka perpisahan kita kan? Maaf ya mas aku saat itu aku harus memilih pergi. Padahal aku tahu banget kamu sangat mencintai aku. Apa kamu gak berniat untuk menikah lagi? Atau masih nunggu aku kembali, Mas."

"Dengan saya mengajak Vano jalan, itu sudah membuktikan bawa saya siap dengan langkah baru. Kehidupan baru yang artinya saya sudah melupakan kamu dan tak menganggap kamu spesial lagi."

Meta mengangguk dan menghela nafas, "Aku ikut senang kalau akhirnya kamu menemukan seseorang yang menerima keadaan kamu apa adanya. Aku hanya takut tidak ada yang mau menerima kekurangan kamu dan akhirnya kamu mengharapkan aku kembali. Jujur jika itu terjadi aku sangat sulit kembali padamu, Mas. Kamu sudah tahu hal itu kan?"

Ada nada yang terdengar tidak rela, namun Meta berusaha menyembunyikannya di balik senyuman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!