I Bagus Manuaba, seorang duda yang memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Ia juga salah satu seorang pembisnis terkenal di Bali.
Bagus seorang Papa yang sangat menyayangi kedua anak nya.
Suatu hari ia ingin membeli ponsel di Counter milik temannya, disana ia bertemu dengan gadis cantik yang bernama Dewi. Ya, Dewi ialah pegawai di Counter itu.
Sikap polos dan rasa tanggung jawab Dewi, membuat Bagus jatuh cinta, dan perlahan cinta itu tumbuh semakin besar. Ia pun bertekad untuk bisa menikahinya meski usia mereka terpaut jauh.
Berbagai cara ia lakukan sampai akhirnya Dewi berhasil ia nikahi.
Rasa trauma atas kegagalan nya di masa lalu, membuat Bagus bersikap sangat posesif dan pencemburu berat. Ia bahkan membatasi pertemanan Dewi, dan ia juga melarang Dewi pergi kemanapun.
Apakah Dewi bisa bertahan dengan sikap Bagus yang over posesif? penasaran bagaimana kisah mereka? Yuk langsung simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Ws, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran pedas
Keesokan paginya. Dewi tengah bersiap hendak memulai aktivitas nya, meski merasa masih mengantuk namun tak mengurungkan semangatnya untuk kembali bekerja. Ia melihat jam di ponselnya terlihat sudah menunjukkan pukul 07.45 ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi sembari menunggu waktu buka Counter. Sejenak ia kembali mengingat akan ucapan Ce Fely kemarin siang yang membuatnya gelisah semalaman.
"Wi.."panggil Ivan menepuk pundaknya.
Ehh.."Kau bikin aku kaget saja Van?" ucap Dewi.
"Kau saja yang melamun, sejak tadi aku panggil-panggil kau tidak dengar." Ucap Ivan.
Hehe " Maaf Van, tidak dengar tadi." Jawab Dewi.
Ya ..ya.. "Tumben Ko David belum datang, padahal sudah jam 08.00 ini , apa jangan - jangan hari ini libur lagi kita Wi ?" tanya Ivan.
"Mana ada libur lagi, tadi Ko David pergi mengantar Leondy sama Clarissa ke sekolahnya, mungkin sebentar lagi datang." Benar saja Dewi baru menyelesaikan kalimatnya,Ko David datang dari arah belakang.
"Yuk buka counternya !" ajak David.Mereka mengangguk.
Kini counter sudah buka, para pengunjung juga sudah mulai berdatangan.
"Hai Wi, apa kabar?" sapa seorang laki - laki tersenyum ramah kearah Dewi.
"Hai Fer, baik, kau apa kabar kok lama baru kelihatan lagi, eh mau cari apa ini?" tanya Dewi yang juga tersenyum kearah Ferdi.
Ferdi adalah salah satu teman Dewi, awal mereka berkenalan saat Ferdi ingin membeli ponsel di Counter tempat Dewi bekerja.
"Aku juga baik Wi,kebetulan lagi sibuk kerja, makanya jarang kesini."
"Aku mau cari screen protector buat ponselku ini, sekalian tolong pasangin ya Wi!" ucap Ferdi menyodorkan ponselnya kearah Dewi. Dewi mengangguk ia segera mengambil screen protector nya dan mulai memasangkan nya pada ponsel milik Ferdi. Saat Dewi fokus melakukan pekerjaannya, Ferdi beralih menyapa Ivan.
"Apa kabar bro, lagi sibuk kayaknya ya ?" tanya Ferdi kepada Ivan yang terlihat tengah mencatat sesuatu.
"Baik bro, iya ini lagi mencatat data-data barang yang habis." jawab Ivan.
Ahh iya.."Lanjut bro." ucap Ferdi, Ivan pun mengacungkan jempolnya dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Ini ponselmu Fer, sudah selesai." Dewi menyodorkan ponsel milik Ferdi.
"Thank you Wi, berapa jadinya ?"
"50 ribu." Ferdi langsung menyodorkan uang 50 ribu pada Dewi. Ia mengambil uangnya dan segera ia serahkan pada Bos nya.
(Disini yang jaga kasir memang Bos nya sendiri).
"Kenapa nomormu tidak aktiv Wi, aku telpon selalu mati ?" tanya Ferdi.
"Ohh itu, aku ganti nomor, sini aku kasih nomorku yang baru." Dewi menulis nomornya di ponsel Ferdi.Setelah itu Ferdi langsung pamit.
***
Rumah Sakit Bali Med
Jerry yang tengah bersiap-siap hendak pulang kerumahnya, ia dibantu oleh Fely dan juga Nani.
"Koko yakin mau pulang sekarang?" tanya Fely.
"Iya, sudah sehat ini, tidak betah aku lama-lama disini." Jawab Jerry.
Fely mengangguk menuruti keinginan Kokonya itu. Selesai mengurus administrasi, mereka bergegas pulang kerumah.
20 menit kemudian, mereka sampai dirumah. Jerry langsung masuk kedalam kamarnya dengan dibantu oleh Nani, sedangkan Fely ia langsung menemui suaminya di Counter.
"Saya bisa sendiri, kamu keluar saja sana!" Jerry mengusir Nani dari kamarnya.
"Kenapa Tuan selalu bersikap dingin pada saya? Kita bahkan sering tidur bersama?" Nani memberanikan diri bertanya pada Jerry. Ia merasa tidak terima Jerry selalu mengacuhkannya, mengingat apa yang sering mereka berdua lakukan.
Jerry berdecak kesal. Cckkk.
Ia menatap tajam kearah Nani, "Aku tidak pernah memintanya, kau sendiri yang menggodaku, bukankah kau juga suka, aku anggap semua hanya karena kita saling membutuhkannya saja!" tegas Jerry yang membuat mata Nani berkaca - kaca.
"Kau jangan berharap lebih, toh juga kau sudah pernah melakukannya sebelum denganku, jadi jelas aku tidak merusakmu." ucap Jerry kembali.
"Pergilah!" Nani bergegas pergi dengan mata yang berkaca kaca. Ia berlari menuju kamarnya.
Sementara di Counter, Fely yang baru saja datang ia menggantikan David, karena David hendak pergi karena ada urusan di luar. Suasana menjadi tidak nyaman, karena terlihat jelas kalau Fely mendiamkan Dewi, ia bahkan tidak mengajak Dewi bicara sama sekali, hanya Ivan yang diajak bicara.
"Aku kira setelah kemarin minta maaf sama Ce Fely semua sudah baik-baik saja, ternyata Cece masih menganggap kalau aku sudah merusak rumah tangga orang." Gumam Dewi menghelakan nafasnya berat.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Terlihat David baru saja datang.
"Masuklah Fel, biar aku yang jaga Counternya !" perintah David, Fely menganggukkan kepalanya, ia bangkit dari duduknya dan segera melangkah pergi dari sana.
"Ramai tadi counternya Van, Wi ?" tanya David pada kedua pegawainya itu.
"Ramai Ko." Jawab mereka bersama.
"Ko David, itu Dewi belum makan siang sampai sekarang!" Ivan mengadu, sehingga membuat Dewi melototkan matanya kearah Ivan.
"Kenapa sampai belum makan ? Apa tadi ramai sekali sampai kamu lupa makan Wi ? Lalu Ivan apa kamu juga belum makan?" tanya David.
"Saya sudah makan Ko, Dewi saja yang belum, katanya belum merasa lapar, padahal dari tadi perutnya berbunyi." Dewi yang mendengar Ivan mengadu ia semakin melototkan matanya pada Ivan, ia bahkan memukul lengan Ivan.
"Makan sana Wi, badan kurus begitu banyak-banyakin makan, biar gemuk, jangan diet!" David menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pegawainya yang ia kira sok-sok an mau diet padahal badannya sudah kurus.
"Iya Ko, kalau begitu saya kebelakang dulu." pamit Dewi.
Sebenarnya dari tadi Dewi sudah sangat lapar, namun ia tidak berani kebelakang, karena Ce Fely tadi hanya menyuruh Ivan saja yang makan, sedangkan dirinya tidak.
Saat ia berjalan menuju dapur belakang ia berpapasan dengan mamanya Fely, ia menunduk menyapa,namun ia malah mendapat ucapan pedas dari Nyonya besar.
"Kalau niat kerja ya kerja yang benar, jangan bertingkah aneh-aneh !" sindir Nyonya besar. Dewi tidak mengira jika Nyonya besar berkata seperti itu.Ia pun pamit kebelakang tanpa menjawab sindiran Nyonya besar.
"Ce Fely pasti sudah menceritakan pada semua anggota keluarganya, bahkan Nyonya besar juga beranggapan kalau aku ini wanita tidak baik yang ingin merusak rumah tangga orang." Gumam Dewi.
"Ehh tunggu.. pasti Ko David juga sudah tau, tapi mengapa sikap Ko David terlihat seperti biasanya ya ?" tanya Dewi dalam hatinya.
Dewi terus berjalan hingga sampailah di dapur, ia melihat Nani yang terlihat murung.
"Kenapa murung mbak?" tanya Dewi.
"Kok baru kebelakang sekarang Wi ?" Nani balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dewi.
"Iya baru sempat mbak, tadi Counter lagi ramai, kenapa mbak Nani sedih begitu,?"
"Aku lagi patah hati Wi." Hikss hikss.
"Ya ampun mbak, sabar ya, mbak Nani di selingkuhin ya sama kekasihnya ?" tanya Dewi sok tau.
"Bukan...Sudahlah kamu makan dulu saja, nanti malam kita ceritanya !"
"Tapi aku penasaran mbak, ceritain sekarang saja ya ," mohon Dewi.
"Nanti saja, sudah aku mau bersih-bersih dulu." Ucap Nani seraya berjalan meninggalkan Dewi di dapur sendirian.
"Ya baiklah.."
Dewi segera mengambil piring, ia menuangkan nasi dan lauknya kemudian ia langsung memakannya.Selesai makan ia langsung mencuci piring beserta gelas yang habis ia gunakan.
"Coba cek ponsel dulu ahh."
Dewi mengambil ponselnya, ia melihat hanya ada 3 pesan saja, 2 pesan dari Bagus dan 1 pesan dari nomor tidak dikenal.
"Tumben sekali Bli Gus hanya mengirimi 2 pesan, ahh sudahlah."
**Bersambung.....
Hai... jangan lupa tinggalkan jejak ya,,
trimakasih**...
mampir juga di karyaku
kisah Aluna
my Kids My Hero
Kox pada ngawur 🤦🤦