Terkadang, memory yang pahit juga berhak untuk di ingat. Karna semanis apapun memory yang ada, jika semua keadaanya telah berubah, maka rasanya akan sama- sama seperti luka. Bahkan lebih dalam.
Bagi kakak semua yang mampir aku mintak kritik dan sarannya ya biar nanti bisa jadi bahan evaluasi.
Kalau berkenan bisa tambahkan ke favorit, kasih bintang dan tinggalkan like sebagai dukungan.
Masih terus dalam tahap pembenahan, jadi kalau ada ketidak nyamanan saat membaca maaf ya kak.
Makasih kakak semua...
Mampir juga ke work aku yang lain ya kak, semuanya masih dalam fase pembenahan😁😁😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uza Atsanni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 11- Dia, Princess Variella
CINTA, bukan berarti kita harus berlemah lembut, bukan berarti kita harus beramah tamah, bukan berarti kita harus mengalah, bukan berarti kita harus menurut.
CINTA, adalah sebuah bahasa yang mengabarkan kasih dan sayang, tak peduli dengan intonasi keras, atau nada yang buruk, atau mungkin pelampiasan yang tidak sempurna.
~ The Last Knight Anasita.
" Sts... Ah... A!!..." Aku berlari mendekatinya, dia masih berteriak kencang dengan suara yang sarat akan rasa sakit.
Dadaku berdebar sangat kencang, dia tidak lagi mirip dengan Kak Alberta, tapi...
" Prin... Cess... Apa itu, benar kau? Var, Var, iella... Eh," air mataku mengalir, darahku berdesir keras mengalir ke jantung dan otakku.
Dia melihatku, mengenaliku,
" Kak Al," ucapku, tanganku terangkat hendak membelainya yang tengah kepayahan.
Suara dentuman-dentuman besar terdengar berkali-kali. Aku menoleh ke arah belakang, tempat di mana pertempuran masih berkecamuk.
Tujuh orang bersayap itu membagi tugas dengan segera, sebagian tetap berusaha menetralkan aura jahat yang menyelimuti tempat ini, sebagian lagi menggantikan tugas orang-orang yang menurutku adalah sekutu dari Kak Alberta, lalu seorang di antara mereka bertarung dengan Sang Jiwa Kegelapan, laki-laki yang ku anggap adalah Leader mereka tadi.
" Agr, astaga!" Aku terkejut, kembali membalikkan badan ke arah, Kak Al, tangannya terasa sangat dingin.
" Kak?..." Panggilku, aku merasa sangat khawatir, tapi dia malah terus mencoba tersenyum di balik rasa sakitnya. Apa serangan tadi terlalu kuat?
Aku hendak berusaha untuk memapahnya berlindung ke tempat yang lebih tertutup dari pertempuran, tapi dia menggelengkan kepalanya lemah, mencegahku.
" Al- li, pa- ra- phus, Var," katanya lemah, memberi isyarat dengan melirik rimbunan tanaman berduri halus berwarna ungu pucat bercampur merah darah yang mengenai hampir seluruh tubuhnya. Tapi aku tidak tau apa yang dia maksud sama sekali.
Aliparaphus, apa itu yang tadi dia katakan? Sebuah tanaman. Ada apa dengan tanaman itu?
Aku melihat mata kelam Kak Al menatap tajam tepat di tengah hazel perak si leader yang sesaat berhasil memukul mundur Sang Jiwa Kegelapan.
" Jika kemungkinan buruk terjadi, cukup, tolong bawa Princess Variella pergi dari sini, selamatkan dia, dia adalah Queen kalian, jaga dia untukku," Prince Alberta me-mind link Arguza, Leader dari para Knight tertinggi Negri Shoecha.
Arguza yang di ajak bicara menoleh ke arah Variella yang malah hanya terlihat seperti bayangan samar dari tubuh aslinya.
Perempuan itu, Princess Variella, the Queen of Shoecha?~ Arguza.
" Aku mengerti, tapi aku tak akan pernah membiarkan semua ini terjadi begitu saja, dan kita berada di titik bawah kekalahan, selamanya Sang Jiwa Kegelapan akan berulah karena ambisi bodoh dan sumpah gilanya, kita akan menang, percayalah, Prince Teriovalefi," jawab Arguza ikut meyakinkan diri.
" Ini adalah tugasku, melindungi Queen, dan menjaga keseimbangan seluruh sunia, jadi, aku akan melakukannya, sebaik yang ku bisa," lanjutnya.
" Sring, slep, slle... Shhh," Arguza menoleh, Sang Jiwa Kegelapan menyerang dengan sangat bersemangat dan penuh emosi-emosi negatif.
" Aku pamit dulu, doakan saja," jawab Arguza memutus mind link secara sepihak.
" Kak Al, kenapa?" Tanyaku saat ku lihat dia sekilas sedang melamunkan sesuatu.
" Ma, af, Prin, cess." Aku mempererat genggamanku pada telapak tangannya.
" Bertahanlah, Kak," beoku tak terlalu berguna.
Dentuman demi dentuman kembali terdengar berulang-ulang, juga teriakan-teriakan kesakitan dari orang-orang yang mungkin hendak mendekati ajal mereka.
Menurutku, tujuh orang bersayap itu telah sampai pada puncak kekuatan mereka. Tapi mereka semua masih berusaha untuk terus bertarung meski telah jatuh berkali-kali.
Aku tidak tau kenapa keadaan di sini seperti ini, pertempuran, darah, dan nyawa. Hanya ada hidup, mati, kalah, dan menang. Tidak ada keharmonisan sama sekali. Ego dan ke-naifan yang memuakkan.
Keterpautan telapak tangan kami semakin memudar,
" Kak?" Aku sangat khawatir
" Kak!"
" Kak Al..."
Tidak ada jawaban, matanya memejam, kulitnyapun mulai membiru, dingin, yang ku tau, sesaat sebelum bibirnya mengatup rapat, dia sempat mengucapkan kata-kata dengan lemah,
" Aku akan terus mencintaimu saja, jika waktu tak memberiku ijin untuk merindukanmu, Variellla," aku terkejut.
" Kak Aaaalll...." Teriakku, disusul dengan seringaian kejam dan bengis dari Sang Jiwa Kegelapan. Tujuh orang bersayap itu telah tersungkur tanpa daya. Mungkin sekarang tinggal aku seorang yang masih dalam keadaan baik-baik saja di sini.
Tidak, ralat, aku, dan setumpuk rasa sedih, tidak terima, serta amarah. Sang Jiwa Kegelapan sepertinya tak dapat melihatku.
Aku benar-benar bersumpah kalau dia sangatlah pantas untuk binasa. Sang Jiwa Kegelapan yang sangat menjengahkan.
🥲🥲🥲
" Aku akan terus mencintaimu saja, jika waktu tak memberiku ijin untuk merindukanmu, Variella," matanya terbuka, hazel biru itu berubah menjadi putih menyala, atau lebih tepatnya menyerupai warna silver yang sangat indah.
Surai kalem berwarna biru laut itu pun juga berubah, menjelma menjadi warna putih bersih, sama seperti kedua hazel matanya.
Di puncak rambutnya terdapat mahkota kecil berwarna putih dengan permata hitam kecil yang menjuntai menghiasi rambutnya dan melintang membentuk sebuah tiara cantik di dahi.
Hanfu merah kecoklatan yang ia kenakan berubah menjadi sebuah pakaian berwarna putih yang berpadu dengan warna hitam anggun, mengekspos kaki telanjangnya dengan perut seksi yang masih dapat dilihat dari balik gaun yang ia kenakan.
Dua buah sayap keluar dari balik punggung datar gadis itu di ikuti dua buah tanduk rusa yang juga ikut tumbuh di kedua sisi kepalanya, masih dengan warna putih yang penuh wibawa.
Tatapannya sangat tajam berkilat-kilat, pandangannya terasa kosong. Dia, tidak terima. Perempuan cantik itu tengah marah.
" Dueeerr.... Bruuukkkk, Dertttt brak," aku meluruskan pandanganku pada arah puing-puing kerajaan yang hampir sebagiannya roboh.
Seorang perempuan terlihat berjalan keluar dari puing-puing bangunan itu dengan santai. Dia sangat, cantik.
" Kau pikir siapa dirimu, berani-beraninya menghakimi nyawa orang lain yang bukan hakmu. Kehidupan dan Kematian bukanlah milikmu. Heh, kau benar-benar membuatku merasa jijik dengan caramu memperlihatkan betapa congaknya kegelapan,"
Katanya dengan nada ringan, tapi cukup membuat semua orang yang mendengarnya merasa merinding. Kata-kata itu seakan-akan merupakan sebuah tantangan, atau mungkin, lebih tepatnya, ancaman, kepada Sang Jiwa Kegelapan.
Semua orang yang berada di situ langsung menatap perempuan cantik itu. Terpesona, dan juga terkejut dalam satu waktu. Tak terkecuali dengan Lord Izac sendiri.
" Wujud dari kekuatan Shoecha dalam diri Princess Variella, telah bangkit," kata lelaki bersurai putih itu lemah.
Dia mengangkat kedua tangannya, kemudian, cahaya keputihan menguar memenuhi sekitar.
mampir jg ke ceritaku 😁
mampir yuk ke Novel ku
•System Behavior.
siapa tau tertarik
Aku mampir dah kasih Boomlike tiap chapt dan rate 5. Ditunggu boomlike+rate 5 back nya di karyaku The Power of Mutant yaa... Makasihh🙏
💕Saling Support💕
keep spirit thor
Mari saling dukung :)
ceritanya makin bagus, bikin penasaran
Mari saling dukung😍
Semangat nulisnyaa
🌸Halo ini author Fur Therese yuk mampir dan saling like, rate5 dan vote🌸
Tambahkan ke favorite ya karena bakal up setiap hari ❤
nitip jejak di sini dulu
🌸Halo ini author Fur Therese yuk mampir dan saling like🌸
makin seru ceritanya