Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Dua minggu setelah obrolannya bersama Margareth, Soe Karya mendapatkan undangan meeting dari Global Group. Tentu saja Sofia datang tidak sendiri, ia menggandeng Nadi ke meeting tersebut sebab Nadi-lah yang lebih mengetahui seluk beluk project itu.
Suasana hati Nadi yang awalnya bersemangat menemani Sofia meeting, mendadadak berubah menjadi tidak karuan ketika melihat kemesrasaan Surya dan Cindy. Perut Cindy kian membesar, gosip yang selama ini santer beredar bukan lagi hanya isapan jempol belaka. Wanita itu benar-benar hamil, dan Surya terlihat begitu sangat memanjakan istrinya.
Beberapa kali Nadi melihat Surya tertawa saat bayi dalam perut Cindy bergerak-gerak. "Gue mau keluar dulu cari angin, kabari gue jika pak Harry sudah datang," Nadi beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang meeting.
Baru saja Nadi membuka pintu ruang meeting, ia sudah melihat Aaron mendekat ke arahnya. "Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu meeting, aku ada meeting direksi."
Sekilas Nadi melirik ke arah Surya, ia sengaja tak menutup pintu agar Surya bisa melihat dengan jelas kedekatannya dengan Aaron. "Tidak apa-apa, Aaron. Aku tahu kamu sibuk," ia merapihkan dasi dan jas Aaron, Nadi yakin jika sekarang Surya tengah melihat ke arahnya.
"Oh iya, Die. Pak Gunawan mengundang kita makan malam di rumahnya besok malam, sepertinya istrinya dekat sekali denganmu, sampai-sampai beliau datang mewajibkan aku mengajakmu."
Nadi tertawa untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia tak ingin Aaron tahu jika sebetulnya sejak malam itu dirinya dan Margareth jadi berteman baik, Margareth malah memberikan nomor handphonenya kepada Nadi, dan mereka sering mengobrol. Tak jarang Nadi menyelipkan obrolan mengenai bisnis, untuk memperlancar projectnya, Nadi mudah sekali mengambil hati Margareth.
"Hanya sekedar obrolan wanita pada umumnya," ucap Nadi.
"Ya sudah, kalau begitu aku meeting dulu ya. Harry sedang merapihkan berkasnya, sebentar lagi dia datang."
Nadi mengangguk, sekali lagi ia mengelus dada Aaron sebelum pria itu pergi ke ruang meeting yang berada di lantai tiga kantornya. Benar saja apa yang di katakan Aaron, baru saja Aaron pergi Harry datang dan mereka langsung memulai meeting mereka.
Sesuai dengan harapan Nadi, dalam meeting kali ini, Harri mengungkapkan jika Pak Gunawan secara mendadak meminta mereka untuk mempercepat project pembangunan mall yang tengah mereka kerjakan. "Itu sama sekali tidak masalah, Pak Harry. Tugas kami hanya hanya tinggal 20% dan aku bisa menjamin dalam waktu kurang dari dua minggu, kami bisa menyelesaikannya," ucap Nadi dengan penuh percaya diri.
Hal berbeda justru di ungkapkan oleh Surya, sebab percepatan pembangunan pekerjaannya berarti ada penambahan biaya yang harus ia keluarkan, Surya harus menghitung ulang semua anggaran biaya yang di butuhkan. "Tapi pembayaran invoice yang kemarin kita ajukan belum cair," ungkapnya.
"Proses pembayaran invoice untuk tagihan yang kemarin tetap mengikuti standar prosedur yang ada, yakni dua minggu setelah pengajuan. Terkecuali untuk yang akan datang, begitu pekerjaan selesai dan kami memeriksa pekerjaan yang ada sudah sesuai dengan spesifikasi perjanjian, kami akan langsung menyelesaikan pembayaran."
"Jika pihak Permana Persada tidak sanggup menjalani project ini, Soe karya dengan senang hati akan meneruskannya," sahut Nadi sembari tersenyum ke arah Surya.
"Jangan mimpi kau," Surya menatap Nadi dengan tatapan tajam.
Meeting berlangsung cukup panas, namun kemudian Harry memberikan waktu kepada Permana Persada untuk menghitung ulang anggaran mereka, dalam waktu dua hari setelah meeting ini berlangsung.
Selesai meeting Aaron mengajak Nadi, Sofia dan Harry makan siang bersamanya. Sebenarnya Aaron menginginkan suasana makan siang personal, bukan membahas masalah pekerjaan, namun Sofia tak tahan untuk tidak membahas soal percepatan project yang tengah di garapnya. "Apa kejadian ini pernah terjadi sebelumnya?" sebagai orang yang baru saja terjun di bidang ini, tentu saja ia merasa bingung.
"Pernah satu atau dua kali, tapi itu pun project yang berkenaan dengan pemerintah sebab akan di gunakan untuk masyarakat umum. Jika swata, kami belum pernah," jawab Harry.
"Ya sudahlah, toh kita tidak menemukan kendala yang berarti. Bukankah semakin cepat, semakin baik. Mungkin saja Pak Gunawan memiliki project baru yang lebih besar, misalnya hotel bintang lima. Mungkin," sahut Nadi, ia kemudian memasukan suapan terakhir saladnya.
Aaron mengamati Nadi yang tengah mengunyah saladnya, ia berpikir dari mana Nadi bisa tahu jika Pak Gunawan memiliki rencana pembangunan hotel? Bahkan Harry saja tidak mengetahui rencana itu, sebab rencana itu masih sangat rahasia. Aaron mengabaikan pikiran buruknya terhadap Nadi, ia menyakinkan dirinya jika Nadi hanya sekedar menebak saja.
"Sayang, weekend ini aku ikut ke Bogor ya. Kamu mau ada pertemuan lagi kan dengan rekan-rekan bisnismu!" pinta Nadi.
"Kami hanya ingin berkuda, tapi kalau kamu mau ikut. Kamu bisa bersama Alyssa di villa, akunpaling lama hanya dua jam setelah itu kita bertiga bisa main di villa. Bagaimana?"
Ada raut kekecewaan dalam wajah Nadi. "Aku lihat jadwalku dulu ya, kalau tidak ada pekerjaan, aku kabari."
Selesai makan siang, Nadi dan Sofia kembali ke kantor. Sementara Aaron memilih untuk menjemput putrinya yang sebentar lagi pulang les balet, dan Harry sendiri lanjut meeting dengan clientnya.