Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 DESI
1 tahun kemudian....
Raj dan Kiran memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Kiran sudah siap untuk menghadapi Viki dan keluarganya.
"Tunggu aku Mas Viki, kamu harus membayar semua yang sudah kamu lakukan kepadaku," batin Kiran.
Kiran merasa sangat bingung karena Raj tidak berhenti-berhentinya menerima panggilan telepon, entah dari siapa itu dan Kiran pun bukan tipe wanita kepo jadi Kiran memilih main game dalam ponselnya.
"Kiran, kamu pulang saja ke rumah kamu," seru Raj.
"Tapi bagaimana kalau Mas Viki tahu Raj, bisa-bisa dia menyakiti aku lagi," sahut Kiran.
"Astaga, tidak akan ada yang mengenalimu jadi kamu ngaku saja sebagai keponakan Kiran."
"Tapi aku takut, Raj."
"Ada aku di samping kamu, jadi tidak usah takut lagipula di semua sudut rumah kamu sudah terpasang cctv yang langsung tersambung ke ponsel aku, jadi aku bisa memantau kamu 24 jam."
"Kapan kamu memasang cctv di rumahku?" tanya Kiran bingung.
"Jangan panggil aku Raj Aryan kalau tidak bisa melakukannya," sahut Raj bangga.
"Idih, sombong."
Raj terkekeh, entah kenapa Raj sangat suka melihat Kiran kesal seperti itu. Raj memang sudah bekerjasama dengan semua pegawai yang ada di rumah Kiran dan Raj juga sudah mengirim foto Kiran sejak awal Kiran operasi plastik supaya nanti mereka tidak terkejut dengan kedatangan Kiran.
Kalau di hitung-hitung, kekayaan Raj dan Pak Rahul hampir sebanding jadi Raj tidak kalah disegani oleh semua orang.
Sementara itu di kediaman Viki, Viki dan keluarganya sangat bahagia karena sudah bisa menguasai perusahaan milik Pak Rahul.
8 bulan yang lalu, Viki bersama Papanya mengedit sebuah foto orang lain yang mengalami kecelakaan dan wajahnya di rubah menjadi wajah Kiran. Lalu Viki dan keluarganya mengadakan jumpa pers dan memperlihatkan foto mengenaskan itu, mereka pura-pura sedih bahkan Viki sudah memalsukan tanda tangan Kiran untuk menguasai seluruh harta kekayaan Kiran.
Tapi mereka masih kurang pintar, karena Raj jauh lebih pintar. Raj mengetahui semua yang dilakukan oleh Viki dan keluarganya.
"Sayang, Minggu depan adalah ulang tahunku dan aku ingin kamu melamar aku di hadapan semua tamu undangan," rengek Ishika.
"Baiklah sayang, aku akan mengadakan pesta yang sangat meriah dan mewah untukmu."
Ishika langsung memeluk Viki, dia begitu sangat bahagia karena Viki selalu menuruti semua keinginannya.
***
Kiran dan Raj berjalan dengan santainya di Bandara, ternyata banyak yang sudah mengenal Kiran sehingga mereka ingin menghampiri Kiran hanya untuk sekedar bersalaman dan berfoto.
Tapi Raj sama sekali tidak memberikan akses untuk fans Kiran mendekat karena Raj sudah lebih dulu menyewa jasa bodyguard untuk menjaga Kiran.
"Tina, Tina!"
Teriakan itu membuat Kiran merasa sangat kasihan kepada mereka, Kiran memang mengganti namanya menjadi Tina supaya tidak ada yang mengenalinya.
"Raj, kasihan mereka hanya ingin berfoto saja," seru Kiran.
"No, mereka fans fanatik, saking fanatiknya mereka bisa melukai kamu dan aku tidak mau sampai itu terjadi," sahut Raj.
"Tapi, Raj."
Raj dengan cepat menarik tangan Kiran untuk segera masuk ke dalam mobil, sementara itu jepretan demi jepretan dari kamera wartawan terlihat sangat menyilaukan Kiran.
"Jalan, Pak."
"Baik, Tuan."
Bodyguard yang merangkap sebagai sopir itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
"Ingat Kiran, saat ini nama kamu adalah Tina dan kamu sekarang adalah seorang artis papan atas jangan sampai ada yang tahu akan identitas kamu sampai tujuan kamu tercapai," seru Raj.
"Iya Raj, aku mengerti."
Raj menyuruh sopir pribadi Kiran untuk melajukan mobilnya ke mobil mewah Kiran, dan beberapa jam kemudian mereka pun sampai di depan rumah Kiran.
Kiran tampak mengerutkan keningnya. "Raj, kok aku pulang ke rumah aku? katanya jangan sampai ada yang tahu kalau aku adalah Kiran?" tanya Kiran bingung.
"Kalau ada yang tanya, kamu ngaku saja sebagai keponakan Kiran, dan kamu di amanatkan oleh keluarga Kiran untuk menjaga harta kekayaan Kiran jauh sebelum Pak Rahul dan Kiran masih ada," sahut Raj.
"Baiklah."
Tiba-tiba salah satu bodyguard Kiran datang dan membukakan pintu untuk Kiran.
"Terima kasih."
Kiran berdiri di depan rumahnya yang megah itu, dia memperhatikan rumahnya dengan seksama sungguh saat ini dia sangat merindukan rumahnya.
"Kenapa diam?" tanya Raj.
"Aku merindukan Papa aku, Raj."
Raj menyunggingkan senyumannya, dia menggenggam tangan Kiran lalu menarik Kiran untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ya Allah Non Kiran," seru Mimi bahagia.
Mimi adalah orang yang selalu menyiapkan keperluan Kiran.
"Mimi, aku sangat merindukanmu."
Kiran langsung memeluk Mimi, bahkan saat ini Mimi sudah meneteskan airmatanya.
"Kok kamu nangis?" tanya Kiran.
"Aku sangat bahagia Non Kiran kembali, bahkan saat ini wajah Non Kiran sudah sangat cantik," sahut Mimi.
"Pokoknya kalian jangan sampai salah sebut, apabila ada tamu ke rumah ini atau ada yang bertanya, panggil Kiran dengan sebutan Tina jangan Kiran!" tegas Raj.
"Baik, Tuan."
"Kiran, aku pulang dulu masih banyak pekerjaan yang harus aku urus."
"Baik Raj, terima kasih ya selama ini kamu sudah banyak membantu aku. Aku tidak tahu akan seperti apa jika tidak bertemu denganmu."
"Sama-sama, ingat jangan lemah jadilah wanita yang kuat jangan sampai kamu diinjak-injak lagi sama siapa pun."
"Iya, Raj."
Raj pun akhirnya pamit dan pergi dari rumah Kiran.
"Mimi, aku ingin makan masakan kamu, maukah kamu memasarkannya untukku?" seru Kiran.
"Tentu saja Nona, dengan senang hati."
"Kalau begitu nanti antarkan saja ke kamar soalnya aku sangat lelah."
"Siap, Nona."
Kiran pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada, perlahan Kiran membuka pintu kamarnya dan ternyata kamarnya masih seperti dulu tidak berubah sama sekali bahkan terlihat sangat bersih karena Mimi setiap hari selalu membersihkannya.
Kiran duduk di ujung ranjang dan mengambil bingkai foto dirinya dan kedua orangtuanya.
"Pa, kenapa Papa tinggalkan Kiran juga, Kiran takut kalau harus hidup sendirian. Untung ada Raj yang mau membantu Kiran, kalau tidak mungkin saat ini Kiran sudah bunuh diri," gumam Kiran dengan deraian airmatanya.
Tidak lama kemudian, Mimi pun datang dengan membawa nampan berisi masakannya sendiri.
"Loh, Nona kenapa menangis?"
"Aku rindu Papa, Mi."
"Sabar Non, Mimi justru merasa kalau Tuan itu masih hidup karena menurut berita jasad Tuan dan sopirnya sama sekali tidak ditemukan."
"Iya Mi, aku juga punya perasaan seperti itu. Mudah-mudahan saja Papa masih hidup, tapi kalau masih hidup dia ada di mana sekarang."
Mimi hanya terdiam, lalu Mimi pun mulai menyuapi Kiran.
"Ayo buka mulutnya, sudah lama Mimi tidak menyuapi Non Kiran."
Kiran menyunggingkan senyumannya, hingga akhirnya Kiran pun membuka mulutnya. Kiran memang terbiasa makan disuapi oleh Mimi, bukan karena Kiran sangat manja memang Kiran dari dulu menjadi orang yang kutu buku jadi kalau tidak disuapi, dia akan lupa makan.