Trauma dalam percintaan dan menjalin hubungan membuat Adel memutuskan menyendiri. Namun siapa sangka, baru 8 bulan setelah hubungannya kandas tiba-tiba ada pria yang datang melamarnya dan ingin menikahinya.
Daniel, lelaki berwajah dingin dan datar tersebut memilih menikah dengan anak dari karyawan Papahnya. Wanita yang tidak mengenalnya itu dipilih sebagai istrinya.
Setelah menikah, perlahan banyak rahasia terkuak. Daniel dan Adel yang memiliki karakter berbeda mulai saling terbuka. Namun dapatkah keduanya saling membuka hati setelah banyak hal yang mereka lalui?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi ini Daniel bersiap untuk berangkat kerja ke kantor. Sejak semalam pikirannya belum bisa tenang. Ia tak tahu mengapa jawaban Adel membuatnya menjadi bingung sendiri. Ada apa dengan masa lalu istrinya yang tak boleh ia ketahui?
Pertama adalah Bani, sahabatnya dan sekaligus mantan pacar dari istrinya. Dulu Bani menceritakan tentang Adel padanya, hanya saja faktanya ada beberapa hal yang tak sesuai dengan ucapan Bani. Seperti mengatakan telah meniduri Adel, kenyataannya saat Daniel murka ia menemukan fakta bahwa istrinya masih perawan.
Entah kenapa Bani menceritakan tentang Adel seperti itu padanya dulu, dan kemarin saat mereka bertemu kembali di sana lah rasa kesal dan kecewa Daniel muncul. Tapi mengapa Bani menceritakan hal buruk saat pacaran dengan Adel padanya dulu? Apakah Bani tahu jika Daniel menyukai Adel?
"Mas, sarapannya ada di meja." teriak Adel membuncahkan lamunan Daniel.
Daniel yang masih memakai sepatunya langsung cepat-cepat mengikatnya dan berjalan ke meja makan.
"Itu dasinya masih miring," ucap Adel berjalan ke arah Daniel.
Adel langsung menarik dasi Daniel dan merapihkannya. Daniel hanya diam sambil memandangi wajah Adel yang damai, ia tidak terlalu tahu tentang istrinya itu, sejujurnya ia menikahi Adel dulu agar Adel menjadi miliknya saja.
"Sudah, makan dulu gih nanti kesiangan."
Daniel mengangguk dan langsung duduk di meja makan.
Daniel menikmati nasi goreng yang du buat Adel, sedangkan istrinya itu hanya makan roti isi dengan salad yang cukup banyak.
"Kamu nggak makan nasi goreng?" tanya Adel.
"Lagi pingin roti," jawab Adel tersenyum.
Duduk mereka yang berseberangan membuat mata Daniel menatap Adel yang kini hanya fokus dengan rotinya sesekali memegang ponselnya.
"Hari ini kamu pergi ke luar?" tanya Daniel berdiri dan mengangkat piringnya.
Adel menatap punggung Daniel yang berjalan ke wastafel, ia binggung dengan pertanyaan suaminya itu.
"Adel di rumah aja kayak biasa, memang kenapa?"
"Teman kamu tidak akan ke sini kan?"
"Enggak Mas, tenang aja Adel sudah bilang jangan main ke sini lagi."
"Saya bukan ingin melarang kamu mengajak teman ke rumah, hanya saja seharusnya kamu bisa hubungi saya dulu," ucap Daniel mengambil tisu di dan mengelap tangannya.
Adel yang mengangguk sambil kembali mengunyah roti isinya. Ia tahu sikapnya kemarin sudah salah.
"Saya berangkat dulu," ucap Daniel.
Adel yang sudah menghabiskan rotinya langsung berjalan menyusul Daniel di belakangannya.
"Mas."
"Kenapa?" tanya Daniel membalikan badannya.
"Salim."
Daniel mengangkat sebelah alisnya sedangkan Adel berjalan ke arahya dan langsung mengambil tangannya dan ciumnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Adel.
"Saya pergi dulu." pamit Daniel.
***
Daniel sudah berangkat kerja ke kantor. Sedangkan Adel memulai pekerjaan biasanya menjadi Ibu rumah tangga. Ia mulai membersihkan kamar dan rumah. Sedangkan memasak, ia memilih memasak sebelum Daniel pulang agar masakannya masih hangat sangat suaminya tiba.
Adel merapihkan seprai yang sedikit kusut, guling dan bantal yang berantakan sudah ia susun di ranjang. Namun tiba-tiba kakinya mengijak sesuatu di karpet.
Ia mengambil barang kecil yang tak sengaja ia injak. Rupanya sebuah flashdisk dan ia ingat ini flashdisk miliknya dulu yang di simpan di Bani dan semalam di gunakan Daniel untuk membuat program.
Adel memilih menaruh flasdisk tersebut ke meja kerja Daniel di sudut ruangan. Namun saat flashdisk itu di taruh entah mengapa ia malah merasa penasaran dengan isinya.
Ia memilih menghidupkan komputer Daniel yang hanya di Sleep. Kemudian memasukkan flashdisk tersebut, sudah hampir penuh ia membuka tiap folder. Kebanyakan berisi data-data kerja Bani.
Namun cursornya terhenti di sebuah folder yang tak sengaja ia buka, di sana masih ada fotonya saat SMA dulu. Tapi ia tak ingat dengan beberapa foto yang cukup banyak itu.
Yang Adel ingat, di flashdisknya hanya ada beberapa foto dirinya saat kelulusan. Tapi yang ia cek ada foto candid dirinya yang tak pernah ia tahu kapan di ambilnya, bukan hanya satu atau dua tapi puluhan.
Ia membukanya satu persatu untuk memilihatnya, dan yang membuatnya makin terkejut adalah foto dirinya bersama Aldi. Lelaki yang satu sekolah dengannya dan pernah dekat dengannya.
Jantung Adel berdetak lebih cepat, mengapa foto dirinya dan Aldi ada di flashdisk tersebut. Ia bahkan sudah menghapus semua fotonya bersama Aldi.
Tak mau di hantui rasa trauma masalalunya, ia langsung mencabut flashdisk tersebut dan menaruhnya di meja. Badannya sudah berkeringat, rasa takut dan bersalah menghantuinya kembali.
***
Daniel sudah sampai di kantor, ia langsung duduk menuju mejanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sebuah pesan masuk ponselnya, dan itu dari Bani yang menanyakan tentang programnya. Sambil menunggu komputernya hidup Daniel membalasnya dan meminta Bani datang nanti siang saat istirahat.
Daniel mengecek saku jasnya mencari flashdisknya tapi ia tak menemukan apapun di sana. Ia juga mencari di tas kerjanya namun tak ada.
Ia mengirim pesan pada Adel menanyakan apakah istrinya itu menemukan flashdisk tersebut, dan syukurlah ia langsung membalasnya dan mengatakan sudah menyimpannya.
Daniel membatalkan pertemuannya dengan Bani nanti siang dan menyuruh lelaki itu untuk datang nanti sore.
Sedangkan di rumah, Adel terdiam di kamarnya sambil memeluk gulingnya. Rasa takut dan trauma sedikit membuatnya tak nyaman. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi dan membuat Adel mengeceknya. Tamu mana lagi yang datang ke rumahnya pagi ini.
Adel mengintip di balik kaca, ia melihat lelaki dengan jaket hoodie berdiri membelakangi pintu menunggu untuk di bukakan.
Karena penasaran, Adel membuka pintu tersebut dan melihat Bani yang langsung membalikan badannya dan tersenyum padanya.
"Hai Del, kata Daniel flashdisk saya ada di rumah, boleh saya ambil?" tanya Bani.
Adel masih mematung di pintu, sebenarnya ia masih takut dengan Bani yang hampir memperkosanya dulu dan juga memfitnahnya.
"Tunggu sebentar, Adel ambilkan dulu." kata Adel yang menutup kembali pintunya dan berjalan ke kamarnya.
Ia tak mau menyuruh Bani masuk ke dalam karena hanya dirinya sendiri di rumah.
Dengan cepat Adel mengambilnya dan berjalan keluar memberikan flashdisk tersebut pada Bani yang masih menunggunya di luar.
"Ini kak," ucap Adel memberikan flashdisk tersebut.
"Oke thanks, kalau gitu saya langsung pulang," ucapnya.
Adel mengangguk dan tersenyum pada Bani, senyum yang sangat menyakitkan baginya.
Tak lama setelah Bani pergi Adel langsung mengunci pintunya dan duduk di ruang tamu.
Ponselnya bergetar dan pesan masuk di whatsappnya muncul.
*From : 0881xxxxxxxx
Ternyata kamu tumbuh dengan baik, bagaimana kabarmu? Masih ingat dengan Aldi? Kalau saja dia masih hidup mungkin kalian bisa bersama, bukan*?
Adel terdiam, tangannya bergetar dan berkeringat dingin. Entah pesan dari siapa yang masuk ponselnya, dan mengapa ia tahu nomornya? Kini Adel merasa tak tenang.
Apakah pesan itu memang ditujukan untuk dirinya? Tapi kalau memang salah kirim mengapa ia tahu tentang Aldi? Adel makin takut, ia ingin mengadu pada Daniel namun ia tak mungkin bisa menceritakan semuanya pada lelaki itu.
Adel makin gelisah, ia memilih untuk menghubungi Dea. Sahabatnya itu sudah tahu banyak tentangnya jadi tak ada salahnya ia memberitahu. Dan Dea berencana akan datang ke rumah Adel setelah mendapat panggilan darinya.
°°°
Adel menelepon Daniel untuk meminta izin sahabatnya akan datang ke rumah dan tentunya Daniel mengizinkan karena ia merasa kasihan jika mengurung Adel seharian di rumah.
"Ngapain lo nyuruh gue datang?" tanya Dea melepas helmnya.
"Dea, gue barusan dapat pesan dari orang yang nggak nomor baru."
"Yaelah, cuma dapat pesan aja lo sampai panggil gue?"
"Dia nyebut, Aldi." kata Adel yang membuat Dea melotot dan merebut ponsel di tangan Adel.
Dea membaca isi pesan tersebut dan menatap Adel yang kini sedang gelisah.
"Sebelumnya lo dapat pesan ini juga?" tanya Dea.
"Ini pertama kalinya gue dapat pesan misterius ini setelah menikah, dulu waktu gue di Jakarta udah nggak ada yang gangguin, gue takut Dea," ucap Adel terisak memeluk sahabatnya.
"Lo tenang dulu aja, mungkin pesan ini cuma pengen nakut-nakutin lo aja," ucap Dea menenangkan.
"De, gue nggak pernah lupain Aldi. Dia sahabat gue, dan kejadian itu gue bener-bener merasa bersalah."
Dea memeluk Adel dengan erat, memang kejadian saat SMA dulu membuat sosok Adel yang ceria berubah, wanita yang sangat hangat dan ramah itu berubah semenjak kehilangan sahabatnya Aldi.
Kematian Aldi menjadi trauma besar bagi Adel, ia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana saat terakhir Aldi masih hidup dan hingga menghadap Tuhan. Banyak yang menyalahkan Adel atas kematiannya namun kenyataannya kematian adalah takdir yang sudah Tuhan tulis.
"Gue rasa selama lo di Bandung nggak bakalan tenang hidup lo Del," ucap Dea.
"Maksudnya?"
"Lo udah tenang saat di Jakarta, kenapa bisa lo balik lagi ke Bandung dengan semua masalalu lo yang bikin lo trauma?"
"Gue nggak punya pilihan lain, gue udah menikah dengan Daniel dan dia dapat pekerjaan di sini, gue nggak mungkin kan nolak dia untuk tinggal di Bandung." lirih Adel.
Dea mengajak Adel duduk di sofa dan mereka mulai kembali bercerita.
Memang saat SMA Adel dan Dea mulai bersahabat dengannya, dan tak lama masuklah Aldi di kehidupan keduanya. Lelaki yang juga anggota genk motor populer itu menjadi sahabat mereka berdua saat SMA.
"Lo udah ketemu sama orangtuanya Aldi?" tanya Dea.
"Orang tuanya bukannya udah pindah ke Surabaya?"
"Iya sih, tapi kalau nggak salah ada kakaknya yang masih tinggal di sini."
"Kakaknya? Memang kakak Aldi udah balik ke Bandung?" tanya Adel penasaran.
"Lo nggak tahu? Waktu Aldi meninggal kakaknya itu datang dan nangis, dia kehilangan sosok adiknya. Dan setahu gue setelah itu kakaknya pergi lagi dan baru beberapa tahun dia balik ke Bandung,"
Kini Adel terdiam, entah mengapa ia malah merasa curiga pada kakaknya Aldi, apakah dirinya yang mengirim pesan padanya hari ini.
Ia sendiri tak tahu siapa kakak Aldi sebenarnya, karena dulu saat bersama Aldi kakaknya itu sedang berkuliah dan jarang pulang. Dan saat Aldi di makamkan, Adel tak datang karena harus di rawat di rumah sakit. Dan sampai lulus, orang tua Adel memutuskan pindah ke Jakarta.
"Lo kenal sama kakaknya?" tanya Adel.
"Gue nggak begitu kenal, tapi gue masih inget wajahnya. Mereka memang nggak mirip soalnya Aldi mirip nyokapnya kalau kakaknya lebih putih mirip bokapnya."
Sedang berbincang serius, bel rumah Adel kembali berbunyi, Adel dan Dea yang sedang berbincang pun terhenti.
"Gue bukain dulu," ucap Adel berdiri.
Adel membuka pintu rumahnya dan melihat Bani kembali datang.
Dea yang penasaran langsung ikut berdiri di belakang Adel. Dan yang membuat Adel makin ketakutan dengan ucapan Dea yang membuat badannya bergetar.
"Lo kakaknya Aldi kan? Ini lo Del yang gue ceritain, dia kakaknya Aldi," ucap Dea yang tersenyum pada Bani.
Kini Adel berdiri terpaku sambil memegang knop pintu. Bani hanya menatapnya tanpa berbicara apapun sedangkan Dea tersenyum saat melihat orang yang pernah di temuinya dulu yang juga kakak sahabatnya.
Pertanyaan kembali muncul di benak Adel, jika Bani adalah kakak kandung Aldi selama ini, mengapa ia mengajak Adel berpacaran dan bahkan hampir menjebaknya dulu? Dan apakah Bani tahu jika dirinya dan Aldi dulu bersahabat?
Semua pertanyaan dan kebingungan itu muncul hingga tiba-tiba Adel jatuh pingsan yang membuat Dea dan Bani terkejut.
°°°
Terimakasih yang sudah sabar menunggu kelanjutannya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
^_^
si Dea yg neror Adel ya
season k dua ank2 ny adel dn danil kk, atw cerita bru kk??? atw crita adek ny adel kyk ny seru tu klw dpt cewk yg ceriwis.
smga langgeng y danil dn adel😘
oh itu masalh mu sofia, smga ank mu lekas sembuh dn rujuk az deh sama mantan suami mu. tpi lain x, ap pun msalh mu jangn libatkn suami orang terus y sofia. dn k sana kmari brdua trus dgn suami orang.
iy la danil mkin manis sejak punya ank. aplgi mg danil kn cinta dgn adel. kyk ny k jakarta mg mau rayakn ulth ny adel. danil mau buat kjutan.
up ny mlah bhas yg gk pala penting, jdi brtele2. si sofia ni kq gk mikiri prasaan ny adel y, dri datng nyita wktu ny danil terus. si danil ny jg gitu mlah ngobrol z sama prempuan lain. adel kurang tegas, tegas bukn brati melawan. msak dri kmren suami dibiar2 kn brduaan trus dgn prempuan lain. gk mungkn gk ad rsa cemburu. cba deh adel diami danil. mrasa gk dy istri ny cemburu. klw mg gk ad rahsia knp ngobrol ny gk di depn adel az. trus danil jg gk crita2 sama adel. dri omongn sofia dy tu mau dinikhkn dgn danil. smpe adel tau sendiri.
ap pun msalh sofia, gk suka aku klw danil bolak balek prgi kluar brdua dgn sofia. danil pun hrus ny ceritakn dulu bru pergi. jdi istri pun tenang. mertua pun gk punya hak buat nyuruh sofia nginap dirumah danil smpe berhari2. sebaik2 ny sbgai suami hrgai lah istri mu. istri mu ngurusi ank di rumh, kau mlah sibuk ngurusi masalh orang lain. suka hati mu la danil.