Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Ketik saja tanggal lahirmu sendiri, Elena!"
Itu ucapan Edward yang terdengar sangat santai.
"Ya, kau benar. Dan sampai setahun pun Ipad itu tidak akan terbuka. Lalu Anres curiga padaku, dan akhirnya dia tahu kalau aku bukan istrinya yang asli. Itu yang kau mau?" Elena bertanya dengan nada geram pada Edward. Jika saja keduanya kini tidak sedang bicara lewat sambungan, ingin rasanya Elena menimpuk kepala Edward dengan ujung heelnya yang lancip dan tinggi, karena teramat kesal.
"Tidak. Aku tidak ingin akhir cerita yang seperti itu," jawab Edward dari seberang. Dan kali ini pun nada bicara lelaki itu masih terdengar santai.
"Cepat katakan berapa tanggal lahir Elea. Karena Anres pasti sedang menungguku saat ini."
"Tanggal lahir Elea itu sama dengan tanggal lahirmu," sahut Edward.
"Edward jangan bercanda! Aku dan Elea adalah dua orang yang berbeda. Dan kami tidak lahir di hari yang sama," ucap Elena dengan penuh penekanan sembari menatap ke arah pintu kamar yang sedikit terkuak, ia khawatir akan ada orang yang mendengar percakapannya ini.
"Lalu, berapa tanggal lahirmu, Elena?"
"Tanggal lahirku ..." Hanya pada kata itu, Elena langsung terdiam begitu saja.
"Kau lupa pada tanggal lahirmu?" Pertanyaan dari Edward itu terdengar sebagai sebuah cibiran di kuping Elena.
"Tentu saja tidak," jawab Elena cepat.
"Kalau begitu sebutkan!"
"Kenapa kau malah mengalihkan topik pembicaraan, Edward. Aku butuh tanggal lahir Elea, karena itu kata kunci untuk membuka layar Ipadnya Anres. Dia pasti sedang menungguku sekarang," kata Elena dengan nada berang.
Dan apa reaksi Edward atas hal itu semua, lelaki itu malah hanya memperdengarkan tawa.
"Edward ..."
"Besok ulang tahun Elea."
"Berarti?"
"Kau hitung saja, sekarang tanggal berapa," kata Edward dengan cepat.
"Apa Elea akan datang?"
Bukannya merasa senang setelah mendapat jawaban dari apa yang ditanyakan, wanita itu justru terlihat gamang.
"Aku tidak tahu."
"Jika besok adalah hari istimewa bagi Elea. Dia pasti akan datang untuk merayakan bersama suami dan anaknya bukan?"
"Bisa jadi," sahut Edward cepat.
"La-lalu aku harus bagaimana?"
"Tunggu saja sampai besok, jangan membuat kemungkinan yang belum pasti."
Elena ingin berkata lagi. Namun, wanita itu segera menahan suaranya karena ia mendengar suara wanita di belakang Edward.
"Apa pembicaraan kalian belum selesai?"
"Sudah," sahut Edward pada wanita tersebut, dan lelaki itu segera memutus sambungan telepon tanpa berpamit lebih dulu pada Elena.
Elena sendiri segera bergegas kembali ke kamar Anres bahkan dengan setengah berlari.
"An-Anres maaf, aku tinggal cukup lama," ucapnya dengan napas memburu.
"Apa yang terjadi dengan Abel?" tanya Anres dengan raut khawatir, pasalnya ia mendengar suara tangisan Arabella yang cukup keras tadi. Ia takut ada hal buruk yang terjadi dengan sang putri.
"Ah dia tidak apa-apa. Hanya ... hanya soal kecil saja tadi. Sekarang Indah sedang bersamanya."
Elena kemudian segera mengatur napasnya setelah memberikan jawaban demikian.
Jika Anres begitu mencemaskan Arabella karena mendengar suara keras tangisannya, Elena justru terselamatkan dari kebingungannya di depan Anres dengan suara tangis batita cantik tersebut.
Kilas balik peristiwa setengah jam sebelumnya.
------------------------------
"Sudah Elea?" tanya Anres beberapa jenak kemudian.
"Belum," sahut Elena dengan sedikit gugup. Sedangkan tatapannya tak lepas dari layar putih Ipad 9 yang layarnya sudah menyala, dan terdapat perintah untuk memasukkan kata sandi di sana.
"Apa kuncinya tidak bisa dipakai?"
"Entahlah," jawab Elena dengan suara yang hampir tenggelam.
"Aku tidak pernah merubah kata kuncinya."
"Mm bukan karena hal itu, Anres. Aku ..."
Elena memangkas ucapannya sendiri, karena tak mungkin ia mengatakan kepada Anres kalau ia tidak tahu pada tanggal lahirnya Elea. Itu pasti akan terdengar aneh dan lucu bagi Anres. Mana mungkin seseorang tidak tahu pada tanggal lahirnya sendiri. Dan Elena benar-benar kebingungan saat ini.
"Lalu apa masalahnya, Elea?"
"Aku ..."
Tapi rupanya, sudah tidak ada jalan lain bagi Elena kecuali mengatakan dengan jujur jika ia tidak tahu pada tanggal lahir Elea. Dengan kejujurannya itu, Anres pasti akan curiga. Dan Elena sudah merasa pasrah, jika ia memang harus mengakui semuanya.
"Ee Anres, aku minta maaf, sebenarnya aku ... aku sebenarnya ..."
Elena memang tidak cukup punya kekuatan untuk mengakuinya sekarang. Namun, yang menyebabkannya harus memangkas kata bukan karena tidak adanya kekuatan tersebut, tapi karena mendengar suara tangisan Arabella yang cukup keras terdengar hingga ke kamar ini.
"Anres, itu Abel menangis. Aku akan melihatnya dulu." Dan tanpa menunggu jawaban, Elena segera keluar.
Untuk sementara wanita itu merasa bebas.
Ternyata Arabella hanya merasa kesal karena mainannya. Indah sudah menenangkan sang nona kecil tersebut, ditambah lagi dengan kehadiran Elena, Arabella kembali tenang seperti semula.
Elena segera bergegas ke kamarnya di lantai atas untuk mengambil buku panduan yang diberikan Edward. Mungkin saja dalam buku tersebut ada tertulis tanggal lahir Elea. Ternyata nihil, tak ada tanggal lahir siapa pun yang tertulis di buku itu.
Dalam kebingungan, Elena teringat untuk menelepon Edward dan bertanya kepada lelaki tersebut, dan hasilnya ia mendapat pemberitahuan kalau besok adalah hari ulang tahun Elea.
"Dimana Ipadnya, Anres, aku akan membuka layar kuncinya," tanya Elena yang sudah tidak melihat benda pipih itu ada di sana.
Anres menunjuk ke arah bantal. Rupanya lelaki itu telah memindahkan benda tersebut kesana. Elena segera meraihnya kembali dan mulai membuka layarnya dengan mengetikkan kata kunci sesuai petunjuk Anres, yaitu nama Elea berikut tanggal lahirnya. Dan berhasil, dengan hasil yang membuat Elena terpana. Ia bahkan sampai menutup mulutnya melihat penampakan layar Ipad itu kini di depan mata.
SELAMAT ULANG TAHUN ISTRIKU TERCINTA, ELEA PARAMITHA.
kalimat itu memenuhi layar dengan ukuran 10,2 tersebut, di hiasi aneka warna soft yang meneduhkan dan sebuah alunan lagu yang sepertinya sangat Elena kenal.
"Anres, ini?" Elena tak dapat meneruskan kalimatnya karena suara yang seakan membentur dinding tenggorokan dan tersangkut di sana. Jujur, dirinya merasa terharu. Meski dalam hati kecilnya ia tahu, siapa sebenarnya yang dituju oleh Anres dengan semua itu.
"Selamat ulang tahun, Elea," ucap Anres dengan suara lembut. Dan tatap mata lelaki itu mulai mengarah pada Elena setelah dari sejak awal, mereka bicara namun tak saling menghadapkan wajah.
Sepenuhnya hati Elena merasa bergetar melihat netra coklat gelap milik Anres itu. Meski ia tahu, kalau sudah tidak ada kekuatan di bola mata tersebut. "A-aku ..." Masih tak ada satu kata yang bisa diucap wanita itu. Ia masih harus mengatur napasnya, mengatur debar jantungnya, dan menekan selaksa keheranan yang juga turut menyerang dalam benaknya.
"Tak ada hadiah yang bisa aku berikan. Selain, aku sangat berterima kasih, karena kau telah datang," ucap Anres begitu dalam. Dan tatapan itu enggan beralih, seakan Anres dapat menemukan sosok Elea di dalam pandangannya.
Elena menunduk, sepasang matanya berkabut. "Anres aku bukan Elea, istrimu. Aku adalah Elena."
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...